Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

15 Juni 2026

Antara 1 Muharram dengan 1 Suro

 

Ketika Semangat Hijrah Tertutup oleh Kabut Mistisisme

Setiap tahun, umat Islam memasuki tahun baru Hijriah. Namun ada sebuah ironi yang jarang disadari. Ketika bulan Muharram datang, banyak orang lebih mengenal Malam Satu Suro daripada Tahun Baru Islam. Mereka lebih hafal berbagai pantangan daripada makna hijrah. Mereka lebih mengenal kisah-kisah mistis daripada sejarah perjuangan Nabi Muhammad. Mereka lebih takut kepada "kesakralan bulan Suro" daripada merenungkan pesan perubahan yang dibawa Muharram. Padahal, keduanya adalah bulan yang sama.

Lalu bagaimana bisa terjadi?

Sebuah Bulan yang Seharusnya Menggerakkan Perubahan

Muharram bukanlah bulan biasa. Ketika para sahabat hendak menetapkan kalender Islam, mereka tidak memilih tahun kelahiran Nabi Muhammad. Mereka juga tidak memilih tahun wafat beliau. Mereka memilih hijrah.

Mengapa?

Karena hijrah bukan sekadar perpindahan dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah simbol keberanian meninggalkan masa lalu menuju masa depan yang lebih baik.

Hijrah adalah perubahan.

Hijrah adalah perjuangan.

Hijrah adalah pengorbanan.

Hijrah adalah kebangkitan.

Karena itulah Muharram seharusnya menjadi momentum bagi setiap Muslim untuk bertanya kepada dirinya sendiri:

"Apa yang harus aku tinggalkan tahun ini?"

"Apa yang harus aku perbaiki?"

"Sudahkah aku berhijrah menjadi manusia yang lebih baik?"

Namun pertanyaan-pertanyaan besar itu sering tenggelam di tengah berbagai cerita yang berkembang di masyarakat.

Ketika Muharram Menjadi Suro

Masyarakat Jawa memiliki sejarah panjang yang sangat kaya. Pada masa Sultan Agung, dilakukan reformasi besar terhadap sistem kalender Jawa. Kalender Saka yang telah digunakan selama berabad-abad diselaraskan dengan kalender Hijriah.

Muharram kemudian dikenal dengan nama Suro, yang diyakini berasal dari kata Asyura. Langkah ini bukan sekadar perubahan nama bulan. Ia merupakan simbol pertemuan antara identitas Jawa dan Islam.

Sultan Agung tidak menghapus budaya Jawa. Sebaliknya, beliau berusaha menjembatani budaya Jawa dengan nilai-nilai Islam. Karena itu, pada mulanya Suro bukanlah simbol pemisahan antara Jawa dan Islam. Justru sebaliknya. Suro menjadi bukti bahwa keduanya dapat berjalan berdampingan.

Lalu Mengapa Suro Identik dengan Mistisisme?

Di sinilah persoalan mulai menarik.

Hari ini, jika seseorang mendengar kata "Muharram", yang terbayang adalah Tahun Baru Islam. Namun ketika mendengar kata "Suro", yang muncul justru:

·       malam keramat,

·       pantangan menikah,

·       ritual pusaka,

·       tirakat,

·       tempat angker,

·       dan berbagai kisah dunia gaib.

Film-film horor turut memperkuat citra tersebut. Cerita turun-temurun terus diwariskan. Lama-kelamaan, masyarakat lebih mengenal Suro sebagai bulan yang menyeramkan daripada bulan yang menginspirasi perubahan. Padahal jika direnungkan, tidak ada satu pun ajaran Islam yang menyatakan bahwa Muharram adalah bulan kesialan.

Tidak ada dalil yang melarang menikah di bulan Muharram.

Tidak ada ajaran yang menyebut bulan ini sebagai bulan sial.

Sebaliknya, Muharram justru termasuk salah satu bulan mulia dalam Islam.

