Sudah Berdoa Tapi Tak Dikabulkan?
Banyak orang berdoa dengan
sungguh-sungguh, meneteskan air mata, bahkan memohon setiap hari. Namun
terkadang doa itu terasa belum juga dikabulkan. Sebuah kisah dari Nabi Musa
memberikan pelajaran penting tentang apa yang sebenarnya bisa menghalangi
turunnya pertolongan Allah.
Dikisahkan, suatu ketika Nabi Musa
bersama 70 orang dari kalangan Bani Israil keluar untuk memohon hujan kepada
Allah. Saat itu negeri mereka dilanda kekeringan yang sangat parah.
Tanah menjadi kering dan retak.
Tanaman-tanaman layu dan mati. Banyak hewan ternak tidak mampu bertahan hidup
karena kekurangan air. Keadaan semakin sulit, dan harapan satu-satunya hanyalah
pertolongan dari Allah.
Dalam keadaan penuh kesulitan itu, mereka
berkumpul dan berdoa kepada Allah. Mereka mengangkat tangan, merendahkan diri
dengan penuh kekhusyukan. Air mata mengalir memohon rahmat dari langit.
Namun setelah tiga hari mereka berdoa,
hujan tidak juga turun.
Melihat keadaan itu, Nabi Musa memohon
kepada Allah,
“Ya Allah, Engkaulah yang berfirman: Berdoalah
kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan permohonanmu. Kami telah memohon
kepada-Mu karena kesulitan yang menimpa kami.”
Lalu Allah mewahyukan kepada Nabi Musa:
“Wahai Musa, di antara mereka ada orang
yang makan dari yang haram. Di antara mereka ada yang suka bergunjing dan menyebarkan
fitnah. Mereka pantas mendapatkan murka-Ku, sementara engkau memohonkan rahmat
untuk mereka. Bagaimana mungkin tempat rahmat dan tempat azab bersatu?”
Mendengar hal itu, Nabi Musa berkata,
“Ya Tuhanku, siapa orang-orang itu? Agar
kami dapat mengeluarkan mereka dari tengah-tengah kami.”
Namun Allah berfirman,
“Wahai Musa, Aku bukanlah pembuka aib
hamba-hamba-Ku. Aku tidak menyukai menyebarkan keburukan mereka. Tetapi
bertobatlah kalian semua dengan hati yang tulus. Barangkali orang yang berdosa
itu juga akan bertobat bersama kalian, sehingga Aku melimpahkan rahmat-Ku
kepada kalian semua.”
Setelah menerima wahyu itu, Nabi Musa
segera mengumpulkan Bani Israil dan menyampaikan pesan Allah kepada mereka.
Mendengar hal tersebut, orang-orang yang
merasa memiliki dosa mulai tersentuh hatinya. Mereka menangis dan menyesali
kesalahan yang telah mereka lakukan.
Mereka mengangkat tangan dan memohon
kepada Allah:
“Ya Tuhan kami, kami datang kepada-Mu
memohon rahmat-Mu. Maka sayangilah kami, wahai Yang Maha Penyayang di antara
para penyayang.”
Mereka terus berdoa dengan penuh
penyesalan dan harapan.
Tidak lama kemudian, awan mulai berkumpul
di langit. Angin bertiup membawa kesejukan. Lalu hujan pun turun membasahi bumi
yang kering.
Hujan itu turun sebagai rahmat Allah
setelah mereka semua kembali kepada-Nya dengan taubat yang tulus.
Terkadang penghalang terkabulnya doa
bukan pada doa itu sendiri, tetapi pada keadaan diri kita.
Rasulullah pernah menjelaskan tentang
seseorang yang berdoa dengan sungguh-sungguh, namun makanannya haram,
minumannya haram, dan pakaiannya haram. Maka bagaimana mungkin doanya
dikabulkan. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam Shahih Muslim.
Membicarakan keburukan orang lain tanpa
hak dapat merusak amal dan mengotori hati, dan Fitnah dapat merusak persaudaraan, menimbulkan permusuhan, dan mendatangkan
murka Allah.
Namun Pintu taubat selalu terbuka ketika
manusia mau memperbaiki diri, meninggalkan dosa, dan kembali kepada Allah
dengan hati yang tulus, maka rahmat Allah dapat turun kepada mereka.
Seringkali manusia merasa doanya tidak
didengar. Padahal Allah Maha Mendengar setiap bisikan hati. Namun Allah juga
menginginkan hamba-Nya kembali kepada-Nya dengan hati yang bersih.
Bisa jadi doa kita tertunda bukan karena
Allah menolak, tetapi karena Allah ingin kita meninggalkan dosa, membersihkan
rezeki kita, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.
Dan ketika manusia benar-benar kembali
kepada Allah dengan taubat yang tulus, rahmat-Nya bisa turun seperti hujan yang
membasahi bumi yang kering—datang membawa kehidupan, harapan, dan keberkahan
yang tidak disangka-sangka.