Antara 1 Muharram dengan 1 Suro
Ketika Semangat
Hijrah Tertutup oleh Kabut Mistisisme
Setiap tahun, umat Islam memasuki tahun
baru Hijriah. Namun ada sebuah ironi yang jarang disadari. Ketika bulan
Muharram datang, banyak orang lebih mengenal Malam Satu Suro daripada Tahun
Baru Islam. Mereka lebih hafal berbagai pantangan daripada makna hijrah.
Mereka lebih mengenal kisah-kisah mistis daripada sejarah perjuangan Nabi
Muhammad. Mereka lebih takut kepada "kesakralan bulan Suro" daripada
merenungkan pesan perubahan yang dibawa Muharram. Padahal, keduanya adalah
bulan yang sama.
Lalu bagaimana bisa terjadi?
Sebuah Bulan yang Seharusnya Menggerakkan
Perubahan
Muharram bukanlah bulan biasa. Ketika
para sahabat hendak menetapkan kalender Islam, mereka tidak memilih tahun
kelahiran Nabi Muhammad. Mereka juga tidak memilih tahun wafat beliau. Mereka
memilih hijrah.
Mengapa?
Karena hijrah bukan sekadar perpindahan
dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah simbol keberanian meninggalkan masa lalu
menuju masa depan yang lebih baik.
Hijrah
adalah perubahan.
Hijrah
adalah perjuangan.
Hijrah
adalah pengorbanan.
Hijrah
adalah kebangkitan.
Karena itulah Muharram seharusnya menjadi
momentum bagi setiap Muslim untuk bertanya kepada dirinya sendiri:
"Apa yang harus aku tinggalkan tahun
ini?"
"Apa
yang harus aku perbaiki?"
"Sudahkah
aku berhijrah menjadi manusia yang lebih baik?"
Namun pertanyaan-pertanyaan besar itu
sering tenggelam di tengah berbagai cerita yang berkembang di masyarakat.
Ketika Muharram Menjadi Suro
Masyarakat
Jawa memiliki sejarah panjang yang sangat kaya. Pada masa Sultan Agung,
dilakukan reformasi besar terhadap sistem kalender Jawa. Kalender Saka yang
telah digunakan selama berabad-abad diselaraskan dengan kalender Hijriah.
Muharram kemudian dikenal dengan nama Suro,
yang diyakini berasal dari kata Asyura. Langkah ini bukan sekadar
perubahan nama bulan. Ia merupakan simbol pertemuan antara identitas Jawa dan
Islam.
Sultan Agung tidak menghapus budaya Jawa.
Sebaliknya, beliau berusaha menjembatani budaya Jawa dengan nilai-nilai Islam.
Karena itu, pada mulanya Suro bukanlah simbol pemisahan antara Jawa dan Islam.
Justru sebaliknya. Suro menjadi bukti bahwa keduanya dapat berjalan
berdampingan.
Lalu Mengapa Suro Identik dengan
Mistisisme?
Di sinilah persoalan mulai menarik.
Hari ini,
jika seseorang mendengar kata "Muharram", yang terbayang adalah Tahun
Baru Islam. Namun ketika mendengar kata "Suro", yang muncul justru:
·
malam keramat,
·
pantangan menikah,
·
ritual pusaka,
·
tirakat,
·
tempat angker,
·
dan berbagai kisah dunia gaib.
Film-film
horor turut memperkuat citra tersebut. Cerita turun-temurun terus diwariskan.
Lama-kelamaan, masyarakat lebih mengenal Suro sebagai bulan yang menyeramkan
daripada bulan yang menginspirasi perubahan. Padahal jika direnungkan, tidak
ada satu pun ajaran Islam yang menyatakan bahwa Muharram adalah bulan kesialan.
Tidak ada
dalil yang melarang menikah di bulan Muharram.
Tidak ada
ajaran yang menyebut bulan ini sebagai bulan sial.
Sebaliknya,
Muharram justru termasuk salah satu bulan mulia dalam Islam.
Apakah Ini Hanya
Kebetulan Sejarah?
