Islam, Napoleon Bonaparte, dan Snouck Hurgronje (Bagian 2)
Perang Aceh (1873–1904) bukan sekadar
konflik biasa. Bagi pemerintah kolonial Belanda, perang ini adalah salah satu perang yang paling melelahkan dan penuh kegagalan. Lebih dari dua puluh tahun berlalu tanpa kemenangan yang jelas. Di titik inilah, Belanda mulai menyadari: mereka membutuhkan strategi baru—bukan hanya kekuatan militer, tetapi juga pemahaman mendalam tentang lawan mereka.
Pilihan itu jatuh pada seorang ilmuwan
muda bernama Christiaan Snouck Hurgronje.
Lahir di Oosterhout, Belanda, pada 8
Februari 1857, Snouck Hurgronje dikenal sebagai sosok cerdas. Di usia 28 tahun,
ia telah menyandang gelar doktor dalam bidang bahasa dan sastra Timur dari
Universitas Leiden. Namun, keahliannya bukan hanya soal akademik—ia juga
memiliki ketertarikan besar pada dunia Islam, yang kelak membawanya pada sebuah
misi berbahaya.
Pada tahun 1884, ia dikirim ke Jeddah.
Tujuannya jelas: mengamati kehidupan umat Islam di Mekkah, terutama mereka yang
berasal dari Hindia Belanda. Namun ada satu masalah besar—Mekkah adalah kota
suci yang tertutup bagi non-Muslim.
Bagi banyak orang Barat saat itu, Mekkah
adalah misteri yang nyaris mustahil dijangkau.
Snouck Hurgronje tahu, satu-satunya cara
untuk masuk adalah dengan menjadi “bagian” dari mereka.
Pada 16 Januari 1885, ia mengambil
langkah besar. Di hadapan Qadhi Ismail Agha, ia mengucapkan syahadat. Ia
mengganti namanya menjadi Abdul Ghaffar, bahkan menjalani khitan untuk
memperkuat identitas barunya. Semua itu dilakukan demi satu tujuan: membuka
pintu menuju Mekkah.
Usahanya berhasil.
Dengan penyamaran yang nyaris sempurna,
ia memasuki kota suci yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kesultanan
Utsmani. Di sana, ia tidak hanya menjadi pengamat dari jauh—ia benar-benar
menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim. Ia mengikuti gaya hidup masyarakat
setempat, dengan mengenakan jubah, melilitkan sorban, memelihara janggut, dan
mengikuti ibadah sehari-hari. Ia menjaga sikap dan perilaku agar tidak
menimbulkan kecurigaan.
Perlahan, ia mulai diterima.
Snouck Hurgronje bahkan berhasil menjalin
kedekatan dengan tokoh penting, seperti mufti Mekkah, Sayyid Ahmad Zaini
Dahlan—seorang ulama besar yang juga menjadi guru bagi banyak ulama Nusantara.
Kepercayaan yang ia bangun membuatnya diundang ke kediaman sang mufti, sebuah
pencapaian yang luar biasa bagi seseorang dengan latar belakang seperti
dirinya.
Selama di Mekkah, perhatian Snouck
Hurgronje tertuju pada satu kelompok: umat Islam asal Hindia Belanda. Ia
mengamati kehidupan mereka, cara berpikir mereka, dan hubungan mereka dengan
dunia Islam yang lebih luas. Semua yang ia lihat dan pelajari, ia kirimkan
kembali ke Belanda dalam bentuk laporan-laporan rinci.
Kelak, pengalamannya itu dituangkan dalam
sebuah buku berjudul Mekka, yang menjadi rujukan penting bagi pemerintah
kolonial dan para orientalis.
Di balik keberhasilannya, ada sosok yang
banyak membantu: Raden Abu Bakar Djajadiningrat, seorang pelajar Nusantara di
Mekkah. Dari Abu Bakar, Snouck Hurgronje belajar bahasa Melayu dan mengenal
lebih dekat komunitas pelajar dari tanah jajahan Belanda. Melalui perantara ini
pula, ia bertemu dengan Sayyid Abdullah Az-Zawawi, seorang ulama asal Maroko.
Snouck Hurgronje hidup di tengah
masyarakat, mendengar lantunan ayat Al-Qur’an, menyimak hadis, dan menyaksikan
praktik keagamaan secara langsung. Ia bukan lagi sekadar pengamat—ia adalah
bagian dari kehidupan itu sendiri.
Namun, semua kedekatan itu menyimpan
sebuah ironi.
Di balik jubah dan identitas barunya,
Snouck Hurgronje tetaplah seorang utusan kolonial. Apa yang ia pelajari bukan
untuk mendekatkan diri secara spiritual, melainkan untuk memahami—dan pada
akhirnya, mengendalikan.
Ia tidak datang untuk menjadi bagian dari
iman, tetapi untuk membaca dan memanfaatkannya.
Dan dari Mekkah, Snouck Hurgronje dengan membawa pengetahuannya itu, kembali ke Hindia Belanda—menjadi salah satu kunci dalam strategi baru Belanda menghadapi Aceh.
Pada tahun 1891, ia
ditugaskan ke Aceh sebagai penasihat dari Gubernur Jenderal J.B van Heutsz.
Dalam bukunya berjudul Achehnese, Snouck Hurgronje mengungkapkan
bahwa doktrin yang mengatakan adat dan
Islam (Syariat Islam) dapat duduk secara berdampingan, tetapi dalam praktiknya
sebagian besar kehidupan mereka diatur oleh adat, dan hanya sebagian kecil yang
diatur oleh syariat Islam.
Ia melihat adanya
“ketegangan” tokoh adat di Aceh dan para ulama, maka dia merekomendasikan
kepada pemerintah kolonial Belanda untuk mendekati tokoh–tokoh adat, dan
memisahkan para ulama di Aceh. Biarkan umat Islam menjalankan ritual ibadah
agamanya, tapi pisahkan mereka dari kehidupan politik.
Melalui bantuan tokoh-tokoh
adat, pemerintah kolonial Belanda dapat melemahkan umat Islam dan memukul
mundur pejuang-pejuang Aceh yang berjihad melawan penjajah Belanda. Umat Islam
(pejuang-pejuang Aceh) mampu membendung invasi penjajah ke wialayah Aceh dengan
menewaskan 17.000 serdadu Belanda, maka sejak kedatangan Snouck Hurgronje di
Aceh situasi itu berbalik. Tahun 1899 Teuku Umar gugur, Cut Nya’Dien yang
melanjutkan perjuangan suaminya (Teuku Umar) tertangkap dan di buang ke
Sumedang, Jawa Barat pada tahun 1904, dan berakhirlah perang Aceh.
Meski telah lama
tinggal di Mekkah, berinteraksi dengan para ulama, serta menjalani kehidupan
keagamaan sehari-hari, pengalaman tersebut tidak membuat Snouck Hurgronje benar-benar memeluk Islam secara spiritual. Ketertarikannya pada Islam lebih didorong oleh kepentingan akademis dan strategi kolonial Belanda.
Napoleon Bonaparte
dan Snouck Hurgronje tidak benar-benar ber-Islam. Mereka memanfaatkan
pengetahuannya tentang Islam, tidak untuk memperkuat umat Islam, tapi untuk
melemahkannya, hanya untuk kepentingan politik dalam menjajah wilayah-wilayah
Islam.