Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

25 April 2026

Islam, Napoleon Bonaparte, dan Snouck Hurgronje (Bagian 1)

 

Apa yang ada di benak Anda jika ada yang mengatakan bahwa Napoleon Bonaparte muslim? Apa yang ada di benak Anda jika ada yang mengatakan bahwa Snouck Hurgronje seorang muslim?

Napoleon Bonaparte lahir di Ajaccio, Korsika, Prancis, pada 15 Agustus 1769. Ia berasal dari keluarga bangsawan keturunan Italia yang telah menetap di Korsika sejak abad ke-16. Sejak kecil, Napoleon dikenal cerdas dan menonjol dalam bidang akademik. Pada Mei 1779, saat berusia 10 tahun, ia masuk akademi militer di Brienne-le-Château dan menempuh pendidikan selama enam tahun. Setelah lulus, ia melanjutkan ke École Militaire di Paris, sebuah sekolah militer elite, untuk dilatih menjadi perwira artileri.

Karier militernya mulai melejit ketika ia berhasil menumpas pemberontakan pada tahun 1795, di usia yang baru 26 tahun. Setahun kemudian, ia dipromosikan menjadi brigadir jenderal dan ditugaskan memimpin pasukan Prancis di Italia. Dalam periode tahun 1796–1797, Napoleon meraih serangkaian kemenangan besar yang membuatnya kembali ke Prancis sebagai sosok yang sangat disegani.

Napoleon Bonaparte kemudian dinobatkan sebagai Kaisar Prancis pada 2 Desember 1804 di Katedral Notre-Dame, Paris. Gelar tersebut sebelumnya telah disahkan oleh Senat Prancis pada 18 Mei 1804, menandai berakhirnya era Republik Prancis Pertama dan dimulainya Kekaisaran Prancis Pertama.

Dalam bukunya Satanic Voices, David Pidcock mengutip laporan dari surat kabar Prancis Le Moniteur Universel (terbit 1789–1868) yang menyebutkan bahwa Napoleon memeluk Islam pada 2 Juli 1798, sehari setelah ia tiba di Mesir.

Sementara itu, dalam buku Bonaparte et L’Islam karya Christian Cherfils (Paris), pada halaman 105 disebutkan pernyataan Napoleon: “Saya berharap waktunya tidak lama lagi ketika saya dapat menyatukan semua orang bijak dan terpelajar dari berbagai negara, lalu membangun sebuah tatanan yang seragam berdasarkan prinsip-prinsip Al-Qur’an, yang merupakan satu-satunya jalan menuju kebahagiaan umat manusia.”

Selain itu, Prof. Dr. Mohammad Ash-Shalabi dalam bukunya Ad-Daulah al-‘Utsmaaniyyah: ‘Awaamil an-Nuhudh wa Asbaab as-Suquth (edisi Indonesia: Bangkit dan Runtuhnya Khilafah ‘Utsmaniyyah, Pustaka Al-Kautsar, hlm. 402–409) menyebutkan bahwa Napoleon dan sebagian pengikutnya pernah menyatakan diri masuk Islam.

Apakah benar demikian?

Penjajahan di Mesir

Perancis menginvasi Mesir pada tahun 1798 di pimpin langsung oleh Napoleon. Pada 1 Juli 1798 Napoleon dengan membawa 36.000 orang pasukan mendarat di Aleksandria. Mesir saat itu dibawah pemerintahan Kesultanan dari Dinasti Mamluk.

Perempuran besar antara pasukan Napoleon dengan pasukan Muslim terjadi pada tanggal 21 Juli 1798 dipinggiran kota Kairo. 78.000 pasukan muslim dari Dinasti Mamluk melawan yang sebagian besar terdiri dari petani yang tidak terlatih dan dipaksa untuk ikut berperarang melawan 25.000 pasukan Napoleon yang terlatih. Pukul 3 pagi Napoleon berkata kepada pasukannya, “Kalian telah datang ke negara ini untuk menyelamatkan penduduk dari barbarisme, dan untuk membawa peradaban ke Timur.” Sebuah penghinaan Napoleon terhadap pemerintahan Islam dari Dinasti Mamluk. Dinasti Mamluk yang telah berjasa besar menghentikan invasi dan sepak terjang pasukan Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan yang telah memperak porandakan Baghdad dan wilayah Islam lainya, akhirnya kalah oleh Napoleon. Korban jiwa dari pasukan Napoleon sekitar 300 orang, dan dari pasuukan muslim diperkirakan sebanyak 6.000 orang.

Napoleon berpidato di depan penduduk Mesir, dan mengangkat dirinya sebagai seorang syekh, ulama, dan mufti. Dia menjelaskan bahwa Allah memerintahkannya untuk berbelas kasih dan sayang, yang bertolak belakang dengan apa yang terjadi sesungguhnya di Mesir. Ia dan pasukannya, serta sekutu–sekutunya telah melakukan banyak pembunuhan, merusak dan melanggar kehormatan, merampas harta benda, menghancurkan masjid, dan merendahkan Al Quran.

Dia mengatakan bahwa orang–orang yang menentangnya tidak akan selamat di hadapan Allah pada hari kiamat kelak. Dia juga mengatakan bahwa Allah telah mengutusnya untuk menghancurkan musuh–musuh Islam dan mematahkan salib. Allah telah mengutusnya ke Mesir adalah untuk menghakimi orang–orang yang berlaku zalim. Dia memerintahkan kaum Muslimin untuk membersihkan niat dan ikhlas. Dia mencela kaum muslimin yang menentangnya dengan sebutan sebagai penentang atas hukum Allah dan munafik. Allah akan melaknat dan mengazab mereka.

Apakah masih percaya kalau Napoleon seorang muslim, setelah ia membantai 5.000 orang umat Islam di Mesir, dan menghancurkan masjid?

Agama yang dianut oleh Napoleon Bonaparte masih banyak diperdebatkan.  Jenderal Dupuy yang mendampingi Napoleon Bonaparte mengaku–beberapa saat setelah kematian Paus Pius VI–bahwa semua itu dilakukan demi kepentingan politik. Dominique Martin Dupuy adalah seorang jenderal Prancis yang berperan dalam ekspedisi Mesir di bawah pimpinan Napoleon Bonaparte.

 

“Kami mengelabui orang-orang Mesir itu dengan berpura-pura berminat terhadap agama mereka. Baik Bonaparte maupun kami tidak ada yang percaya pada Agama Islam ketimbang ajaran yang dibawa oleh Pius yang sudah wafat ini”, Pada buku Napoleon I hal. 94 karya Jacques Bainville.

 

Bagaimana dengan Snouck Hurgronje?

 

Bersambung…