Doa yang Tidak Mengantarkan ke Allah
Doa merupakan kebutuhan manusia untuk menyampaikan harapan dan keinginannya kepada Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Pemberi. Melalui doa, manusia berkomunikasi dengan Tuhannya, menyatakan ketergantungannya, serta memohon pertolongan dan petunjuk dari Sang Maha Pencipta. Berdoa juga merupakan wujud penghambaan diri sekaligus simbol ketundukan seorang hamba kepada Sang Khaliq.
Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari menjelaskan bahwa doa memiliki pilar-pilar, sayap-sayap, sebab-sebab, dan waktu-waktu tertentu. Pilar-pilar itu akan menguatkan doa, sayap-sayapnya akan menerbangkannya ke langit, sedangkan sebab-sebab dan waktu-waktu yang tepat menjadi jalan agar doa lebih mudah dikabulkan.
Namun, apa jadinya jika doa dipanjatkan bukan kepada Sang Maha Pemberi? Pertanyaan itu mengingatkanku pada sebuah kisah yang pernah dituturkan ibuku tentang tetangganya dahulu.
Pak Warno adalah seorang tukang sol sepatu keliling. Dengan langkah yang sedikit pincang, ia menawarkan jasa menjahit, menambal sepatu atau sandal yang rusak, serta mengganti sol yang aus. Penghasilannya pas-pasan sehingga hidupnya serba kekurangan.
Sudah beberapa hari Pak Warno tidak keluar rumah untuk menawarkan jasanya dari satu gang ke gang lainnya. Ia lebih banyak mengurung diri di kamar sempitnya, tampak linglung dan sulit diajak berbicara. Keluarganya pun kebingungan melihat perubahan sikapnya yang mendadak. Karena sudah lama tidak melihatnya berkeliling, seorang tetangga berinisiatif datang untuk menjenguk dan menanyakan keadaannya. Padahal, biasanya Pak Warno selalu menyempatkan diri berhenti sejenak untuk menyapa siapa pun yang ditemuinya di jalan.
"Apa kesambet, ya, Bu?" tanyanya lirih.
"Ndak tahu, Pak. Tiba-tiba saja jadi seperti ini. Kemarin masih biasa-biasa saja," jawab istri Pak Warno dengan bingung.
Tetangganya terdiam sejenak sebelum berkata,
"Kalau begitu, coba minta Pak Yai Husen melihatnya, Bu."
Ia lalu mendekat dan berbisik, "Jangan-jangan ada yang mengganggu. Bukankah beberapa hari lalu Pak Warno sempat lewat dekat pohon beringin di lapangan itu?"
“Mungkin juga, ya, Pak. Biar nanti Sardi ke rumah Pak Yai Husen,” kata Bu Warno.
Sore harinya, Pak Yai Husen datang ke rumah Pak Warno. Sambil mengangguk-angguk pelan, Pak Yai Husen bergumam, “O… ya.. ya..ya,” kemudian meminta kepada Bu Warno segelas air.
Dengan sedikit menunduk dan memejamkan matanya, bibir Pak Yai Husen tampak sedikit bergerak-gerak merapalkan doa-doa, kemudian meniupkannya ke air dalam gelas. “Tolong diminumkan ke Pak Warno, dan ambil sedikit air kemudian usapkan ke wajah Pak Warno,” perintah Pak Yai Husen kepada Bu Warno.
Semua yang hadir di rumah Pak Warno terdiam. Mereka memperhatikan dengan saksama setiap gerakan Bu Warno saat memberikan air yang telah didoakan kepada suaminya. Pak Yai Husen kemudian beranjak dari tempat duduknya, mendekat dan meletakkan telapak kanan di atas kepala Pak Warno sambil membaca doa-doa. Beberapa saat kemudian, kelopak mata Pak Warno mulai bergerak. Ia mengerjap beberapa kali seolah baru terbangun dari tidur yang sangat panjang. Pandangannya berkeliling ke seluruh ruangan.
"Lho... ada apa ini?" tanyanya heran ketika melihat banyak orang mengelilinginya.
“Alhamdulillah….” ucap semua yang ada di ruangan itu dengan serentak tanpa dikomandoi.
“Pak Warno, amalan apa yang kamu lakukan selama ini?” tanya Pak Yai Husen memecahkan suasana riuh kegembiraan.
“E… anu, Pak Yai,” jawab Pak Warno terbata-bata dan sedikit rasa malu, kemudian menceritakan apa yang dialaminya.
