Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

s

11 Januari 2026

Isra’ dan Mi‘raj Nabi Muhammad Sebuah Perjalanan Agung

 

Di antara peristiwa paling agung dalam sejarah Islam adalah Isra’ dan Mi‘raj Nabi Muhammad. Namun di sisi lain, Isra’ dan Mi‘raj juga sering dipertanyakan karena dianggap tidak masuk akal, sulit diterima oleh logika, atau bertentangan dengan sains. — InsyaAllah akan dibahas pada tulisan yang akan datang.

Tulisan ini tidak memaksa pembaca untuk “percaya”, melainkan mengajak pembaca memahami bagaimana Islam menjelaskan Isra’ dan Mi‘raj melalui sumber-sumber hadis yang shahih, serta mengapa peristiwa ini diterima sebagai kebenaran oleh umat Islam.

Isra’ dan Mi‘raj terjadi pada masa yang sangat berat bagi Nabi Muhammad. Pada tahun itu, beliau kehilangan istri tercinta Khadijah radhiyallahu ‘anha, dan paman yang melindunginya, Abu Thalib. Tekanan dari kaum Quraisy semakin keras, dan dakwah seolah menemui jalan buntu.

Dalam kondisi inilah Allah memperjalankan Nabi-Nya dengan sebuah perjalanan yang luar biasa. Para ulama menjelaskan bahwa Isra’ dan Mi‘raj merupakan penghiburan ilahi, sekaligus penguatan spiritual sebelum fase dakwah yang lebih luas.

Hadis shahih Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik r.a. berkata, "Abu Dzarr r.a. menceritakan bahwasanya Nabi Muhammad saw bersabda, 'Dibukalah atap rumahku dan aku berada di Mekah. Turunlah Jibril a.s. dan membelah dadaku, kemudian dicucinya dengan air zamzam. Ia lalu membawa mangkok besar dari emas, penuh dengan hikmah dan keimanan, lalu ditumpahkan ke dalam dadaku, kemudian dikatupkannya. Ia memegang tanganku dan membawaku ke langit dunia...

Peristiwa ini menunjukkan bahwa perjalanan Isra’ dan Mi‘raj bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi juga persiapan ruhani dan jasmani yang dilakukan atas kehendak Allah.

Rasulullah diperkenalkan dengan Buraq, makhluk tunggangan berwarna putih, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bagal. Setiap langkahnya sejauh pandangan mata. Dengan Buraq inilah perjalanan dimulai dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Palestina yang dikenal dengan sebutan Isra’. Jarak yang pada masa itu memerlukan waktu berbulan–bulan perjalanan, ditempuh Rasulullah  hanya dalam satu malam.

Sesampainya di Masjidil Aqsha, Rasulullah melaksanakan shalat. Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa beliau menjadi imam bagi para nabi terdahulu, yang mempunyai makna simbolik bahwa risalah Islam merupakan kelanjutan dan penyempurnaan dari risalah para nabi sebelumnya.

Setelah Isra’, Rasulullah dinaikkan ke langit dalam peristiwa Mi‘raj. Hadis-hadis shahih menjelaskan bahwa beliau bertemu dengan para nabi pada setiap lapisan langit. Anas bin Malik r.a. berkata, "Beliau menyebutkan bahwa di beberapa langit itu beliau bertemu dengan Adam, Idris, Musa, Isa, dan Ibrahim shalawatullahi alaihim, namun beliau tidak menyebutkan bagaimana kedudukan (posisi) mereka, hanya menyebutkan bahwas beliau bertemu dengan Adam di langit dunia dan Ibrahim di langit keenam."

Anas bin Malik r.a. berkata, "Ketika Jibril a.s. bersama Nabi Muhammad saw melewati Idris, Idris berkata, 'Selamat datang Nabi yang saleh dan saudara laki-laki yang saleh.' Aku (Rasulullah) bertanya, 'Siapakah ini?' Jibril menjawab, 'Ini adalah Idris.' Aku melewati Musa lalu ia berkata, 'Selamat datang Nabi yang saleh dan saudara yang saleh.' Aku bertanya, 'Siapakah ini?' Jibril menjawab, 'Ini adalah Musa.' Aku lalu melewati Isa dan ia berkata, 'Selamat datang saudara yang saleh dan Nabi yang saleh.' Aku bertanya, 'Siapakah ini?' Jibril menjawab, 'Ini adalah Isa.' Aku lalu melewati Ibrahim, lalu ia berkata, 'Selamat datang Nabi yang saleh dan anak yang saleh.' Aku bertanya,'Siapakah ini?' Jibril menjawab, 'Ini adalah Ibrahim a.s. …'"

