Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

26 Februari 2026

Satu Dentuman di Langit Surabaya: Blanggur, Tradisi, dan Kerinduan Ramadhan

 

Pada segmen memoriabilia ini, marilah melintas batas ruang dan waktu, membawa imajinasi di masa lalu, menghadirkan kembali suasana Ramadhan tempo doeloe.

Ramadhan merupakan bulan suci bagi umat Islam yang memiliki makna spiritual dan sosial yang mendalam. Ramadhan, bulan yang selalu dirindukan itu telah datang, bahkan merasa bahagia ketika bulan ini datang pun menjadi tanda akan hidupnya iman di hati seseorang.

Ramadhan telah datang, telah hadir mengobati kerinduan. Kerinduan akan suasananya, kerinduan kebersamaannya, kerinduan pada pahalanya yang berlipat ganda, dan kerinduan– kerinduan lain yang tak tergambarkan aneka bentuknya.

Suasana Ramadhan saat ini hadir dengan suara notifikasi ponsel, jadwal digital, dan pengeras suara masjid yang menjangkau setiap sudut kota. Namun ada satu kerinduan suasana yang sudah tidak dapat ku jumpai saat ini. Suara musik patrol yang berkeliling melintasi kampung membangunkan orang untuk sahur masih terdengar, tapi suara “dentuman meriam” yang selalu dinanti menjelang Maghrib—sebuah dentuman tunggal yang menggema di langit sore— sudah tidak pernah ada.

Orang–orang menyebutnya Blanggur. Bukan petasan kecil yang berderet-deret meledak. Bukan pula suara ramai seperti kembang api. Blanggur hanya satu kali berbunyi.

“DUARRR!”

Suaranya dalam, berat, menggetarkan dada. Sesaat setelahnya, asap kelabu terlihat membumbung di langit senja. Lalu hening beberapa detik… dan tak lama kemudian adzan Maghrib menyusul. Walaupun bentuk fisik blanggur belum pernah ku lihat, tapi suara dentumannya dan kepulan asap kelabu di angkasa masih melekat di ingatan.

Puasa hari itu selesai. Bukan hanya karena waktu telah tiba, tetapi karena suara itu memberi kepastian.

Itulah mengapa meski sudah ada RRI yang menyiarkan adzan maghirb, dan TVRI sebagai stasiun televisi satu–satunya sudah ada, suara dentuman blanggur tetap terasa berbeda, tetap dinanti. Ia tidak hanya terdengar—ia dirasakan.

Mengapa?

Karena ia bukan sekadar alat penanda waktu. Ia adalah simbol kebersamaan lokal. Sebuah tradisi kampung yang hidup berdampingan dengan modernitas. Blanggur adalah penanda rasa. Rasa tegang menunggu detik berbuka. Rasa harap yang menggantung di ujung senja. Rasa lega ketika puasa seharian akhirnya ditutup dengan seteguk air dan sebutir kurma.

Jika meriam peringatan kemerdekaan di sekitar Tugu Pahlawan ditembakkan 17 kali dengan nuansa heroik, maka blanggur Ramadan hanya satu kali—namun penuh makna personal. Yang satu milik negara. Yang satu milik warga kampung dan kenangan menunggu berbuka puasa.

Dentuman itu telah hilang, tidak terdengar lagi sejak tahun 1980-an. Tradisi perlahan menghilang, digantikan teknologi dan berbagai aturan tentang keselamatan. Generasi hari ini mungkin tak pernah melihat asap kelabu membelah langit senja sebagai tanda berbuka. Namun bagi mereka yang pernah mendengarnya, satu dentuman itu tak pernah benar–benar pergi. Ia masih tersimpan di sudut ingatan—bersama aroma kolak hangat, suara sendok di gelas es cincau, dan doa lirih sebelum berbuka.

Suasana Ramadhan boleh berubah wajah. Teknologi boleh berganti rupa. Tetapi kenangan tentang satu dentuman di langit itu… akan selalu hidup di hati.