Ketika Nabi Musa Berdebat dengan Nabi Adam
Sekilas terdengar
mustahil. Bagaimana mungkin Nabi Musa berdebat dengan Nabi Adam bisa terjadi,
padahal mereka terpisah dengan rentang waktu terpisah ribuan tahun, tidak dalam
periode waktu kenabian yang sama? Nabi Adam adalah manusia pertama, sedengan Nabi
Musa lahir setelah Nabi Adam wafat selama ribuan tahun.
Kisah tentang
perdebatan ini bukan dongeng. Ia di kisahkan dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam
Bukhari dan Imam Muslim, dari Abu
Hurairah.
Kita mengetahui
bahwa Nabi Adam di ciptakan Allah dari tanah, dan hidup dengan mulia di Surga.
Segala kebutuhan dan kenikmatan hidup terpenuhi dengan mudah tidak kurang satu
apa pun disana. Allah mengizinkan Adam
untuk hidup di surga dan menikmati segala yang ada di surga kecuali mendekati
satu pohon. Karena tipu daya Iblis, akhirnya Adam melanggar larangan Allah dan
memakan buah dari pohon larangan itu, yang mengakibatkanya terusir dari surga
sehingga harus tinggal dan hidup di bumi, yang keadaannya berbanding terbalik dengan kehidupan di surga. Segala macam kesulitan, kepayahan, penderitaan dan ujian kehidupan di temui di bumi. Hal itulah yang terbetik dalam hati Nabi Musa yang mengalami penderitaan, kesulitan karena di kejar–kejar oleh Fir’aun di Mesir. Seandainya Nabi Adam tidak terusir dari surga, maka semua manusia keturunan Nabi Adam akan hidup dengan penuh kenikmatan di surga, tidak akan ada
penderitaan hidup yang akan dilalui semua umat manusia.
Karena itu, ketika
Nabi Musa bertemu dengan bapaknya (Nabi Adam), dia menyalahkannya atas
perbuatannya yang membuat dirinya dan anak cucunya keluar dari Surga, sebagaimana
dalam hadis riwayat
Muslim dari sahabat Abu Hurairah, Rasulullah saw. mengisahkan:
Pada
suatu kesempatan, Adam dan Musa berdebat di hadapan Tuhan mereka. Namun, Adam
berhasil mengalahkan Musa dengan hujahnya. Saat itu, Musa mulai angkat bicara,
“Hai Adam, engkau adalah nabi yang telah diciptakan Allah langsung dengan
tangan-Nya, ditiupkan ruh langsung dari ruh-Nya, disujudi oleh para malaikat,
dan ditempatkan di surga-Nya, namun engkau telah mengeluarkan manusia ke bumi
karena kesalahan yang diperbuatmu sendiri.”
Adam
menjawab, “Engkau juga nabi yang dipilih Allah dengan risalah dan kalam-Nya,
diberi lembaran-lembaran wahyu yang memuat penjelasan segala sesuatu di
dalamnya, didekati dengan bisikan wahyu-Nya, lalu berapa lama engkau mendapati
Allah menulis Taurat sebelum aku diciptakan?’ Musa menjawab, ‘Empat puluh
tahun.”
Selanjutnya,
Adam kembali berkata, “Apakah dalam Taurat engkau mendapati ayat yang
mengatakan, ‘Dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia,’ (Q.S. Thaha
[20]: 121)?” Musa menjawab, “Ya.” Adam melanjutkan, “Apakah engkau masih saja
menyalahkanku karena aku telah melakukan suatu perbuatan yang ditetapkan Allah
untuk aku perbuat empat puluh tahun sebelum Dia menciptakanku?” Ditegaskan oleh
Rasulullah saw, “Akhirnya, Adam pun mengalahkan Musa dengan hujahnya”
Sementara dalam riwayat al-Bukhari
dikatakan:
Suatu
ketika, Adam berdebat dengan Musa. Saat itu, Musa berkata kepadanya, “Wahai
Adam, engkau adalah bapak kami. Namun, engkau telah mengecewakan kami dan
mengeluarkan kami dari surga.” Adam menjawab pernyataannya, “Wahai Musa, Allah
juga telah memilihmu dengan kalam-Nya, membuat catatan wahyu dengan tangan-Nya,
tapi mengapa engkau menyalahkanku atas perkara yang telah ditetapkan-Nya
untukku empat puluh tahun sebelum menciptakanku.” Saat itulah Adam mengalahkan
Musa dengan hujahnya. Adam mengalahkan Musa dengan hujahnya. Adam mengalahkan
Musa dengan hujahnya.
Dalam riwayat diatas Rasulullah mengulang
kalimat, “Maka Adam mengalahkan Musa dengan hujahnya” sebanyak tiga kali
sebagai bentuk penegasan (ta’kid). Dalam gaya bahasa Arab, pengulangan
berfungsi untuk: menguatkan makna, menegaskan kepastian, atau menarik perhatian
pendengar.
Pengulangan ini menunjukkan penegasan
Rasulullah bahwa hujah Nabi Adam benar dalam konteks takdir, bukan dalam
pembenaran dosa. Nabi Adam telah bertobat, dan Allah telah menerima tobatnya.
Nabi Musa mencela Nabi Adam bukan tentang dosa yang telah diperbuat, tetapi
dampaknya.
Kehidupan di bumi memang bagian dari
rencana besar Allah. Dari sinilah lahir para nabi, para syuhada, orang–orang
shalih, dan ujian yang mengangkat derajat manusia. Jika Adam tidak diturunkan
ke bumi, mungkin kita tidak akan mengenal makna sabar, taubat, dan perjuangan.
Dan di situlah letak rahasia takdir.