Pelajaran Besar dari Kisah Sapi Betina Bani Israil
Mengapa sebuah
kisah tentang seekor sapi betina diabadikan menjadi nama surat terpanjang dalam
Al-Qur'an? Kisah ini ternyata bukan sekadar tentang sebuah peristiwa pembunuhan
misterius. Lebih dari itu, ia menggambarkan karakter Bani Israil yang berulang kali
mempersulit perintah Allah. Di balik kisah tersebut tersimpan pelajaran penting
tentang ketaatan, sikap membangkang, dan kebiasaan mempersulit sesuatu yang
sebenarnya sederhana.
Menurut riwayat yang dikutip oleh Ibnu
Katsir, pada masa Bani Israil hidup seorang lelaki kaya yang tidak memiliki
anak. Satu-satunya ahli warisnya adalah keponakannya sendiri. Karena tidak
sabar menunggu warisan, sang keponakan membunuh pamannya lalu berusaha
menghilangkan jejak kejahatannya dengan meletakkan jenazah pamannya di depan
rumah seseorang.
Kesokan harinya, sebagian orang menuduh
bahwa pemilik rumah itu sebagai pembunuhnya. Yang lainnya tidak membenarkan
tuduhan itu. Sehingga terjadilah perdebatan dan pertengkaran. Kemudian tampilah
seseorang yang mengusulkan agar mendatangi Nabi Musa, dan menanyakan siapa yang
telah membunuh lelaki tersebut.
Nabi Musa memohon petunjuk kepada Allah
tentang peristiwa pembunuhan itu. Allah memberikan petunjuk kepada Nabi Musa
dengan memerintahkan orang-orang yang berselisih pendapat itu untuk menyembelih
seekor sapi betina. Mendapatkan perintah untuk menyembelih sapi betina,
alih-alih melaksanakan perintah itu, mereka justru menuduh Nabi Musa sedang
mempermainkan dan mengolok-olok mereka. Mereka menganggap tidak ada hubungan
antara mencari pelaku pembunuhan dengan menyembelih seekor sapi betina.
Menerima tuduhan itu, Nabi Musa memohon
perlindungan kepada Allah agar tidak menjadi orang yang bodoh. Sebab orang yang
suka mempermainkan dan merendahkan orang lain termasuk perbuatan yang lahir
dari kebodohan.
Dan
(ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, "Allah memerintahkan kamu
agar menyembelih seekor sapi betina." Mereka bertanya, "Apakah engkau
akan menjadikan kami sebagai ejekan?" Dia (Musa) menjawab, "Aku
berlindung kepada Allah agar tidak menjadi orang-orang yang bodoh”.
(Q.S. Al-Baqarah: 67)
Sebagian ulama tafsir menghubungkan
perintah penyembelihan sapi ini dengan peristiwa penyembahan patung anak sapi
yang pernah dilakukan oleh sebagian Bani Israil atas hasutan Samiri. Menurut
penafsiran tersebut, penyembelihan sapi merupakan simbol penghapusan sisa-sisa
pengagungan terhadap sapi yang masih melekat dalam hati mereka.
Sebenarnya mereka dapat dengan mudah
mencari seekor sapi betina apa pun bentuk dan jenisnya, lalu menyembelihnya
sesuai perintah Allah yang disampaikan oleh Nabi Musa. Namun, mereka justru
kembali bertanya tentang sifat sapi yang harus disembelih itu. Allah SWT
berfirman,
Mereka
berkata, "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan
kepada kami tentang (sapi betina) itu." Dia (Musa) menjawab, "Dia
(Allah) berfirman, bahwa sapi betina itu tidak tua dan tidak muda, (tetapi)
pertengahan antara itu. Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu!". (Q.S. Al-Baqarah: 68)
Menarik untuk diperhatikan bahwa mereka
selalu mengatakan, "Mohonkanlah kepada Tuhanmu..." seolah-olah Allah
hanya Tuhan Nabi Musa, bukan Tuhan mereka sendiri. Sebagian ulama menilai bahwa
ungkapan tersebut menunjukkan lemahnya kedekatan mereka dengan Allah dan
kurangnya rasa kepasrahan terhadap perintah-Nya.
