Dari Istana Megah Menjadi Tenda Usang: Pelajaran Tentang Kefanaan Dunia
Pada masa pemerintahan Abu Bakar
ash-Shiddiq r.a., beliau pernah mengutus beberapa sahabat menuju Yaman. Di
tengah perjalanan, mereka singgah di sebuah mata air milik suatu kabilah Arab.
Di sana berdiri bangunan yang besar dan megah. Kabilah itu tampak hidup dalam
kemewahan; budak dan hewan ternak mereka sangat banyak. Saat itu mereka sedang
mengadakan pesta pernikahan yang meriah, dihadiri banyak tamu. Seorang
perempuan bernyanyi sambil menabuh rebana. Di antara syairnya terdengar kalimat
penuh kesombongan, “Wahai orang-orang yang iri, matilah dalam kesedihan. Kami
akan selalu seperti ini selamanya.”
Para utusan disambut dengan ramah oleh
pemimpin kabilah. Ia meminta maaf karena sibuk mengurus pernikahan anaknya.
Rombongan pun beristirahat sejenak, lalu melanjutkan perjalanan ke Yaman,
meninggalkan kemewahan dan pesta yang penuh kebanggaan itu.
Tiga puluh tahun berlalu. Masa Khulafaur
Rasyidin telah berakhir dan kepemimpinan beralih ke Mu'awiyah pada masa ke
Khalifahan bani Umayyah. Sang khalifah kembali mengirim utusan ke Yaman. Di
antara mereka ada yang pernah singgah di tempat yang sama pada masa Abu Bakar.
Ketika melewati wilayah itu, mereka memutuskan untuk berhenti.
Namun, pemandangan yang mereka lihat
sangat berbeda. Bangunan megah itu telah lenyap. Mata air yang dulu menjadi
sumber kehidupan pun tak lagi ada. Tidak tersisa kemewahan sedikit pun. Hanya
sebuah tenda usang berdiri di tengah kesunyian. Di dalamnya terdapat seorang
perempuan tua yang buta.
Mereka bertanya tentang kabilah yang
dahulu berjaya. Perempuan tua itu menjawab lirih, “Mereka semua telah wafat.”
Ketika ditanya tentang pengantin perempuan yang dulu berpesta dengan penuh
kebanggaan, ia berkata, “Pengantin itu adalah saudaraku. Dan akulah yang dahulu
menabuh rebana dalam pesta itu.”
Betapa waktu telah membalikkan keadaan.
Dari pesta dan kemewahan, menjadi sepi dan kehilangan. Dari syair kesombongan
tentang keabadian, menjadi kenyataan tentang kefanaan.
Rombongan itu menawarkan agar perempuan
tua tersebut ikut bersama mereka ke Yaman. Namun ia menolak, “Aku tak sanggup
meninggalkan makam mereka, hingga aku menyusul mereka.” Tak lama kemudian, ia
pun wafat dan dimakamkan oleh rombongan tersebut.
Kisah ini menjadi cermin bagi hati yang
mau merenung. Allah telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Semua
yang ada di bumi akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan
kemuliaan tetap kekal.” (QS Ar Rahman 26-27)
“Katakanlah
(Nabi Muhammad), “Wahai Allah, Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan
kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa
yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau
hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu-lah segala kebajikan.
Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Ali Imran 26)
Dunia ini terus berputar. Hari ini
seseorang berada di puncak kemuliaan, esok bisa jadi ia berada di dasar
kehinaan. Hari ini kita merasa kuat, kaya, dan dihormati; esok semua itu bisa
hilang tanpa sisa. Tidak ada yang benar-benar milik kita. Harta, jabatan,
keluarga, bahkan diri kita sendiri hanyalah titipan.
Yang kekal hanyalah Allah SWT. Maka
janganlah kita tertipu oleh gemerlap dunia. Jangan sombong ketika diberi
kelapangan, dan jangan putus asa ketika diuji kesempitan. Gunakan setiap nikmat
sebagai jalan untuk bersyukur, berbagi, dan mendekat kepada-Nya.
Karena pada akhirnya, bukan kemewahan
yang akan menyelamatkan kita, tetapi iman, amal saleh, dan hati yang tunduk
kepada Allah.
Apa yang ada di genggaman kita, tidak
mutlak milik kita. Semuanya hanya titipan yang di amanahkan kepada kita untuk
menjaganya, yang sewaktu–waktu akan diambil-Nya.