Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

s

19 Maret 2026

Benih-Benih Perpecahan Umat

 

Sejarah Islam mencatat sebuah fase yang penuh gejolak setelah wafatnya Utsman bin Affan pada tahun 656 M. Peristiwa tragis pembunuhan khalifah ketiga ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan, tetapi menjadi titik awal munculnya konflik besar di tengah umat Islam.

Pembunuhan Utsman terjadi setelah kediamannya dikepung oleh kelompok pemberontak yang tidak puas dengan kebijakannya. Peristiwa ini mengguncang stabilitas negara, khususnya di Madinah, yang saat itu menjadi pusat pemerintahan Islam.

Dalam kondisi yang kacau tersebut, Ali bin Abi Thalib diangkat sebagai khalifah. Namun, beliau menghadapi tantangan besar. Ali tidak segera mengadili para pembunuh Utsman, melainkan memprioritaskan stabilitas politik dan mencegah pecahnya konflik yang lebih luas, mengingat wilayah Islam saat itu sudah sangat luas dan rentan perpecahan.

Keputusan ini menimbulkan ketidakpuasan dari berbagai pihak. Sebagian kelompok menuntut agar para pelaku pembunuhan segera diadili. Ketegangan ini akhirnya memicu konflik bersenjata yang menjadi catatan kelam dalam sejarah Islam.

Konflik yang terjadi berkembang menjadi perang saudara antar sesama Muslim. Dua peristiwa besar yang muncul dari ketegangan ini adalah:

·  Perang Jamal (656 M)

·  Perang Shiffin (657 M)

Dalam Perang Shiffin, pasukan Ali berhadapan dengan pasukan Muawiyah bin Abu Sufyan, yang menolak pengangkatan Ali sebagai khalifah sebelum para pembunuh Utsman diadili.

Perang Shiffin hampir dimenangkan oleh pasukan Ali. Namun, pada saat genting, pihak Muawiyah mengangkat mushaf Al-Qur’an di ujung tombak sebagai tanda meminta dilakukan tahkim (arbitrase).

Ali menerima usulan tersebut demi menghentikan pertumpahan darah. Akan tetapi, keputusan ini justru memicu perpecahan di dalam pasukannya sendiri.

Sebagian pasukan Ali menolak tahkim dengan alasan bahwa: “Hukum hanyalah milik Allah, bukan keputusan manusia.”

Mereka menganggap menerima arbitrase berarti menyalahi prinsip tersebut. Kelompok ini kemudian keluar dari barisan Ali. Dari sinilah lahir kelompok yang dikenal sebagai Khawarij, berasal dari kata kharaja yang berarti “keluar”.

Khawarij dikenal sebagai kelompok dengan pemahaman yang keras dan kaku. Mereka mudah mengkafirkan pihak lain yang dianggap tidak sejalan dengan pemahaman mereka.

Setelah memisahkan diri, mereka:

·  Mengangkat pemimpin sendiri

·  Menyusun kekuatan militer

·  Melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Ali

Hal ini memicu terjadinya Perang Nahrawan, di mana pasukan Khawarij akhirnya berhasil dikalahkan oleh Ali. Meski demikian, kekalahan ini tidak menghapus ideologi mereka.

Khawarij justru berkembang menjadi beberapa sekte yang terus menyebarkan pemahaman ekstrem di berbagai wilayah.

Salah satu peristiwa paling tragis yang berkaitan dengan Khawarij adalah terbunuhnya Ali bin Abi Thalib. Beliau dibunuh oleh seorang anggota Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam pada tahun 661 M. Peristiwa ini terjadi saat Ali sedang menuju masjid untuk melaksanakan shalat Subuh.

Kematian Ali menandai berakhirnya masa Khulafaur Rasyidin dan menjadi salah satu momen paling menyedihkan dalam sejarah Islam.

Munculnya Khawarij menjadi pelajaran penting dalam sejarah umat Islam. Perbedaan pendapat yang tidak dikelola dengan bijak dapat berubah menjadi konflik besar yang merusak persatuan.

Kisah ini mengajarkan bahwa menjaga persatuan, mengedepankan hikmah, dan memahami perbedaan dengan bijaksana adalah kunci untuk menghindari perpecahan yang serupa di masa depan.