Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

02 Juli 2026

Di antara Rasional dan Irasional

 

Surabaya pada dekade 1960-an adalah kota yang sangat berbeda dari wajahnya hari ini. Saat itu, anak-anak belum mengenal gawai atau permainan digital. Lapangan, gang-gang kampung, dan tanah kosong menjadi arena tempat mereka berlari, tertawa, dan menghabiskan waktu hingga senja tiba.

Di tengah suasana itulah seorang anak tumbuh di kawasan sekitar Kebun Binatang Surabaya (KBS) dan Terminal Joyoboyo. Ia mengira masa kecilnya hanya akan dipenuhi permainan dan keceriaan. Namun, tanpa pernah disadarinya, langkah-langkah kecilnya justru membawanya melintasi batas yang sangat tipis antara dunia yang dapat dijelaskan oleh akal dan sesuatu yang hingga kini tetap menyisakan tanda tanya.


Ketika Senja Membuka Batas yang Tak Terlihat

Dalam sebuah kisah nyata yang membekas, terselip cerita tentang seorang anak laki-laki berusia sekitar 9–10 tahun. Suatu sore menjelang Maghrib, ia dan seorang temannya terpikat oleh suara tabuhan musik rakyat—seperti iringan pertunjukan kuda lumping. Pada masa itu, hiburan masih sangat terbatas. TVRI memang telah mengudara, tetapi televisi masih menjadi barang mewah yang tidak dimiliki sebagian besar keluarga. Karena itu, setiap pertunjukan rakyat seperti kuda lumping selalu menjadi hiburan yang dinanti, terutama oleh anak-anak.

Suara itu terdengar begitu nyata, seolah memanggil mereka untuk terus melangkah semakin jauh meninggalkan rumah. Mereka terus mengikuti arah suara, menembus gang-gang sempit, bahkan melintasi halaman dan rumah-rumah warga seolah tidak menyadari bahwa jalur yang mereka lalui sebenarnya bukan jalan umum.

Seorang lelaki tua sempat memperingatkan mereka dalam bahasa Jawa.

"Ojo lewat kono, Le... Gange buntu."

("Jangan lewat situ, Nak... Gangnya buntu.")

 

Mereka seperti kehilangan kesadaran terhadap arah dan jarak. Langkah demi langkah terus mengikuti irama musik hingga akhirnya tiba di sebuah tanah lapang yang terang benderang dan penuh sesak dengan orang-orang yang sedang menyaksikan pertunjukan kuda lumping, yang oleh arek Suroboyo lebih akrab disebut jaran kepang.

Di puncak keramaian itu, sebuah insiden kecil mengubah segalanya. Karena berdesakan, sang teman tersandung sesuatu yang keras hingga mereka berdua jatuh tersungkur. Seketika, suasana yang tadinya ramai dan terang, berubah menjadi gelap gulita dan sunyi senyap. Di sanalah mereka mulai menyadari bahwa keramaian, tabuhan musik, dan pertunjukan yang sejak tadi mereka ikuti telah lenyap tanpa jejak—seolah tidak pernah ada sejak awal.

Setelah napas mereka mulai tenang dan mata terbiasa dengan gelap malam, barulah keduanya menyadari tempat mereka berada. Di hadapan mereka berdiri deretan nisan tua. Sebuah tempat pemakaman yang belum pernah mereka ketahui. Tempat itu kemudian mereka kenang sebagai Kuburan Comal, kemungkinan karena ketika berlari meninggalkan lokasi tersebut mereka keluar melalui Jalan Comal.

Apa yang sebenarnya mereka ikuti malam itu? Apakah hanya ilusi yang diciptakan pikiran anak-anak, ataukah benar ada sesuatu yang membawa mereka melintasi batas yang tak kasatmata? Tidak ada seorang pun yang mampu memberikan jawaban pasti. Hingga puluhan tahun kemudian, peristiwa itu tetap hidup dalam ingatan mereka. Bukan karena berhasil menemukan jawabannya, melainkan karena tidak pernah ada jawaban yang benar-benar mampu menjelaskannya.

