Mengenal Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Sahabat Periwayat Hadis Terbanyak
Di antara para sahabat Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, nama Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menempati
posisi yang sangat istimewa. Beliau dikenal sebagai sahabat yang paling banyak
meriwayatkan hadis Nabi, dengan jumlah lebih dari 5.374 hadis.
Nama Abu Hurairah hampir selalu disebut
ketika membahas ilmu hadis. Kedekatannya dengan Rasulullah serta kekuatan
hafalannya menjadikan beliau sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah
Islam.
Siapa Abu Hurairah?
Abu Hurairah lahir sekitar 19 tahun
sebelum Hijriyah. Ia berasal dari kabilah Ad-Daus di Yaman. Nama aslinya
sebelum masuk Islam tidak diketahui secara pasti, namun pendapat yang paling
masyhur menyebutkan bahwa namanya adalah Abdusy Syams. Setelah memeluk Islam,
Rasulullah mengganti namanya menjadi Abdurrahman.
Beliau masuk Islam pada tahun ke-7
Hijriyah, tepat ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat
menuju Khaibar.
Julukan “Abu Hurairah” diberikan langsung
oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah kisah disebutkan
bahwa suatu hari Nabi melihat ada sesuatu di lengan baju Abu Hurairah. Ketika
ditanya, ternyata di dalamnya ada seekor anak kucing kecil. Karena kecintaannya
kepada anak kucing itulah Rasulullah kemudian memanggilnya dengan nama “Abu
Hurairah”, yang berarti “ayah dari anak kucing”.
Setelah berhijrah dari Yaman ke Madinah,
Abu Hurairah hidup dalam kondisi sangat miskin. Ia meninggalkan hartanya di
Yaman demi Islam. Saat itu, kaum muslimin menyediakan tempat tinggal sederhana
di Masjid Nabawi bagi orang-orang miskin yang tidak memiliki keluarga maupun
harta. Mereka dikenal sebagai Ahlu Suffah. Abu Hurairah termasuk salah
satu Ahlu Suffah, bahkan dikenal sebagai orang yang paling tekun menuntut ilmu
di antara mereka. Ia hampir tidak pernah absen menghadiri majelis Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Karena kedekatannya dengan Nabi, Abu
Hurairah mampu menghafal begitu banyak hadis. Ia sendiri pernah berkata:
“Saudara-saudara
kami dari kaum Muhajirin sibuk berdagang di pasar, sedangkan kaum Anshar sibuk
mengurus ladang mereka. Adapun aku adalah orang miskin yang selalu bersama
Rasulullah. Aku hadir ketika mereka tidak hadir, dan aku menghafal ketika
mereka lupa.” (HR. Bukhari)
Pada awalnya, Abu Hurairah merasa dirinya
memiliki hafalan yang lemah. Ia lalu mengadu kepada Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Nabi kemudian mendoakannya agar diberi kekuatan hafalan.
Allah pun mengabulkan doa tersebut. Sejak saat itu, Abu Hurairah dikenal
memiliki daya ingat yang luar biasa, dan menjadi sahabat yang paling banyak
meriwayatkan hadis Nabi.
Karena itulah, para ulama hadis
menempatkan Abu Hurairah sebagai salah satu periwayat paling terpercaya dalam
Islam.
Pada masa kekhalifahan Umar bin
Khaththab, Abu Hurairah pernah diangkat menjadi gubernur di Bahrain. Selama
menjabat, ia memiliki kekayaan sekitar 10.000 dinar. Umar yang dikenal sangat
tegas terhadap pejabat negara kemudian meminta penjelasan tentang asal-usul
harta tersebut.
Abu Hurairah menjelaskan bahwa hartanya
berasal dari hasil pengembangbiakan dan penyewaan kuda miliknya. Namun Umar
tetap meminta agar hasil usaha itu diserahkan ke Baitul Mal karena para pejabat
saat itu dilarang memanfaatkan jabatan untuk kepentingan bisnis pribadi.
Setelah menyerahkan hartanya, Abu
Hurairah memilih mengundurkan diri dari jabatannya. Bahkan ketika Umar
memintanya kembali menjadi gubernur, ia menolak karena takut tidak mampu
menjaga amanah dengan sempurna.
Karena meriwayatkan begitu banyak hadis,
Abu Hurairah pernah mendapat tuduhan menyebarkan hadis palsu. Mendengar hal
itu, Khalifah Umar meminta penjelasan langsung darinya. Abu Hurairah kemudian
menyampaikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Barang siapa
berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menyiapkan tempat
duduknya di neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mendengar itu, Umar pun menerima
penjelasannya dan membiarkannya terus meriwayatkan hadis.
Pada masa kekhalifahan Ali bin Abi
Thalib, Abu Hurairah sempat diminta menjadi gubernur Madinah, namun ia menolak.
Baru pada masa Muawiyah bin Abi Sufyan, atas saran Marwan bin Hakam, Abu
Hurairah bersedia menjadi gubernur Madinah.
Sikap ini menunjukkan betapa
berhati-hatinya beliau terhadap amanah kekuasaan.
Menjelang wafatnya, Abu Hurairah terlihat
menangis. Ketika ditanya alasan tangisnya, ia menjawab dengan kalimat yang
sangat menyentuh:
“Aku tidak menangisi dunia kalian ini.
Aku menangis karena jauhnya perjalanan dan sedikitnya bekal yang kubawa. Aku
berada di ujung jalan menuju surga atau neraka, dan aku tidak tahu ke mana aku
akan dibawa.”
Ucapan ini menunjukkan betapa besar rasa
takut dan harap beliau kepada Allah, meskipun ia termasuk sahabat Nabi yang
mulia.
Abu Hurairah wafat pada usia sekitar 78
tahun. Banyak sahabat dan tabi’in merasa kehilangan atas wafat beliau.
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar turut mengiringi jenazahnya sambil
berkata, “Orang ini adalah orang yang paling hafal hadis Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam.”
Sebagian orang pernah menuduh Abu
Hurairah melakukan tadlis karena beliau meriwayatkan hadis Rasulullah dan juga
kisah-kisah dari Ka’ab al-Akhbar. Namun para ulama menjelaskan bahwa kekeliruan
itu bukan berasal dari Abu Hurairah sendiri, melainkan dari sebagian orang yang
salah memahami riwayatnya.
Bisyr bin Sa’id bahkan membela Abu
Hurairah dengan tegas. Ia mengatakan bahwa Abu Hurairah membedakan dengan jelas
antara hadis Nabi dan riwayat Ka’ab al-Akhbar, tetapi sebagian pendengar yang
kemudian mencampurkannya.
Karena itu, mayoritas ulama hadis tetap
menempatkan Abu Hurairah sebagai periwayat terpercaya. Imam Syafi'i pernah
berkata, “Abu Hurairah adalah orang yang paling hafal di antara para periwayat
hadis pada masanya.”
Pujian ini menunjukkan betapa besar
kedudukan Abu Hurairah dalam dunia ilmu hadis dan sejarah Islam.
Kisah hidup Abu Hurairah Radhiyallahu
‘anhu mengajarkan bahwa kemuliaan bukanlah tentang harta atau jabatan,
melainkan tentang kedekatan dengan ilmu dan ketulusan dalam menjaga agama
Allah.
Beliau datang ke Madinah sebagai seorang
miskin, tetapi pulang dari dunia sebagai salah satu penjaga warisan Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling besar jasanya bagi umat Islam.