Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

25 Februari 2026

Dari Istana Megah Menjadi Tenda Usang: Pelajaran Tentang Kefanaan Dunia

 

Pada masa pemerintahan Abu Bakar ash-Shiddiq r.a., beliau pernah mengutus beberapa sahabat menuju Yaman. Di tengah perjalanan, mereka singgah di sebuah mata air milik suatu kabilah Arab. Di sana berdiri bangunan yang besar dan megah. Kabilah itu tampak hidup dalam kemewahan; budak dan hewan ternak mereka sangat banyak. Saat itu mereka sedang mengadakan pesta pernikahan yang meriah, dihadiri banyak tamu. Seorang perempuan bernyanyi sambil menabuh rebana. Di antara syairnya terdengar kalimat penuh kesombongan, “Wahai orang-orang yang iri, matilah dalam kesedihan. Kami akan selalu seperti ini selamanya.”

Para utusan disambut dengan ramah oleh pemimpin kabilah. Ia meminta maaf karena sibuk mengurus pernikahan anaknya. Rombongan pun beristirahat sejenak, lalu melanjutkan perjalanan ke Yaman, meninggalkan kemewahan dan pesta yang penuh kebanggaan itu.

Tiga puluh tahun berlalu. Masa Khulafaur Rasyidin telah berakhir dan kepemimpinan beralih ke Mu'awiyah pada masa ke Khalifahan bani Umayyah. Sang khalifah kembali mengirim utusan ke Yaman. Di antara mereka ada yang pernah singgah di tempat yang sama pada masa Abu Bakar. Ketika melewati wilayah itu, mereka memutuskan untuk berhenti.

Namun, pemandangan yang mereka lihat sangat berbeda. Bangunan megah itu telah lenyap. Mata air yang dulu menjadi sumber kehidupan pun tak lagi ada. Tidak tersisa kemewahan sedikit pun. Hanya sebuah tenda usang berdiri di tengah kesunyian. Di dalamnya terdapat seorang perempuan tua yang buta.

Mereka bertanya tentang kabilah yang dahulu berjaya. Perempuan tua itu menjawab lirih, “Mereka semua telah wafat.” Ketika ditanya tentang pengantin perempuan yang dulu berpesta dengan penuh kebanggaan, ia berkata, “Pengantin itu adalah saudaraku. Dan akulah yang dahulu menabuh rebana dalam pesta itu.”

Betapa waktu telah membalikkan keadaan. Dari pesta dan kemewahan, menjadi sepi dan kehilangan. Dari syair kesombongan tentang keabadian, menjadi kenyataan tentang kefanaan.

Rombongan itu menawarkan agar perempuan tua tersebut ikut bersama mereka ke Yaman. Namun ia menolak, “Aku tak sanggup meninggalkan makam mereka, hingga aku menyusul mereka.” Tak lama kemudian, ia pun wafat dan dimakamkan oleh rombongan tersebut.

Kisah ini menjadi cermin bagi hati yang mau merenung. Allah telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:

“Semua yang ada di bumi akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.” (QS Ar Rahman 26-27)

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Allah, Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu-lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Ali Imran 26)

Dunia ini terus berputar. Hari ini seseorang berada di puncak kemuliaan, esok bisa jadi ia berada di dasar kehinaan. Hari ini kita merasa kuat, kaya, dan dihormati; esok semua itu bisa hilang tanpa sisa. Tidak ada yang benar-benar milik kita. Harta, jabatan, keluarga, bahkan diri kita sendiri hanyalah titipan.

Yang kekal hanyalah Allah SWT. Maka janganlah kita tertipu oleh gemerlap dunia. Jangan sombong ketika diberi kelapangan, dan jangan putus asa ketika diuji kesempitan. Gunakan setiap nikmat sebagai jalan untuk bersyukur, berbagi, dan mendekat kepada-Nya.

Karena pada akhirnya, bukan kemewahan yang akan menyelamatkan kita, tetapi iman, amal saleh, dan hati yang tunduk kepada Allah.

Apa yang ada di genggaman kita, tidak mutlak milik kita. Semuanya hanya titipan yang di amanahkan kepada kita untuk menjaganya, yang sewaktu–waktu akan diambil-Nya.