Nabi Syith AS: Penerus Nabi Adam dan Penerima 50 Suhuf dari Allah
Kisah Nabi Syith
tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an, namun disebut dalam riwayat
hadis, atsar sahabat, serta kitab-kitab sejarah Islam seperti karya Ibnu Katsir
dan At-Thabari. Penyebutan nama nabi Syith ada dalam sebuah hadis yang diriwayatkan
dari Abu Dzar al-Ghifari, Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, berapa jumlah para
nabi?”
Rasulullah
menjawab, “124.000.”
Aku
bertanya, “Berapa jumlah rasul dari mereka?”
Rasulullah
menjawab: “315, jumlah yang banyak.”
Aku
bertanya, “Wahai Rasulullah, berapa kitab yang Allah turunkan?”
Rasulullah
bersabda, “Allah menurunkan 104 kitab, 50 suhuf kepada Syith, 30 kepada Idris,
10 kepada Ibrahim, dan Taurat, Injil, Zabur, serta Al-Furqan.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya — sebagian
ulama menilai hadis ini hasan).
Menurut riwayat sejarah Islam (disebutkan
oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah dan At-Thabari dalam Tarikh-nya)
yang tidak berasal dari hadis shahih tetapi dari atsar dan sejarah klasik
disebutkan bahwa Syith lahir setelah terbunuhnya Habil oleh Qabil. Syith
(bahasa Ibrani: Syits / Seth) berarti “pemberian” atau “anugerah”,
karena ia dianggap pengganti Habil. Menurut Ibnu 'Abbas, ketika Syith
dilahirkan, Nabi Adam berusia 930 tahun.
Nabi Syith
merupakan satu–satunya anak Nabi Adam yang tidak mempunyai kembaran (anak–anak
lain dilahirkan kembar dan berpasang–pasangan). Nabi Syith dilahirkan (sekitar
3630-2718 SM), wafat pada usia 1042 tahun. Riwayat lain menyebut 912 tahun.
Beliau menikah dengan Azura (Hazurah), dan mempunyai seorang anak bernama Enos
pada usia 105 tahun.
Dalam Kitab Qasas al-Anbiya sebagaimana
diceritakan Salim Umar Alattas disebutkan, setelah menderita sakit selama 11
hari, Nabi Adam wafat. Baca juga Ketika Nabi Adam Merindukan Buah Surga. Ketika masih sakit, Nabi Adam berwasiat kepada nabi Syith untuk menggantikan kepemimpinannya. Nabi Adam mengingatkan Syith untuk menjaga kerahasiaan penyerahan mandat ini agar jangan sampai diketahui oleh Qabil, si pendengki. Nabi Adam memilih Syith karena memiliki kelebihan dari segi
keilmuan, kecerdasan, ketakwaan dan kepatuhan dibandingkan dengan semua anaknya
yang lain. Nabi Adam mengajarkan Syits waktu–waktu malam dan siang, kemudian
dia mengajarkannya ibadah pada waktu–waktu itu. Kemudian diapun mengajarkan
datangnya badai pada waktu–waktu tertentu.
Dalam riwayat Israiliyat, Nabi Syits
memohon kepada Allah untuk memisahkan alam jin dan manusia. Dalam beberapa
riwayat disebutkan bahwa pada saat itu, manusia dan jin hidup berdampingan dan
memiliki interaksi yang cukup dekat, tetapi kemudian menimbulkan masalah yang
besar pada akhlak dan akidah manusia.
Setelah pembunuhan
Habil oleh Qabil, keturunan / kaum Qabil memisahkan diri dari keturunan Syits.
Keturunan Qabil menolak ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Adam dan hidup
dalam kehidupan yang penuh dengan penyimpangan moral serta keburukan dan
bersekutu dengan jin yang jahat, dan membuat kekacauan yang besar. Keturunan / kaum Nabi Syits, yang tetap teguh pada ajaran tauhid, mulai merasa
terancam oleh penyimpangan yang terjadi di sekitar mereka. Banyak orang yang
mulai terpengaruh oleh jin dan meninggalkan ajaran Syits. Keterbukaan antara
dunia jin dan manusia memperparah masalah ini. Jin jahat mulai mempengaruhi
kehidupan manusia, tidak hanya memengaruhi akhlak mereka tetapi juga merusak
hubungan sosial dan spiritual yang sehat.
Melihat kerusakan
yang terjadi akibat pengaruh jin terhadap umat manusia, Nabi Syits, sebagai
seorang nabi yang diberi amanah untuk menjaga keturunan Adam di jalan
kebenaran, memohon kepada Allah agar memisahkan antara alam manusia dan alam
jin. Allah mengabulkan permintaan Nabi Syits
Setelah pemisahan
alam manusia dan alam jin, interaksi antara jin dan manusia menjadi terbatas.
Manusia tidak lagi dapat melihat jin secara langsung, kecuali dalam kasus–kasus
tertentu. Jin juga tidak lagi bisa dengan mudah masuk ke dalam kehidupan
manusia dan mempengaruhi mereka secara langsung, meskipun jin masih memiliki
kemampuan untuk mempengaruhi manusia melalui bisikan, seperti yang dilakukan
oleh setan, tetapi pengaruh langsung mereka terhadap kehidupan fisik manusia
terbatas, yang menandai awal dari pembatasan wilayah hidup antara manusia dan
jin.