Saat Abu Hurairah Diperdaya Setan, Rasulullah Hanya Tersenyum
Di antara ribuan sahabat Rasulullah,
hanya sedikit nama yang begitu akrab di telinga umat Islam. Salah satunya
adalah Abu Hurairah, sahabat yang meriwayatkan hadis lebih banyak daripada
sahabat lainnya. Mayoritas ulama hadis menempatkan Abu Hurairah sebagai
periwayat terpercaya, bahkan Imam asy-Syafi'i berkata, “Abu Hurairah adalah
orang yang paling hafal di antara para periwayat hadis pada masanya.”
Namun di balik reputasinya, tidak banyak
yang mengetahui bahwa sahabat yang terkenal karena hafalannya ini pernah
mengalami peristiwa yang sangat unik—bahkan melibatkan setan secara langsung.
Terdapat sebuah kisah menarik ketika Rasulullah mempercayainya untuk menjaga
gudang penyimpanan zakat kaum Muslimin.
Malam telah larut di Madinah. Jalan-jalan
mulai lengang dan hanya sesekali terdengar langkah orang yang masih
beraktivitas. Di sebuah gudang tempat penyimpanan hasil zakat, Abu Hurairah
berjaga seorang diri. Di tengah kesunyian malam, ia melihat seorang laki-laki
bergerak perlahan memasuki gudang dengan langkah yang mengendap-endap. Tanpa
membuang waktu, Abu Hurairah segera menyergap dan menangkapnya. Lelaki itu
tidak sempat melarikan diri.
Abu Hurairah meyakini bahwa laki-laki itu
akan mencuri, maka segera ditangkap, dan akan dibawa menghadap kepada
Rasulullah.
Dalam sebuah riwayat, laki-laki itu
berkata, "Jangan serahkan aku kepada Muhammad. Aku memiliki keluarga yang
kelaparan. Demi Allah, aku tidak akan mengulanginya lagi." pinta lelaki
itu dengan suara penuh harap.
Abu Hurairah luluh, hatinya merasa
kasihan, kemudian melepaskannya dengan syarat tidak akan mengulangi
perbuatannya lagi.
Keesokan harinya, peristiwa semalam
dicerikannya kepada Rasulullah. Sambil tersenyum, Rasulullah mengatakan bahwa
pencuri itu pasti akan kembali.
Malam berikutnya lelaki itu kembali
tertangkap. Sekali lagi ia memohon belas kasihan, dan sekali lagi Abu Hurairah
luluh. Keesokan harinya Abu Hurairah kembali menceritakan kejadian itu.
Rasulullah hanya tersenyum seraya mengatakan bahwa lelaki tersebut pasti akan
datang lagi.
Keesokan malamnya pencuri tersebut
tertangkap lagi. Kali ini Abu Hurairah bersikeras tidak akan melepaskannya. Ia
teringat bahwa Rasulullah telah dua kali mengatakan lelaki itu pasti akan
kembali. Ia tidak ingin untuk ketiga kalinya gagal menjalankan amanah
Rasulullah.
Menyadari bahwa kali ini tidak mungkin
dibebaskan, lelaki itu berkata, "Aku akan mengajarkan kepadamu sesuatu
yang akan sangat bermanfaat. Jika engkau membaca Ayat Kursi sebelum tidur,
Allah akan mengutus penjaga bagimu sehingga setan tidak akan mendekat hingga
pagi."
Abu Hurairah sekali lagi melepaskan
pencuri itu. Keesokan paginya Abu Hurairah kembali menceritakan semuanya kepada
Rasulullah.
Rasulullah bersabda,
"Ia
telah berkata benar kepadamu, padahal ia adalah pendusta. Tahukah engkau siapa
yang berbicara kepadamu selama tiga malam itu? Dia adalah setan." (HR.
al-Bukhari)
Sungguh menarik, bahkan setan sendiri
mengakui keutamaan Ayat Kursi. Ia mengetahui bahwa siapa pun yang membacanya
sebelum tidur akan berada dalam penjagaan Allah hingga pagi. Betapa agungnya
firman Allah tersebut sehingga setan—musuh manusia yang paling nyata— sekalipun
tidak dapat mengingkari kebenarannya.
Senyuman Rasulullah bukanlah tanda
meremehkan peristiwa itu. Dengan pengetahuan yang Allah anugerahkan kepadanya,
Rasulullah mengetahui bahwa makhluk yang ditemui Abu Hurairah bukanlah pencuri
biasa. Karena itulah beliau berulang kali mengatakan bahwa lelaki tersebut
pasti akan kembali. Senyuman itu mencerminkan ketenangan seorang nabi yang
mengetahui hakikat di balik peristiwa yang belum dipahami sahabatnya.
Kisah ini mengajarkan bahwa kelembutan
hati adalah sifat yang mulia, tetapi harus berjalan beriringan dengan
kebijaksanaan. Tidak semua wajah yang tampak memelas menyimpan kejujuran.
Namun, di balik tipu daya setan, Allah tetap menunjukkan jalan perlindungan
bagi hamba-Nya melalui Ayat Kursi. Karena itu, sebelum memejamkan mata setiap
malam, jangan lupa membaca Ayat Kursi sebagai ikhtiar memohon penjagaan kepada
Allah Yang Mahakuasa.
Baca juga:
Mengenal Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Sahabat
Periwayat Hadis Terbanyak