Satu Dentuman di Langit Surabaya: Blanggur, Tradisi, dan Kerinduan Ramadhan
Pada segmen memoriabilia ini, marilah
melintas batas ruang dan waktu, membawa imajinasi di masa lalu, menghadirkan
kembali suasana Ramadhan tempo doeloe.
Ramadhan merupakan bulan suci bagi umat
Islam yang memiliki makna spiritual dan sosial yang mendalam. Ramadhan, bulan
yang selalu dirindukan itu telah datang, bahkan merasa bahagia ketika bulan ini
datang pun menjadi tanda akan hidupnya iman di hati seseorang.
Ramadhan telah datang, telah hadir
mengobati kerinduan. Kerinduan akan suasananya, kerinduan kebersamaannya,
kerinduan pada pahalanya yang berlipat ganda, dan kerinduan– kerinduan lain
yang tak tergambarkan aneka bentuknya.
Suasana Ramadhan saat ini hadir dengan
suara notifikasi ponsel, jadwal digital, dan pengeras suara masjid yang
menjangkau setiap sudut kota. Namun ada satu kerinduan suasana yang sudah tidak
dapat ku jumpai saat ini. Suara musik patrol yang berkeliling melintasi kampung
membangunkan orang untuk sahur masih terdengar, tapi suara “dentuman meriam”
yang selalu dinanti menjelang Maghrib—sebuah dentuman tunggal yang menggema di
langit sore— sudah tidak pernah ada.
Orang–orang menyebutnya Blanggur.
Bukan petasan kecil yang berderet-deret meledak. Bukan pula suara ramai seperti
kembang api. Blanggur hanya satu kali berbunyi.
“DUARRR!”
Suaranya dalam, berat, menggetarkan dada.
Sesaat setelahnya, asap kelabu terlihat membumbung di langit senja. Lalu hening
beberapa detik… dan tak lama kemudian adzan Maghrib menyusul. Walaupun bentuk
fisik blanggur belum pernah ku lihat, tapi suara dentumannya dan kepulan asap
kelabu di angkasa masih melekat di ingatan.
Puasa hari itu selesai. Bukan hanya
karena waktu telah tiba, tetapi karena suara itu memberi kepastian.
Itulah mengapa meski sudah ada RRI yang
menyiarkan adzan maghirb, dan TVRI sebagai stasiun televisi satu–satunya
sudah ada, suara dentuman blanggur tetap terasa berbeda, tetap dinanti. Ia
tidak hanya terdengar—ia dirasakan.
Mengapa?
Karena ia bukan sekadar alat penanda
waktu. Ia adalah simbol kebersamaan lokal. Sebuah tradisi kampung yang hidup
berdampingan dengan modernitas. Blanggur adalah penanda rasa. Rasa tegang
menunggu detik berbuka. Rasa harap yang menggantung di ujung senja. Rasa lega
ketika puasa seharian akhirnya ditutup dengan seteguk air dan sebutir kurma.
Jika meriam peringatan kemerdekaan di
sekitar Tugu Pahlawan ditembakkan 17 kali dengan nuansa heroik, maka
blanggur Ramadan hanya satu kali—namun penuh makna personal. Yang satu milik
negara. Yang satu milik warga kampung dan kenangan menunggu berbuka puasa.
Dentuman itu telah hilang, tidak
terdengar lagi sejak tahun 1980-an. Tradisi perlahan menghilang, digantikan
teknologi dan berbagai aturan tentang keselamatan. Generasi hari ini mungkin
tak pernah melihat asap kelabu membelah langit senja sebagai tanda berbuka.
Namun bagi mereka yang pernah mendengarnya, satu dentuman itu tak pernah
benar–benar pergi. Ia masih tersimpan di sudut ingatan—bersama aroma kolak
hangat, suara sendok di gelas es cincau, dan doa lirih sebelum berbuka.
Suasana Ramadhan boleh berubah wajah.
Teknologi boleh berganti rupa. Tetapi kenangan tentang satu dentuman di langit
itu… akan selalu hidup di hati.