Keberanian Sejati

adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

24 November 2025

Perang Sabil Kesultanan Ternate – Portugis

 

Setelah perjanjian Tordesilas 7 Juni 1494 yang diprakarsai oleh Paus Alexander VI, arah ekspansi Spanyol dan Portugis yang semula hanya untuk mencari keuntungan materi semata, yaitu monopoli perdagangan rempah – rempah, berubah menjadi pengusaaan wilayah (penjajahan), monopoli perdagangan, dan penyebaran agama Nasrani, sesuai dengan semboyan 3G (Gold, Glory, dan God).

Ketika Portugis tiba di Maluku, kedatangan mereka awalnya disambut baik oleh dua kesultanan Islam: Tidore di bawah Sultan Mansur dan Ternate di bawah Sultan Khairun. Namun, di balik hubungan awal yang bersahabat, Portugis membawa misi 3G. Mereka berusaha memonopoli perdagangan cengkeh dan pala, sekaligus melakukan kristenisasi terhadap penduduk Muslim Maluku.

Pada 1546, misionaris Katolik yang dipimpin Franciscus Xaverius datang ke Maluku dengan misi besar gereja yang aktif mengkristenkan penduduk. Cara yang digunakan tidak hanya berupa dakwah, tetapi juga tekanan dan kekerasan, mirip dengan pola yang mereka lakukan di Spanyol pada akhir abad ke-15. Hubungan Kesultanan Ternate dengan Portugis yang semula damai mulai menegang.

Hubungan mulai memburuk ketika Sultan Khairun menandatangani perjanjian persahabatan dan dagang dengan Gubernur de Mesquita pada 1564. Portugis menafsirkan perjanjian ini sebagai bentuk penyerahan kekuasaan Ternate kepada mereka. Sultan Khairun bahkan ditangkap, dibawa ke Goa—wilayah jajahan Portugis di India—dan kemudian ke Portugal.

Dalam pertemuan dengan Raja Portugis, Sultan Khairun dipaksa menyetujui perjanjian baru yang sangat merugikan. Portugis mengakui hak-hak Sultan sebatas formalitas, tetapi mereka tetap memegang monopoli dagang rempah dan bebas menjalankan misi kristenisasi. Sengketa antara sultan dan gubernur akan diputuskan pemerintah Portugis. Sementara itu, Kesultanan Tidore, Jailolo, dan Bacan telah kehilangan kedaulatan; Bacan bahkan dipaksa memeluk Katolik.

Ketika kembali ke Ternate, Sultan Khairun menyadari bahwa Portugis bertindak seolah-olah Ternate adalah jajahan mereka. Setahun kemudian, ia membatalkan perjanjian secara sepihak dan menyatakan perang. Sultan memerintahkan pengusiran seluruh pemeluk Katolik—baik bangsa Portugis maupun penduduk lokal—dari wilayah kekuasaannya. Pertempuran pun pecah, menewaskan ratusan misionaris dan membuat ribuan orang Katolik melarikan diri ke Ambon dan Mindanao.

Peristiwa ini menimbulkan kemarahan Gubernur de Mesquita dan pimpinan missionaris, dan meminta bantuan dari Malaka dan Goa. Datang­nya tentara Portugis dari Malaka dan Goa, tidak menyebabkan pasukan Sultan Khairun menjadi gentar, bahkan menumbuhkan semangat untuk mati syahid di medan pertempuran, dan mengakibatkan kerugian yang besar bagi Portugis yang ada di Ternate. Melihat kekuatannya terdesak, Portugis menawarkan perdamaian dengan Kesultanan Ternate yang diterima oleh Sultan Khairun dengan syarat bahwa semua pemeluk Katolik harus keluar meninggalkan Ternate dan tidak diperbolehkan adanya kegiatan Kristenisasi di Ternate. Perjanjian ditandatangani dengan khidmat—Sultan memegang Al-Qur’an dan Gubernur de Mesquita memegang Injil.

Namun saat prosesi perdamaian berlangsung di kediaman gubernur, terjadi pengkhianatan. Seorang prajurit Portugis menikam Sultan Khairun dari belakang. Perkelahian pecah, dan Sultan Khairun bersama sebagian pengikutnya gugur. Pengkhinatan keji itu terjadi pada 28 Februari 1570.

Berita wafatnya Sultan Khairun menyebar cepat ke Ternate. Rakyat tersentak marah. Putranya, Pangeran Babullah, segera diangkat sebagai Sultan. Dalam upacara pelantikannya, ia menghunus pedang pusaka ayahnya dan bersumpah: Portugis harus diusir dari Tanah Ternate, dan darah ayahnya harus dibalas. Rakyat pun mengangkat sumpah jihad, siap berjuang sampai titik darah penghabisan.

Pasukan Sultan Babullah menyerang dari dua arah: benteng Portugis di Ternate dan benteng Portugis di Ambon. Raja Bacan yang sudah masuk Katolik membantu Portugis, sedangkan Sultan Tidore mengirim pasukan untuk mendukung Ternate.

Benteng Portugis di Ambon akhirnya dibakar. Tentara Portugis yang selamat melarikan diri ke Malaka. Penduduk Katolik lokal ketakutan, tetapi Sultan Babullah menunjukkan kebesaran seorang pemimpin. Ia menegaskan bahwa rakyat Ambon yang beragama Katolik tidak akan dibunuh atau dipaksa pindah agama—musuh mereka adalah penjajah Portugis, bukan pribumi.

Meski benteng Portugis di Ambon jatuh, benteng Portugis di Ternate masih bertahan selama lima tahun. Blokade Ternate membuat pasukan Portugis kelaparan dan terserang penyakit. Bantuan dari Malaka dan Goa gagal menembus kepungan. Pada akhirnya, satu-satunya pilihan Portugis adalah menyerah.

Sultan Babullah mengirim tawaran: dalam 24 jam Portugis harus mengakui kekalahan dan diberi izin meninggalkan benteng tanpa senjata menuju Malaka atau tempat lain. Jika mereka menyerahkan Gubernur de Mesquita untuk dihukum qishas, maka hubungan baik dapat dipulihkan tanpa mengurangi kedaulatan Ternate. Pada akhir 1575, Portugis akhirnya menyerah, menandai berakhirnya kekuasaan mereka di Ternate.