Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

s

21 Februari 2026

Ibnu Mas‘ud Sahabat Dekat Rasulullah

 

Pada masa-masa awal Islam, Rasulullah menyampaikan dakwah dengan penuh kehati-hatian. Selama beberapa waktu, ajaran Islam disampaikan secara sembunyi-sembunyi kepada orang-orang terdekat yang hatinya telah dibukakan oleh Allah. Namun, ketika perintah Allah turun agar dakwah disampaikan secara terbuka, keadaan pun berubah.

Mekkah bukanlah tempat yang ramah bagi kebenaran. Kaum Quraisy menentang Islam dengan keras. Mereka mengejek, menghina, menyiksa, bahkan mengancam siapa pun yang berani mengikuti Rasulullah. Dakwah Islam bukan hanya diuji dengan kata-kata, tetapi juga dengan kekerasan fisik dan mental.

Suatu hari, Rasulullah mengumpulkan para sahabatnya. Wajah-wajah penuh iman itu memandang beliau dengan penuh perhatian. Dalam pertemuan itu, Rasulullah menyampaikan rencana dakwah secara terang-terangan dan menawarkan kepada para sahabat untuk ikut menyampaikan risalah Islam di hadapan kaum Quraisy. Berdakwah secara terbuka kepada kaum Quraisy.

Para sahabat terdiam. Mereka bukan takut mati, tetapi mereka memahami betapa beratnya cobaan yang akan dihadapi. Dakwah terbuka berarti siap menanggung siksaan tanpa perlindungan.

Di tengah keheningan itu, berdirilah seorang sahabat yang secara fisik tampak lemah. Tubuhnya kecil, dan bukan berasal dari kabilah terpandang. Dialah Ibnu Mas‘ud.

Dengan penuh keyakinan, ia menyatakan kesediaannya.

Para sahabat lain memandang Ibnu Mas‘ud dengan perasaan campur aduk. Mereka kagum dengan keberaniannya, tetapi juga khawatir. Mereka tahu, Ibnu Mas‘ud tidak memiliki kekuatan fisik dan pelindung dari kaumnya. Jika disiksa oleh kaum Quraisy, hampir tidak ada yang bisa membelanya.

Namun Ibnu Mas‘ud tidak mundur. Baginya, menyampaikan kebenaran lebih penting daripada keselamatan diri. Imannya telah mengalahkan rasa takutnya.

Nama asli Ibnu Mas‘ud adalah Abdullah bin Mas‘ud. Sebelum masuk Islam, ia hanyalah seorang pemuda miskin yang bekerja sebagai penggembala kambing. Setiap hari ia menggiring kambing-kambing di bawah terik matahari Mekkah.

Suatu hari, ketika sedang menggembala, ia didatangi Rasulullah dan Abu Bakar. Mereka meminta susu kambing untuk diminum.

Abdullah bin Mas‘ud menjelaskan dengan jujur bahwa kambing-kambing itu bukan miliknya. Namun Rasulullah meminta ditunjukkan seekor kambing betina yang belum pernah kawin dan tidak mengeluarkan susu.

Permintaan itu membuatnya heran. Ia tahu betul bahwa kambing seperti itu tidak mungkin mengeluarkan susu. Meski demikian, ia tetap menuruti permintaan tersebut.

Rasulullah mengusap kambing itu dan berdoa dengan penuh kekhusyukan. Atas izin Allah, sesuatu yang di luar nalar terjadi. Ambing kambing itu membesar dan penuh dengan susu. Rasulullah lalu memerahnya, dan susu pun mengalir dengan deras.

Rasulullah dan Abu Bakar meminum susu itu hingga puas. Setelah itu, kambing tersebut kembali seperti semula, seolah tidak pernah mengeluarkan susu.

Abdullah bin Mas‘ud terpaku. Hatinya bergetar. Ia sadar, orang yang berdiri di hadapannya bukanlah manusia biasa.

Setelah Rasulullah dan Abu Bakar pergi, Abdullah bin Mas‘ud berkata dalam hatinya,
“Orang itu benar-benar istimewa. Hanya dengan berdoa, Allah mengabulkan permintaannya. Aku ingin mengetahui ilmu yang dimilikinya.”

Rasa ingin tahu itu berubah menjadi kerinduan. Ia pun mencari Rasulullah dan akhirnya bertemu kembali dengan beliau. Dengan penuh kerendahan hati, ia meminta agar diajari ilmu tersebut. Rasulullah tersenyum dan berkata, “Pada waktunya nanti engkau akan mendapatkannya. Engkau akan menjadi orang besar.”

Ucapan itu kelak terbukti sebagai kenyataan.

Seiring berjalannya waktu, Abdullah bin Mas‘ud menjadi salah satu sahabat Rasulullah yang paling dekat dengan Al-Qur’an. Ia dikenal sangat teliti dalam menghafal, membaca, dan memahami ayat-ayat Allah. Rasulullah pernah mengatakan, “Barang siapa ingin membaca Al-Qur’an sebagaimana ia diturunkan, maka bacalah sebagaimana bacaan Ibnu Ummi ‘Abidin.”

Pujian ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan Ibnu Mas‘ud dalam menjaga kemurnian Al-Qur’an.

Ibnu Mas‘ud menjadi sahabat dekat Rasulullah. Ia sering keluar masuk rumah Rasulullah tanpa penghalang. Bahkan Rasulullah pernah berkata kepadanya, “Aku izinkan engkau masuk tanpa tabir hijab.” Ini adalah tanda kepercayaan dan kedekatan yang luar biasa.

Dari seorang penggembala kambing yang sederhana, Ibnu Mas‘ud berubah menjadi ulama besar umat Islam, perawi hadits, dan rujukan ilmu bagi para sahabat serta generasi setelahnya.