Pangeran Diponegoro: Pangeran yang Tak Pernah Berlutut kepada Penjajah
Satu orang pangeran. Lima tahun perang. Dua puluh juta gulden
melayang. Sebuah kerajaan kolonial hampir bangkrut karenanya.
"Hidup
dan matiku untuk agama, tanah air, dan kehormatan."
— Disarikan dari semangat perjuangan Pangeran Diponegoro dalam Babad
Diponegoro
Lima tahun.
Selama itulah pemerintah kolonial Hindia
Belanda mengerahkan hampir seluruh kekuatan militernya untuk memburu seorang
pangeran Jawa.
Puluhan ribu tentara diterjunkan.
Ratusan benteng pertahanan dibangun.
Sekitar 15.000 prajurit kolonial—terdiri
atas tentara Eropa dan pasukan pribumi—kehilangan nyawa. Ironisnya, sebagian
besar tentara Eropa justru tewas akibat malaria, disentri, dan berbagai
penyakit tropis yang mewabah di kamp-kamp militer, bukan di medan tempur.
Namun korban jiwa hanyalah sebagian dari
harga yang harus dibayar Belanda.
Selama lima tahun perang, pemerintah
kolonial menghabiskan sekitar 20 juta gulden, jumlah yang sangat
fantastis pada awal abad ke-19. Beban keuangan yang begitu besar membuat kas
Kerajaan Belanda terguncang. Tidak lama setelah perang berakhir, pemerintah
kolonial menerapkan Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) pada tahun 1830
untuk mengisi kembali kas negara—sebuah kebijakan yang kemudian membebani
jutaan rakyat di Pulau Jawa.
Semua pengorbanan itu dilakukan demi
menghentikan satu orang.
Pangeran Diponegoro.
Tetapi siapakah sebenarnya sosok yang
membuat sebuah kerajaan kolonial rela menguras harta, mengorbankan ribuan
tentaranya, dan bertempur tanpa henti selama lima tahun?
Apakah ia sekadar seorang bangsawan yang
kecewa karena persoalan politik di dalam keraton?
Ataukah ia sedang memimpin sebuah
perjuangan yang lahir dari penderitaan rakyat, keyakinan agama, dan tekad
mempertahankan kehormatan tanah Jawa?
Untuk menemukan jawabannya, kita tidak
memulainya dari masa kecil Diponegoro.
Kita justru memulainya dari akhir
perjuangannya.
Magelang, 28 Maret 1830
Pagi itu udara Magelang masih terasa
sejuk ketika seorang lelaki berjubah sederhana melangkahkan kaki memasuki
Gedung Keresidenan Kedu.
Ia bukan datang sebagai tawanan.
Ia juga bukan datang sebagai panglima
yang hendak menyerbu kota.
Ia datang memenuhi undangan perundingan
damai.
Di belakangnya berjalan beberapa pengikut
setia. Mereka tidak membawa pasukan besar, hanya rombongan kecil yang
mengiringi seorang pemimpin yang selama lima tahun terakhir menjadi orang
paling diburu oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Namanya adalah Pangeran Diponegoro.
Beberapa minggu sebelumnya, tepatnya 16
Februari 1830, telah berlangsung perundingan pendahuluan di Kamal, wilayah
Bagelen. Pemerintah kolonial diwakili Kolonel Jan Baptist Cleerens, sedangkan
Diponegoro datang bersama para pengikutnya.
Pertemuan itu belum menghasilkan
kesepakatan.
Diponegoro meminta agar perundingan
berikutnya dilakukan langsung dengan panglima tertinggi pasukan Belanda di
Jawa, Jenderal Hendrik Merkus de Kock. Permintaan tersebut diterima.
Sambil menunggu kedatangan De Kock dari
Batavia, Diponegoro menetap di kawasan Menoreh. Ketika bulan Ramadan tiba, ia
memilih menghentikan sementara proses perundingan agar dapat berkonsentrasi
menjalankan ibadah puasa. Kedua belah pihak kemudian sepakat melanjutkan
pembicaraan setelah Idul fitri.
Semuanya tampak menjanjikan.
Sebagai tanda iktikad baik, pihak Belanda
membebaskan istri dan putra Diponegoro yang sebelumnya ditahan di Semarang.
Bahkan mereka menghadiahkan seekor kuda tunggangan pilihan dan uang sebesar 10.000 gulden.
Semua itu seolah menjadi bukti bahwa
kedua belah pihak masih memegang kehormatan dalam berunding.
Setidaknya, begitulah yang diyakini
Diponegoro.
Namun tanpa sepengetahuannya, beberapa
hari sebelum perundingan berlangsung, Jenderal De Kock telah menyiapkan sebuah
rencana lain.
Instruksi rahasia dikirim kepada para
perwiranya.
Pasukan dari berbagai daerah
diperintahkan berkumpul di Magelang.
Penjagaan diperketat.