Puncak Mi‘raj adalah ketika Rasulullah sampai di Sidratul Muntaha, batas akhir yang tidak dapat dilampaui makhluk. Dalam hadis shahih riwayat Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah melihat Malaikat Jibril dalam bentuk aslinya di tempat tersebut.

Pada peristiwa Mi‘raj inilah Allah mewajibkan shalat. Awalnya, shalat diwajibkan sebanyak lima puluh kali sehari semalam. Atas saran Nabi Musa ‘alaihissalam, Rasulullah memohon keringanan hingga akhirnya ditetapkan lima waktu shalat, dengan pahala tetap lima puluh.

Dalam hadis shahih yang dirayawatkan oleh Imam Bukhari, Ibnu Syihab berkata, "Ibnu Hazm memberitahukan kepadaku bahwa Ibnu Abbas dan Abu Habbah al-Anshari berkata bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, 'Jibril lalu membawaku naik sampai jelas bagiku Mustawa. Di sana, aku mendengar goresan pena–pena.' Ibnu Hazm dan Anas bin Malik berkata bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda, 'Allah Azza wa Jalla lalu mewajibkan atas umatku lima puluh shalat (dalam sehari semalam). Aku lalu kembali dengan membawa kewajiban itu hingga kulewati Musa, kemudian ia (Musa) berkata kepadaku, 'Apa yang diwajibkan Allah atas umatmu?' Aku menjawab, 'Dia mewajibkan lima puluh kali shalat (dalam sehari semalam).' Musa berkata, 'Kembalilah kepada Tuhanmu karena umatmu tidak kuat atas yang demikian itu.' Allah lalu memberi dispensasi (keringanan) kepadaku (dalam satu riwayat: Maka aku kembali dan mengajukan usulan kepada Tuhanku), lalu Tuhan membebaskan separuhnya. 'Aku lalu kembali kepada Musa dan aku katakan, 'Tuhan telah membebaskan separuhnya.' Musa berkata, 'Kembalilah kepada Tuhanmu karena sesungguhnya umatmu tidak kuat atas yang demikian itu. 'Aku kembali kepada Tuhanku lagi, lalu Dia membebaskan separuhnya lagi. Aku lalu kembali kepada Musa, kemudian ia berkata, 'Kembalilah kepada Tuhanmu karena umatmu tidak kuat atas yang demikian itu.' Aku kembali kepada Tuhan, kemudian Dia berfirman, 'Shalat itu lima (waktu) dan lima itu (nilainya) sama dengan lima puluh (kali), tidak ada firman yang diganti di hadapan Ku.' Aku lalu kembali kepada Musa, lalu ia berkata, 'Kembalilah kepada Tuhanmu.' Aku jawab, '(Sungguh) aku malu kepada Tuhanku.' Jibril lalu pergi bersamaku sampai ke Sidratul Muntaha dan Sidratul Muntaha itu tertutup oleh warna-warna yang aku tidak mengetahui apakah itu sebenarnya? Aku lalu dimasukkan ke surga. Tiba-tiba di sana ada kail dari mutiara dan debunya adalah kasturi.'"

Hal ini menunjukkan kedudukan shalat sebagai ibadah yang sangat istimewa, karena diperintahkan langsung oleh Allah tanpa perantara wahyu di bumi.

Sebagian kecil pendapat menyebutkan bahwa Isra’ dan Mi‘raj hanyalah mimpi. Namun mayoritas ulama Ahlus Sunnah menolak pandangan ini. Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar al-‘Asqalani, dan Ibnu Katsir menegaskan bahwa Isra’ dan Mi‘raj terjadi dengan jasad dan ruh dalam keadaan sadar.

Secara keilmuan hadis, riwayat Isra’ dan Mi‘raj bahkan mencapai derajat mutawatir maknawi, karena diriwayatkan oleh banyak sahabat melalui jalur yang berbeda.