Isra’ dan Mi‘raj Nabi Muhammad Sebuah Perjalanan Agung
Di antara peristiwa
paling agung dalam sejarah Islam adalah Isra’ dan Mi‘raj Nabi Muhammad.
Namun di sisi lain, Isra’ dan Mi‘raj juga sering dipertanyakan karena dianggap
tidak masuk akal, sulit diterima oleh logika, atau bertentangan dengan sains. —
InsyaAllah akan dibahas pada tulisan yang akan datang.
Tulisan ini tidak
memaksa pembaca untuk “percaya”, melainkan mengajak pembaca memahami bagaimana
Islam menjelaskan Isra’ dan Mi‘raj melalui sumber-sumber hadis yang shahih,
serta mengapa peristiwa ini diterima sebagai kebenaran oleh umat Islam.
Isra’ dan Mi‘raj terjadi pada masa yang
sangat berat bagi Nabi Muhammad. Pada tahun itu, beliau kehilangan istri
tercinta Khadijah radhiyallahu ‘anha, dan paman yang melindunginya, Abu Thalib.
Tekanan dari kaum Quraisy semakin keras, dan dakwah seolah menemui jalan buntu.
Dalam kondisi inilah Allah memperjalankan
Nabi-Nya dengan sebuah perjalanan yang luar biasa. Para ulama menjelaskan bahwa
Isra’ dan Mi‘raj merupakan penghiburan ilahi, sekaligus penguatan
spiritual sebelum fase dakwah yang lebih luas.
Hadis shahih Bukhari dan Muslim dari Anas
bin Malik r.a. berkata, "Abu Dzarr r.a. menceritakan bahwasanya Nabi
Muhammad saw bersabda, 'Dibukalah atap rumahku dan aku berada di Mekah.
Turunlah Jibril a.s. dan membelah dadaku, kemudian dicucinya dengan air zamzam.
Ia lalu membawa mangkok besar dari emas, penuh dengan hikmah dan keimanan, lalu
ditumpahkan ke dalam dadaku, kemudian dikatupkannya. Ia memegang tanganku dan
membawaku ke langit dunia...”
Peristiwa ini menunjukkan bahwa
perjalanan Isra’ dan Mi‘raj bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi juga
persiapan ruhani dan jasmani yang dilakukan atas kehendak Allah.
Rasulullah diperkenalkan dengan Buraq,
makhluk tunggangan berwarna putih, lebih besar dari keledai dan lebih kecil
dari bagal. Setiap langkahnya sejauh pandangan mata. Dengan Buraq inilah
perjalanan dimulai dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di
Palestina yang dikenal dengan sebutan Isra’. Jarak yang pada masa
itu memerlukan waktu berbulan–bulan perjalanan, ditempuh Rasulullah hanya dalam satu malam.
Sesampainya di Masjidil Aqsha, Rasulullah
melaksanakan shalat. Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa beliau menjadi
imam bagi para nabi terdahulu, yang mempunyai makna simbolik bahwa risalah
Islam merupakan kelanjutan dan penyempurnaan dari risalah para nabi sebelumnya.
Setelah Isra’, Rasulullah dinaikkan ke
langit dalam peristiwa Mi‘raj. Hadis-hadis shahih menjelaskan bahwa
beliau bertemu dengan para nabi pada setiap lapisan langit. Anas bin Malik r.a.
berkata, "Beliau menyebutkan bahwa di beberapa langit itu beliau bertemu
dengan Adam, Idris, Musa, Isa, dan Ibrahim shalawatullahi alaihim, namun beliau
tidak menyebutkan bagaimana kedudukan (posisi) mereka, hanya menyebutkan bahwas
beliau bertemu dengan Adam di langit dunia dan Ibrahim di langit keenam."
Anas bin
Malik r.a. berkata, "Ketika Jibril a.s. bersama Nabi Muhammad saw
melewati Idris, Idris berkata, 'Selamat datang Nabi yang saleh dan saudara
laki-laki yang saleh.' Aku (Rasulullah) bertanya, 'Siapakah ini?' Jibril
menjawab, 'Ini adalah Idris.' Aku melewati Musa lalu ia berkata, 'Selamat
datang Nabi yang saleh dan saudara yang saleh.' Aku bertanya, 'Siapakah ini?'
