Di antara Rasional dan Irasional
Surabaya pada dekade 1960-an adalah kota
yang sangat berbeda dari wajahnya hari ini. Saat itu, anak-anak belum mengenal
gawai atau permainan digital. Lapangan, gang-gang kampung, dan tanah kosong
menjadi arena tempat mereka berlari, tertawa, dan menghabiskan waktu hingga
senja tiba.
Di tengah suasana itulah seorang anak
tumbuh di kawasan sekitar Kebun Binatang Surabaya (KBS) dan Terminal Joyoboyo.
Ia mengira masa kecilnya hanya akan dipenuhi permainan dan keceriaan. Namun,
tanpa pernah disadarinya, langkah-langkah kecilnya justru membawanya melintasi
batas yang sangat tipis antara dunia yang dapat dijelaskan oleh akal dan
sesuatu yang hingga kini tetap menyisakan tanda tanya.
Ketika Senja Membuka Batas yang Tak Terlihat
Dalam sebuah kisah nyata yang membekas,
terselip cerita tentang seorang anak laki-laki berusia sekitar 9–10 tahun.
Suatu sore menjelang Maghrib, ia dan seorang temannya terpikat oleh suara
tabuhan musik rakyat—seperti iringan pertunjukan kuda lumping. Pada masa itu,
hiburan masih sangat terbatas. TVRI memang telah mengudara, tetapi televisi
masih menjadi barang mewah yang tidak dimiliki sebagian besar keluarga. Karena
itu, setiap pertunjukan rakyat seperti kuda lumping selalu menjadi hiburan yang
dinanti, terutama oleh anak-anak.
Suara itu terdengar begitu nyata, seolah
memanggil mereka untuk terus melangkah semakin jauh meninggalkan rumah. Mereka
terus mengikuti arah suara, menembus gang-gang sempit, bahkan melintasi halaman
dan rumah-rumah warga seolah tidak menyadari bahwa jalur yang mereka lalui
sebenarnya bukan jalan umum.
Seorang lelaki tua sempat memperingatkan
mereka dalam bahasa Jawa.
"Ojo lewat
kono, Le... Gange buntu."
("Jangan lewat situ, Nak... Gangnya
buntu.")
Mereka seperti kehilangan kesadaran
terhadap arah dan jarak. Langkah demi langkah terus mengikuti irama musik
hingga akhirnya tiba di sebuah tanah lapang yang terang benderang dan penuh
sesak dengan orang-orang yang sedang menyaksikan pertunjukan kuda lumping, yang
oleh arek Suroboyo lebih akrab disebut jaran kepang.
Di puncak keramaian itu, sebuah insiden
kecil mengubah segalanya. Karena berdesakan, sang teman tersandung sesuatu yang
keras hingga mereka berdua jatuh tersungkur. Seketika, suasana yang tadinya
ramai dan terang, berubah menjadi gelap gulita dan sunyi senyap. Di sanalah
mereka mulai menyadari bahwa keramaian, tabuhan musik, dan pertunjukan yang
sejak tadi mereka ikuti telah lenyap tanpa jejak—seolah tidak pernah ada sejak
awal.
Setelah napas mereka mulai tenang dan
mata terbiasa dengan gelap malam, barulah keduanya menyadari tempat mereka
berada. Di hadapan mereka berdiri deretan nisan tua. Sebuah tempat pemakaman
yang belum pernah mereka ketahui. Tempat itu kemudian mereka kenang sebagai Kuburan
Comal, kemungkinan karena ketika berlari meninggalkan lokasi tersebut
mereka keluar melalui Jalan Comal.
Apa yang sebenarnya
mereka ikuti malam itu? Apakah hanya ilusi yang diciptakan pikiran anak-anak,
ataukah benar ada sesuatu yang membawa mereka melintasi batas yang tak
kasatmata? Tidak ada seorang pun yang mampu memberikan jawaban pasti. Hingga
puluhan tahun kemudian, peristiwa itu tetap hidup dalam ingatan mereka. Bukan
karena berhasil menemukan jawabannya, melainkan karena tidak pernah ada jawaban
yang benar-benar mampu menjelaskannya.
