Keberanian Sejati

adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

20 Desember 2025

Akan Menjadi Apa Anak–Anakku?

 

Ini adalah kisah yang diceritakan oleh bapakku tentang kejadian di tahun 1960-an, sekitar dua tahun setelah peristiwa G30S/PKI, ketika beliau masih menjabat sebagai Ketua RT di salah satu “kampung” di Surabaya.

Kalau generasi sekarang sudah tidak asing mendengar tentang JUDOL (judi online), zaman dulu pun ternyata godaan serupa sudah ada — hanya bentuknya berbeda. Bedanya, kini informasi menyebar begitu cepat, tanpa batas dan tanpa saringan, lewat media sosial dan internet. Para bandar judi bahkan bekerja sama dengan para hacker untuk meretas website dan menyusupkan iklan perjudian ke berbagai situs resmi — mulai dari situs pemerintah, kampus, dan sekolah.

Bagi yang sudah gede di era ‘80an–‘90an, tentu masih ingat dengan PORKAS (Pekan Olahraga dan Ketangkasan) dan SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah) — dua bentuk perjudian yang dulu dilegalkan oleh pemerintah. Bahkan kasino pun pernah dilegalkan. Di Surabaya, misalnya, pemilik kasino yang terkenal waktu itu juga memiliki klub sepak bola ternama, Niac Mitra, yang bersaing di era liga Galatama.

Namun jauh sebelum itu, di era 60-an, ada satu bentuk perjudian yang juga dilegalkan yaitu  HWA-HWEE. Menurut catatan sejarah, sekitar tahun 1967, Gubernur Jakarta Ali Sadikin melegalkan perjudian ini dengan alasan untuk membantu pembangunan kota Jakarta. Awalnya Hwa-Hwee hanya diperuntukkan bagi warga Tionghoa, namun lambat laun semakin meluas, dan digelar setiap malam.

 

Suatu pagi, Bapak didatangi oleh salah seorang warga keturunan Tionghoa, “Pak RT, saya dengar nomornya ada di Pak RT.” Bapak sudah paham arah pembicaraannya, tapi berpura–pura tidak tahu.

“Nomor apa?” tanya Bapak.

“Nomor Hwa-Hwee, Pak. Saya dapat informasi, kalau nomornya ada di Pak RT.”

“Saya tidak tahu. Anda salah alamat, kalau meminta nomor Hwa—Hwee pada saya” jawab Bapak.

 “Saya yakin Pak RT tahu. Pak RT minta berapa persen, nanti saya kasih.”

Bapak tersenyum dan menjawab tegas, “Saya benar–benar tidak tahu.”

Percakapan pun berakhir singkat. Namun dalam hati, Bapak tahu, ini bukan sekadar obrolan biasa. Ini pasti ujian iman.

Pada malam sebelumnya, Bapak memang bermimpi tentang perwujudan seekor binatang— yang merupakan sebuah simbol angka tertentu dalam buku tafsir mimpi, yang sering dijadikan acuan para penjudi nomor. Tapi begitu terbangun, Bapak sadar, mimpi itu bukan petunjuk dari Allah, melainkan mimpi dari setan.

Selain menjadi Ketua RT, Bapak juga seorang guru—Kepala Sekolah SD Muhammadiyah di Surabaya. Saat itu masih mempunyai lima anak yang harus dinafkahi, yang tentu tidak mudah, dengan gaji guru di masa itu yang sangat kecil, untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang terus bertambah.

Namun Bapak selalu memegang teguh pesan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah:

“Hidup–hidupilah Muhammadiyah, tapi jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah.”

Setiap malam, Bapak bermunajat, memohon jalan keluar yang halal. Dan di saat yang paling sulit, datanglah mimpi itu — godaan yang bisa saja mengubah arah hidup. Tapi Bapak memilih untuk tidak menurutinya.

“Bukan itu yang ku minta. Akan jadi apa anak–anakku jika aku menuruti mimpi ini,” batin Bapak.

Syukur Alhamdulillah, dari keteguhan itulah Bapak akhirnya mendapat jalan yang baik, menemukan rezeki lain yang tidak jauh dari profesinya sebagai seorang guru, yaitu menjadi penulis. Bapak mulai lebih giat lagi menulis buku–buku cerita untuk anak–anak, dan buku–buku  pelajaran untuk tingkat SD. Buku karya Bapak, banyak yang  diterbitkan oleh PT Bina Ilmu, dan bahkan beberapa buku karya Bapak ada yang terpilih menjadi buku Inpres pada masa pemerintahan Orde Baru.

Dari menulis itulah Bapak  mendapatkan income tambahan untuk mencukupi hidup keluarga dengan cara yang terhormat, tanpa harus tergoda oleh jalan pintas yang tidak halal.

Kisah ini sederhana, tapi sarat makna. Bahwa godaan bisa datang kapan saja, lewat mana, dan dari siapa saja. Namun bagi mereka yang memegang teguh iman dan kejujuran, Allah akan selalu bukakan jalan yang lebih baik—meski mungkin tidak secepat dan semudah jalan yang salah, jalan yang menyimpang dari ajaran agama.

Dan untuk diketahui, bahwa mimpi yang Bapak alami saat itu 100% tepat, setelah keesokan harinya Bapak iseng–iseng bertanya ke seorang warga berapa nomor Hwa Hwee yang keluar semalam.  Dan alhamdulillah, Bapak tidak pernah menyesalinya, karena bukan itu yang diminta, bukan itu yang dimaksud dalam munajatnya.

Sebuah kenangan, dan pelajaran yang sangat berharga bagi kami anak–anaknya. Bapak wafat tanggal 20 Desember 2003, di usia 73 tahun.