Azab Tertahan Karena Doa Seorang Ibu
Ramadhan adalah bulan yang mengingatkan
kita pada satu kenyataan besar:
Allah Maha Pengampun dan tidak pernah menutup pintu tobat bagi hamba-Nya.
Sebesar apa pun dosa manusia, rahmat
Allah selalu lebih luas. Bahkan kadang, sebuah doa sederhana dari hati yang
tulus dapat mengubah keadaan yang sangat besar.
Sebagian ulama menuturkan sebuah hikayat
yang sangat menyentuh tentang betapa luasnya rahmat Allah. Kisah akan menjadi
pengingat yang sangat kuat, khususnya ketika kita berada di bulan Ramadhan,
bulan yang dikenal sebagai bulan rahmat, ampunan, dan kesempatan untuk
memperbaiki diri.
Dikisahkan, pada suatu malam Allah
memerintahkan malaikat Jibril untuk turun ke sebuah negeri. Perintah itu bukan
perintah biasa. Allah memerintahkan agar negeri tersebut dihancurkan.
Mendengar perintah itu, malaikat Jibril
bertanya dengan penuh takzim, “Wahai Tuhanku, dosa apakah yang telah dilakukan
oleh penduduk negeri itu?”
Allah menjelaskan bahwa pada malam itu
kemaksiatan telah terjadi secara besar–besaran. Disebutkan bahwa 70.000
lelaki berzina dengan 70.000 perempuan di negeri tersebut. Maksiat telah
dilakukan secara terang-terangan dan meluas, hingga negeri itu pantas menerima
azab.
Maka Jibril pun turun melaksanakan
perintah Allah. Ia bersiap mengangkat negeri itu beserta tujuh kotanya untuk
kemudian dibinasakan.
Namun di tengah negeri yang penuh dosa
itu, ada satu pemandangan yang sederhana. Seorang ibu sedang menyiapkan adonan
roti di rumahnya. Tangannya belepotan tepung. Ia bekerja keras di dapurnya demi
menyiapkan makanan. Tiba-tiba terdengar tangisan bayinya dari ayunan.
Sang ibu segera meninggalkan
pekerjaannya. Dengan tangan yang masih penuh tepung, ia bergegas menghampiri
bayinya yang menangis. Ia menggendong anaknya dengan penuh kasih sayang, dan
menenangkannya. Sambil menimang bayinya, sang ibu berkata dengan lembut,
“Anakku… Sesungguhnya Tuhan kita adalah Tuhan yang Maha Santun dan Maha
Penyayang. Dia tidak akan segera menyiksa hamba-Nya yang berbuat dosa.”
“Sesungguhnya Allah Maha Penyantun lagi Maha Penyayang
kepada manusia.”
(QS. Al-Hajj: 65)
Ucapan itu sederhana. Hanya kata-kata
seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya. Namun di balik kata-kata itu terdapat
pengharapan yang besar kepada rahmat Allah, dan keyakinan seorang ibu kepada
rahmat Allah.
Dalam hikayat tersebut diceritakan,
ketika ibu itu bermunajat dan berdoa, Allah meredakan murka-Nya. Allah
memerintahkan malaikat Jibril untuk membatalkan azab tersebut. Negeri yang
hampir saja dihancurkan itu akhirnya tidak jadi dibinasakan.
Allah berfirman bahwa murka-Nya telah
reda karena munajat seorang ibu yang penuh harap kepada rahmat-Nya. Sebuah
negeri yang hampir dihancurkan akhirnya diselamatkan karena satu doa yang
tulus.
Makna yang sangat dalam. Di tengah lautan
dosa yang dilakukan manusia, masih ada satu hati yang berharap kepada Allah.
Masih ada seorang hamba yang yakin bahwa Allah Maha Penyayang. Dan harapan itu
ternyata begitu berharga di sisi Allah.
Sering kali manusia merasa dosanya
terlalu besar. Ia merasa sudah terlalu jauh dari Allah. Padahal Allah sendiri
berfirman dalam Al-Qur’an: “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”
Selama seseorang masih mau kembali kepada
Allah, pintu ampunan itu tidak pernah tertutup. Rahmat
Allah jauh lebih besar daripada dosa manusia.
Allah mampu menghancurkan sebuah negeri
dalam sekejap. Tetapi Allah juga mampu menahan azab hanya karena satu hati yang
tulus memohon kepadaNya.
Jangan pernah berputus asa dari rahmat
Allah. Selama
manusia masih mau kembali kepada-Nya, pintu tobat tetap terbuka. Bayangkan
sebuah negeri yang penuh kemaksiatan, namun di negeri itu masih ada satu hati
yang penuh harap kepada Allah. Dan hati itulah yang menjadi sebab turunnya rahmat.
Ini menunjukkan bahwa kebaikan sekecil apa pun tidak pernah sia-sia di sisi
Allah.
Ramadhan bukan hanya bulan puasa.
Ramadhan adalah bulan kesempatan kedua. Banyak orang yang sepanjang
tahun mungkin jauh dari Allah. Tetapi ketika Ramadhan datang, hatinya mulai
tersentuh. Ia mulai kembali shalat. Ia mulai membaca Al-Qur’an. Ia mulai
menyesali dosa-dosanya. Dan Allah sangat mencintai hamba yang kembali
kepada-Nya.
Jika sebuah negeri bisa diselamatkan
karena satu doa seorang ibu, maka bagaimana dengan kita yang bersujud kepada
Allah di malam Ramadhan? Jika doa seorang ibu bisa menahan turunnya azab, maka
bayangkan berapa banyak rahmat Allah yang turun ketika jutaan manusia bertobat
di bulan Ramadhan.
Allah adalah Tuhan yang Maha Santun, Maha
Pengampun, dan Maha Penyayang. Maka jangan sia-siakan Ramadhan.
Kembalilah kepada Allah.
Dalam tradisi tafsir dan kisah ulama,
sering pula disebut bahwa Allah menunda azab suatu kaum karena masih adanya
orang saleh atau doa orang beriman di tengah mereka.
Jika satu doa seorang ibu dapat meredakan
murka Allah, maka betapa besar harapan bagi kita semua di bulan Ramadhan ini.
Tidak peduli seberapa jauh kita pernah
tersesat. Tidak peduli seberapa banyak dosa yang pernah kita lakukan. Selama
kita masih mau kembali kepada Allah dengan hati yang tulus, rahmat-Nya
selalu lebih besar daripada dosa kita.
Ramadhan adalah undangan dari Allah.
Undangan untuk pulang. Undangan untuk bertobat. Undangan untuk memulai hidup
yang baru. Dan mungkin saja, satu doa yang tulus di malam Ramadhan… bisa
mengubah seluruh hidup kita.