Barangkali setiap
orang akan memiliki penjelasannya sendiri. Ada yang menganggapnya sekadar
ilusi, ada pula yang meyakini bahwa pada waktu-waktu tertentu, batas antara
dunia yang kasatmata dan yang tak kasatmata memang tidak selalu setegas yang
kita bayangkan.
Peristiwa itu tidak
pernah benar-benar hilang dari ingatannya. Namun, alih-alih menjadikannya larut
dalam kepercayaan tanpa batas, pengalaman tersebut justru menumbuhkan rasa
ingin tahu yang semakin besar terhadap cara kerja alam semesta. Ia belajar
bahwa tidak semua pertanyaan harus segera dijawab, tetapi setiap pertanyaan
layak untuk dipikirkan dengan jernih.
Dari Misteri Menuju Logika Matematika
Yang menarik, anak
yang mengalami pengalaman yang sulit dijelaskan itu justru tumbuh menjadi sosok
yang sangat rasional.
Seiring
bertambahnya usia, berbagai misteri yang dahulu mengelilinginya perlahan ia
dekati melalui disiplin ilmu pengetahuan. Baginya, tidak semua fenomena
dapat langsung dijelaskan. Namun, ketidakmampuan manusia menjelaskan sesuatu bukan
berarti sesuatu itu tidak ada. Bisa jadi, keterbatasan pengetahuan kitalah yang
belum mampu memahaminya.
Cara berpikir logis itu bahkan tercermin
dalam humor yang sering ia lontarkan. Ketika seseorang bertanya, "Apa
bedanya setengah mati dengan setengah hidup?", ia tidak menjawab dengan
renungan filosofis. Sambil tersenyum ia hanya berkata,
"Kalikan
saja dengan dua."
Bagi sebagian orang, jawaban itu hanyalah
sebuah lelucon. Namun, di balik kelucuannya tersembunyi cara berpikir yang
konsisten: ketika dunia dipenuhi paradoks, ia memilih mendekatinya melalui
logika. Bukan karena logika selalu mampu menjawab segalanya, tetapi karena
logika memberinya pijakan untuk memahami apa yang masih belum dapat dijelaskan.
Berdamai dengan Misteri
Kisah ini mengajarkan kita bahwa hidup
manusia bukanlah garis lurus yang kaku. Seseorang bisa saja memiliki ingatan
tentang hal-hal yang tidak masuk akal di masa kecil, namun tetap menjadi
pribadi yang rasional.
Pengalaman di Kuburan Comal mungkin bukan
sekadar kisah tentang sesuatu yang sulit dijelaskan, tetapi sebuah pengingat
akan masa kecil, tentang betapa luasnya dunia dan betapa berharganya kenangan
yang membentuk karakter seseorang.
Menjadi rasional bukan berarti menolak
semua hal yang belum dapat dijelaskan. Justru sebaliknya, rasionalitas adalah
keberanian untuk mengakui keterbatasan pengetahuan sambil terus mencari
penjelasan yang lebih baik.
Barangkali, ketika masih kecil ia pernah
mengikuti suara yang tak mampu dijelaskan. Namun setelah dewasa, ia memilih
mengikuti logika tanpa pernah kehilangan kerendahan hati untuk mengakui bahwa
masih ada banyak hal yang belum dipahami.
Kini ia telah pergi. Namun cara
berpikirnya, humornya, dan kenangan tentang senja itu tetap hidup dalam ingatan
orang-orang yang mengenalnya. Dan mungkin, itulah cara terbaik untuk mengenang
seseorang—bukan hanya mengingat apa yang pernah ia alami, tetapi juga bagaimana
ia memandang kehidupan.
Sebuah senja di Surabaya telah lama
berlalu. Namun pelajaran yang ditinggalkannya tidak pernah benar-benar usai.
(Untuk mengenang
almarhum kakak ipar)