Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

27 Februari 2026

Ketika Nabi Musa Berdebat dengan Nabi Adam

 

Sekilas terdengar mustahil. Bagaimana mungkin Nabi Musa berdebat dengan Nabi Adam bisa terjadi, padahal mereka terpisah dengan rentang waktu terpisah ribuan tahun, tidak dalam periode waktu kenabian yang sama? Nabi Adam adalah manusia pertama, sedengan Nabi Musa lahir setelah Nabi Adam wafat selama ribuan tahun.

Kisah tentang perdebatan ini bukan dongeng. Ia di kisahkan dalam  hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan  Imam Muslim, dari Abu Hurairah.

Kita mengetahui bahwa Nabi Adam di ciptakan Allah dari tanah, dan hidup dengan mulia di Surga. Segala kebutuhan dan kenikmatan hidup terpenuhi dengan mudah tidak kurang satu apa pun disana.  Allah mengizinkan Adam untuk hidup di surga dan menikmati segala yang ada di surga kecuali mendekati satu pohon. Karena tipu daya Iblis, akhirnya Adam melanggar larangan Allah dan memakan buah dari pohon larangan itu, yang mengakibatkanya terusir dari surga sehingga harus tinggal dan hidup di bumi, yang keadaannya berbanding terbalik dengan kehidupan di surga. Segala macam kesulitan, kepayahan, penderitaan dan ujian kehidupan di temui di bumi. Hal itulah yang terbetik dalam hati Nabi Musa yang mengalami penderitaan, kesulitan karena di kejar–kejar oleh Fir’aun di Mesir. Seandainya Nabi Adam tidak terusir dari surga, maka semua manusia keturunan Nabi Adam akan hidup dengan penuh kenikmatan di surga, tidak akan ada penderitaan hidup yang akan dilalui semua umat manusia.

Karena itu, ketika Nabi Musa bertemu dengan bapaknya (Nabi Adam), dia menyalahkannya atas perbuatannya yang membuat dirinya dan anak cucunya keluar dari Surga, sebagaimana dalam  hadis riwayat Muslim dari sahabat Abu Hurairah, Rasulullah saw. mengisahkan:

Pada suatu kesempatan, Adam dan Musa berdebat di hadapan Tuhan mereka. Namun, Adam berhasil mengalahkan Musa dengan hujahnya. Saat itu, Musa mulai angkat bicara, “Hai Adam, engkau adalah nabi yang telah diciptakan Allah langsung dengan tangan-Nya, ditiupkan ruh langsung dari ruh-Nya, disujudi oleh para malaikat, dan ditempatkan di surga-Nya, namun engkau telah mengeluarkan manusia ke bumi karena kesalahan yang diperbuatmu sendiri.”  

Adam menjawab, “Engkau juga nabi yang dipilih Allah dengan risalah dan kalam-Nya, diberi lembaran-lembaran wahyu yang memuat penjelasan segala sesuatu di dalamnya, didekati dengan bisikan wahyu-Nya, lalu berapa lama engkau mendapati Allah menulis Taurat sebelum aku diciptakan?’ Musa menjawab, ‘Empat puluh tahun.” 

Selanjutnya, Adam kembali berkata, “Apakah dalam Taurat engkau mendapati ayat yang mengatakan, ‘Dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia,’ (Q.S. Thaha [20]: 121)?” Musa menjawab, “Ya.” Adam melanjutkan, “Apakah engkau masih saja menyalahkanku karena aku telah melakukan suatu perbuatan yang ditetapkan Allah untuk aku perbuat empat puluh tahun sebelum Dia menciptakanku?” Ditegaskan oleh Rasulullah saw, “Akhirnya, Adam pun mengalahkan Musa dengan hujahnya”

Sementara dalam riwayat al-Bukhari dikatakan: 

Suatu ketika, Adam berdebat dengan Musa. Saat itu, Musa berkata kepadanya, “Wahai Adam, engkau adalah bapak kami. Namun, engkau telah mengecewakan kami dan mengeluarkan kami dari surga.” Adam menjawab pernyataannya, “Wahai Musa, Allah juga telah memilihmu dengan kalam-Nya, membuat catatan wahyu dengan tangan-Nya, tapi mengapa engkau menyalahkanku atas perkara yang telah ditetapkan-Nya untukku empat puluh tahun sebelum menciptakanku.” Saat itulah Adam mengalahkan Musa dengan hujahnya. Adam mengalahkan Musa dengan hujahnya. Adam mengalahkan Musa dengan hujahnya.

Dalam riwayat diatas Rasulullah mengulang kalimat, “Maka Adam mengalahkan Musa dengan hujahnya” sebanyak tiga kali sebagai bentuk penegasan (ta’kid). Dalam gaya bahasa Arab, pengulangan berfungsi untuk: menguatkan makna, menegaskan kepastian, atau menarik perhatian pendengar.

Pengulangan ini menunjukkan penegasan Rasulullah bahwa hujah Nabi Adam benar dalam konteks takdir, bukan dalam pembenaran dosa. Nabi Adam telah bertobat, dan Allah telah menerima tobatnya. Nabi Musa mencela Nabi Adam bukan tentang dosa yang telah diperbuat, tetapi dampaknya.

Kehidupan di bumi memang bagian dari rencana besar Allah. Dari sinilah lahir para nabi, para syuhada, orang–orang shalih, dan ujian yang mengangkat derajat manusia. Jika Adam tidak diturunkan ke bumi, mungkin kita tidak akan mengenal makna sabar, taubat, dan perjuangan.

Dan di situlah letak rahasia takdir.