Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

09 Mei 2026

Perjalanan Rasulullah ke Thaif: Dakwah, Penolakan, dan Kesabaran

 

Setelah Abu Thalib dan Khatijah meninggal, tekanan dari kaum Quraisy kepada Rasulullah semakin keras. Situasi yang semakin tidak kondusif itu mendorong Rasulullah mencari tempat baru untuk berdakwah dengan meminta bantuan kepada Bani Tsaqif yang ada di Thaif.

Kota Thaif berjarak sekitar 67 hingga 130 km dari kota Mekkah (tergantung rute yang diambil) yang secara geografis terletak di dataran tinggi, 1700–1800 meter di atas permukaan laut, dilereng Pegunungan Sarawat/Asir. Dengan wilayah berupa lembah yang dikelilingi pegunungan yang dikenal subur dan hijau dengan suhu rata–rata sekitar 23oC. .Pada musim panas suhu rata–ratanya 32 oC, dan pada musim dingin berkisar 10 oC--15 oC.

Rasulullah berhijrah ke kota yang sejuk itu sebelum terjadinya isra’ dan mi’raj. Hijrah yang sangat singkat, karena sangat besarnya penolakan dari penduduk kota Thaif, yang sangat menyulitkan Rasulullah seperti yang diungkapkan oleh Rasulullah kepada Aisyah dalam hadis shahih riwayat Al Bukhari dan Muslim.

“Apakah engkau mengalami peristiwa yang amat menyulitkan setelah perang Uhud?” tanya Aisyah.

Rasulullah menjawab, “Sungguh aku temukan (rasakan) suatu yang amat menyulitkan di kaummu, yaitu peristiwa Aqabah di Thaif. Tatkala aku menawarkan misiku pada Ibnu Abdu Yalil bin Abdi Kalal. Ia tidak merespon kemauanku. Akupun pergi dengan keadaan yang masygul, dan aku tidak sadar hingga sampai di Qorn Tsa’alib. Aku menengadahkan kepalaku, tiba-tiba ada sekumpulan awan memayungiku. Akupun mengarahkan pandanganku ke sana, dan melihat Jibril. Ia menyeruku, “Sesungguhnya Allah mendengar apa yang dilakukan oleh kaummu terhadap dirimu, dan penolakan mereka padamu. Allah telah mengutus malaikat gunung untuk melayani semua keinginanmu.” Maka Malaikat tersebut memanggilku dan mengucapkan salam padaku, lalu berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah mendengar apa yang diucapkan kaummu padamu. Aku malaikat gunung diutus oleh Rabbmu untuk melayani semua perintah dan keinginanmu, jika engkau mau niscaya kami akan timpakan gunung Ahsyabain ini kepada mereka.”

Namun Rasulullah menjawab, “Namun, justru aku berharap ada generasi mereka dikemudian hari yang menyembah Allah dan tidak berbuat syirik sedikitpun.”

Hadis diatas, tidak menyebutkan peristiwa apa yang telah dialami oleh Rasulullah yang menyebabkan peristiwa di Thaif itu sangat membekas di hati Rasulullah. Tentunya ada suatu peristiwa yang sangat luar biasa yang menyebabkan kesedihan yang mendalam di hati Rasulullah sehingga Allah mengutus malaikat Jibril dan malaikat (penjaga) gunung menemui Rasulullah untuk melayani semua perintah dan keinginan Rasulullah. Keluhuran dan kemuliaan akhlak Rasulullah digambarkan dengan jelas, tidak tampak ada perasaan dendam terhadap penduduk Thaif yang telah melukai hati beliau dengan sangat mendalam.

Gambaran tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi dan dialami oleh Rasulullah saat hijrah di Thaif, yang cukup populer ada pada hadis-hadis dhaif dengan sanad mursal, Diantara kisah-kisah yang populer tersebut adalah kisah tentang penolakan penduduk Thaif dengan melempari Rasulullah dengan batu hingga kaki beliau berdarah, kemudian berlindung dibalik tembok kebun anggur milik ‘Utbah dan Syaibah dua orang putra dari Rabi’ah.

Dengan duduk dibawah pohon anggur, Rasulullah berdoa, "Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kekurangan daya upayaku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Rahim, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Tuhan pelindungku. Kepada siapa hendak Engkau serahkan nasibku? Kepada orang jauhkah yang berwajah muram kepadaku atau kepada musuh yang akan menguasai diriku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli sebab sungguh luas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada nur wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan karena itu yang membawa kebaikan di dunia dan akhirat dari kemurkaan-Mu dan yang akan Engkau timpakan kepadaku. Kepada Engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau ridha kepadaku. Dan, tiada daya upaya melainkan dengan kehendak-Mu."

Nabi tidak menyadari bahwa beliau sedang diperhatikan oleh dua putra Rabi‘ah tersebut. Keduanya kemudian memanggil ‘Addas, seorang hamba beragama Nasrani yang mengabdi kepada mereka, untuk membawakan anggur dan makanan.

Ketika anggur itu disuguhkan kepada Rasulullah, beliau mengucapkan kalimat “Bismillah” sebelum memakannya. ‘Addas pun terkejut karena belum pernah mendengar ucapan tersebut sebelumnya. Karena rasa penasarannya, ia lalu bertanya kepada Rasulullah tentang Yunus bin Matta. Rasulullah pun menjawab, “Dia adalah saudaraku, seorang nabi, demikian pula diriku.” Jawaban Rasulullah tersebut membuat ‘Addas tersentuh hingga akhirnya memeluk Islam.

Hijrah ke Thaif mungkin tidak menghasilkan kemenangan yang tampak di mata manusia. Tidak ada sambutan hangat, tidak ada perlindungan yang diharapkan, bahkan yang tersisa hanyalah luka, kesedihan, dan penolakan. Namun justru dari perjalanan itulah dunia belajar tentang kemuliaan akhlak seorang Rasul. Saat memiliki kesempatan untuk membalas, beliau memilih memaafkan. Saat disakiti, beliau masih memikirkan keselamatan generasi mereka di masa depan.

Thaif menjadi bukti bahwa dakwah bukan hanya tentang keberhasilan yang segera terlihat, tetapi tentang kesabaran, keteguhan hati, dan kasih sayang yang tidak padam meski dihujani kebencian. Di tengah kepedihan itu, Rasulullah tidak kehilangan harapan kepada manusia, karena beliau tidak pernah kehilangan harapan kepada Allah.

Dan sejarah kemudian membuktikan, kota yang pernah menolak beliau itu akhirnya justru menerima Islam dengan penuh keimanan. Dari sana kita belajar, terkadang jalan yang paling menyakitkan justru menjadi awal datangnya pertolongan dan kemenangan yang besar.