Jalan-jalan menuju kota diawasi.
Dan bila perundingan gagal...
Sang pangeran tidak boleh dibiarkan
pulang.
Pagi itu, 28 Maret 1830,
Diponegoro memasuki ruang perundingan bersama tiga putranya—Diponegoro Anom,
Raden Mas Jonad, dan Raden Mas Raab—didampingi Basah Martanegara serta Kiai
Badaruddin.
Di seberang meja telah menunggu Jenderal
De Kock bersama para pejabat kolonial.
Perundingan dimulai dengan tenang.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung
lama.
De Kock meminta Diponegoro menghentikan
perang dan menyerahkan diri kepada pemerintah kolonial.
Diponegoro menolak.
Baginya, perdamaian tidak mungkin
terwujud selama rakyat Jawa masih hidup di bawah campur tangan kekuasaan
kolonial.
"Apa sebenarnya tujuan Tuan
berperang?" tanya De Kock.
Ruangan mendadak sunyi.
Diponegoro memandang lawan bicaranya
beberapa saat sebelum akhirnya menjawab dengan suara tenang.
"Mendirikan negara yang merdeka di
bawah seorang pemimpin, dan menegakkan agama Islam di Pulau Jawa."
Jawaban itu membuat De Kock terdiam.
Baginya, tuntutan tersebut mustahil
dipenuhi.
Perundingan memasuki jalan buntu.
Suasana berubah tegang.
Hingga akhirnya De Kock mengucapkan
kalimat yang mengubah jalannya sejarah.
"Kalau begitu, Tuan tidak boleh lagi
kembali dengan bebas."
Diponegoro segera memahami maksud ucapan
itu.
Dengan nada kecewa ia menjawab,
"Kalau demikian, Tuan telah
mengingkari janji. Saya datang kemari karena dijamin keselamatan dan kebebasan
saya. Jika Tuan memang berniat demikian, lebih baik kami tetap berperang di
Bagelen daripada datang ke sini."
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka.
Serdadu-serdadu Belanda yang sejak awal
telah bersiaga segera memasuki gedung.
Pengawal Diponegoro dilucuti.
Tidak ada kesempatan untuk melawan.
Hari itu, Pangeran Diponegoro ditangkap.
Bukan di tengah kepungan pasukan.
Bukan di medan laga.
Bukan pula setelah sebuah pertempuran
besar.
Melainkan di ruang perundingan yang
semula diharapkan menjadi jalan menuju perdamaian.
Lima tahun peperangan akhirnya berhenti
bukan oleh dentuman meriam, melainkan oleh pintu sebuah ruang perundingan yang
tertutup rapat.
Beberapa hari kemudian Diponegoro dibawa
ke Semarang, lalu ke Batavia. Pada 3 Mei 1830, ia bersama keluarga dan
para pengiringnya diasingkan ke Manado sebelum akhirnya dipindahkan ke Benteng
Rotterdam, Makassar, pada tahun 1834.
Di kota itulah ia menghabiskan sisa
hidupnya.
Pangeran Diponegoro wafat pada 8
Januari 1855, setelah menjalani sekitar dua puluh lima tahun sebagai
tahanan politik.
Belanda berhasil menangkap tubuhnya.
Namun mereka tidak pernah berhasil
menangkap gagasan yang telah ia tanamkan.
Perang memang berakhir.
Tetapi nama Diponegoro justru memasuki
babak kehidupan yang baru.
Ia hidup dalam cerita rakyat.
Dalam syair-syair perjuangan.
Dalam ingatan masyarakat Jawa.
Dan lebih dari satu abad kemudian, ketika
Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, namanya tetap dikenang sebagai salah
satu lambang keberanian melawan penindasan.
Namun satu pertanyaan besar masih
menggantung.
Benarkah semua itu bermula hanya karena
persoalan sebidang tanah di Tegalrejo?
Ataukah sengketa tanah itu hanyalah
percikan terakhir yang menyalakan bara yang telah lama membara di seluruh Tanah
Jawa?
Untuk menemukan jawabannya, kita harus
memutar waktu lebih dari empat puluh tahun ke belakang.
Ke sebuah desa yang tenang di sebelah
barat Yogyakarta.
Desa itu bernama Tegalrejo.
Di sanalah seorang anak bangsawan bernama
Bendara Raden Mas Mustahar tumbuh jauh dari kemewahan istana. Ia belajar
mengaji bersama para ulama, hidup di tengah rakyat, menyaksikan penderitaan
para petani, dan perlahan memahami bahwa seorang pemimpin tidak diukur dari
kemegahan singgasananya, melainkan dari keberaniannya membela kebenaran.
Tak seorang pun pada masa itu menyangka
bahwa anak dari desa sederhana itu kelak akan mengguncang fondasi kekuasaan
kolonial Belanda dan memimpin salah satu perang terbesar dalam sejarah
Nusantara.
Bersambung