Setelah dijelaskan sapi yang akan
disembelih adalah sapi yang tidak tua dan tidak muda, apakah mereka langsung
mencarinya? Ternyata tidak. Tetapi mereka kembali mengajukan pertanyaan: warna
sapi itu seperti apa?
Mereka
berkata, "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan
kepada kami apa warnanya." Dia (Musa) menjawab, "Dia (Allah)
berfirman, bahwa (sapi) itu adalah sapi betina yang kuning tua warnanya, yang
menyenangkan orang-orang yang memandang(nya)."
(Q.S. Al-Baqarah: 69)
Setiap pertanyaan yang mereka ajukan
justru membuat tugas itu semakin berat. Namun, mereka tidak menyadari bahwa
setiap pertanyaan itu semakin mempersempit pilihan sapi yang harus mereka
temukan. Mereka pun kembali bertanya, sapi kuning seperti apa yang harus mereka
sembelih?
Mereka
berkata, "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan
kepada kami tentang (sapi betina) itu. (Karena) sesungguhnya sapi itu belum
jelas bagi kami, dan jika Allah menghendaki, niscaya kami mendapat
petunjuk."
(Q.S.
Al-Baqarah: 70)
Sifat-sifat sapi yang harus dicari
sebenarnya sudah cukup jelas. Namun karena kurangnya kepatuhan dan kepercayaan
mereka kepada Nabi Musa, pertanyaan demi pertanyaan terus diajukan.
Dia
(Musa) menjawab, "Dia (Allah) berfirman, (sapi) itu adalah sapi betina
yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak (pula) untuk mengairi
tanaman, sehat, dan tidak belang." Mereka berkata, "Sekarang barulah
engkau menerangkan (hal) yang sebenarnya." Lalu mereka menyembelihnya, dan
nyaris mereka tidak melaksanakan (perintah) itu. (Q.S.
Al-Baqarah: 71)
Setelah sapi betina itu ditemukan dan
disembelih, sebagian anggota tubuh sapi tersebut dipukulkan kepada jasad korban
pembunuhan itu. Atas izin Allah, mayat itu hidup kembali dan menyebutkan bahwa
pembunuhnya adalah keponakannya sendiri. Setelah memberikan kesaksiannya, ia
pun kembali wafat.
Lalu
Kami berfirman, "Pukullah (mayat) itu dengan bagian dari (sapi) itu!"
Demikianlah Allah menghidupkan (orang) yang telah mati, dan Dia memperlihatkan
kepadamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya) agar kamu mengerti. (Q.S.
Al-Baqarah: 73)
Kisah ini mengajarkan bahwa tidak semua
pertanyaan membawa kemudahan. Ada kalanya seseorang justru mempersulit dirinya
sendiri karena enggan segera melaksanakan sesuatu yang sudah jelas perintahnya.
Bani Israil tidak diperberat sejak awal. Mereka sendiri yang membuat tugas itu
semakin sulit dengan terus mempertanyakan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu
dipertanyakan. Karena itu, ketika kebenaran sudah jelas dan petunjuk telah
datang, sikap terbaik bukanlah memperdebatkannya tanpa henti, melainkan
menerimanya dengan penuh ketaatan dan segera melaksanakannya.
Kisah sapi betina bukan sekadar cerita
tentang umat terdahulu. Ia adalah cermin bagi setiap orang yang beriman. Betapa
sering kita menunda menjalankan perintah Allah, bukan karena belum memahami,
melainkan karena terus mencari alasan dan mempertanyakan sesuatu yang
sebenarnya sudah jelas. Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat tersebut, serta
menjadikan kita hamba yang segera taat ketika petunjuk-Nya telah nyata di
hadapan kita.