Tunjukkan KeadilanMu
Dalam sebuah kisah
israiliyat, nabi
Musa bermunajat kepada Allah di gunung Thur, “Wahai Tuhanku, perlihatkanlah
keadilanMu kepadaku.”
Allah berkata, “Kau
seorang yang cenderung bertindak karena dorongan keinginan sesaat tanpa
memikirkan konsekuensi jangka panjang, pemberani dan tidak sabaran.”
Musa berkata, “Aku akan
mampu bersabar dengan pertolonganMu.”
Kemudian Allah
memerintahkan nabi Musa untuk pergi ke mata air di suatu wilayah, bersembunyi dibalik batu, dan melihat apa
yang terjadi disana.
Musa pun pergi, ketempat
itu, lalu duduk bersembunyi. Kemudian datanglah seorang penunggang kuda ke mata
air itu untuk minum. Penunggang kuda itu mengeluarkan sebuah kantong berisi
uang seribu dinar, dan meletakkan disampingnya ketika ia duduk untuk beristirahat
sejenak. Setelah itu, ia pergi dengan menaiki kudanya tanpa membawa kantong
berisi uang yang tadi diletakkan disampingnya.
Tak berapa lama, datang
seorang anak kecil minum di mata air itu. Dia melihat kantong didekat mata air
dan mengambilnya. Dia merasa gembira setelah melihat isi kantong itu, dan
segera pergi meninggalkan mata air itu.
Kejadian berikutnya,
datang seorang laki–laki tua buta. Dia minum dari mata air itu, kemudian berwudhu
dan beribadah. Setelah itu ia duduk beristirahat dekat mata air. Sementara itu,
saat si penunggang kuda di tengah perjalanan, dia menyadari bahwa dia tidak
membawa kantong yang berisi uang yang tadi telah diletakkannya didekat mata
air. Dia pun bergegas kembali ke mata air tadi, dan melihat seorang laki–laki
tua sedang duduk di samping mata air.
“Tadi aku meletakkan
kantongku yang berisi uang 1000 dinar disini. Aku lupa membawanya. Tidak ada orang lain yang ada ditempat
ini selain kamu. Cepat keluarkan kantong itu sekarang!”
Laki–laki tua itu
berkata, “Wahai anakku, kau tahu aku buta. Kau lihat sendiri, bagaimana aku
bisa melihat kantongmu? Melihat sesuatu dibawah kakiku saja, aku tidak bisa.”
Penunggang kuda itu
marah. Menganggap laki–laki tua itu berbohong. Dia menghunus pedangnya dan
berkata, “Kau keluarkan kantong itu atau aku membunuhmu.”
Laki–laki tua yang buta itu
menangis. Dia bersumpah bahwa dia tidak pernah melihat kantong berisi uang itu.
Dia buta. Tidak dapat melihat apa–apa. Namun si penunggang kuda tidak
percaya, dan menebaskan pedangnya ke laki–laki tua itu hingga tewas. Kemudian
dia memeriksa pakaian laki–laki tua itu, dan tidak menemukan apa yang
dicarinya, setelah itu pergi meninggalkannya.
Pada saat itu, Allah
berfirman kepada nabi Musa, “Itulah keadilanKu, wahai Musa.”
Musa berkata, “Wahai
Tuhanku, dan Junjunganku, kesabaranku telah habis. Engkau adalah Yang Maha Adil
dan Maha Bijaksana. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana keadaan itu terjadi.”
Maka, turunlah malaikat
Jibril dan berkata, “Wahai Musa, Pencipta Yang Maha Tinggi berfirman, ‘Aku
mengetahui rahasia–rahasia. Aku tahu apa yang tidak kau ketahui’.”
“Anak kecil yang
mengambil kantong berisi uang itu sebenarnya mengambil hak miliknya. Ayah anak
kecil itu pernah bekerja kepada si penunggang kuda. Si penunggang kuda
mengangkatnya sebagai pekerja, namun ia tidak membayarkan apa yang menjadi hak
si pekerja. Maka, Aku berbuat adil kepada si pekerja dengan memberikan haknya
kepada sang anak.”
“Tentang laki–laki tua yang buta itu, sebelum buta, dia telah membunuh ayah si penunggang kuda. Jadi, sang penunggang kuda telah melakukan
pembalasan atas kematian ayahnya.”
“Jadi setiap orang sudah
Aku penuhi haknya. Itulah keadilanKu. Aku adalah hakim yang paling adil.”
Mengetahui hal itu, nabi Musa terheran–heran, dan segera
memohon ampun.”