Pertanyaan ini sering memunculkan
perdebatan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa unsur-unsur
mistis dalam budaya Jawa telah ada jauh sebelum kedatangan Islam maupun
kolonial Belanda.
Namun ada hal menarik yang dapat membuka
ruang diskusi yang panjang. Setelah Perang Jawa yang dipimpin Pangeran
Diponegoro, Belanda menyadari satu kenyataan yang sangat menakutkan: Ketika
ulama, umat Islam, dan masyarakat Jawa bersatu, kekuatan mereka sangat sulit
dikalahkan.
Hal yang sama juga terjadi dalam Perang
Aceh.
Selama ulama, rakyat, dan pemimpin adat
berjalan bersama, Belanda mengalami kesulitan luar biasa. Baru setelah muncul
perpecahan, posisi kolonial menjadi lebih kuat. Karena itulah muncul pertanyaan
yang layak direnungkan:
Apakah kolonialisme ikut memperlebar
jarak antara Islam dan budaya Jawa yang sebelumnya telah dipertemukan oleh para
ulama, Wali Songo, dan Sultan Agung?
Namun satu hal yang jelas, politik pecah
belah merupakan strategi yang memang berkali-kali digunakan oleh penjajah di
berbagai wilayah Nusantara.
Yang Hilang Bukan Nama Bulannya
Sesungguhnya persoalan utama bukanlah
apakah kita menyebutnya Muharram atau Suro.
Yang
menjadi masalah adalah ketika maknanya berubah.
Yang hilang
bukan nama bulan.
Yang hilang
adalah ruh hijrah.
Kita masih
merayakan pergantian tahun.
Tetapi
sering lupa melakukan perubahan.
Kita masih
mengenang malamnya.
Tetapi lupa
mengambil pelajarannya.
Kita masih
membicarakan mitos-mitosnya.
Tetapi lupa
merenungkan perjuangan Rasulullah.
Padahal
esensi hijrah tidak pernah berubah.
Hijrah
adalah meninggalkan keburukan menuju kebaikan.
Hijrah
adalah meninggalkan kemalasan menuju produktivitas.
Hijrah
adalah meninggalkan perpecahan menuju persatuan.
Hijrah adalah
meninggalkan dosa menuju ketaatan.
Saatnya Mengembalikan Ruh Muharram
Mungkin
sudah saatnya kita bertanya kembali:
Mengapa
kita lebih mengenal pantangan Suro daripada sejarah hijrah?
Mengapa
kita lebih takut kepada berbagai mitos daripada takut kepada dosa-dosa kita
sendiri?
Mengapa
kita lebih sibuk membersihkan pusaka daripada membersihkan hati?
Pertanyaan-pertanyaan
itu tidak ditujukan untuk menyalahkan budaya.
Bukan pula
untuk menghapus tradisi.
Tetapi agar
kita tidak kehilangan pesan terbesar yang dibawa bulan ini.
Muharram
hadir setiap tahun untuk mengingatkan bahwa hidup harus terus bergerak menuju
kebaikan.
Bahwa
manusia tidak boleh berhenti berubah.
Bahwa umat
tidak boleh berhenti bangkit.
Dan bahwa
hijrah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan tugas yang harus terus
dilakukan sepanjang hidup.
Ketika 1
Muharram tiba, yang seharusnya paling kita khawatirkan bukanlah mitos-mitos
tentang Suro.
Melainkan
pertanyaan yang jauh lebih penting: "Sudah sejauh mana aku berhijrah
menjadi manusia yang lebih baik dibanding tahun lalu?"
"Jangan sampai kita lebih mengenal
Malam Satu Suro daripada peristiwa Hijrah, lebih hafal pantangan daripada
perjuangan Rasulullah, dan lebih takut kepada mitos daripada takut kehilangan
petunjuk Allah."
Baca juga:
·
Islam, Napoleon Bonaparte, dan Snouck Hurgronje (Bagian
1)
·
Islam, Napoleon Bonaparte, dan Snouck Hurgronje (Bagian
2)
·
Perang Sabil Kesultanan Ternate – Portugis