Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

13 Maret 2026

Wahyu Kedua: Perintah Berdakwah

 

Setelah wahyu pertama turun kepada Rasulullah di Gua Hira, wahyu tidak langsung turun kembali. Ada masa jeda yang oleh para ulama disebut fatrah al-wahy, yaitu masa terhentinya wahyu untuk sementara waktu.

Pada masa inilah hati Rasulullah  mengalami kegelisahan. Beliau merindukan datangnya wahyu berikutnya dari Allah.

(Baca juga: Wahyu Pertama yang Mengubah Dunia )

Para ulama berbeda pendapat mengenai lamanya masa jeda ini. Pendapat yang rajih (berbobot) dari sahabat Ibnu Abbas yang dinukil oleh Muhammad ibn Sa'd menyebutkan bahwa wahyu kedua turun beberapa hari setelah wahyu pertama.

Namun dalam sebagian kitab sirah yang populer disebutkan bahwa jeda wahyu berlangsung sekitar dua hingga tiga tahun. Perbedaan ini menunjukkan bahwa para ulama memiliki penilaian yang berbeda terhadap riwayat-riwayat yang sampai kepada mereka.

Yang jelas, masa fatrah ini menjadi ujian emosional bagi Rasulullah, sekaligus masa persiapan bagi beliau untuk menerima tugas besar sebagai pembawa risalah.

Dalam riwayat yang terdapat dalam Sahih al-Bukhari, disebutkan bahwa pada masa terhentinya wahyu, Rasulullah merasa sangat gelisah dan sedih karena tidak lagi mendengar wahyu dari Allah.

Sebagian riwayat menyebutkan bahwa kesedihan itu begitu dalam hingga beliau beberapa kali pergi ke puncak bukit. Namun setiap kali kegelisahan itu memuncak, malaikat Jibril menampakkan diri dan menegaskan bahwa beliau benar-benar utusan Allah. Ucapan itu menenangkan hati Rasulullah dan menguatkan keyakinannya bahwa peristiwa di Gua Hira bukanlah sesuatu yang keliru.

—Pada sebagian riwayat menceritakan bahwa Rasulullah hendak menjatuhkan diri dari gunung. Hal itu yang diperselisihkan oleh ulama hadis.  Sebagian ulama menilai bagian itu bukan dari matan utama hadis, tetapi tambahan dari riwayat az-Zuhri yang tidak bersambung (mursal)—

Saya berpendapat hal itu tidak akan mungkin dilakukan oleh Rasulullah yang mempunyai pribadi yang mulia sejak sebelum diangkat jadi Nabi dan Rasul. Pribadi yang uswatun hasanah.

“Sungguh, pada (diri) Rasulullah itu ada suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS. al Ahzab: 21)

Ulama besar hadis Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa jeda wahyu ini memiliki hikmah yang dalam. Di antaranya adalah: Menghilangkan rasa takut yang sempat dirasakan Nabi ketika pertama kali menerima wahyu, menumbuhkan kerinduan dalam hati beliau terhadap turunnya wahyu, mempersiapkan jiwa Rasulullah untuk menerima tugas besar sebagai pembawa risalah.

Dengan kata lain, masa fatrah ini adalah masa penguatan jiwa sebelum dimulainya dakwah yang akan mengguncang dunia.

Suatu hari, ketika Rasulullah sedang berjalan, beliau mendengar suara dari langit. Beliau menceritakan peristiwa itu dalam hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Jabir bin Abdullah yang terdapat dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim. Rasulullah bersabda:

“Aku mendengar suara dari langit. Ketika aku mengangkat pandanganku, ternyata malaikat yang datang kepadaku di Gua Hira duduk di atas kursi di antara langit dan bumi. Aku sangat terkejut dan ketakutan, lalu aku pulang kepada keluargaku dan berkata: ‘Selimuti aku! Selimuti aku!’”

Keluarga beliau pun menyelimuti tubuh beliau yang gemetar. Pada saat itulah turun firman Allah:

“Wahai orang yang berkemul (berselimut)!
Bangunlah, lalu berilah peringatan!
Dan agungkanlah Tuhanmu!
Bersihkanlah pakaianmu!
Dan tinggalkanlah segala perbuatan yang keji.”
(QS. Al-Muddaththir: 1–5)

Inilah wahyu kedua yang turun kepada Rasulullah. Jika wahyu pertama memerintahkan membaca dan belajar, maka wahyu kedua berisi perintah untuk bangkit dan berdakwah.

Sejak saat itu, dimulailah perjalanan dakwah yang kelak akan mengubah sejarah umat manusia, membawa cahaya bagi seluruh dunia.