Barangkali setiap orang akan memiliki penjelasannya sendiri. Ada yang menganggapnya sekadar ilusi, ada pula yang meyakini bahwa pada waktu-waktu tertentu, batas antara dunia yang kasatmata dan yang tak kasatmata memang tidak selalu setegas yang kita bayangkan.

Peristiwa itu tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya. Namun, alih-alih menjadikannya larut dalam kepercayaan tanpa batas, pengalaman tersebut justru menumbuhkan rasa ingin tahu yang semakin besar terhadap cara kerja alam semesta. Ia belajar bahwa tidak semua pertanyaan harus segera dijawab, tetapi setiap pertanyaan layak untuk dipikirkan dengan jernih.

Dari Misteri Menuju Logika Matematika

Yang menarik, anak yang mengalami pengalaman yang sulit dijelaskan itu justru tumbuh menjadi sosok yang sangat rasional.

Seiring bertambahnya usia, berbagai misteri yang dahulu mengelilinginya perlahan ia dekati melalui disiplin ilmu pengetahuan. Baginya, tidak semua fenomena dapat langsung dijelaskan. Namun, ketidakmampuan manusia menjelaskan sesuatu bukan berarti sesuatu itu tidak ada. Bisa jadi, keterbatasan pengetahuan kitalah yang belum mampu memahaminya.

Cara berpikir logis itu bahkan tercermin dalam humor yang sering ia lontarkan. Ketika seseorang bertanya, "Apa bedanya setengah mati dengan setengah hidup?", ia tidak menjawab dengan renungan filosofis. Sambil tersenyum ia hanya berkata,

"Kalikan saja dengan dua."

Bagi sebagian orang, jawaban itu hanyalah sebuah lelucon. Namun, di balik kelucuannya tersembunyi cara berpikir yang konsisten: ketika dunia dipenuhi paradoks, ia memilih mendekatinya melalui logika. Bukan karena logika selalu mampu menjawab segalanya, tetapi karena logika memberinya pijakan untuk memahami apa yang masih belum dapat dijelaskan.


Berdamai dengan Misteri

Kisah ini mengajarkan kita bahwa hidup manusia bukanlah garis lurus yang kaku. Seseorang bisa saja memiliki ingatan tentang hal-hal yang tidak masuk akal di masa kecil, namun tetap menjadi pribadi yang rasional.

Pengalaman di Kuburan Comal mungkin bukan sekadar kisah tentang sesuatu yang sulit dijelaskan, tetapi sebuah pengingat akan masa kecil, tentang betapa luasnya dunia dan betapa berharganya kenangan yang membentuk karakter seseorang.

Menjadi rasional bukan berarti menolak semua hal yang belum dapat dijelaskan. Justru sebaliknya, rasionalitas adalah keberanian untuk mengakui keterbatasan pengetahuan sambil terus mencari penjelasan yang lebih baik.

Barangkali, ketika masih kecil ia pernah mengikuti suara yang tak mampu dijelaskan. Namun setelah dewasa, ia memilih mengikuti logika tanpa pernah kehilangan kerendahan hati untuk mengakui bahwa masih ada banyak hal yang belum dipahami.

Kini ia telah pergi. Namun cara berpikirnya, humornya, dan kenangan tentang senja itu tetap hidup dalam ingatan orang-orang yang mengenalnya. Dan mungkin, itulah cara terbaik untuk mengenang seseorang—bukan hanya mengingat apa yang pernah ia alami, tetapi juga bagaimana ia memandang kehidupan.

Sebuah senja di Surabaya telah lama berlalu. Namun pelajaran yang ditinggalkannya tidak pernah benar-benar usai.


(Untuk mengenang almarhum kakak ipar)