Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

06 Juli 2026

Sains Menganggap Mustahil, Al-Quran Mengabadikannya: Kisah Nabi Yunus di Perut Ikan

 

Kisah Nabi Yunus ‘alaihis salam yang ditelan ikan besar merupakan salah satu kisah yang paling sering menjadi bahan diskusi antara sains dan agama. Sebagian orang berusaha mencari penjelasan ilmiah tentang bagaimana seorang manusia dapat bertahan hidup di dalam perut ikan. Sebagian yang lain berpendapat bahwa mukjizat tidak perlu dicari pembenaran ilmiahnya karena berada di luar jangkauan hukum alam yang biasa.

Lalu, bagaimana sebenarnya kita harus memandang kisah Nabi Yunus?

Sains dan Keterbatasannya

Dari sudut pandang ilmu pengetahuan modern, manusia hampir tidak mungkin bertahan hidup di dalam perut seekor ikan atau paus dalam waktu yang lama.

Para ilmuwan menjelaskan beberapa alasannya:

·       Tidak tersedia oksigen yang cukup untuk bernapas.

·       Lambung hewan laut mengandung asam dan enzim pencernaan yang dapat merusak jaringan tubuh.

·       Ruang di dalam sistem pencernaan bukanlah lingkungan yang mendukung kehidupan manusia.

·       Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan manusia dapat hidup berhari-hari di dalam perut ikan.

Karena itu, jika kisah Nabi Yunus dinilai semata-mata dengan hukum biologi yang kita kenal saat ini, maka peristiwa tersebut tampak mustahil. Namun, di sinilah letak persoalannya. Apakah semua peristiwa harus tunduk pada hukum alam yang dapat dijelaskan sains?

Mukjizat Tidak Sama dengan Fenomena Alam Biasa

Sains bekerja dengan mengamati kejadian yang berulang dan dapat diuji. Ketika air dipanaskan hingga suhu tertentu, air akan mendidih. Ketika benda dijatuhkan, benda akan jatuh ke bawah karena gravitasi. Semua itu dapat diamati dan diuji berulang kali.

Mukjizat berbeda.

Mukjizat adalah peristiwa luar biasa yang terjadi karena kehendak Allah dan tidak terikat pada kebiasaan alam yang berlaku bagi manusia pada umumnya.

Karena itulah banyak ulama berpendapat bahwa mengukur mukjizat dengan standar sains sering kali tidak tepat. Jika suatu peristiwa dapat dijelaskan sepenuhnya oleh hukum alam biasa, maka ia bukan lagi mukjizat.

Dengan kata lain, tugas sains adalah menjelaskan bagaimana alam bekerja, bukan membatasi apa yang dapat dilakukan oleh Sang Pencipta alam.

Ayat yang Sering Menimbulkan Pertanyaan

Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman:

"Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak mengingat Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari mereka dibangkitkan." (QS. As-Saffat: 143-144)

Ayat ini menarik karena menimbulkan pertanyaan logis.

Jika Nabi Yunus akan tetap tinggal di dalam perut ikan sampai hari kebangkitan, bukankah itu berarti ikan tersebut juga harus tetap ada hingga hari kiamat?

Sebagian orang melihat ayat ini sebagai isyarat bahwa peristiwa tersebut memang berada sepenuhnya dalam wilayah mukjizat.

Sebab jika Allah berkehendak menjaga Nabi Yunus selama beberapa hari di dalam perut ikan, maka menjaga beliau selama ratusan, ribuan, bahkan hingga hari kebangkitan tentu bukan sesuatu yang sulit bagi-Nya.

Literal atau Kiasan?

Para ulama memiliki beberapa pendekatan dalam memahami ayat tersebut.

Makna Literal

Sebagian memahami ayat itu sebagaimana bunyinya.

Seandainya Nabi Yunus tidak bertasbih kepada Allah, maka beliau akan tetap berada di dalam perut ikan sampai hari kebangkitan.

Dalam pemahaman ini, tidak ada keharusan untuk menjelaskan bagaimana mekanismenya. Sebab ayat tersebut berbicara tentang kekuasaan Allah yang tidak dibatasi oleh hukum alam.

Makna Retoris

Sebagian ulama melihat adanya unsur penekanan bahasa yang sangat kuat.

Ungkapan "sampai hari mereka dibangkitkan" dipahami sebagai cara Al-Qur'an menggambarkan bahwa tanpa pertolongan Allah, Nabi Yunus tidak akan memiliki jalan keluar dari keadaan tersebut.

Tujuan utamanya bukan menjelaskan umur ikan atau kondisi biologis Nabi Yunus, melainkan menegaskan besarnya rahmat Allah yang menyelamatkannya.

Menariknya, kedua pendekatan ini tidak harus saling bertentangan. Ayat tersebut dapat dipahami secara literal sekaligus mengandung pesan retoris yang sangat mendalam.

Fokus Al-Qur'an Bukan pada Jenis Ikannya

Ketika kisah Nabi Yunus dibahas, banyak orang justru terjebak pada pertanyaan:

·                 Ikan apa yang menelannya?

·                 Apakah itu paus?

·                 Bagaimana beliau bernapas?

·                 Berapa lama beliau berada di dalamnya?

Padahal Al-Qur'an tidak menaruh fokus utama pada hal-hal tersebut. Yang lebih ditonjolkan adalah doa Nabi Yunus ketika berada dalam kesulitan:

"Laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minazh-zhaalimiin."

"Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim."

Doa inilah yang menjadi inti pelajaran dari kisah tersebut.

Pesan Besar di Balik Kisah Nabi Yunus

Kisah Nabi Yunus bukan sekadar cerita tentang manusia dan ikan besar. Ia adalah kisah tentang seorang hamba yang:

·       mengakui kesalahannya,

·       kembali kepada Allah,

·       memohon ampunan dengan penuh kerendahan hati,

·       lalu memperoleh pertolongan ketika semua jalan tampak tertutup.

Jika perhatian kita hanya tertuju pada bagaimana Nabi Yunus bisa hidup di dalam perut ikan, bisa jadi kita justru melewatkan pesan terpenting yang ingin disampaikan Al-Qur'an.

Penutup

Sains memiliki perannya sendiri dalam membantu manusia memahami alam semesta. Namun, sains juga memiliki batas. Tidak semua hal dapat diukur dengan laboratorium atau dijelaskan oleh rumus-rumus fisika.

Kisah Nabi Yunus mengingatkan kita bahwa ada wilayah yang berada di luar jangkauan nalar dan pengamatan manusia, yaitu wilayah mukjizat dan kekuasaan Allah.

Karena itu, pertanyaan yang mungkin lebih penting bukanlah bagaimana Nabi Yunus dapat hidup di dalam perut ikan, melainkan mengapa Allah mengabadikan kisah tersebut dalam Al-Qur'an.

Jawabannya mungkin terletak pada satu pelajaran yang sangat sederhana namun mendalam: tidak ada keadaan yang terlalu gelap, terlalu sempit, atau terlalu mustahil bagi pertolongan Allah, selama seorang hamba mau kembali kepada-Nya dengan penuh ketulusan.