Wahyu Kedua: Perintah Berdakwah
Setelah wahyu pertama turun kepada
Rasulullah di Gua Hira, wahyu tidak langsung turun kembali. Ada masa jeda yang
oleh para ulama disebut fatrah al-wahy, yaitu masa terhentinya wahyu
untuk sementara waktu.
Pada masa inilah hati Rasulullah mengalami kegelisahan. Beliau merindukan
datangnya wahyu berikutnya dari Allah.
(Baca juga:
Wahyu Pertama yang Mengubah Dunia )
Para ulama berbeda pendapat mengenai
lamanya masa jeda ini. Pendapat yang rajih (berbobot) dari sahabat Ibnu
Abbas yang dinukil oleh Muhammad ibn Sa'd menyebutkan bahwa wahyu kedua turun beberapa
hari setelah wahyu pertama.
Namun dalam sebagian kitab sirah yang
populer disebutkan bahwa jeda wahyu berlangsung sekitar dua hingga tiga
tahun. Perbedaan ini menunjukkan bahwa para ulama memiliki penilaian yang
berbeda terhadap riwayat-riwayat yang sampai kepada mereka.
Yang jelas, masa fatrah ini menjadi ujian
emosional bagi Rasulullah, sekaligus masa persiapan bagi beliau untuk menerima
tugas besar sebagai pembawa risalah.
Dalam riwayat yang terdapat dalam Sahih
al-Bukhari, disebutkan bahwa pada masa terhentinya wahyu, Rasulullah merasa
sangat gelisah dan sedih karena tidak lagi mendengar wahyu dari Allah.
Sebagian riwayat menyebutkan bahwa
kesedihan itu begitu dalam hingga beliau beberapa kali pergi ke puncak bukit.
Namun setiap kali kegelisahan itu memuncak, malaikat Jibril menampakkan diri
dan menegaskan bahwa beliau benar-benar utusan Allah. Ucapan itu menenangkan
hati Rasulullah dan menguatkan keyakinannya bahwa peristiwa di Gua Hira
bukanlah sesuatu yang keliru.
—Pada
sebagian riwayat menceritakan bahwa Rasulullah hendak menjatuhkan diri dari gunung.
Hal itu yang diperselisihkan oleh ulama hadis.
Sebagian ulama menilai bagian itu bukan dari matan utama hadis,
tetapi tambahan dari riwayat az-Zuhri yang tidak bersambung (mursal)—
Saya berpendapat hal itu
tidak akan mungkin dilakukan oleh Rasulullah yang mempunyai pribadi yang mulia sejak sebelum diangkat jadi Nabi dan Rasul. Pribadi yang uswatun hasanah.
“Sungguh,
pada (diri) Rasulullah itu ada suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang
yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak
mengingat Allah.” (QS. al Ahzab: 21)
Ulama besar hadis Ibnu Hajar al-Asqalani
menjelaskan bahwa jeda wahyu ini memiliki hikmah yang dalam. Di antaranya
adalah: Menghilangkan rasa takut yang sempat dirasakan Nabi ketika pertama kali
menerima wahyu, menumbuhkan kerinduan dalam hati beliau terhadap turunnya
wahyu, mempersiapkan jiwa Rasulullah untuk menerima tugas besar sebagai pembawa
risalah.
Dengan kata lain, masa fatrah ini adalah
masa penguatan jiwa sebelum dimulainya dakwah yang akan mengguncang dunia.
Suatu hari, ketika Rasulullah sedang
berjalan, beliau mendengar suara dari langit. Beliau menceritakan peristiwa itu
dalam hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Jabir bin Abdullah yang terdapat
dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim. Rasulullah bersabda:
“Aku mendengar suara dari langit. Ketika
aku mengangkat pandanganku, ternyata malaikat yang datang kepadaku di Gua Hira
duduk di atas kursi di antara langit dan bumi. Aku sangat terkejut dan
ketakutan, lalu aku pulang kepada keluargaku dan berkata: ‘Selimuti aku! Selimuti
aku!’”
Keluarga beliau pun menyelimuti tubuh
beliau yang gemetar. Pada saat itulah turun firman Allah:
“Wahai
orang yang berkemul (berselimut)!
Bangunlah, lalu berilah peringatan!
Dan agungkanlah Tuhanmu!
Bersihkanlah pakaianmu!
Dan tinggalkanlah segala perbuatan yang keji.”
(QS. Al-Muddaththir: 1–5)
Inilah wahyu kedua yang turun kepada
Rasulullah. Jika wahyu pertama memerintahkan membaca dan belajar, maka wahyu
kedua berisi perintah untuk bangkit dan berdakwah.
Sejak saat itu, dimulailah perjalanan
dakwah yang kelak akan mengubah sejarah umat manusia, membawa cahaya bagi
seluruh dunia.