Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

18 April 2026

Kejengkelan Malaikat Jibril kepada Firaun

 

Kisah tentang Nabi Musa dan Firaun adalah salah satu narasi paling kuat dalam Al-Qur’an. Ia bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi cermin tentang kesombongan manusia yang mencapai puncaknya.

Perlu dipahami, “Firaun” bukanlah nama satu orang, melainkan gelar bagi penguasa Mesir kuno. Para sejarawan berbeda pendapat mengenai siapa Firaun pada masa Nabi Musa, namun Al-Qur’an tidak menekankan identitasnya—melainkan sifatnya: zalim, sombong, dan melampaui batas. Beberapa pendapat menyebutkan bahwa Firaun pada masa Nabi Musa adalah Firaun Amenhotep I, anak dari Ramses II.

Al-Qur’an menggambarkan kezaliman itu dengan sangat jelas:

Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah. Dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil). Dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuannya. Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qashash: 4)

Tidak ada yang beriman kepada Musa selain keturunan dari kaumnya disertai ketakutan pada Firaun dan para pemuka kaumnya yang akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Firaun benar-benar sewenang-wenang di bumi. Sesungguhnya ia benar-benar termasuk orang-orang yang melampaui batas. (QS. Yunus: 83).

Kezaliman ini bukan tanpa sebab. Firaun pernah mendengar ramalan bahwa akan lahir seorang anak laki-laki dari Bani Israil yang kelak menjadi penyebab runtuhnya kekuasaannya. Ketakutan berubah menjadi kebiadaban. Ia memerintahkan pembunuhan sistematis terhadap setiap bayi laki-laki yang lahir dari kaum tersebut.

Wanita-wanita hamil diawasi. Tangisan bayi menjadi penentu hidup dan mati. Jika laki-laki—dibunuh. Jika perempuan—dibiarkan hidup.

Namun kezaliman terbesar Firaun bukan hanya pada tindakannya, melainkan pada kesombongannya yang tak tertandingi. Ia bahkan mengaku sebagai tuhan:

“Aku adalah tuhan kalian yang paling tinggi.”(QS. An-Nazi’at: 24)

Kesombongan ini semakin menjadi-jadi, terlebih karena ia hidup dalam kenikmatan tanpa ujian berarti. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa ia jarang atau bahkan tidak pernah merasakan sakit, hingga ia merasa dirinya tidak tersentuh kelemahan manusia.

Ketika Musa diangkat menjadi Nabi, dan diperintahkan oleh Allah untuk menyampaikan ajaran tauhid dengan didampingi saudaranya yaitu Nabi Harun, Firaun dengan para pengikutnya menentang dengan sangat keras. Penolakan itu berujung pada pengejaran besar-besaran. Firaun dan bala tentaranya mengejar Nabi Musa dan Bani Israil hingga ke tepi Laut Merah.

Di sanalah, takdir Allah berbicara.

Laut terbelah. Musa dan kaumnya selamat. Firaun, dengan segala kesombongannya, justru tenggelam di dalamnya. Namun, ada satu momen dramatis yang luput dari perhatian. Di detik-detik terakhir kehidupannya, saat kematian sudah di depan mata, Firaun akhirnya mengakui kebenaran:

“Aku percaya bahwa tidak ada tuhan selain Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”(QS. Yunus: 90)

Pengakuan itu datang… terlambat.

Dalam sebuah hadis riwayat At-Tirmidzi dari Ibnu Abbas, Rasulullah menceritakan bahwa Malaikat Jibril merasa sangat khawatir pada saat itu. Ia bahkan mengambil lumpur dari laut dan menyumpalkannya ke mulut Firaun. Bukan karena benci tanpa alasan, tetapi karena takut—takut jika Firaun sempat mengucapkan kalimat tauhid dengan tulus, lalu mendapatkan rahmat Allah. Nabi bersabda, “Ketika Allah menenggelamkan Firaun, dia berkata, Saya percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercaya oleh Bani Israil. Jibril berkata, Wahai Muhammad, seandainya kamu melihatku mengambil lumpur laut, lalu aku suapkan di mulutnya karena aku takut rahmat mendapatinya. Dalam sebuah riwayat lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam menyebutkan bahwa Jibril menyumpalkan tanah di mulut Firaun karena takut dia mengucapkan ‘la illahaillallah’ lalu Allah merahmatinya atau karena dia takut Allah merahmatinya.

Bayangkan itu.

Seorang makhluk yang begitu taat seperti Malaikat Jibril pun “gelisah” melihat kemungkinan seorang tiran seperti Firaun mendapatkan ampunan di detik terakhirnya.

Namun Allah Maha Adil. Pengakuan yang datang saat ajal telah tiba bukanlah tanda keimanan, melainkan keputusasaan.

Dan kisah itu tidak berhenti di sana.

Allah mengabadikan jasad Firaun sebagai pelajaran bagi manusia setelahnya:

“Pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar kamu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu. Dan sungguh, kebanyakan manusia benar-benar lengah dari tanda-tanda (kekuasaan) Kami.”(QS. Yunus: 92)

Tubuhnya diselamatkan, tetapi namanya menjadi simbol kehancuran.

Di ujung hidupnya, Firaun akhirnya mengenal Tuhan.Namun bukan dengan iman… melainkan dengan ketakutan.

Karena tidak semua penyesalan…datang di waktu yang masih bisa menyelamatkan.