Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

24 Januari 2026

Ketiban Ndaru, Ketiban Pulung

 

Pada masyarakat Jawa, ada kepercayaan yang bersumber dari masa lampau yang menjadi cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut yang dianggap sebagai tanda, isyarat dari kejadian yang dianggap tidak biasa yaitu tentang ketiban pulung atau ketiban ndaru (jw: ketiban = kejatuhan). Cerita yang dianggap sebagai cara orang–orang tua di Jawa untuk memahami perubahan hidup seseorang.

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, pulung dipahami sebagai tanda yang dapat dilihat—sering digambarkan berupa cahaya seukuran bola sepak yang turun dari langit dan singgah di suatu tempat. Pulung diyakini sebagai petunjuk yang memberikan isyarat bahwa pada tempat itu ada sesuatu yang sedang dipersiapkan.

Sedangkan ndaru dipahami sebagai makna di balik tanda itu—berupa kelancaran hidup, perubahan nasib, atau amanah besar yang menyertai seseorang. Karena itu orang Jawa sering berkata, “Pulung itu tandanya, ndaru itu isinya.”

Kisah ini berdasarkan apa yang pernah di alami oleh Kakekku pada masa pendudukan Jepang tahun 1942–1945 yang diceritakan oleh Ibu kepadaku. Ibuku memanggil ayahnya dengan Abah, karena sudah pernah pergi haji. Sedangkan cucu–cucunya memanggil dengan sebutan Abah Yai.

Masa pendudukan Jepang di Indonesia adalah salah satu periode paling kelam dan penuh penderitaan dalam sejarah bangsa Indonesia. Jepang, yang datang dengan propaganda "Saudara Tua" dan pembebas Asia, justru memberlakukan sistem pendudukan militer yang represif demi kepentingan Perang Asia Timur Raya. Romusha, Jugun Ianfu, tindakan represif militer terhadap rakyat, kemiskinan dan kelaparan, rakyat berpakaian karung goni, dan penderitaan lainnya. Perserikatan Bangsa Bangsa mencatatat, bahwa selama pendudukan Jepang di Indonesia (1942–1945) ada 4.000.000 orang tewas karena kelaparan dan kerja paksa (romusha).

Abah Yai yang berasal dari keluarga yang berkecukupan di Surabaya, harus mengungsi keluar dari Surabaya dengan membawa Istri dan anak–anaknya, serta saudara–saudaranya di daerah terpencil di Jawa Timur, dengan membawa bekal harta benda yang bisa dibawa untuk penghidupan di daerah pengungsian.

Abah Yai menyewa sebuah rumah di pedesaan untuk tempat tinggal keluarga dan saudara–saudaranya. Bahan makanan sangat sulit di dapat, dan harus pergi ke pasar yang jauh, dan hanya bisa mendapatkan singkong. Bahkan pernah hanya mengkonsumsi bubur tepung untuk makan sehari–hari yang harus mereka syukuri. Masa–masa yang sangat sulit saat itu.

Sudah menjadi kebiasaan Abah Yai, setiap malam, setelah shalat Isya, duduk di teras rumah sambil berzikir. Zikir Abah Yai tidak panjang dan tidak keras. Kadang hanya menggerakkan bibir, kadang hanya di dalam hati. Ia tidak pernah menyebut hitungan, tidak pula memamerkan amalan. Baginya, zikir hanyalah cara untuk mengingat Allah sebelum tidur dan menenangkan hati setelah seharian bekerja.

Suatu malam, beberapa tetangga melihat kejadian yang tidak biasa. Dari langit yang gelap, turun cahaya terang, bundar, dan lembut. Cahaya itu melayang pelan dan berhenti sejenak tepat di atas rumah Abah Yai, lalu menghilang begitu saja. Tidak ada suara, tidak ada panas, dan tidak ada bekas apa pun.

Keesokan harinya, cerita itu menyebar pelan. Orang-orang membicarakannya dengan suara lirih. Ada yang menyebutnya pulung, ada yang mengatakan ndaru. Namun Abah Yai sama sekali tidak mengetahui kejadian itu. Beliau bangun pagi seperti biasa, menjalani hari tanpa merasa hidupnya baru saja “ditandai” oleh sesuatu. Ada salah seorang tetangga depan rumah bercerita kepada Abah Yai tentang apa yang dilihatnya tadi malam diatas rumah Abah Yai. Abah Yai menanggapinya dengan biasa saja, dan bercerita kalau waktu duduk diteras rumah tadi malam, mengira sedang bulan purnama, di depan rumah agak sedikit terang.

Hari demi hari berlalu, dan perlahan hidup Abah Yai berubah. Usahanya yang dulu sering tersendat mulai lancar. Pelanggan bertambah. Masalah tetap datang, tetapi selalu ada jalan keluar. Meminta izin untuk berdagang pada Shucokan tidak pernah ditolak. Semua berjalan lancar. Mendatangkan tembakau dari kota–kota di Jawa Timur sangat mudah, lancar dan tidak ada hambatan dari pemerintah pendudukan Jepang. Begitu pula saat mempergadangkan tembakau, juga berjalan dengan lancar, dan penuh kemudahan.

Bagi orang-orang kampung, perubahan ini semakin menguatkan keyakinan mereka tentang ndaru. Namun bagi Abah Yai, semua itu adalah rahmat Allah. Ia tidak pernah mengaitkan kelancaran hidupnya dengan cahaya yang tidak pernah ia lihat. Ia hanya percaya bahwa ketenangan, kemudahan dan keberkahan datang dari Allah.

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)

“Aku bersama hamba-Ku ketika ia mengingat-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mungkin di situlah letak pertemuan antara kepercayaan, budaya dan ajaran agama. Orang Jawa memahami hidup melalui simbol, seperti pulung dan ndaru. Islam mengajarkan bahwa semua kebaikan datang dari Allah melalui usaha, doa, dan zikir. Keduanya bertemu pada satu pesan yang sama: hidup yang dijalani dengan hati yang bersih akan membawa ketenangan.

Dari kisah Abah Yai, kami belajar bahwa keberkahan tidak selalu datang lewat peristiwa besar yang bisa diceritakan ke mana-mana. Kadang ia hadir dalam kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus, tanpa disadari, tanpa dipamerkan.

Mungkin cahaya itu memang pernah turun. Mungkin pula tidak. Namun yang jelas, hidup Abah Yai menjadi bukti bahwa mengingat Allah dalam sunyi lebih berharga daripada mengejar tanda yang belum tentu kita pahami.

Kisah ini mengajak kita untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sibuk mencari pulung di langit, ataukah sedang berusaha menjaga hati agar selalu ingat kepada Allah?