Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

06 April 2026

Berkenalan dengan Sesosok Jin Cantik

 

Bagi banyak orang, kompleks tempat tinggalku dahulu dianggap menyeramkan. Setelah maghrib saja suasananya sudah bikin merinding. Di halaman depan yang cukup luas berdiri dua pohon angsana besar dengan daun rimbun, satu pohon waru yang juga besar, dan satu pohon flamboyan berukuran sedang. Kalau malam, bayangan pepohonannya bisa bikin siapa pun bergidik. Orang di luar kompleks sering mengatakan, kompleks itu angker. Dan jujur… mereka tidak salah.

Kompleks tempat tinggalku adalah bagian dari sebuah sekolah tua di Surabaya. Bangunannya khas kolonial Belanda: langit–langit tinggi, jendela besar, dan pintu yang lebar serta menjulang. Sekolah itu sudah berdiri sejak sebelum Indonesia merdeka. Konon, itu adalah sekolah Islam pertama di Surabaya, sebuah HIS (Hollandsch Inlandsche School) milik salah satu organisasi Islam besar di Indonesia yang asetnya sekarang trilyunan rupiah.

Tinggal di kompleks sekolah tua itu memang penuh cerita. Menurut cerita bapakku, dulu ada 5 makam di dalam kompleks itu. Makam para pejuang kemerdekaan tahun ’45, dan sudah dipindahkan ke makam taman pahlawan entah ditahun berapa. Banyak kisah horor yang beredar di antara warga sekitar. Cerita–cerita murid yang berlari ketakutan karena melihat sosok tentara berdiri di dekat lonceng—sebelum ada bel listrik, lonceng itu digunakan sebagai penanda jam masuk, pergantian pelajaran, istirahat, dan pulang—sekolah saat pagi buta. Cerita suara mesin ketik kantor yang terdengar di malam hari, padahal gedungnya sudah kosong.

Bahkan bapakku pernah bercerita kalau pernah tanpa sengaja menjadi imam bagi “penghuni tak kasat mata” saat sholat isya’ di musholah milik sekolah. Dahulu gedung sekolah itu digunakan untuk SD di pagi hari, dan SMP di siang hari. Malam hari sudah tidak ada aktifitas di sekolah, jadi bagian kami yang masih kecil–kecil beraktifitas dihalaman sekolah untuk bermain. Kadang juga ada beberapa ABG yang tinggal didepan kompleks perumahan memanfaatkan bermain jailangkung di bawah pohon, kalau pintu gerbang halaman sekolah belum dikunci.

Saat sedang membuat bangunan baru untuk ruang guru di lokasi baru dengan menebang dua pohon angsana tua yang sudah sangat besar dan rimbun, salah seorang guru bercerita kepada bapakku, kalau dia melihat serombongan sosok “penghuni” dari usia yang tua sampai yang paling muda berjalan sepertinya hendak pindah tempat tinggal, entah kemana.

Karena sejak kecil aku sudah tinggal di sana, cerita–cerita seperti itu jadi terasa biasa saja. Meski begitu, kalau benar–benar melihat hantu, ya tetap lari juga! Bedanya, aku (kami) tidak tumbuh jadi anak yang penakut–penakut amat.

Suatu malam, dua orang teman kakak laki–laki ku datang ke rumah. Suad—teman masa kecil kakak ku yang tinggal di gang sebelah—dan seorang temannya bernama Ari. Ari sudah sering main ke rumah, bahkan beberapa kali menginap. Menurut Suad, Ari pernah berguru pada sebuah perguruan silat tenaga dalam. Kakak ku pernah cerita kalau Ari punya “energi” lebih. Katanya, pernah tanpa sengaja lewat dekat avo meter, dan jarumnya langsung bergerak mentok.

Kalau Ari datang, obrolannya biasanya di seputar bela diri tenaga dalam dan hal-hal berbau mistis. Ia juga pernah membawa beberapa lembar foto copy-an yang berisi gambar–gambar jurus silat dari perguruannya dengan menjelaskan fungsi dan manfaatnya. Ia juga pernah mengaku mempunyai teman sesosok jin perempuan yang cantik, hanya saja kakinya sedikit pincang. Entah siapa yang memulai ide, malam itu kami sepakat untuk “berkenalan” dengan jin  itu. Jam 10 malam, kami berempat bersepakat untuk berkumpul di musholah untuk melihat penampakannya.

