Perjalanan Rasulullah ke Thaif: Dakwah, Penolakan, dan Kesabaran
Setelah Abu Thalib
dan Khatijah meninggal, tekanan dari kaum Quraisy kepada Rasulullah semakin
keras. Situasi yang semakin tidak kondusif itu mendorong Rasulullah mencari
tempat baru untuk berdakwah dengan meminta bantuan kepada Bani Tsaqif yang ada
di Thaif.
Kota Thaif berjarak
sekitar 67 hingga 130 km dari kota Mekkah (tergantung rute yang diambil) yang
secara geografis terletak di dataran tinggi, 1700–1800 meter di atas permukaan
laut, dilereng Pegunungan Sarawat/Asir. Dengan wilayah berupa lembah yang dikelilingi pegunungan yang dikenal subur dan hijau dengan suhu rata–rata sekitar 23oC.
.Pada musim panas suhu rata–ratanya 32 oC, dan pada musim dingin
berkisar 10 oC--15 oC.
Rasulullah
berhijrah ke kota yang sejuk itu sebelum terjadinya isra’ dan mi’raj. Hijrah
yang sangat singkat, karena sangat besarnya penolakan dari penduduk kota Thaif,
yang sangat menyulitkan Rasulullah seperti yang diungkapkan oleh Rasulullah
kepada Aisyah dalam hadis shahih riwayat Al Bukhari dan Muslim.
“Apakah engkau
mengalami peristiwa yang amat menyulitkan setelah perang Uhud?” tanya Aisyah.
Rasulullah
menjawab, “Sungguh aku temukan (rasakan) suatu yang amat menyulitkan di kaummu,
yaitu peristiwa Aqabah di Thaif. Tatkala aku menawarkan misiku pada Ibnu Abdu
Yalil bin Abdi Kalal. Ia tidak merespon kemauanku. Akupun pergi dengan keadaan
yang masygul, dan aku tidak sadar hingga sampai di Qorn Tsa’alib. Aku
menengadahkan kepalaku, tiba-tiba ada sekumpulan awan memayungiku. Akupun
mengarahkan pandanganku ke sana, dan melihat Jibril. Ia menyeruku,
“Sesungguhnya Allah mendengar apa yang dilakukan oleh kaummu terhadap dirimu,
dan penolakan mereka padamu. Allah telah mengutus malaikat gunung untuk
melayani semua keinginanmu.” Maka Malaikat tersebut memanggilku dan mengucapkan
salam padaku, lalu berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah mendengar apa
yang diucapkan kaummu padamu. Aku malaikat gunung diutus oleh Rabbmu untuk
melayani semua perintah dan keinginanmu, jika engkau mau niscaya kami akan
timpakan gunung Ahsyabain ini kepada mereka.”
Namun Rasulullah
menjawab, “Namun, justru aku berharap ada generasi mereka dikemudian hari yang
menyembah Allah dan tidak berbuat syirik sedikitpun.”
Hadis diatas, tidak
menyebutkan peristiwa apa yang telah dialami oleh Rasulullah yang menyebabkan
peristiwa di Thaif itu sangat membekas di hati Rasulullah. Tentunya ada suatu peristiwa yang sangat luar biasa yang menyebabkan kesedihan yang mendalam di hati Rasulullah sehingga Allah mengutus malaikat Jibril dan malaikat (penjaga) gunung menemui Rasulullah untuk melayani semua perintah dan keinginan Rasulullah. Keluhuran dan kemuliaan akhlak Rasulullah digambarkan dengan jelas, tidak tampak ada perasaan dendam terhadap penduduk Thaif yang telah melukai hati beliau dengan sangat mendalam.
Gambaran tentang
peristiwa-peristiwa yang terjadi dan dialami oleh Rasulullah saat hijrah di
Thaif, yang cukup populer ada pada hadis-hadis dhaif dengan sanad mursal, Diantara kisah-kisah yang populer tersebut adalah kisah tentang penolakan penduduk Thaif dengan melempari Rasulullah dengan batu hingga kaki beliau berdarah, kemudian berlindung dibalik tembok kebun anggur milik ‘Utbah dan
Syaibah dua orang putra dari Rabi’ah.
Dengan duduk
dibawah pohon anggur, Rasulullah berdoa, "Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kekurangan daya upayaku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Rahim, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Tuhan pelindungku. Kepada siapa hendak Engkau serahkan nasibku? Kepada orang jauhkah yang berwajah muram kepadaku atau kepada musuh yang akan menguasai diriku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli sebab sungguh luas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada nur wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan karena itu yang membawa kebaikan di dunia dan akhirat dari kemurkaan-Mu dan yang akan Engkau timpakan kepadaku. Kepada Engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau ridha kepadaku. Dan, tiada daya upaya melainkan dengan kehendak-Mu."
Nabi tidak menyadari bahwa beliau sedang
diperhatikan oleh dua putra Rabi‘ah tersebut. Keduanya kemudian memanggil
‘Addas, seorang hamba beragama Nasrani yang mengabdi kepada mereka, untuk
membawakan anggur dan makanan.
Ketika anggur itu disuguhkan kepada
Rasulullah, beliau mengucapkan kalimat “Bismillah” sebelum memakannya. ‘Addas
pun terkejut karena belum pernah mendengar ucapan tersebut sebelumnya. Karena
rasa penasarannya, ia lalu bertanya kepada Rasulullah tentang Yunus bin Matta.
Rasulullah pun menjawab, “Dia adalah saudaraku, seorang nabi, demikian pula
diriku.” Jawaban Rasulullah tersebut membuat ‘Addas tersentuh hingga akhirnya
memeluk Islam.
Hijrah ke Thaif mungkin tidak
menghasilkan kemenangan yang tampak di mata manusia. Tidak ada sambutan hangat,
tidak ada perlindungan yang diharapkan, bahkan yang tersisa hanyalah luka,
kesedihan, dan penolakan. Namun justru dari perjalanan itulah dunia belajar
tentang kemuliaan akhlak seorang Rasul. Saat memiliki kesempatan untuk
membalas, beliau memilih memaafkan. Saat disakiti, beliau masih memikirkan
keselamatan generasi mereka di masa depan.
Thaif menjadi bukti bahwa dakwah bukan
hanya tentang keberhasilan yang segera terlihat, tetapi tentang kesabaran,
keteguhan hati, dan kasih sayang yang tidak padam meski dihujani kebencian. Di
tengah kepedihan itu, Rasulullah tidak kehilangan harapan kepada manusia,
karena beliau tidak pernah kehilangan harapan kepada Allah.
Dan sejarah kemudian membuktikan, kota
yang pernah menolak beliau itu akhirnya justru menerima Islam dengan penuh
keimanan. Dari sana kita belajar, terkadang jalan yang paling menyakitkan
justru menjadi awal datangnya pertolongan dan kemenangan yang besar.