Abu Bakar Ash-Shiddiq Sahabat Utama Nabi Muhammad
Abu Bakar termasuk orang-orang yang
pertama kali memeluk Islam. Ia masuk Islam setelah Khadijah (istri Nabi), Ali
bin Abi Thalib dari kalangan anak-anak, dan Zaid bin Haritsah dari kalangan
budak. Keislaman Abu Bakar memberikan pengaruh besar bagi perkembangan Islam.
Hal ini tidak terlepas dari kedudukannya yang tinggi serta kesungguhannya dalam
berdakwah, sehingga tokoh-tokoh besar seperti Abdurrahman bin Auf, Utsman bin
Affan, Sa’ad bin Abi Waqqas, Zubair bin Awwam, dan Talhah bin Ubaidillah turut
mengikuti jejaknya memeluk Islam.
Nama lengkap Abu Bakar adalah Abdullah
bin Utsman bin Amir bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab
bin Lu’ai bin Ghalib bin Fihr al-Qurasy at-Taimi. Ayahnya dikenal dengan
sebutan Abu Quhafah, sedangkan ibunya bernama Ummu al-Khair Salma binti Shakhr
bin Amir. Nasab Abu Bakar bertemu dengan nasab Nabi Muhammad pada Murrah bin
Ka’ab bin Lu’ai.
Abu Quhafah memiliki tiga orang anak,
yaitu Atiq (nama Abu Bakar pada masa jahiliah), Mu’taq, dan Utaiq. Selain itu,
Abu Bakar juga dikenal dengan julukan ash-Shiddiq.
Julukan ash-Shiddiq diberikan
karena keteguhan imannya dalam membenarkan Nabi Muhammad. Ketika peristiwa Isra
Mi’raj terjadi dan banyak orang meragukannya, Abu Bakar justru langsung
mempercayai dan membenarkannya tanpa ragu.
Aisyah radhiyallahu ‘anha menggambarkan
ciri-ciri ayahnya sebagai berikut: berkulit putih, bertubuh kurus, pelipisnya
tipis, pinggangnya kecil sehingga kainnya sering melorot, wajahnya mudah
berkeringat, bermata hitam, dan berkening lebar. Ia tidak pandai bersajak,
namun dikenal sering mewarnai jenggotnya dengan inai dan katam. Abu Bakar juga
dikenal sebagai pribadi yang baik, pemberani, teguh pendirian, serta memiliki
pemikiran yang cemerlang, terutama dalam situasi genting. Ia toleran, penyabar,
memiliki tekad kuat, faqih, dan sangat memahami silsilah serta sejarah bangsa
Arab. Ia juga dikenal sangat bertawakal kepada Allah, yakin terhadap janji-Nya,
bersifat wara’, menjauhi perkara syubhat, hidup zuhud, serta lembut dan ramah
dalam pergaulan.
Abu Bakar merupakan sahabat utama
Rasulullah. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya Allah telah mengutusku
kepada kalian, namun kalian berkata, ‘Engkau adalah pendusta.’ Sementara Abu
Bakar membenarkan aku. Ia telah membantuku dengan jiwa dan hartanya. Maka
apakah kalian akan menyakiti sahabatku?” (HR. Bukhari)
Sejak saat itu, Abu Bakar tidak pernah
disakiti oleh kaum Muslimin.
Lima hari sebelum wafat, Rasulullah
berkhutbah dan menjelaskan keutamaan Abu Bakar. Di hadapan para sahabat, beliau
juga memerintahkan agar Abu Bakar ditunjuk sebagai imam salat.
Dalam riwayat Imam Ahmad, Rasulullah
bersabda, “Sesungguhnya Allah memberi pilihan kepada seorang hamba antara dunia
dan apa yang ada di sisi-Nya, maka hamba itu memilih apa yang ada di sisi
Allah.” Abu Sa’id berkata, “Mendengar hal itu, Abu Bakar menangis. Kami pun
heran, karena Rasulullah hanya menceritakan seorang hamba yang diberi pilihan.
Namun kemudian kami memahami bahwa yang dimaksud adalah Rasulullah sendiri, dan
Abu Bakar adalah orang yang paling memahami hal itu di antara kami.”
Rasulullah juga bersabda, “Seandainya aku
diperbolehkan mengambil seorang kekasih selain Tuhanku, niscaya aku akan
memilih Abu Bakar. Namun cukuplah persaudaraan Islam dan kecintaan karenanya.
Oleh karena itu, tutuplah semua pintu rumah yang mengarah ke masjid, kecuali pintu
Abu Bakar.”
Dalam riwayat al-Bukhari dari Aisyah
radhiyallahu ‘anha, disebutkan bahwa ketika Rasulullah wafat, Abu Bakar datang
dari rumahnya di daerah Sunh dengan menunggang kuda. Ia turun, lalu masuk ke
masjid tanpa berbicara dengan siapa pun hingga akhirnya masuk ke rumah Aisyah.
Ia membuka wajah Rasulullah yang tertutup kain, lalu mencium keningnya sambil
menangis dan berkata:
“Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu,
Allah tidak akan menghimpun dua kematian atasmu. Kematian yang telah ditetapkan
bagimu kini telah engkau alami.”
Setelah itu, Abu Bakar keluar dan
mendapati Umar sedang berbicara di hadapan orang-orang. Abu Bakar meminta Umar
untuk duduk, namun Umar menolak. Orang-orang kemudian beralih mendengarkan Abu
Bakar. Ia berkata:
“Barang siapa di antara kalian menyembah
Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Namun barang siapa menyembah
Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati.”
Kemudian Abu Bakar membacakan firman
Allah:
“Dan Muhammad itu tidak lain hanyalah
seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Apakah jika ia
wafat atau dibunuh kalian akan berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa
berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Dan Allah
akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 144)
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,
“Demi Allah, seakan-akan manusia belum mengetahui ayat ini sampai Abu Bakar
membacakannya. Setelah itu, semua orang menerimanya, dan setiap yang
mendengarnya pun membacanya.”
Kisah Abu Bakar bukan sekedar untuk
dikenang, melainkan untuk dihidupkan—dalam cara kita berpikir, bersikap, dan
mengambil keputusan setiap hari. Karena pada akhirnya, yang membedakan bukan
seberapa banyak yang kita tahu, tetapi seberapa kuat kita berpegang pada
kebenaran itu sendiri.