Ketika Niat Tak Lagi Lurus
Dalam kisah israiliyat, diceritakan
tentang sekelompok kaum dari Bani Israil yang menyembah sebuah pohon besar.
Perbuatan ini jelas merupakan kesyirikan.
Melihat hal tersebut, seorang ahli ibadah
merasa sangat marah. Ia tidak bisa menerima kemungkaran itu. Dengan membawa
kapak, ia berangkat dengan niat menebang pohon yang disembah tersebut.
Di tengah perjalanan, ia dihadang oleh
iblis yang menyamar sebagai manusia.
“Hei, mengapa kamu meninggalkan ibadahmu
dan pergi untuk sesuatu yang tidak memberimu manfaat?” tanya iblis, mencoba
menghalanginya.
Perdebatan pun berujung pada perkelahian
sengit. Keduanya bertarung cukup lama hingga menguras tenaga. Namun, pada
akhirnya sang ahli ibadah berhasil mengalahkan iblis dan menindihnya.
Karena kelelahan, ia tidak melanjutkan
niatnya dan memilih kembali pulang.
Kejadian ini berulang setiap kali ia
hendak menuju pohon tersebut. Setiap kali pula, ia selalu berhasil mengalahkan
iblis.
Hingga suatu hari, saat iblis kembali tak
berdaya, ia berkata, “Hentikan niatmu menebang pohon itu. Aku akan memberimu
dua dinar setiap hari. Gunakanlah untuk kebutuhan hidup dan ibadahmu.”
Ahli ibadah itu pun tergoda dan menerima
tawaran tersebut. Ia pulang tanpa menebang pohon itu.
Sejak saat itu, setiap hari ia menemukan
dua dinar di bawah bantalnya.
Namun, beberapa hari kemudian, uang itu
tiba-tiba tidak lagi ada.
Merasa marah, ia mengambil kapaknya dan
kembali berniat menebang pohon tersebut.
Di tengah jalan, iblis kembali menghadangnya.
Perkelahian pun terjadi lagi. Namun kali ini berbeda—sang ahli ibadah justru
kalah dan dijatuhkan oleh iblis.
Iblis menindih dadanya dan berkata, “Jika
kamu tidak menghentikan niatmu, aku akan membunuhmu.”
Dengan heran, sang ahli ibadah bertanya,
“Lepaskan aku. Katakan, bagaimana kali ini kamu bisa mengalahkanku?”
Iblis menjawab, “Dulu, ketika engkau
marah karena Allah, engkau mampu mengalahkanku. Tapi sekarang, engkau marah
bukan karena Allah—melainkan karena dirimu sendiri. Itulah sebabnya aku bisa
mengalahkanmu.”
“Ia tak dikalahkan
iblis, tapi oleh niatnya sendiri.”
Kadang kita merasa sedang berada di jalan
yang benar. Melakukan sesuatu yang terlihat baik, bahkan berjuang untuk hal
yang kita yakini benar. Tapi perlahan, tanpa sadar, niat itu bisa bergeser.
Bukan lagi karena Allah, tapi karena kecewa, karena marah, atau karena diri
sendiri. Dan di situlah semuanya berubah. Bukan karena kita lemah, tapi karena
arah hati kita tak lagi sama.
Mungkin, yang perlu kita jaga bukan hanya
apa yang kita lakukan, tapi untuk siapa semua itu kita lakukan.