Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

11 April 2026

Ketika Niat Tak Lagi Lurus

 

Dalam kisah israiliyat, diceritakan tentang sekelompok kaum dari Bani Israil yang menyembah sebuah pohon besar. Perbuatan ini jelas merupakan kesyirikan.

Melihat hal tersebut, seorang ahli ibadah merasa sangat marah. Ia tidak bisa menerima kemungkaran itu. Dengan membawa kapak, ia berangkat dengan niat menebang pohon yang disembah tersebut.

Di tengah perjalanan, ia dihadang oleh iblis yang menyamar sebagai manusia.

“Hei, mengapa kamu meninggalkan ibadahmu dan pergi untuk sesuatu yang tidak memberimu manfaat?” tanya iblis, mencoba menghalanginya.

Perdebatan pun berujung pada perkelahian sengit. Keduanya bertarung cukup lama hingga menguras tenaga. Namun, pada akhirnya sang ahli ibadah berhasil mengalahkan iblis dan menindihnya.

Karena kelelahan, ia tidak melanjutkan niatnya dan memilih kembali pulang.

Kejadian ini berulang setiap kali ia hendak menuju pohon tersebut. Setiap kali pula, ia selalu berhasil mengalahkan iblis.

Hingga suatu hari, saat iblis kembali tak berdaya, ia berkata, “Hentikan niatmu menebang pohon itu. Aku akan memberimu dua dinar setiap hari. Gunakanlah untuk kebutuhan hidup dan ibadahmu.”

Ahli ibadah itu pun tergoda dan menerima tawaran tersebut. Ia pulang tanpa menebang pohon itu.

Sejak saat itu, setiap hari ia menemukan dua dinar di bawah bantalnya.

Namun, beberapa hari kemudian, uang itu tiba-tiba tidak lagi ada.

Merasa marah, ia mengambil kapaknya dan kembali berniat menebang pohon tersebut.

Di tengah jalan, iblis kembali menghadangnya. Perkelahian pun terjadi lagi. Namun kali ini berbeda—sang ahli ibadah justru kalah dan dijatuhkan oleh iblis.

Iblis menindih dadanya dan berkata, “Jika kamu tidak menghentikan niatmu, aku akan membunuhmu.”

Dengan heran, sang ahli ibadah bertanya, “Lepaskan aku. Katakan, bagaimana kali ini kamu bisa mengalahkanku?”

Iblis menjawab, “Dulu, ketika engkau marah karena Allah, engkau mampu mengalahkanku. Tapi sekarang, engkau marah bukan karena Allah—melainkan karena dirimu sendiri. Itulah sebabnya aku bisa mengalahkanmu.”

“Ia tak dikalahkan iblis, tapi oleh niatnya sendiri.”

Kadang kita merasa sedang berada di jalan yang benar. Melakukan sesuatu yang terlihat baik, bahkan berjuang untuk hal yang kita yakini benar. Tapi perlahan, tanpa sadar, niat itu bisa bergeser. Bukan lagi karena Allah, tapi karena kecewa, karena marah, atau karena diri sendiri. Dan di situlah semuanya berubah. Bukan karena kita lemah, tapi karena arah hati kita tak lagi sama.

Mungkin, yang perlu kita jaga bukan hanya apa yang kita lakukan, tapi untuk siapa semua itu kita lakukan.