Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

25 Mei 2026

Ismail atau Ishaq? Siapa Putra Nabi Ibrahim yang Diperintahkan untuk Disembelih?

 

Umat Islam di seluruh dunia akan merayakan Idul Adha pada 10 Dzulhijjah 1447 H, bertepatan dengan 27 Mei 2026. Salah satu ibadah utama pada hari itu adalah penyembelihan hewan kurban—ibadah yang sangat erat kaitannya dengan kisah agung Nabi Ibrahim AS ketika mendapat perintah dari Allah untuk menyembelih putranya.

Peristiwa ini bukan sekadar tentang penyembelihan. Ia menjadi simbol puncak ketaatan, cinta, dan keikhlasan seorang hamba kepada Tuhannya. Kisah tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an, Surah Ash-Shaffat ayat 102–111.

Namun, sejak lama muncul satu pertanyaan yang sering dibahas para ulama dan ahli tafsir:

Siapakah putra Nabi Ibrahim yang diperintahkan untuk disembelih? Apakah Nabi Ismail AS atau Nabi Ishaq AS?

Allah berfirman:

“Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.’ Dia menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’”
(QS. Ash-Shaffat: 102)

Menariknya, Al-Qur’an tidak menyebutkan secara langsung nama anak tersebut dalam ayat itu. Karena itulah muncul perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Perbedaan pendapat mengenai siapa putra Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan untuk disembelih—apakah Nabi Ismail AS atau Nabi Ishaq AS—merupakan salah satu pembahasan khilafiyah yang sangat terkenal di kalangan para ahli tafsir dan ulama sejarah Islam. 

Pendapat Ibnu Katsir

Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Azhimm, mengupas tuntas masalah ini. Beliau secara tegas menolak pendapat bahwa yang disembelih adalah Ishaq.Menurut Ibnu Katsir, klaim bahwa Ishaq yang disembelih adalah kekeliruan besar yang bersumber dari riwayat Israiliyat (cerita Ahli Kitab) yang disusupkan ke dalam tradisi Islam.

Argumen-argumen yang disampaikan oleh Ibnu Katsir:

1. Frase “Anak Tunggal” dan Urutan Kelahiran

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa dalam kitab-kitab terdahulu (Taurat), Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih "anak tunggalmu".

Ismail adalah anak pertama Nabi Ibrahim. Ismail lahir saat Ibrahim berusia 86 tahun, sedangkan Ishaq lahir saat Ibrahim berusia 100 tahun. Jadi, selama 14 tahun, Ismail adalah anak tunggal Nabi Ibrahim. Ishaq tidak pernah menjadi anak tunggal.

Kesimpulan: Kaum Yahudi mengubah nama Ismail menjadi Ishaq dalam teks mereka karena rasa dengki. Mereka tidak rela jika kehormatan sebagai "anak yang dikurbankan" jatuh kepada Ismail, yang merupakan nenek moyang bangsa Arab dan Nabi Muhammad SAW. Mereka ingin kehormatan itu tetap berada di garis keturunan mereka (Bani Israil melalui Ishaq).

2. Kesesuaian Antar Ayat Al-Qur’an

Ibnu Katsir menggunakan metode Tafsir Al-Qur'an bil Qur'an (menafsirkan ayat dengan ayat lain) untuk mematahkan pendapat tentang Ishaq. Beliau mengaitkan dua ayat:

Ayat kisah Kurban: (QS. Ash-Shaffat: 101-102) menceritakan perintah menyembelih anak yang baru saja beranjak remaja.

Ayat berita gembira: (QS. Hud: 71) yang berbunyi: "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan setelah Ishaq (akan lahir) Ya’qub."

Melalui QS. Hud: 71, Allah sudah memberi tahu Ibrahim sejak awal bahwa Ishaq akan hidup, tumbuh dewasa, menikah, dan memiliki anak bernama Ya'qub. Jika Allah memerintahkan Ibrahim menyembelih Ishaq saat masih remaja, perintah itu akan kontradiktif dengan janji Allah sebelumnya. Ibrahim tidak akan merasa diuji, karena beliau sudah tahu Ishaq pasti selamat karena akan mempunyai anak yang bernama Ya'qub. Karena itu, anak yang diuji untuk disembelih pastilah Ismail, karena saat Ismail lahir, tidak ada janji dari Allah bahwa ia akan memiliki keturunan dalam waktu dekat.

3. Kaitan dengan Lokasi dan Ibadah Haji

Argumen berikutnya adalah aspek geografis.

Tempat penyembelihan, tempat pelemparan batu ke iblis (jumrah), dan tempat penggantian domba semuanya berada di Mina, Mekkah.

Seluruh umat Islam melakukan napak tilas ibadah ini (menyembelih kurban dan melempar jumrah) di Mekkah saat ibadah haji.

Nabi Ibrahim menempatkan Ismail dan ibunya (Hajar) di Mekkah. Sedangkan Ishaq tinggal, tumbuh, dan besar bersama ibunya (Sarah) di wilayah Syam (Palestina). Nabi Ishaq tidak pernah tercatat dalam sejarah datang ke Mekkah pada masa mudanya untuk urusan tersebut.

4. Meneliti Sumber Riwayat yang Menyebut Ishaq

Ibnu Katsir meneliti jalur periwayatan (sanad) dari para sahabat atau tabiin yang terkesan mendukung pendapat bahwa yang disembelih adalah Ishaq.

Beliau menemukan bahwa semua riwayat tersebut muaranya kembali kepada figur bernama Ka'ab al-Ahbar.

Ka'ab al-Ahbar adalah seorang rabi Yahudi yang masuk Islam pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Meskipun ia Muslim yang baik, ia sering menceritakan kisah-kisah dari kitab Taurat dan tradisi Yahudi lama kepada para sahabat.

Para sahabat menukil cerita dari Ka'ab hanya sebagai informasi sekunder, bukan sebagai akidah atau tafsir resmi. Namun, generasi setelahnya mengira itu adalah hadis atau pendapat mutlak dari sahabat.

Ibnu Katsir tidak menuduh Ka'ab berdusta, tetapi menjelaskan bahwa sebagian kisah yang beliau sampaikan berasal dari tradisi sebelumnya dan tidak otomatis menjadi dalil utama dalam akidah maupun tafsir.

Pesan utama pada kisah Nabi Ibrahim ini bukan semata pada siapa anak yang disembelih, tetapi pada keteladanan Nabi Ibrahim dan putranya dalam menerima perintah Allah dengan penuh keikhlasan.

Ketika perintah itu datang, tidak ada perdebatan, tidak ada tawar-menawar—yang ada adalah kepasrahan kepada Allah.

Dan mungkin di situlah letak pelajaran terbesar Idul Adha: bahwa cinta kepada Allah ditempatkan di atas segala sesuatu, bahkan terhadap sesuatu yang paling dicintai sekalipun.