Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

09 Maret 2026

Dua Wajah Malaikat Maut

 

Nabi Ibrahim dikenal sebagai sosok nabi yang sangat berhati-hati dan teliti. Dalam kehidupannya, beliau memiliki sebuah ruangan khusus yang digunakan untuk beribadah kepada Allah.

Ruangan itu selalu dijaga dengan baik. Setiap kali keluar dari kamar tersebut, Nabi Ibrahim selalu menguncinya rapat dan membawa sendiri kunci pintunya. Tidak ada seorang pun yang bisa masuk tanpa izin beliau.

Namun suatu hari, terjadi sesuatu yang sangat mengejutkan. Suatu ketika, Nabi Ibrahim membuka pintu kamar ibadahnya seperti biasa. Tetapi saat pintu terbuka, beliau terkejut. Di dalam kamar itu sudah ada seorang laki-laki yang berdiri. Padahal pintu sebelumnya terkunci.

Dengan heran Nabi Ibrahim bertanya, “Siapa yang mengizinkanmu masuk ke kamar ini?”

Orang itu menjawab dengan tenang, “Pemilik rumah ini yang menyuruhku masuk.”

Nabi Ibrahim semakin bingung. “Bagaimana mungkin? Akulah pemilik rumah ini.”

Laki-laki itu kemudian menjawab dengan kalimat yang membuat Nabi Ibrahim terdiam,

“Pemilik langit dan bumi yang memerintahkanku masuk.”

Mendengar jawaban itu, Nabi Ibrahim mulai menyadari bahwa orang yang berdiri di hadapannya bukanlah manusia biasa.

Nabi Ibrahim lalu bertanya lagi, “Kalau begitu, siapakah engkau sebenarnya?”

Orang itu menjawab, “Aku adalah Izrail.”

Izrail adalah malaikat yang diberi tugas oleh Allah untuk mencabut nyawa setiap makhluk yang telah sampai ajalnya.

Mendengar itu, Nabi Ibrahim kemudian memiliki sebuah permintaan. “Apakah engkau bersedia menunjukkan kepadaku bagaimana wajahmu ketika mencabut nyawa seorang mukmin?”

Malaikat Izrail menjawab, “Palingkanlah wajahmu sebentar.”

Nabi Ibrahim pun memalingkan wajahnya. Setelah itu beliau diminta untuk melihat kembali.

Ketika menoleh, Nabi Ibrahim melihat seorang pemuda yang sangat tampan. Wajahnya bersinar, pakaiannya indah, dan tercium aroma yang sangat harum.

Melihat itu, Nabi Ibrahim berkata, “Jika engkau datang dengan wajah seperti ini, tentu setiap orang mukmin akan merasa bahagia ketika engkau menjemputnya.”

Kemudian Nabi Ibrahim bertanya lagi, “Sekarang, maukah engkau memperlihatkan wajahmu ketika mencabut nyawa orang kafir?”

Malaikat Izrail menjawab, “Aku khawatir engkau tidak akan sanggup melihatnya.”

Namun Nabi Ibrahim tetap meminta, “Aku akan mencoba menguatkan diriku.”

Akhirnya Malaikat Izrail berkata, “Kalau begitu, palingkan wajahmu lagi.”

Setelah beberapa saat, Nabi Ibrahim diminta untuk melihat kembali. Ketika Nabi Ibrahim menoleh, pemandangan yang terlihat sangat mengerikan.

Malaikat Izrail menjelma menjadi sosok yang sangat menakutkan. Wajahnya hitam legam. Pakaiannya hitam. Seluruh bulu tubuhnya berdiri. Dari tubuhnya tercium bau yang sangat busuk. Bahkan dari mulut dan hidungnya keluar api.

Melihat pemandangan yang begitu mengerikan itu, Nabi Ibrahim tidak sanggup menahannya. Beliau langsung jatuh pingsan.

Kisah yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan disebutkan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin ini memberikan gambaran penting bagi manusia.

Bagi orang yang beriman dan taat kepada Allah, kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan. Malaikat maut datang dengan wajah yang indah dan menenangkan. Namun bagi orang yang ingkar kepada Allah, kematian adalah saat yang sangat mengerikan.

Karena itu, setiap manusia seharusnya mempersiapkan dirinya sebelum datangnya kematian. Bukan dengan harta, jabatan, atau kekuasaan. Tetapi dengan iman, amal saleh, dan ketaatan kepada Allah.