Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

14 Mei 2026

Mengenal Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Sahabat Periwayat Hadis Terbanyak

 

Di antara para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, nama Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menempati posisi yang sangat istimewa. Beliau dikenal sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis Nabi, dengan jumlah lebih dari 5.374 hadis.

Nama Abu Hurairah hampir selalu disebut ketika membahas ilmu hadis. Kedekatannya dengan Rasulullah serta kekuatan hafalannya menjadikan beliau sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Islam.

Siapa Abu Hurairah?

Abu Hurairah lahir sekitar 19 tahun sebelum Hijriyah. Ia berasal dari kabilah Ad-Daus di Yaman. Nama aslinya sebelum masuk Islam tidak diketahui secara pasti, namun pendapat yang paling masyhur menyebutkan bahwa namanya adalah Abdusy Syams. Setelah memeluk Islam, Rasulullah mengganti namanya menjadi Abdurrahman.

Beliau masuk Islam pada tahun ke-7 Hijriyah, tepat ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat menuju Khaibar.

Julukan “Abu Hurairah” diberikan langsung oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah kisah disebutkan bahwa suatu hari Nabi melihat ada sesuatu di lengan baju Abu Hurairah. Ketika ditanya, ternyata di dalamnya ada seekor anak kucing kecil. Karena kecintaannya kepada anak kucing itulah Rasulullah kemudian memanggilnya dengan nama “Abu Hurairah”, yang berarti “ayah dari anak kucing”.

Setelah berhijrah dari Yaman ke Madinah, Abu Hurairah hidup dalam kondisi sangat miskin. Ia meninggalkan hartanya di Yaman demi Islam. Saat itu, kaum muslimin menyediakan tempat tinggal sederhana di Masjid Nabawi bagi orang-orang miskin yang tidak memiliki keluarga maupun harta. Mereka dikenal sebagai Ahlu Suffah. Abu Hurairah termasuk salah satu Ahlu Suffah, bahkan dikenal sebagai orang yang paling tekun menuntut ilmu di antara mereka. Ia hampir tidak pernah absen menghadiri majelis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena kedekatannya dengan Nabi, Abu Hurairah mampu menghafal begitu banyak hadis. Ia sendiri pernah berkata:

“Saudara-saudara kami dari kaum Muhajirin sibuk berdagang di pasar, sedangkan kaum Anshar sibuk mengurus ladang mereka. Adapun aku adalah orang miskin yang selalu bersama Rasulullah. Aku hadir ketika mereka tidak hadir, dan aku menghafal ketika mereka lupa.” (HR. Bukhari)

Pada awalnya, Abu Hurairah merasa dirinya memiliki hafalan yang lemah. Ia lalu mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi kemudian mendoakannya agar diberi kekuatan hafalan. Allah pun mengabulkan doa tersebut. Sejak saat itu, Abu Hurairah dikenal memiliki daya ingat yang luar biasa, dan menjadi sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis Nabi.

Karena itulah, para ulama hadis menempatkan Abu Hurairah sebagai salah satu periwayat paling terpercaya dalam Islam.

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab, Abu Hurairah pernah diangkat menjadi gubernur di Bahrain. Selama menjabat, ia memiliki kekayaan sekitar 10.000 dinar. Umar yang dikenal sangat tegas terhadap pejabat negara kemudian meminta penjelasan tentang asal-usul harta tersebut.

Abu Hurairah menjelaskan bahwa hartanya berasal dari hasil pengembangbiakan dan penyewaan kuda miliknya. Namun Umar tetap meminta agar hasil usaha itu diserahkan ke Baitul Mal karena para pejabat saat itu dilarang memanfaatkan jabatan untuk kepentingan bisnis pribadi.

Setelah menyerahkan hartanya, Abu Hurairah memilih mengundurkan diri dari jabatannya. Bahkan ketika Umar memintanya kembali menjadi gubernur, ia menolak karena takut tidak mampu menjaga amanah dengan sempurna.

Karena meriwayatkan begitu banyak hadis, Abu Hurairah pernah mendapat tuduhan menyebarkan hadis palsu. Mendengar hal itu, Khalifah Umar meminta penjelasan langsung darinya. Abu Hurairah kemudian menyampaikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mendengar itu, Umar pun menerima penjelasannya dan membiarkannya terus meriwayatkan hadis.

Pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah sempat diminta menjadi gubernur Madinah, namun ia menolak. Baru pada masa Muawiyah bin Abi Sufyan, atas saran Marwan bin Hakam, Abu Hurairah bersedia menjadi gubernur Madinah.

Sikap ini menunjukkan betapa berhati-hatinya beliau terhadap amanah kekuasaan.

Menjelang wafatnya, Abu Hurairah terlihat menangis. Ketika ditanya alasan tangisnya, ia menjawab dengan kalimat yang sangat menyentuh:

“Aku tidak menangisi dunia kalian ini. Aku menangis karena jauhnya perjalanan dan sedikitnya bekal yang kubawa. Aku berada di ujung jalan menuju surga atau neraka, dan aku tidak tahu ke mana aku akan dibawa.”

Ucapan ini menunjukkan betapa besar rasa takut dan harap beliau kepada Allah, meskipun ia termasuk sahabat Nabi yang mulia.

Abu Hurairah wafat pada usia sekitar 78 tahun. Banyak sahabat dan tabi’in merasa kehilangan atas wafat beliau. Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar turut mengiringi jenazahnya sambil berkata, “Orang ini adalah orang yang paling hafal hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Sebagian orang pernah menuduh Abu Hurairah melakukan tadlis karena beliau meriwayatkan hadis Rasulullah dan juga kisah-kisah dari Ka’ab al-Akhbar. Namun para ulama menjelaskan bahwa kekeliruan itu bukan berasal dari Abu Hurairah sendiri, melainkan dari sebagian orang yang salah memahami riwayatnya.

Bisyr bin Sa’id bahkan membela Abu Hurairah dengan tegas. Ia mengatakan bahwa Abu Hurairah membedakan dengan jelas antara hadis Nabi dan riwayat Ka’ab al-Akhbar, tetapi sebagian pendengar yang kemudian mencampurkannya.

Karena itu, mayoritas ulama hadis tetap menempatkan Abu Hurairah sebagai periwayat terpercaya. Imam Syafi'i pernah berkata, “Abu Hurairah adalah orang yang paling hafal di antara para periwayat hadis pada masanya.”

Pujian ini menunjukkan betapa besar kedudukan Abu Hurairah dalam dunia ilmu hadis dan sejarah Islam.

Kisah hidup Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu mengajarkan bahwa kemuliaan bukanlah tentang harta atau jabatan, melainkan tentang kedekatan dengan ilmu dan ketulusan dalam menjaga agama Allah.

Beliau datang ke Madinah sebagai seorang miskin, tetapi pulang dari dunia sebagai salah satu penjaga warisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling besar jasanya bagi umat Islam.