Akhir Ramadhan
Suatu ketika Rasulullah SAW pernah berkata,
"Apabila malam terakhir bulan Ramadhan tiba, maka menangislah langit,
bumi, dan para malaikat karena musibah menimpa umat Muhammad SAW."
Kemudian seorang bertanya tentang musibah apa yang akan
menimpa mereka. Rasulullah SAW lalu menjawab, "Perginya bulan Ramadhan,
karena di bulan Ramadhan itu semua doa diijabah, semua sedekah diterima, semua
kebaikan dilipatgandakan pahalanya, dan siksa ditolak (dihentikan)."
(Diriwayatkan dari Jabir).
"Sekiranya umatku ini mengetahui apa-apa (kebaikan)
di dalam bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar tahun semuanya itu
menjadi Ramadhan." (HR Ibnu Abbas)
Dikisahkan, setelah shalat Ashar saat bulan Ramadhan, dan
setelah seharian berpuasa, Ali bin Abi Thalib tampak merasa sedih karena bulan
Ramadhan akan segera berakhir, Sayyidina Ali ra kemudian pulang dari masjid.
Sesampainya di rumah, ia lantas disambut sang isteri
tercinta yakni Sayyidah Fathimah Az-Zahra ra dengan pertanyaan penuh perhatian.
“Kenapa engkau terlihat pucat, kekasihku,” sapa Sayyidah
Fatimah.
“Tak ada tanda-tanda keceriaan sedikitpun di wajahmu,
padahal sebentar lagi kita akan menyambut hari kemenangan?,” lanjutnya.
Ali hanya terdiam lesu dan tak berapa lama kemudian ia
meminta pertimbangan sang istri untuk menyedekahkan semua simpanan pangannya
kepada fakir miskin.
“Hampir sebulan kita mendapat pendidikan dari Ramadhan,
bahwa lapar dan haus itu teramat pedih. Segala puji bagi Allah, yang sering
memberi hari-hari kita dengan perut sering terisi,” kata Ali.
Setelah itu, dan sebelum takbir berkumandang, Sayyidina
Ali bin Abi Thalib ra kemudian terlihat sibuk mendorong pedatinya.
Pedati tersebut berisi tiga karung gandum dan dua karung
kurma hasil dari panen kebunnya. Ia lalu berkeliling dari pojok kota dan
perkampungan untuk membagi-bagikan simpanan pangan tersebut kepada fakir miskin
dan yatim/piatu.
Pada masa yang berbeda, berpuluh-puluh tahun kemudian,
Umar bin Abdul Aziz suatu ketika berkhotbah pada saat Idulfitri. Beliau
berpesan, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian telah berpuasa karena
Allah selama 30 hari dan kalian melaksanakan shalat tarawih selama 30 malam. Di
hari ini, kalian keluar (di lapangan), mengharap kepada Allah agar Dia menerima
amal kalian. Dahulu, ada sahabat yang kelihatan bersedih ketika Idulfitri.
Suatu ketika, ada seorang sahabat yang bersedih, kemudian ditanya, ‘Ini adalah
hari kebahagiaan dan kegembiraan (mengapa kamu malah bersedih)?’ Dia menjawab,
"Betul, namun aku hanyalah seorang hamba, yang diperintahkan Tuhanku untuk
beramal karena-Nya, dan aku tidak tahu apakah Dia menerima amalku atau tidak.”
Disebutkan juga, bahwa suatu ketika, Wahb bin Al Ward
melihat beberapa orang yang tertawa-tawa di hari raya. Kemudian, beliau
berkata, “Andaikan puasa mereka diterima maka bukan seperti ini perbuatan yang
selayaknya dilakukan orang yang bersyukur. Sebaliknya, andaikan puasa mereka
tidak diterima maka bukan seperti ini sikap yang selayaknya dilakukan orang
yang takut (amalnya tidak diterima).”
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, bahwa
ketika malam hari raya, beliau berkata, “Siapa pun yang amalnya diterima malam
ini, aku akan berikan ucapan selamat kepadanya. Siapa pun yang amalnya ditolak
malam ini, aku turut berbelasungkawa atasnya. Wahai orang yang diterima
amalnya, aku ucapkan selamat atas kalian. Wahai orang yang ditolak amalnya,
semoga Allah menutupi musibahmu.”
Wallahu a'lam