Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

12 Maret 2026

Azab Tertahan Karena Doa Seorang Ibu

 

Ramadhan adalah bulan yang mengingatkan kita pada satu kenyataan besar:
Allah Maha Pengampun dan tidak pernah menutup pintu tobat bagi hamba-Nya.

Sebesar apa pun dosa manusia, rahmat Allah selalu lebih luas. Bahkan kadang, sebuah doa sederhana dari hati yang tulus dapat mengubah keadaan yang sangat besar.

Sebagian ulama menuturkan sebuah hikayat yang sangat menyentuh tentang betapa luasnya rahmat Allah. Kisah akan menjadi pengingat yang sangat kuat, khususnya ketika kita berada di bulan Ramadhan, bulan yang dikenal sebagai bulan rahmat, ampunan, dan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Dikisahkan, pada suatu malam Allah memerintahkan malaikat Jibril untuk turun ke sebuah negeri. Perintah itu bukan perintah biasa. Allah memerintahkan agar negeri tersebut dihancurkan.

Mendengar perintah itu, malaikat Jibril bertanya dengan penuh takzim, “Wahai Tuhanku, dosa apakah yang telah dilakukan oleh penduduk negeri itu?”

Allah menjelaskan bahwa pada malam itu kemaksiatan telah terjadi secara besar–besaran. Disebutkan bahwa 70.000 lelaki berzina dengan 70.000 perempuan di negeri tersebut. Maksiat telah dilakukan secara terang-terangan dan meluas, hingga negeri itu pantas menerima azab.

Maka Jibril pun turun melaksanakan perintah Allah. Ia bersiap mengangkat negeri itu beserta tujuh kotanya untuk kemudian dibinasakan.

Namun di tengah negeri yang penuh dosa itu, ada satu pemandangan yang sederhana. Seorang ibu sedang menyiapkan adonan roti di rumahnya. Tangannya belepotan tepung. Ia bekerja keras di dapurnya demi menyiapkan makanan. Tiba-tiba terdengar tangisan bayinya dari ayunan.

Sang ibu segera meninggalkan pekerjaannya. Dengan tangan yang masih penuh tepung, ia bergegas menghampiri bayinya yang menangis. Ia menggendong anaknya dengan penuh kasih sayang, dan menenangkannya. Sambil menimang bayinya, sang ibu berkata dengan lembut, “Anakku… Sesungguhnya Tuhan kita adalah Tuhan yang Maha Santun dan Maha Penyayang. Dia tidak akan segera menyiksa hamba-Nya yang berbuat dosa.”

Sesungguhnya Allah Maha Penyantun lagi Maha Penyayang kepada manusia.”
(QS. Al-Hajj: 65)

Ucapan itu sederhana. Hanya kata-kata seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya. Namun di balik kata-kata itu terdapat pengharapan yang besar kepada rahmat Allah, dan keyakinan seorang ibu kepada rahmat Allah.

Dalam hikayat tersebut diceritakan, ketika ibu itu bermunajat dan berdoa, Allah meredakan murka-Nya. Allah memerintahkan malaikat Jibril untuk membatalkan azab tersebut. Negeri yang hampir saja dihancurkan itu akhirnya tidak jadi dibinasakan.

Allah berfirman bahwa murka-Nya telah reda karena munajat seorang ibu yang penuh harap kepada rahmat-Nya. Sebuah negeri yang hampir dihancurkan akhirnya diselamatkan karena satu doa yang tulus.

Makna yang sangat dalam. Di tengah lautan dosa yang dilakukan manusia, masih ada satu hati yang berharap kepada Allah. Masih ada seorang hamba yang yakin bahwa Allah Maha Penyayang. Dan harapan itu ternyata begitu berharga di sisi Allah.

Sering kali manusia merasa dosanya terlalu besar. Ia merasa sudah terlalu jauh dari Allah. Padahal Allah sendiri berfirman dalam Al-Qur’an: “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”

Selama seseorang masih mau kembali kepada Allah, pintu ampunan itu tidak pernah tertutup. Rahmat Allah jauh lebih besar daripada dosa manusia.

Allah mampu menghancurkan sebuah negeri dalam sekejap. Tetapi Allah juga mampu menahan azab hanya karena satu hati yang tulus memohon kepadaNya.

Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Selama manusia masih mau kembali kepada-Nya, pintu tobat tetap terbuka. Bayangkan sebuah negeri yang penuh kemaksiatan, namun di negeri itu masih ada satu hati yang penuh harap kepada Allah. Dan hati itulah yang menjadi sebab turunnya rahmat. Ini menunjukkan bahwa kebaikan sekecil apa pun tidak pernah sia-sia di sisi Allah.

Ramadhan bukan hanya bulan puasa. Ramadhan adalah bulan kesempatan kedua. Banyak orang yang sepanjang tahun mungkin jauh dari Allah. Tetapi ketika Ramadhan datang, hatinya mulai tersentuh. Ia mulai kembali shalat. Ia mulai membaca Al-Qur’an. Ia mulai menyesali dosa-dosanya. Dan Allah sangat mencintai hamba yang kembali kepada-Nya.

Jika sebuah negeri bisa diselamatkan karena satu doa seorang ibu, maka bagaimana dengan kita yang bersujud kepada Allah di malam Ramadhan? Jika doa seorang ibu bisa menahan turunnya azab, maka bayangkan berapa banyak rahmat Allah yang turun ketika jutaan manusia bertobat di bulan Ramadhan.

Allah adalah Tuhan yang Maha Santun, Maha Pengampun, dan Maha Penyayang. Maka jangan sia-siakan Ramadhan. Kembalilah kepada Allah.

Dalam tradisi tafsir dan kisah ulama, sering pula disebut bahwa Allah menunda azab suatu kaum karena masih adanya orang saleh atau doa orang beriman di tengah mereka.

Jika satu doa seorang ibu dapat meredakan murka Allah, maka betapa besar harapan bagi kita semua di bulan Ramadhan ini.

Tidak peduli seberapa jauh kita pernah tersesat. Tidak peduli seberapa banyak dosa yang pernah kita lakukan. Selama kita masih mau kembali kepada Allah dengan hati yang tulus, rahmat-Nya selalu lebih besar daripada dosa kita.

Ramadhan adalah undangan dari Allah. Undangan untuk pulang. Undangan untuk bertobat. Undangan untuk memulai hidup yang baru. Dan mungkin saja, satu doa yang tulus di malam Ramadhan… bisa mengubah seluruh hidup kita.