Suatu siang yang terik, setelah berkeliling cukup jauh, Pak Warno berteduh di bawah rindangnya sebuah pohon. Keringat membasahi bajunya. Hari itu ia hanya memperoleh sedikit uang dari hasil menambal sandal dan sepatu. Tak jarang ia harus menahan keinginan anak-anaknya karena penghasilannya hanya cukup untuk makan seadanya.
Di tempat itulah ia berkenalan dengan seorang laki-laki setengah baya yang juga sedang berteduh. Obrolan ringan tentang cuaca berubah menjadi percakapan tentang kehidupan. Tanpa sadar Pak Warno mencurahkan kesulitan hidup yang selama ini dipendamnya. Laki-laki itu kemudian bertanya apakah Pak Warno bersedia menjalani sebuah "laku tertentu" yang konon dapat membuka jalan rezeki dan mengubah nasib hidupnya. Tanpa pikir panjang, Pak Warno menyetujuinya.
Laki-laki itu mengajarkan berbagai pantangan dan amalan yang harus dijalankan. Ia juga memberikan beberapa doa yang harus dibaca pada tengah malam dalam jumlah tertentu, minimal selama 21 hari dan maksimal 40 hari tanpa terputus sehari pun.
Hari demi hari berlalu tanpa kejadian apa pun. Malam pertama, kedua, hingga malam kedua puluh, Pak Warno hanya duduk sendiri membaca amalan yang diajarkan laki-laki itu. Sering kali ia mulai ragu dan ingin menghentikannya. Namun harapan untuk mengubah nasib membuatnya tetap bertahan, hingga akhirnya, pada malam ke-21, suasana di sekelilingnya berubah. Aroma harum semerbak memenuhi ruangan, disusul hembusan angin dingin yang membuat bulu kuduknya meremang. Tak lama kemudian, di hadapannya muncul seorang wanita yang sangat cantik dengan senyum yang lembut.
Pak Warno tidak menghiraukannya. Ia menganggap wanita itu hanyalah jin yang berusaha menggodanya dan mengganggu lelaku yang sedang dijalaninya. Namun, saat sosok itu datang untuk ketiga kalinya, senyum lembut yang biasanya menghiasi wajahnya lenyap. Tatapannya berubah tajam dan penuh kemarahan.
“Dasar pincang… memanggil orang untuk datang ke sini, tapi tidak dihiraukan, tidak dianggap, tidak disambut dengan salam selamat datang…” dengus sosok itu. Kemudian ia menjejalkan sesuatu ke telinga kanan dan kiri Pak Warno, dan pergi dengan kemarahan. Sejak malam itu Pak Warno menjadi linglung.
“Pak Warno, berhati-hatilah dengan lelaku dan doa-doa yang tidak sesuai dengan syariat. Ketahuilah bahwa yang kamu lakukan adalah lelaku untuk memanggil jin. Dengan bantuan jin itu, seseorang dapat meminta harta dan berbagai keinginan duniawi lainnya,” kata Pak Yai Husen setelah mendengar cerita Pak Warno. Kemudian melanjutkan, “Syukur alhamdulillah, kamu tidak sampai mengikatkan diri dengan jin itu. Jin itu tidak memberikan harta kekayaan secara cuma-cuma. Tentu ada konsekuensi yang harus diberikan kepadanya. Bertobatlah karena kamu telah melakukan kesyirikan walaupun tanpa engkau menyadarinya.”
Pak Warno hanya tertunduk. Ia tidak pernah menyangka bahwa jalan yang diyakininya sebagai ikhtiar mencari rezeki ternyata justru membawanya ke pintu kesesatan.
Karena itu, sebelum mengamalkan sebuah doa atau wirid tertentu, seorang muslim perlu memastikan bahwa amalan tersebut memiliki landasan yang benar dalam syariat. Sebab tidak setiap doa yang terdengar indah akan mengantarkan seseorang kepada Allah. Ada amalan yang tampak seperti doa, tetapi justru menjadi pintu menuju kesesatan apabila diamalkan tanpa ilmu dan petunjuk yang benar.
Baca juga:
1. Ketiban Ndaru, Ketiban Pulung
2. Nabi Syith AS: Penerus Nabi Adam dan Penerima 50 Suhuf
dari Allah
3. Sudah Berdoa Tapi Tak Dikabulkan?
4. Azab Tertahan Karena Doa Seorang Ibu