Perang Sabil Kesultanan Ternate – Portugis
Setelah perjanjian Tordesilas 7 Juni 1494
yang diprakarsai oleh Paus Alexander VI, arah ekspansi Spanyol dan Portugis
yang semula hanya untuk mencari keuntungan materi semata, yaitu monopoli
perdagangan rempah – rempah, berubah menjadi pengusaaan wilayah (penjajahan),
monopoli perdagangan, dan penyebaran agama Nasrani, sesuai dengan semboyan 3G (Gold,
Glory, dan God).
Ketika Portugis tiba di Maluku,
kedatangan mereka awalnya disambut baik oleh dua kesultanan Islam: Tidore di
bawah Sultan Mansur dan Ternate di bawah Sultan Khairun. Namun, di balik
hubungan awal yang bersahabat, Portugis membawa misi 3G. Mereka berusaha memonopoli
perdagangan cengkeh dan pala, sekaligus melakukan kristenisasi terhadap
penduduk Muslim Maluku.
Pada 1546, misionaris Katolik yang
dipimpin Franciscus Xaverius datang ke Maluku dengan misi besar gereja yang
aktif mengkristenkan penduduk. Cara yang digunakan tidak hanya berupa dakwah,
tetapi juga tekanan dan kekerasan, mirip dengan pola yang mereka lakukan di
Spanyol pada akhir abad ke-15. Hubungan Kesultanan Ternate dengan Portugis yang
semula damai mulai menegang.
Hubungan mulai memburuk ketika Sultan
Khairun menandatangani perjanjian persahabatan dan dagang dengan Gubernur de
Mesquita pada 1564. Portugis menafsirkan perjanjian ini sebagai bentuk
penyerahan kekuasaan Ternate kepada mereka. Sultan Khairun bahkan ditangkap,
dibawa ke Goa—wilayah jajahan Portugis di India—dan kemudian ke Portugal.
Dalam pertemuan dengan Raja Portugis,
Sultan Khairun dipaksa menyetujui perjanjian baru yang sangat merugikan.
Portugis mengakui hak-hak Sultan sebatas formalitas, tetapi mereka tetap
memegang monopoli dagang rempah dan bebas menjalankan misi kristenisasi.
Sengketa antara sultan dan gubernur akan diputuskan pemerintah Portugis.
Sementara itu, Kesultanan Tidore, Jailolo, dan Bacan telah kehilangan
kedaulatan; Bacan bahkan dipaksa memeluk Katolik.
Ketika kembali ke Ternate, Sultan Khairun
menyadari bahwa Portugis bertindak seolah-olah Ternate adalah jajahan mereka.
Setahun kemudian, ia membatalkan perjanjian secara sepihak dan menyatakan
perang. Sultan memerintahkan pengusiran seluruh pemeluk Katolik—baik bangsa
Portugis maupun penduduk lokal—dari wilayah kekuasaannya. Pertempuran pun
pecah, menewaskan ratusan misionaris dan membuat ribuan orang Katolik melarikan
diri ke Ambon dan Mindanao.
Peristiwa ini menimbulkan
kemarahan Gubernur de Mesquita dan pimpinan missionaris, dan meminta bantuan
dari Malaka dan Goa. Datangnya tentara Portugis dari Malaka dan Goa, tidak
menyebabkan pasukan Sultan Khairun menjadi gentar, bahkan menumbuhkan semangat
untuk mati syahid di medan pertempuran, dan mengakibatkan kerugian yang besar
bagi Portugis yang ada di Ternate. Melihat kekuatannya terdesak, Portugis
menawarkan perdamaian dengan Kesultanan Ternate yang diterima oleh Sultan
Khairun dengan syarat bahwa semua pemeluk Katolik harus keluar meninggalkan
Ternate dan tidak diperbolehkan adanya kegiatan Kristenisasi di Ternate. Perjanjian
ditandatangani dengan khidmat—Sultan memegang Al-Qur’an dan Gubernur de
Mesquita memegang Injil.
Namun saat prosesi perdamaian berlangsung
di kediaman gubernur, terjadi pengkhianatan. Seorang prajurit Portugis menikam
Sultan Khairun dari belakang. Perkelahian pecah, dan Sultan Khairun bersama
sebagian pengikutnya gugur. Pengkhinatan keji itu terjadi pada 28 Februari
1570.
Berita wafatnya Sultan Khairun menyebar
cepat ke Ternate. Rakyat tersentak marah. Putranya, Pangeran Babullah, segera
diangkat sebagai Sultan. Dalam upacara pelantikannya, ia menghunus pedang
pusaka ayahnya dan bersumpah: Portugis harus diusir dari Tanah Ternate, dan
darah ayahnya harus dibalas. Rakyat pun mengangkat sumpah jihad, siap berjuang
sampai titik darah penghabisan.
Pasukan Sultan Babullah menyerang dari
dua arah: benteng Portugis di Ternate dan benteng Portugis di Ambon. Raja Bacan
yang sudah masuk Katolik membantu Portugis, sedangkan Sultan Tidore mengirim
pasukan untuk mendukung Ternate.
Benteng Portugis di Ambon akhirnya
dibakar. Tentara Portugis yang selamat melarikan diri ke Malaka. Penduduk
Katolik lokal ketakutan, tetapi Sultan Babullah menunjukkan kebesaran seorang
pemimpin. Ia menegaskan bahwa rakyat Ambon yang beragama Katolik tidak akan
dibunuh atau dipaksa pindah agama—musuh mereka adalah penjajah Portugis, bukan
pribumi.
Meski benteng Portugis di Ambon jatuh,
benteng Portugis di Ternate masih bertahan selama lima tahun. Blokade Ternate
membuat pasukan Portugis kelaparan dan terserang penyakit. Bantuan dari Malaka
dan Goa gagal menembus kepungan. Pada akhirnya, satu-satunya pilihan Portugis
adalah menyerah.
Sultan Babullah mengirim tawaran: dalam
24 jam Portugis harus mengakui kekalahan dan diberi izin meninggalkan benteng
tanpa senjata menuju Malaka atau tempat lain. Jika mereka menyerahkan Gubernur
de Mesquita untuk dihukum qishas, maka hubungan baik dapat dipulihkan
tanpa mengurangi kedaulatan Ternate. Pada akhir 1575, Portugis akhirnya
menyerah, menandai berakhirnya kekuasaan mereka di Ternate.