Akan Menjadi Apa Anak–Anakku?
Ini adalah kisah
yang diceritakan oleh bapakku tentang kejadian di tahun 1960-an, sekitar dua
tahun setelah peristiwa G30S/PKI, ketika beliau masih menjabat sebagai
Ketua RT di salah satu “kampung” di Surabaya.
Kalau generasi
sekarang sudah tidak asing mendengar tentang JUDOL (judi online),
zaman dulu pun ternyata godaan serupa sudah ada — hanya bentuknya berbeda.
Bedanya, kini informasi menyebar begitu cepat, tanpa batas dan tanpa saringan,
lewat media sosial dan internet. Para bandar judi bahkan bekerja sama dengan
para hacker untuk meretas website dan menyusupkan iklan perjudian
ke berbagai situs resmi — mulai dari situs pemerintah, kampus, dan sekolah.
Bagi yang sudah
gede di era ‘80an–‘90an, tentu masih ingat dengan PORKAS (Pekan Olahraga dan
Ketangkasan) dan SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah) — dua bentuk perjudian
yang dulu dilegalkan oleh pemerintah. Bahkan kasino pun pernah
dilegalkan. Di Surabaya, misalnya, pemilik kasino yang terkenal waktu itu juga memiliki
klub sepak bola ternama, Niac Mitra, yang bersaing di era liga Galatama.
Namun jauh
sebelum itu, di era 60-an, ada satu bentuk perjudian yang juga dilegalkan
yaitu HWA-HWEE. Menurut catatan
sejarah, sekitar tahun 1967, Gubernur Jakarta Ali Sadikin melegalkan
perjudian ini dengan alasan untuk membantu pembangunan kota Jakarta. Awalnya
Hwa-Hwee hanya diperuntukkan bagi warga Tionghoa, namun lambat laun semakin
meluas, dan digelar setiap malam.
Suatu pagi, Bapak
didatangi oleh salah seorang warga keturunan Tionghoa, “Pak RT, saya dengar
nomornya ada di Pak RT.” Bapak sudah paham arah pembicaraannya, tapi
berpura–pura tidak tahu.
“Nomor apa?” tanya
Bapak.
“Nomor Hwa-Hwee,
Pak. Saya dapat informasi, kalau nomornya ada di Pak RT.”
“Saya tidak tahu.
Anda salah alamat, kalau meminta nomor Hwa—Hwee pada saya” jawab Bapak.
“Saya yakin Pak RT tahu. Pak RT minta berapa
persen, nanti saya kasih.”
Bapak tersenyum dan
menjawab tegas, “Saya benar–benar tidak tahu.”
Percakapan
pun berakhir singkat. Namun dalam hati, Bapak tahu, ini bukan sekadar obrolan
biasa. Ini pasti ujian iman.
Pada malam
sebelumnya, Bapak memang bermimpi tentang perwujudan seekor binatang— yang
merupakan sebuah simbol angka tertentu dalam buku tafsir mimpi, yang sering
dijadikan acuan para penjudi nomor. Tapi begitu terbangun, Bapak sadar, mimpi
itu bukan petunjuk dari Allah, melainkan mimpi dari setan.
Selain menjadi
Ketua RT, Bapak juga seorang guru—Kepala Sekolah SD Muhammadiyah di
Surabaya. Saat itu masih mempunyai lima anak yang harus dinafkahi, yang tentu
tidak mudah, dengan gaji guru di masa itu yang sangat kecil, untuk memenuhi
kebutuhan keluarga yang terus bertambah.
Namun Bapak selalu
memegang teguh pesan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah:
“Hidup–hidupilah Muhammadiyah, tapi
jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah.”
Setiap malam, Bapak
bermunajat, memohon jalan keluar yang halal. Dan di saat yang paling sulit,
datanglah mimpi itu — godaan yang bisa saja mengubah arah hidup. Tapi Bapak
memilih untuk tidak menurutinya.
“Bukan itu
yang ku minta. Akan jadi apa anak–anakku jika aku menuruti mimpi ini,” batin
Bapak.
Syukur
Alhamdulillah, dari keteguhan itulah Bapak akhirnya mendapat jalan yang baik,
menemukan rezeki lain yang tidak jauh dari profesinya sebagai seorang guru,
yaitu menjadi penulis. Bapak mulai lebih giat lagi menulis buku–buku cerita
untuk anak–anak, dan buku–buku pelajaran
untuk tingkat SD. Buku karya Bapak, banyak yang
diterbitkan oleh PT Bina Ilmu, dan bahkan beberapa buku karya Bapak ada
yang terpilih menjadi buku Inpres pada masa pemerintahan Orde Baru.
Dari menulis itulah
Bapak mendapatkan income tambahan
untuk mencukupi hidup keluarga dengan cara yang terhormat, tanpa harus tergoda
oleh jalan pintas yang tidak halal.
Kisah ini
sederhana, tapi sarat makna. Bahwa godaan bisa datang kapan saja, lewat mana,
dan dari siapa saja. Namun bagi mereka yang memegang teguh iman dan kejujuran,
Allah akan selalu bukakan jalan yang lebih baik—meski mungkin tidak secepat dan
semudah jalan yang salah, jalan yang menyimpang dari ajaran agama.
Dan untuk
diketahui, bahwa mimpi yang Bapak alami saat itu 100% tepat, setelah keesokan
harinya Bapak iseng–iseng bertanya ke seorang warga berapa nomor Hwa Hwee yang
keluar semalam. Dan alhamdulillah, Bapak
tidak pernah menyesalinya, karena bukan itu yang diminta, bukan itu yang
dimaksud dalam munajatnya.
Sebuah kenangan, dan pelajaran yang sangat berharga bagi
kami anak–anaknya. Bapak wafat tanggal 20 Desember 2003, di usia 73 tahun.