Ismail atau Ishaq? Siapa Putra Nabi Ibrahim yang Diperintahkan untuk Disembelih?
Umat Islam di seluruh dunia akan
merayakan Idul Adha pada 10 Dzulhijjah 1447 H, bertepatan dengan 27 Mei 2026.
Salah satu ibadah utama pada hari itu adalah penyembelihan hewan kurban—ibadah
yang sangat erat kaitannya dengan kisah agung Nabi Ibrahim AS ketika mendapat
perintah dari Allah untuk menyembelih putranya.
Peristiwa ini bukan sekadar tentang
penyembelihan. Ia menjadi simbol puncak ketaatan, cinta, dan keikhlasan seorang
hamba kepada Tuhannya. Kisah tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an, Surah
Ash-Shaffat ayat 102–111.
Namun, sejak lama muncul satu pertanyaan
yang sering dibahas para ulama dan ahli tafsir:
Siapakah putra Nabi Ibrahim yang
diperintahkan untuk disembelih? Apakah Nabi Ismail AS atau Nabi Ishaq AS?
Allah berfirman:
“Ketika anak itu sampai pada (umur) ia
sanggup bekerja bersamanya, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku
bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.’ Dia
menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insyaallah
engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’”
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Menariknya, Al-Qur’an tidak menyebutkan
secara langsung nama anak tersebut dalam ayat itu. Karena itulah muncul
perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Perbedaan pendapat
mengenai siapa putra Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan untuk
disembelih—apakah Nabi Ismail AS atau Nabi Ishaq AS—merupakan
salah satu pembahasan khilafiyah yang sangat terkenal di kalangan para ahli
tafsir dan ulama sejarah Islam.
Pendapat Ibnu
Katsir
Ibnu Katsir dalam
Tafsir Al-Qur’an Al-Azhimm, mengupas tuntas masalah ini. Beliau secara tegas
menolak pendapat bahwa yang disembelih adalah Ishaq.Menurut Ibnu Katsir, klaim
bahwa Ishaq yang disembelih adalah kekeliruan besar yang bersumber dari riwayat Israiliyat (cerita
Ahli Kitab) yang disusupkan ke dalam tradisi Islam.
Argumen-argumen
yang disampaikan oleh Ibnu Katsir:
1. Frase “Anak
Tunggal” dan Urutan Kelahiran
Ibnu Katsir
menjelaskan bahwa dalam kitab-kitab terdahulu (Taurat), Allah memerintahkan
Ibrahim untuk menyembelih "anak tunggalmu".
Ismail adalah anak
pertama Nabi Ibrahim. Ismail lahir saat Ibrahim berusia 86 tahun, sedangkan
Ishaq lahir saat Ibrahim berusia 100 tahun. Jadi, selama 14 tahun, Ismail
adalah anak tunggal Nabi Ibrahim. Ishaq tidak pernah menjadi anak tunggal.
Kesimpulan: Kaum
Yahudi mengubah nama Ismail menjadi Ishaq dalam teks mereka karena rasa dengki.
Mereka tidak rela jika kehormatan sebagai "anak yang dikurbankan"
jatuh kepada Ismail, yang merupakan nenek moyang bangsa Arab dan Nabi Muhammad
SAW. Mereka ingin kehormatan itu tetap berada di garis keturunan mereka (Bani
Israil melalui Ishaq).
2. Kesesuaian Antar
Ayat Al-Qur’an
Ibnu Katsir
menggunakan metode Tafsir Al-Qur'an bil Qur'an (menafsirkan ayat
dengan ayat lain) untuk mematahkan pendapat tentang Ishaq. Beliau mengaitkan
dua ayat:
Ayat kisah
Kurban: (QS. Ash-Shaffat: 101-102) menceritakan perintah menyembelih anak
yang baru saja beranjak remaja.
Ayat berita
gembira: (QS. Hud: 71) yang berbunyi: "Maka Kami sampaikan
kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan setelah Ishaq (akan
lahir) Ya’qub."
Melalui QS. Hud:
71, Allah sudah memberi tahu Ibrahim sejak awal bahwa Ishaq akan
hidup, tumbuh dewasa, menikah, dan memiliki anak bernama Ya'qub. Jika Allah
memerintahkan Ibrahim menyembelih Ishaq saat masih remaja, perintah itu akan
kontradiktif dengan janji Allah sebelumnya. Ibrahim tidak akan merasa diuji,
karena beliau sudah tahu Ishaq pasti selamat karena akan mempunyai anak yang
bernama Ya'qub. Karena itu, anak yang diuji untuk disembelih pastilah Ismail,
karena saat Ismail lahir, tidak ada janji dari Allah bahwa ia akan memiliki
keturunan dalam waktu dekat.
3. Kaitan dengan
Lokasi dan Ibadah Haji
Argumen berikutnya
adalah aspek geografis.
Tempat
penyembelihan, tempat pelemparan batu ke iblis (jumrah), dan tempat penggantian
domba semuanya berada di Mina, Mekkah.
Seluruh umat Islam
melakukan napak tilas ibadah ini (menyembelih kurban dan melempar jumrah) di
Mekkah saat ibadah haji.
Nabi Ibrahim
menempatkan Ismail dan ibunya (Hajar) di Mekkah. Sedangkan Ishaq tinggal,
tumbuh, dan besar bersama ibunya (Sarah) di wilayah Syam (Palestina). Nabi
Ishaq tidak pernah tercatat dalam sejarah datang ke Mekkah pada masa mudanya
untuk urusan tersebut.
4. Meneliti Sumber
Riwayat yang Menyebut Ishaq
Ibnu Katsir
meneliti jalur periwayatan (sanad) dari para sahabat atau tabiin yang terkesan
mendukung pendapat bahwa yang disembelih adalah Ishaq.
Beliau menemukan
bahwa semua riwayat tersebut muaranya kembali kepada figur bernama Ka'ab
al-Ahbar.
Ka'ab al-Ahbar
adalah seorang rabi Yahudi yang masuk Islam pada masa Khalifah Umar bin
Khattab. Meskipun ia Muslim yang baik, ia sering menceritakan kisah-kisah dari
kitab Taurat dan tradisi Yahudi lama kepada para sahabat.
Para sahabat
menukil cerita dari Ka'ab hanya sebagai informasi sekunder, bukan sebagai
akidah atau tafsir resmi. Namun, generasi setelahnya mengira itu adalah hadis
atau pendapat mutlak dari sahabat.
Ibnu Katsir tidak
menuduh Ka'ab berdusta, tetapi menjelaskan bahwa sebagian kisah yang beliau
sampaikan berasal dari tradisi sebelumnya dan tidak otomatis menjadi dalil
utama dalam akidah maupun tafsir.
Pesan utama pada kisah Nabi Ibrahim ini bukan
semata pada siapa anak yang disembelih, tetapi pada keteladanan Nabi Ibrahim
dan putranya dalam menerima perintah Allah dengan penuh keikhlasan.
Ketika perintah itu datang, tidak ada
perdebatan, tidak ada tawar-menawar—yang ada adalah kepasrahan kepada Allah.
Dan mungkin di situlah letak pelajaran
terbesar Idul Adha: bahwa cinta kepada Allah ditempatkan di atas segala
sesuatu, bahkan terhadap sesuatu yang paling dicintai sekalipun.