Kisah Pemuda dengan Dua Ekor Babi
Nabi Musa
adalah seorang nabi yang diberi keistimewaan dapat berbicara langsung dengan
Allah. Karena kedekatan tersebut, beliau kerap mengajukan berbagai pertanyaan
yang kemudian dijawab langsung oleh Allah. Dalam sebuah kisah Israiliyat, suatu
hari Nabi Musa bertanya, "Ya Allah, siapakah yang akan menjadi tetanggaku
di surga kelak?"
Allah memberitahu Nabi Musa nama orang yang dimaksud serta di mana tempat
tinggalnya. Kemudian
Nabi Musa bergegas menuju tempat tinggal orang tersebut karena ingin mengetahui
seperti apa kehidupan sehari-harinya.
Setelah
beberapa waktu berjalan, akhirnya Nabi Musa dapat berjumpa dengan orang itu. Ia
dipersilakan duduk di ruang tamu dan diminta menunggu sejenak karena sang
pemilik rumah hendak menyelesaikan suatu kewajiban terlebih dahulu. Setelah
itu, ia masuk ke dalam sebuah bilik. Tak lama kemudian, ia keluar sambil
menggendong seekor babi betina besar. Hewan itu diperlakukannya dengan sangat
lembut.
Melihat hal itu, Nabi Musa tidak dapat
menyembunyikan rasa herannya.
Babi betina itu dibersihkan dan
dimandikan dengan baik. Setelah itu, tubuhnya dilap hingga kering, lalu dipeluk
dan dicium dengan penuh kasih sayang sebelum dibawa kembali ke dalam bilik.
Setelah itu, orang tersebut kembali
keluar sambil membawa seekor babi jantan. Hewan tersebut diperlakukan dengan
cara yang sama. Ia memandikannya, membersihkannya, mengeringkan tubuhnya, lalu
memeluk dan menciumnya dengan penuh kasih sayang sebelum membawanya kembali ke
dalam bilik.
Setelah selesai melaksanakan kewajibannya barulah dia
menemui Nabi Musa.
"Wahai saudara, mengapa kamu memelihara babi? Agama
kita tidak membolehkannya," kata Nabi Musa.
“Tuan! Sebenarnya kedua babi itu adalah ibu-bapak kandungku. Karena dosa besar
yang mereka lakukan, Allah mengubah mereka menjadi babi. Kesalahan mereka adalah urusan mereka sendiri di hadapan Allah. Sebagai anak, aku tetap melaksanakan kewajibanku. Aku
berbakti kepada kedua orang tuaku sebagaimana yang tuan lihat tadi. Walaupun Allah
mengubah wujud mereka menjadi babi, mereka tetaplah orang tuaku. Karena itu,
aku tidak pernah berhenti berusaha berbakti kepada mereka," jelas pemuda itu kepada Nabi Musa.
"Setiap hari aku berdoa kepada Allah agar mereka diampuni. Aku memohon
kepada Allah agar mengembalikan wujud mereka menjadi manusia, tetapi Allah
masih belum mengabulkan doaku," tambah pemuda itu lagi.
Saat itu
juga Allah mewahyukan kepada Nabi Musa bahwa pemuda itulah yang kelak akan
menjadi tetangganya di surga. Bakti dan kasih sayangnya kepada kedua orang
tuanya telah mengangkat derajatnya di sisi Allah. Bahkan, berkat doa dan
kesalehannya, kedua orang tuanya yang semula layak mendapat azab akhirnya
memperoleh rahmat dan ampunan dari Allah.
Catatan: Kisah ini termasuk
dalam riwayat Israiliyat yang banyak beredar sebagai cerita hikmah. Kebenaran
detail peristiwanya tidak dapat dipastikan sebagaimana riwayat yang sahih.
Namun, pesan tentang pentingnya berbakti kepada orang tua sejalan dengan ajaran
Islam yang menempatkan birrul walidain sebagai salah satu amal yang paling
utama.
Baca juga:
1.
Ketika Nabi Musa Berdebat dengan Nabi Adam