Rasa penasaranku lebih besar daripada rasa takut—dan jujur saja, logikaku waktu itu ikut libur. Aku benar–benar percaya Ari punya jin, dan tidak memikirkan risiko berinteraksi dengan makhluk gaib. Padahal kalau dipikir sekarang, itu benar–benar nekat, karena tanpa bekal apa–apa. Bonek! Apalagi menggunakan sebuah musholah.

Lewat jam 10 malam, kami sudah berada di musholah. Ruangannya tidak besar, cukup untuk dua shaf yang masing-masing bisa di isi sekitar 20 orang. Musholah itu melebar, bukan memanjang, dengan dua pintu: pintu depan menghadap ke deretan tiga rumah, salah satunya rumahku, dan pintu samping yang menuju deretan kamar mandi.

Ari duduk bersila di depan mihrab, aku duduk agak kebelakang dengan bersandar ke tembok dekat pintu samping, sedangkan kakak-ku dan Suad berada disisi kiriku. Lampu musholah dimatikan. Ruangan gelap, hanya diterangi sedikit cahaya dari luar yang masuk lewat kisi–kisi jendela dan celah bawah pintu. Kami menunggu—menit demi menit.

Tak ada tanda–tanda apa pun. Lama–lama Suad dan kakak–ku rebahan. Mungkin mereka sudah capek duduk, atau mungkin juga sudah mengantuk. Tinggal aku dan Ari yang masih duduk.

Tiba–tiba, aku merasakan perubahan hawa di dalam musholah. Terdengar ada desir angin lembut menyapu tikar plastik musholah, disertai suara gesekannya dengan lantai. Srek…srek…srek… suara tikar bergesekan dengan lantai seperti tertiup angin. Berkali–kali suara itu terdengar dan menghilang. Badanku mulai tidak nyaman, seperti badan yang terserang flu berat. Pegal, meriang, dada agak sesak, jantungku berdegup lebih kencang—antara takut karena merasa ada sesuatu yang hadir di ruangan, atau karena pengaruh badanku yang tidak nyaman karena terasa meriang.

Secara spontan aku melafalkan surat Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Nas dalam hati, berulang–ulang.

Desir angin itu berlangsung cukup lama. Aku terus melafalkan tiga surat itu sambil berusaha menenangkan diri. Perlahan jantungku kembali normal, dada terasa lega, dan hawa di ruangan mulai biasa lagi. Setelah sekian lama menunggu, aku mengamati sekeliling ruangan, kakak–ku, Suad, dan Ari rupanya sudah rebahan semua. Karena tubuh mulai lelah, aku ikut merebahkan diri. Tak terasa, aku tertidur sampai menjelang subuh.

Keeokan paginya, Ari mengatakan, “Dia datang tadi malam. Tapi cuma sebentar. Setiap dipanggil, dia muncul lalu pergi. Tidak mau berlama–lama di dalam musholah.”

Aku hanya diam. Aku tidak menceritakan apa yang aku rasakan, apa yang aku alami, atau apa yang aku baca semalam.

Setelah sekian tahun dari peristiwa itu, aku bersyukur tidak melihat jin. Tindakan yang mempunyai risiko yang sangat besar. Berinteraksi dengan jin secara sengaja akan dapat  mendorong kearah kesyirikan. Jin tinggal di alam dengan dimensi yang berbeda dengan dimensi  manusia, dan mempunyai tabiat yang tidak sepenuhnya dapat dipahami oleh manusia. Tidak ada manfaat yang jelas. Tujuan diciptakannya manusia dan jin adalah untuk beribadah kepada Allah, bukan untuk saling berinteraksi antara manusia dan jin.

Baca juga: Nabi Syith AS: Penerus Nabi Adam dan Penerima 50 Suhuf dari Allah