Keberanian Sejati

adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

17 September 2025

Tunjukkan KeadilanMu

 

Dalam sebuah kisah israiliyat, nabi Musa bermunajat kepada Allah di gunung Thur, “Wahai Tuhanku, perlihatkanlah keadilanMu kepadaku.”

 

Allah berkata, “Kau seorang yang cenderung bertindak karena dorongan keinginan sesaat tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang, pemberani dan tidak sabaran.”

 

Musa berkata, “Aku akan mampu bersabar dengan pertolonganMu.”

 

Kemudian Allah memerintahkan nabi Musa untuk pergi ke mata air di suatu wilayah,  bersembunyi dibalik batu, dan melihat apa yang terjadi disana.

 

Musa pun pergi, ketempat itu, lalu duduk bersembunyi. Kemudian datanglah seorang penunggang kuda ke mata air itu untuk minum. Penunggang kuda itu mengeluarkan sebuah kantong berisi uang seribu dinar, dan meletakkan disampingnya ketika ia duduk untuk beristirahat sejenak. Setelah itu, ia pergi dengan menaiki kudanya tanpa membawa kantong berisi uang yang tadi diletakkan disampingnya.

 

Tak berapa lama, datang seorang anak kecil minum di mata air itu. Dia melihat kantong didekat mata air dan mengambilnya. Dia merasa gembira setelah melihat isi kantong itu, dan segera pergi meninggalkan mata air itu.

 

Kejadian berikutnya, datang seorang laki–laki tua buta. Dia minum dari mata air itu, kemudian berwudhu dan beribadah. Setelah itu ia duduk beristirahat dekat mata air. Sementara itu, saat si penunggang kuda di tengah perjalanan, dia menyadari bahwa dia tidak membawa kantong yang berisi uang yang tadi telah diletakkannya didekat mata air. Dia pun bergegas kembali ke mata air tadi, dan melihat seorang laki–laki tua sedang duduk di samping mata air.

 

“Tadi aku meletakkan kantongku yang berisi uang 1000 dinar disini. Aku lupa membawanya. Tidak ada orang lain yang ada ditempat ini selain kamu. Cepat keluarkan kantong itu sekarang!”

 

Laki–laki tua itu berkata, “Wahai anakku, kau tahu aku buta. Kau lihat sendiri, bagaimana aku bisa melihat kantongmu? Melihat sesuatu dibawah kakiku saja, aku tidak bisa.”

 

Penunggang kuda itu marah. Menganggap laki–laki tua itu berbohong. Dia menghunus pedangnya dan berkata, “Kau keluarkan kantong itu atau aku membunuhmu.”

 

Laki–laki tua yang buta itu menangis. Dia bersumpah bahwa dia tidak pernah melihat kantong berisi uang itu. Dia buta. Tidak dapat melihat apa–apa. Namun si penunggang kuda tidak percaya, dan menebaskan pedangnya ke laki–laki tua itu hingga tewas. Kemudian dia memeriksa pakaian laki–laki tua itu, dan tidak menemukan apa yang dicarinya, setelah itu pergi meninggalkannya.

Pada saat itu, Allah berfirman kepada nabi Musa, “Itulah keadilanKu, wahai Musa.”

 

Musa berkata, “Wahai Tuhanku, dan Junjunganku, kesabaranku telah habis. Engkau adalah Yang Maha Adil dan Maha Bijaksana. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana keadaan itu terjadi.”

 

Maka, turunlah malaikat Jibril dan berkata, “Wahai Musa, Pencipta Yang Maha Tinggi berfirman, ‘Aku mengetahui rahasia–rahasia. Aku tahu apa yang tidak kau ketahui’.”

 

“Anak kecil yang mengambil kantong berisi uang itu sebenarnya mengambil hak miliknya. Ayah anak kecil itu pernah bekerja kepada si penunggang kuda. Si penunggang kuda mengangkatnya sebagai pekerja, namun ia tidak membayarkan apa yang menjadi hak si pekerja. Maka, Aku berbuat adil kepada si pekerja dengan memberikan haknya kepada sang anak.”

 

“Tentang laki–laki tua yang buta itu, sebelum buta, dia telah membunuh ayah si penunggang kuda.  Jadi, sang penunggang kuda telah melakukan pembalasan atas kematian ayahnya.”

 

“Jadi setiap orang sudah Aku penuhi haknya. Itulah keadilanKu. Aku adalah hakim yang paling adil.”

 

Mengetahui hal itu, nabi Musa terheran–heran, dan segera memohon ampun.”