Apakah Ini Hanya Kebetulan Sejarah?

Pertanyaan ini sering memunculkan perdebatan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa unsur-unsur mistis dalam budaya Jawa telah ada jauh sebelum kedatangan Islam maupun kolonial Belanda.

Namun ada hal menarik yang dapat membuka ruang diskusi yang panjang. Setelah Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro, Belanda menyadari satu kenyataan yang sangat menakutkan: Ketika ulama, umat Islam, dan masyarakat Jawa bersatu, kekuatan mereka sangat sulit dikalahkan.

Hal yang sama juga terjadi dalam Perang Aceh.

Selama ulama, rakyat, dan pemimpin adat berjalan bersama, Belanda mengalami kesulitan luar biasa. Baru setelah muncul perpecahan, posisi kolonial menjadi lebih kuat. Karena itulah muncul pertanyaan yang layak direnungkan:

Apakah kolonialisme ikut memperlebar jarak antara Islam dan budaya Jawa yang sebelumnya telah dipertemukan oleh para ulama, Wali Songo, dan Sultan Agung?

Namun satu hal yang jelas, politik pecah belah merupakan strategi yang memang berkali-kali digunakan oleh penjajah di berbagai wilayah Nusantara.

Yang Hilang Bukan Nama Bulannya

Sesungguhnya persoalan utama bukanlah apakah kita menyebutnya Muharram atau Suro.

Yang menjadi masalah adalah ketika maknanya berubah.

Yang hilang bukan nama bulan.

Yang hilang adalah ruh hijrah.

Kita masih merayakan pergantian tahun.

Tetapi sering lupa melakukan perubahan.

Kita masih mengenang malamnya.

Tetapi lupa mengambil pelajarannya.

Kita masih membicarakan mitos-mitosnya.

Tetapi lupa merenungkan perjuangan Rasulullah.

Padahal esensi hijrah tidak pernah berubah.

Hijrah adalah meninggalkan keburukan menuju kebaikan.

Hijrah adalah meninggalkan kemalasan menuju produktivitas.

Hijrah adalah meninggalkan perpecahan menuju persatuan.

Hijrah adalah meninggalkan dosa menuju ketaatan.

Saatnya Mengembalikan Ruh Muharram

Mungkin sudah saatnya kita bertanya kembali:

Mengapa kita lebih mengenal pantangan Suro daripada sejarah hijrah?

Mengapa kita lebih takut kepada berbagai mitos daripada takut kepada dosa-dosa kita sendiri?

Mengapa kita lebih sibuk membersihkan pusaka daripada membersihkan hati?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak ditujukan untuk menyalahkan budaya.

Bukan pula untuk menghapus tradisi.

Tetapi agar kita tidak kehilangan pesan terbesar yang dibawa bulan ini.

Muharram hadir setiap tahun untuk mengingatkan bahwa hidup harus terus bergerak menuju kebaikan.

Bahwa manusia tidak boleh berhenti berubah.

Bahwa umat tidak boleh berhenti bangkit.

Dan bahwa hijrah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan tugas yang harus terus dilakukan sepanjang hidup.

Ketika 1 Muharram tiba, yang seharusnya paling kita khawatirkan bukanlah mitos-mitos tentang Suro.

Melainkan pertanyaan yang jauh lebih penting: "Sudah sejauh mana aku berhijrah menjadi manusia yang lebih baik dibanding tahun lalu?"

"Jangan sampai kita lebih mengenal Malam Satu Suro daripada peristiwa Hijrah, lebih hafal pantangan daripada perjuangan Rasulullah, dan lebih takut kepada mitos daripada takut kehilangan petunjuk Allah."

Baca juga:

·       Benih-Benih Perpecahan Umat

·       Islam, Napoleon Bonaparte, dan Snouck Hurgronje (Bagian 1)

·       Islam, Napoleon Bonaparte, dan Snouck Hurgronje (Bagian 2)

·       Perang Sabil Kesultanan Ternate – Portugis