Jibril menjawab, 'Ini adalah Musa.' Aku lalu melewati Isa dan ia berkata,
'Selamat datang saudara yang saleh dan Nabi yang saleh.' Aku bertanya,
'Siapakah ini?' Jibril menjawab, 'Ini adalah Isa.' Aku lalu melewati Ibrahim,
lalu ia berkata, 'Selamat datang Nabi yang saleh dan anak yang saleh.' Aku
bertanya,'Siapakah ini?' Jibril menjawab, 'Ini adalah Ibrahim a.s. …'"
Puncak Mi‘raj adalah ketika Rasulullah
sampai di Sidratul Muntaha, batas akhir yang tidak dapat dilampaui
makhluk. Dalam hadis shahih riwayat Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu,
Rasulullah melihat Malaikat Jibril dalam bentuk aslinya di tempat tersebut.
Pada peristiwa Mi‘raj inilah Allah
mewajibkan shalat. Awalnya, shalat diwajibkan sebanyak lima puluh kali sehari
semalam. Atas saran Nabi Musa ‘alaihissalam, Rasulullah memohon keringanan
hingga akhirnya ditetapkan lima waktu shalat, dengan pahala tetap lima
puluh.
Dalam hadis
shahih yang dirayawatkan oleh Imam Bukhari, Ibnu Syihab berkata, "Ibnu
Hazm memberitahukan kepadaku bahwa Ibnu Abbas dan Abu Habbah al-Anshari berkata
bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, 'Jibril lalu membawaku naik sampai jelas
bagiku Mustawa. Di sana, aku mendengar goresan pena–pena.' Ibnu Hazm dan Anas
bin Malik berkata bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda, 'Allah Azza wa Jalla lalu
mewajibkan atas umatku lima puluh shalat (dalam sehari semalam). Aku lalu
kembali dengan membawa kewajiban itu hingga kulewati Musa, kemudian ia (Musa)
berkata kepadaku, 'Apa yang diwajibkan Allah atas umatmu?' Aku menjawab, 'Dia
mewajibkan lima puluh kali shalat (dalam sehari semalam).' Musa berkata,
'Kembalilah kepada Tuhanmu karena umatmu tidak kuat atas yang demikian itu.'
Allah lalu memberi dispensasi (keringanan) kepadaku (dalam satu riwayat: Maka
aku kembali dan mengajukan usulan kepada Tuhanku), lalu Tuhan membebaskan
separuhnya. 'Aku lalu kembali kepada Musa dan aku katakan, 'Tuhan telah
membebaskan separuhnya.' Musa berkata, 'Kembalilah kepada Tuhanmu karena
sesungguhnya umatmu tidak kuat atas yang demikian itu. 'Aku kembali kepada
Tuhanku lagi, lalu Dia membebaskan separuhnya lagi. Aku lalu kembali kepada
Musa, kemudian ia berkata, 'Kembalilah kepada Tuhanmu karena umatmu tidak kuat
atas yang demikian itu.' Aku kembali kepada Tuhan, kemudian Dia berfirman,
'Shalat itu lima (waktu) dan lima itu (nilainya) sama dengan lima puluh (kali),
tidak ada firman yang diganti di hadapan Ku.' Aku lalu kembali kepada Musa,
lalu ia berkata, 'Kembalilah kepada Tuhanmu.' Aku jawab, '(Sungguh) aku malu
kepada Tuhanku.' Jibril lalu pergi bersamaku sampai ke Sidratul Muntaha dan
Sidratul Muntaha itu tertutup oleh warna-warna yang aku tidak mengetahui apakah
itu sebenarnya? Aku lalu dimasukkan ke surga. Tiba-tiba di sana ada kail dari
mutiara dan debunya adalah kasturi.'"
Hal ini menunjukkan kedudukan shalat
sebagai ibadah yang sangat istimewa, karena diperintahkan langsung oleh Allah
tanpa perantara wahyu di bumi.
Sebagian kecil pendapat menyebutkan bahwa
Isra’ dan Mi‘raj hanyalah mimpi. Namun mayoritas ulama Ahlus Sunnah menolak
pandangan ini. Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar al-‘Asqalani, dan Ibnu
Katsir menegaskan bahwa Isra’ dan Mi‘raj terjadi dengan jasad dan ruh
dalam keadaan sadar.
Secara keilmuan hadis, riwayat Isra’ dan
Mi‘raj bahkan mencapai derajat mutawatir maknawi, karena diriwayatkan
oleh banyak sahabat melalui jalur yang berbeda.