Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

24 Februari 2026

Nabi Syith AS: Penerus Nabi Adam dan Penerima 50 Suhuf dari Allah

 

Kisah Nabi Syith tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an, namun disebut dalam riwayat hadis, atsar sahabat, serta kitab-kitab sejarah Islam seperti karya Ibnu Katsir dan At-Thabari. Penyebutan nama nabi Syith ada dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Dzar al-Ghifari, Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, berapa jumlah para nabi?”

Rasulullah menjawab, “124.000.”

Aku bertanya, “Berapa jumlah rasul dari mereka?”

Rasulullah menjawab: “315, jumlah yang banyak.”

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, berapa kitab yang Allah turunkan?”

Rasulullah bersabda, “Allah menurunkan 104 kitab, 50 suhuf kepada Syith, 30 kepada Idris, 10 kepada Ibrahim, dan Taurat, Injil, Zabur, serta Al-Furqan.”  (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya — sebagian ulama menilai hadis ini hasan).

Menurut riwayat sejarah Islam (disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah dan At-Thabari dalam Tarikh-nya) yang tidak berasal dari hadis shahih tetapi dari atsar dan sejarah klasik disebutkan bahwa Syith lahir setelah terbunuhnya Habil oleh Qabil. Syith (bahasa Ibrani: Syits / Seth) berarti “pemberian” atau “anugerah”, karena ia dianggap pengganti Habil. Menurut Ibnu 'Abbas, ketika Syith dilahirkan, Nabi Adam berusia 930 tahun.

Nabi Syith merupakan satu–satunya anak Nabi Adam yang tidak mempunyai kembaran (anak–anak lain dilahirkan kembar dan berpasang–pasangan). Nabi Syith dilahirkan (sekitar 3630-2718 SM), wafat pada usia 1042 tahun. Riwayat lain menyebut 912 tahun. Beliau menikah dengan Azura (Hazurah), dan mempunyai seorang anak bernama Enos pada usia 105 tahun.

Dalam Kitab Qasas al-Anbiya sebagaimana diceritakan Salim Umar Alattas disebutkan, setelah menderita sakit selama 11 hari, Nabi Adam wafat. Baca juga Ketika Nabi Adam Merindukan Buah Surga. Ketika masih sakit, Nabi Adam berwasiat kepada nabi Syith untuk menggantikan kepemimpinannya. Nabi Adam mengingatkan Syith untuk menjaga kerahasiaan penyerahan mandat ini agar jangan sampai diketahui oleh Qabil, si pendengki. Nabi Adam memilih Syith karena memiliki kelebihan dari segi keilmuan, kecerdasan, ketakwaan dan kepatuhan dibandingkan dengan semua anaknya yang lain. Nabi Adam mengajarkan Syits waktu–waktu malam dan siang, kemudian dia mengajarkannya ibadah pada waktu–waktu itu. Kemudian diapun mengajarkan datangnya badai pada waktu–waktu tertentu.

Dalam riwayat Israiliyat, Nabi Syits memohon kepada Allah untuk memisahkan alam jin dan manusia. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa pada saat itu, manusia dan jin hidup berdampingan dan memiliki interaksi yang cukup dekat, tetapi kemudian menimbulkan masalah yang besar pada akhlak dan akidah manusia.

Setelah pembunuhan Habil oleh Qabil, keturunan / kaum Qabil memisahkan diri dari keturunan Syits. Keturunan Qabil menolak ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Adam dan hidup dalam kehidupan yang penuh dengan penyimpangan moral serta keburukan dan bersekutu dengan jin yang jahat, dan membuat kekacauan yang besar. Keturunan / kaum Nabi Syits, yang tetap teguh pada ajaran tauhid, mulai merasa terancam oleh penyimpangan yang terjadi di sekitar mereka. Banyak orang yang mulai terpengaruh oleh jin dan meninggalkan ajaran Syits. Keterbukaan antara dunia jin dan manusia memperparah masalah ini. Jin jahat mulai mempengaruhi kehidupan manusia, tidak hanya memengaruhi akhlak mereka tetapi juga merusak hubungan sosial dan spiritual yang sehat.

Melihat kerusakan yang terjadi akibat pengaruh jin terhadap umat manusia, Nabi Syits, sebagai seorang nabi yang diberi amanah untuk menjaga keturunan Adam di jalan kebenaran, memohon kepada Allah agar memisahkan antara alam manusia dan alam jin. Allah mengabulkan permintaan Nabi Syits

Setelah pemisahan alam manusia dan alam jin, interaksi antara jin dan manusia menjadi terbatas. Manusia tidak lagi dapat melihat jin secara langsung, kecuali dalam kasus–kasus tertentu. Jin juga tidak lagi bisa dengan mudah masuk ke dalam kehidupan manusia dan mempengaruhi mereka secara langsung, meskipun jin masih memiliki kemampuan untuk mempengaruhi manusia melalui bisikan, seperti yang dilakukan oleh setan, tetapi pengaruh langsung mereka terhadap kehidupan fisik manusia terbatas, yang menandai awal dari pembatasan wilayah hidup antara manusia dan jin.