Islam, Napoleon Bonaparte, dan Snouck Hurgronje (Bagian 1)
Apa yang ada di
benak Anda jika ada yang mengatakan bahwa Napoleon Bonaparte muslim? Apa yang
ada di benak Anda jika ada yang mengatakan bahwa Snouck Hurgronje seorang
muslim?
Napoleon
Bonaparte lahir di Ajaccio, Korsika, Prancis, pada 15 Agustus 1769. Ia berasal
dari keluarga bangsawan keturunan Italia yang telah menetap di Korsika sejak
abad ke-16. Sejak kecil, Napoleon dikenal cerdas dan menonjol dalam bidang
akademik. Pada Mei 1779, saat berusia 10 tahun, ia masuk akademi militer di
Brienne-le-Château dan menempuh pendidikan selama enam tahun. Setelah lulus, ia
melanjutkan ke École Militaire di Paris, sebuah sekolah militer elite, untuk
dilatih menjadi perwira artileri.
Karier militernya mulai melejit ketika ia
berhasil menumpas pemberontakan pada tahun 1795, di usia yang baru 26 tahun.
Setahun kemudian, ia dipromosikan menjadi brigadir jenderal dan ditugaskan
memimpin pasukan Prancis di Italia. Dalam periode tahun 1796–1797, Napoleon
meraih serangkaian kemenangan besar yang membuatnya kembali ke Prancis sebagai
sosok yang sangat disegani.
Napoleon Bonaparte kemudian dinobatkan
sebagai Kaisar Prancis pada 2 Desember 1804 di Katedral Notre-Dame, Paris.
Gelar tersebut sebelumnya telah disahkan oleh Senat Prancis pada 18 Mei 1804,
menandai berakhirnya era Republik Prancis Pertama dan dimulainya Kekaisaran
Prancis Pertama.
Dalam bukunya Satanic Voices,
David Pidcock mengutip laporan dari surat kabar Prancis Le Moniteur Universel
(terbit 1789–1868) yang menyebutkan bahwa Napoleon memeluk Islam pada 2 Juli
1798, sehari setelah ia tiba di Mesir.
Sementara itu, dalam buku Bonaparte et
L’Islam karya Christian Cherfils (Paris), pada halaman 105 disebutkan
pernyataan Napoleon: “Saya berharap waktunya tidak lama lagi ketika saya dapat
menyatukan semua orang bijak dan terpelajar dari berbagai negara, lalu
membangun sebuah tatanan yang seragam berdasarkan prinsip-prinsip Al-Qur’an,
yang merupakan satu-satunya jalan menuju kebahagiaan umat manusia.”
Selain itu, Prof. Dr. Mohammad
Ash-Shalabi dalam bukunya Ad-Daulah al-‘Utsmaaniyyah: ‘Awaamil an-Nuhudh wa
Asbaab as-Suquth (edisi Indonesia: Bangkit dan Runtuhnya Khilafah
‘Utsmaniyyah, Pustaka Al-Kautsar, hlm. 402–409) menyebutkan bahwa Napoleon
dan sebagian pengikutnya pernah menyatakan diri masuk Islam.
Apakah benar demikian?
Penjajahan di Mesir
Perancis menginvasi
Mesir pada tahun 1798 di pimpin langsung oleh Napoleon. Pada 1 Juli 1798
Napoleon dengan membawa 36.000 orang pasukan mendarat di Aleksandria. Mesir
saat itu dibawah pemerintahan Kesultanan dari Dinasti Mamluk.
Perempuran besar
antara pasukan Napoleon dengan pasukan Muslim terjadi pada tanggal 21 Juli 1798
dipinggiran kota Kairo. 78.000 pasukan muslim dari Dinasti Mamluk melawan yang
sebagian besar terdiri dari petani yang tidak terlatih dan dipaksa untuk ikut
berperarang melawan 25.000 pasukan Napoleon yang terlatih. Pukul 3 pagi
Napoleon berkata kepada pasukannya, “Kalian telah datang ke negara ini untuk
menyelamatkan penduduk dari barbarisme, dan untuk membawa peradaban ke Timur.”
Sebuah penghinaan Napoleon terhadap pemerintahan Islam dari Dinasti Mamluk.
Dinasti Mamluk yang telah berjasa besar menghentikan invasi dan sepak terjang
pasukan Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan yang telah memperak porandakan
Baghdad dan wilayah Islam lainya, akhirnya kalah oleh Napoleon. Korban jiwa
dari pasukan Napoleon sekitar 300 orang, dan dari pasuukan muslim diperkirakan
sebanyak 6.000 orang.
Napoleon berpidato
di depan penduduk Mesir, dan mengangkat dirinya sebagai seorang syekh, ulama,
dan mufti. Dia menjelaskan bahwa Allah memerintahkannya untuk berbelas kasih
dan sayang, yang bertolak belakang dengan apa yang terjadi sesungguhnya di
Mesir. Ia dan pasukannya, serta sekutu–sekutunya telah melakukan banyak
pembunuhan, merusak dan melanggar kehormatan, merampas harta benda,
menghancurkan masjid, dan merendahkan Al Quran.
Dia mengatakan
bahwa orang–orang yang menentangnya tidak akan selamat di hadapan Allah pada
hari kiamat kelak. Dia juga mengatakan bahwa Allah telah mengutusnya untuk
menghancurkan musuh–musuh Islam dan mematahkan salib. Allah telah mengutusnya
ke Mesir adalah untuk menghakimi orang–orang yang berlaku zalim. Dia
memerintahkan kaum Muslimin untuk membersihkan niat dan ikhlas. Dia mencela
kaum muslimin yang menentangnya dengan sebutan sebagai penentang atas hukum
Allah dan munafik. Allah akan melaknat dan mengazab mereka.
Apakah masih
percaya kalau Napoleon seorang muslim, setelah ia membantai 5.000 orang umat
Islam di Mesir, dan menghancurkan masjid?
Agama
yang dianut oleh Napoleon Bonaparte masih banyak diperdebatkan. Jenderal Dupuy yang
mendampingi Napoleon Bonaparte mengaku–beberapa saat setelah kematian Paus Pius
VI–bahwa semua itu dilakukan demi kepentingan politik. Dominique Martin
Dupuy adalah seorang jenderal Prancis yang berperan dalam ekspedisi Mesir di
bawah pimpinan Napoleon Bonaparte.
“Kami
mengelabui orang-orang Mesir itu dengan berpura-pura berminat terhadap agama
mereka. Baik Bonaparte maupun kami tidak ada yang percaya pada Agama Islam
ketimbang ajaran yang dibawa oleh Pius yang sudah wafat ini”, Pada buku
Napoleon I hal. 94 karya Jacques Bainville.
Bagaimana
dengan Snouck Hurgronje?
Bersambung…