Ketika Malaikat Turun Mendengarkan Bacaan Al-Qur’an
Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat
istimewa bagi umat Islam. Pada bulan inilah Al-Qur’an diturunkan sebagai
petunjuk bagi manusia. Karena itu, salah satu ibadah yang paling dianjurkan
selama Ramadhan adalah membaca dan memperbanyak tilawah Al-Qur’an.
Banyak orang merasakan bahwa membaca
Al-Qur’an di bulan Ramadhan terasa berbeda. Hati menjadi lebih tenang, suasana
terasa lebih khusyuk, dan jiwa seolah lebih dekat dengan Allah.
Keutamaan membaca Al-Qur’an ini juga
tergambar dalam sebuah kisah indah dari seorang sahabat Nabi yang bernama Usaid
bin Hudhair.
Usaid bin Hudhair dikenal sebagai sahabat
yang sangat mencintai Al-Qur’an. Bahkan kecintaannya itu berawal sejak pertama
kali ia mengenal Islam.
Ia memeluk Islam setelah mendengar
lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan oleh Mus'ab bin Umair.
Mus'ab bin Umair adalah sahabat yang
diutus oleh Rasulullah ke Madinah untuk mengajarkan Islam kepada penduduk kota
tersebut sebelum hijrah.
Bacaan Al-Qur’an Mush'ab sangat indah dan
menyentuh hati. Ketika ayat-ayat Al-Qur’an dilantunkan, banyak orang yang
tersentuh oleh kebenaran pesan yang dibawanya.
Begitu pula dengan Usaid. Hatinya luluh
ketika mendengar bacaan Al-Qur’an. Dari situlah ia akhirnya menerima Islam
dengan penuh keyakinan.
Sejak saat itu, Al-Qur’an menjadi bagian
yang sangat dekat dalam hidupnya.
Suatu malam yang sunyi, Usaid berada di
belakang rumahnya. Suasana malam terasa sangat tenang.
Seekor kuda miliknya ditambatkan tidak
jauh darinya.
Di tengah keheningan malam itu, Usaid
mulai membaca Al-Qur’an. Ia melantunkan ayat– ayat dari Surah Al-Baqarah dengan
suara yang lembut dan penuh penghayatan.
Bagi Usaid, membaca Al-Qur’an bukan
sekadar ibadah. Ia adalah sumber ketenangan bagi hatinya.
Namun malam itu terjadi sesuatu yang
tidak biasa.
Ketika Usaid sedang membaca Al-Qur’an,
tiba-tiba kudanya menjadi gelisah.
Kuda itu berlari berputar-putar di
tempatnya seakan-akan ketakutan. Gerakannya semakin cepat hingga hampir membuat
tali pengikatnya putus.
Usaid pun terkejut melihat kejadian
tersebut.
Namun yang lebih aneh lagi, ketika ia
berhenti membaca Al-Qur’an, kuda itu juga ikut berhenti. Ia kembali diam dan
tenang.
Usaid mencoba membaca Al-Qur’an lagi.
Dan benar saja. Kuda itu kembali berlari
berputar-putar, bahkan lebih kencang dari sebelumnya.
Peristiwa ini membuat Usaid semakin
heran.
Karena merasa ada sesuatu yang aneh,
Usaid kemudian mendongakkan wajahnya ke langit.
Saat itulah ia melihat pemandangan yang
sangat menakjubkan.
Di langit tampak sesuatu yang menyerupai
payung raksasa yang bercahaya. Cahaya itu berkilau indah, seakan-akan seperti
lampu kristal yang bergantung di langit malam.
Pemandangan itu begitu indah dan belum
pernah ia lihat sebelumnya.
Usaid pun berkata dengan penuh kekaguman,
“Aku belum pernah melihat pemandangan
seperti ini.”
Namun tidak lama kemudian, cahaya
gemerlap itu perlahan menghilang dari langit.
Langit kembali seperti semula.
Keesokan harinya, Usaid segera menemui
Rasulullah dan menceritakan kejadian yang ia alami.
Setelah mendengar ceritanya, Rasulullah
menjelaskan bahwa cahaya yang dilihat oleh Usaid itu adalah para malaikat.
Malaikat–malaikat tersebut turun untuk
mendengarkan bacaan Al-Qur’an yang dilantunkan oleh Usaid.
Rasulullah bersabda bahwa jika Usaid
terus membaca Al-Qur’an, maka orang-orang di sekitarnya juga akan dapat melihat
pemandangan tersebut.
Kisah ini diriwayatkan dalam hadits sahih
oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Kisah ini memberikan pelajaran yang
sangat indah, terutama ketika kita berada di bulan Ramadhan.
Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Pada
bulan inilah wahyu pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad. Karena itu, para
ulama dan sahabat dahulu sangat memperbanyak membaca Al-Qur’an selama Ramadhan.
Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan
bahwa Malaikat Jibril setiap tahun datang kepada Nabi Muhammad untuk murojaah
(mengulang) Al-Qur’an bersama beliau di bulan Ramadhan.
Hal ini menunjukkan betapa eratnya hubungan
antara Ramadhan dan Al-Qur’an.
Jika para malaikat saja turun untuk
mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari seorang hamba, maka membaca Al-Qur’an di
bulan Ramadhan menjadi ibadah yang sangat agung.
Setiap huruf yang dibaca akan
dilipatgandakan pahalanya.
Kisah Usaid bin Hudhair mengajarkan
kepada kita satu hal yang sangat penting: bacaan Al-Qur’an memiliki kemuliaan
yang luar biasa.
Ia bisa menyentuh hati manusia.
Ia bisa menghadirkan ketenangan.
Bahkan para malaikat pun senang
mendengarkannya.
Karena itu, bulan Ramadhan adalah waktu
terbaik untuk kembali mendekat kepada Al-Qur’an.
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk
dengan banyak hal hingga jarang membacanya. Ramadhan adalah kesempatan untuk
memperbaiki hubungan kita dengan kitab suci ini.
Luangkan waktu setiap hari untuk membaca
Al-Qur’an, walau hanya beberapa ayat.
Bacalah dengan tenang, dengan hati yang
hadir, dan dengan harapan mendapatkan ridha Allah.
Kisah turunnya malaikat untuk
mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari Usaid bin Hudhair mengingatkan kita bahwa
tilawah Al-Qur’an adalah ibadah yang sangat mulia.
Terlebih lagi di bulan Ramadhan, ketika
pahala dilipatgandakan dan pintu rahmat Allah terbuka lebar.
Siapa tahu, ketika seseorang membaca
Al-Qur’an dengan penuh keikhlasan di malam Ramadhan yang sunyi, para malaikat
juga sedang turun untuk mendengarkannya.
Dan mungkin saja, tanpa kita sadari,
langit pun ikut menyaksikan keindahan bacaan itu.