Ibnu Mas‘ud Sahabat Dekat Rasulullah
Pada masa-masa awal Islam, Rasulullah
menyampaikan dakwah dengan penuh kehati-hatian. Selama beberapa waktu, ajaran
Islam disampaikan secara sembunyi-sembunyi kepada orang-orang terdekat yang
hatinya telah dibukakan oleh Allah. Namun, ketika perintah Allah turun agar
dakwah disampaikan secara terbuka, keadaan pun berubah.
Mekkah bukanlah tempat yang ramah bagi
kebenaran. Kaum Quraisy menentang Islam dengan keras. Mereka mengejek,
menghina, menyiksa, bahkan mengancam siapa pun yang berani mengikuti
Rasulullah. Dakwah Islam bukan hanya diuji dengan kata-kata, tetapi juga dengan
kekerasan fisik dan mental.
Suatu hari, Rasulullah mengumpulkan para
sahabatnya. Wajah-wajah penuh iman itu memandang beliau dengan penuh perhatian.
Dalam pertemuan itu, Rasulullah menyampaikan rencana dakwah secara
terang-terangan dan menawarkan kepada para sahabat untuk ikut menyampaikan
risalah Islam di hadapan kaum Quraisy. Berdakwah secara terbuka kepada kaum
Quraisy.
Para sahabat terdiam. Mereka bukan takut
mati, tetapi mereka memahami betapa beratnya cobaan yang akan dihadapi. Dakwah
terbuka berarti siap menanggung siksaan tanpa perlindungan.
Di tengah keheningan itu, berdirilah
seorang sahabat yang secara fisik tampak lemah. Tubuhnya kecil, dan bukan
berasal dari kabilah terpandang. Dialah Ibnu Mas‘ud.
Dengan penuh keyakinan, ia menyatakan
kesediaannya.
Para sahabat lain memandang Ibnu Mas‘ud
dengan perasaan campur aduk. Mereka kagum dengan keberaniannya, tetapi juga
khawatir. Mereka tahu, Ibnu Mas‘ud tidak memiliki kekuatan fisik dan pelindung
dari kaumnya. Jika disiksa oleh kaum Quraisy, hampir tidak ada yang bisa
membelanya.
Namun Ibnu Mas‘ud tidak mundur. Baginya,
menyampaikan kebenaran lebih penting daripada keselamatan diri. Imannya telah
mengalahkan rasa takutnya.
Nama asli Ibnu Mas‘ud adalah Abdullah bin
Mas‘ud. Sebelum masuk Islam, ia hanyalah seorang pemuda miskin yang bekerja
sebagai penggembala kambing. Setiap hari ia menggiring kambing-kambing di bawah
terik matahari Mekkah.
Suatu hari, ketika sedang menggembala, ia
didatangi Rasulullah dan Abu Bakar. Mereka meminta susu kambing untuk diminum.
Abdullah bin Mas‘ud menjelaskan dengan
jujur bahwa kambing-kambing itu bukan miliknya. Namun Rasulullah meminta
ditunjukkan seekor kambing betina yang belum pernah kawin dan tidak
mengeluarkan susu.
Permintaan itu membuatnya heran. Ia tahu
betul bahwa kambing seperti itu tidak mungkin mengeluarkan susu. Meski
demikian, ia tetap menuruti permintaan tersebut.
Rasulullah mengusap kambing itu dan
berdoa dengan penuh kekhusyukan. Atas izin Allah, sesuatu yang di luar nalar
terjadi. Ambing kambing itu membesar dan penuh dengan susu. Rasulullah lalu
memerahnya, dan susu pun mengalir dengan deras.
Rasulullah dan Abu Bakar meminum susu itu
hingga puas. Setelah itu, kambing tersebut kembali seperti semula, seolah tidak
pernah mengeluarkan susu.
Abdullah bin Mas‘ud terpaku. Hatinya
bergetar. Ia sadar, orang yang berdiri di hadapannya bukanlah manusia biasa.
Setelah Rasulullah dan Abu Bakar pergi,
Abdullah bin Mas‘ud berkata dalam hatinya,
“Orang itu benar-benar istimewa. Hanya dengan berdoa, Allah mengabulkan
permintaannya. Aku ingin mengetahui ilmu yang dimilikinya.”
Rasa ingin tahu itu berubah menjadi
kerinduan. Ia pun mencari Rasulullah dan akhirnya bertemu kembali dengan
beliau. Dengan penuh kerendahan hati, ia meminta agar diajari ilmu tersebut.
Rasulullah tersenyum dan berkata, “Pada waktunya nanti engkau akan
mendapatkannya. Engkau akan menjadi orang besar.”
Ucapan itu kelak terbukti sebagai
kenyataan.
Seiring berjalannya waktu, Abdullah bin
Mas‘ud menjadi salah satu sahabat Rasulullah yang paling dekat dengan
Al-Qur’an. Ia dikenal sangat teliti dalam menghafal, membaca, dan memahami
ayat-ayat Allah. Rasulullah pernah mengatakan, “Barang siapa ingin membaca
Al-Qur’an sebagaimana ia diturunkan, maka bacalah sebagaimana bacaan Ibnu Ummi
‘Abidin.”
Pujian ini menunjukkan betapa tinggi
kedudukan Ibnu Mas‘ud dalam menjaga kemurnian Al-Qur’an.
Ibnu Mas‘ud menjadi sahabat dekat
Rasulullah. Ia sering keluar masuk rumah Rasulullah tanpa penghalang. Bahkan
Rasulullah pernah berkata kepadanya, “Aku izinkan engkau masuk tanpa tabir
hijab.” Ini adalah tanda kepercayaan dan kedekatan yang luar biasa.
Dari seorang penggembala kambing yang
sederhana, Ibnu Mas‘ud berubah menjadi ulama besar umat Islam, perawi hadits,
dan rujukan ilmu bagi para sahabat serta generasi setelahnya.