Kejengkelan Malaikat Jibril kepada Firaun
Kisah tentang Nabi Musa dan Firaun adalah
salah satu narasi paling kuat dalam Al-Qur’an. Ia bukan sekadar cerita masa
lalu, tetapi cermin tentang kesombongan manusia yang mencapai puncaknya.
Perlu dipahami, “Firaun” bukanlah nama
satu orang, melainkan gelar bagi penguasa Mesir kuno. Para sejarawan berbeda
pendapat mengenai siapa Firaun pada masa Nabi Musa, namun Al-Qur’an tidak
menekankan identitasnya—melainkan sifatnya: zalim, sombong, dan melampaui
batas. Beberapa pendapat menyebutkan bahwa Firaun pada masa Nabi Musa adalah
Firaun Amenhotep I, anak dari Ramses II.
Al-Qur’an menggambarkan kezaliman itu
dengan sangat jelas:
Sesungguhnya
Firaun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya
berpecah-belah. Dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil). Dia
menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuannya.
Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS.
Al-Qashash: 4)
Tidak
ada yang beriman kepada Musa selain keturunan dari kaumnya disertai ketakutan
pada Firaun dan para pemuka kaumnya yang akan menyiksa mereka. Sesungguhnya
Firaun benar-benar sewenang-wenang di bumi. Sesungguhnya ia benar-benar
termasuk orang-orang yang melampaui batas. (QS. Yunus: 83).
Kezaliman ini bukan tanpa sebab. Firaun
pernah mendengar ramalan bahwa akan lahir seorang anak laki-laki dari Bani
Israil yang kelak menjadi penyebab runtuhnya kekuasaannya. Ketakutan berubah
menjadi kebiadaban. Ia memerintahkan pembunuhan sistematis terhadap setiap bayi
laki-laki yang lahir dari kaum tersebut.
Wanita-wanita hamil diawasi. Tangisan
bayi menjadi penentu hidup dan mati. Jika laki-laki—dibunuh. Jika
perempuan—dibiarkan hidup.
Namun kezaliman terbesar Firaun bukan
hanya pada tindakannya, melainkan pada kesombongannya yang tak tertandingi. Ia
bahkan mengaku sebagai tuhan:
“Aku adalah tuhan kalian
yang paling tinggi.”(QS. An-Nazi’at: 24)
Kesombongan ini semakin menjadi-jadi,
terlebih karena ia hidup dalam kenikmatan tanpa ujian berarti. Sebagian riwayat
menyebutkan bahwa ia jarang atau bahkan tidak pernah merasakan sakit, hingga ia
merasa dirinya tidak tersentuh kelemahan manusia.
Ketika Musa diangkat menjadi Nabi, dan diperintahkan
oleh Allah untuk menyampaikan ajaran tauhid dengan didampingi saudaranya yaitu
Nabi Harun, Firaun dengan para pengikutnya menentang dengan sangat keras.
Penolakan itu berujung pada pengejaran besar-besaran. Firaun dan bala
tentaranya mengejar Nabi Musa dan Bani Israil hingga ke tepi Laut Merah.
Di sanalah, takdir Allah berbicara.
Laut terbelah. Musa dan kaumnya selamat.
Firaun, dengan segala kesombongannya, justru tenggelam di dalamnya. Namun, ada
satu momen dramatis yang luput dari perhatian. Di detik-detik terakhir
kehidupannya, saat kematian sudah di depan mata, Firaun akhirnya mengakui
kebenaran:
“Aku
percaya bahwa tidak ada tuhan selain Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil,
dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”(QS. Yunus: 90)
Pengakuan itu datang… terlambat.
Dalam sebuah hadis riwayat At-Tirmidzi
dari Ibnu Abbas, Rasulullah menceritakan bahwa Malaikat Jibril merasa sangat
khawatir pada saat itu. Ia bahkan mengambil lumpur dari laut dan
menyumpalkannya ke mulut Firaun. Bukan karena benci tanpa alasan, tetapi karena
takut—takut jika Firaun sempat mengucapkan kalimat tauhid dengan tulus, lalu
mendapatkan rahmat Allah. Nabi bersabda, “Ketika Allah menenggelamkan Firaun,
dia berkata, Saya percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercaya
oleh Bani Israil. Jibril berkata, Wahai Muhammad, seandainya kamu melihatku
mengambil lumpur laut, lalu aku suapkan di mulutnya karena aku takut rahmat
mendapatinya. Dalam sebuah riwayat lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam
menyebutkan bahwa Jibril menyumpalkan tanah di mulut Firaun karena takut dia
mengucapkan ‘la illahaillallah’ lalu Allah merahmatinya atau karena dia takut
Allah merahmatinya.
Bayangkan itu.
Seorang makhluk yang begitu taat seperti
Malaikat Jibril pun “gelisah” melihat kemungkinan seorang tiran seperti Firaun
mendapatkan ampunan di detik terakhirnya.
Namun Allah Maha Adil. Pengakuan yang
datang saat ajal telah tiba bukanlah tanda keimanan, melainkan keputusasaan.
Dan kisah itu tidak berhenti di sana.
Allah mengabadikan jasad Firaun sebagai
pelajaran bagi manusia setelahnya:
“Pada
hari ini Kami selamatkan jasadmu agar kamu menjadi pelajaran bagi orang-orang
yang datang setelahmu. Dan sungguh, kebanyakan manusia benar-benar lengah dari
tanda-tanda (kekuasaan) Kami.”(QS. Yunus: 92)
Tubuhnya diselamatkan, tetapi namanya
menjadi simbol kehancuran.
Di ujung hidupnya, Firaun akhirnya
mengenal Tuhan.Namun bukan dengan iman… melainkan dengan ketakutan.
Karena tidak semua penyesalan…datang di
waktu yang masih bisa menyelamatkan.