Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

16 Januari 2026

Ketika Seekor Semut Menyangkal Perjalanan Jauh — Belajar Memahami Isra’ dan Mi‘raj dengan Akal Sehat

 

Banyak orang termasuk orang–orang ateis, menolak peristiwa Isra’ dan Mi‘raj Nabi Muhammad  dengan satu alasan sederhana: “Sesuatu yang tidak masuk akal dan tidak ilmiah.” Menurut mereka, perjalanan jauh dalam satu malam dan naik ke langit adalah sesuatu yang mustahil menurut sains.

Sudah benarkah menganggap sesuatu itu “mustahil” hanya karena ketidak mampuan kita untuk menjelaskannya? Untuk menjawabnya, mari kita mulai dari sebuah analogi yang sangat sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

KISAH SEEKOR SEMUT

Bayangkan ada seekor semut di pagi hari bercerita kepada teman–temannya bahwa ia semalam pergi ke kota antah barantah yang sangat jauh menggunakan kendaraan yang dapat terbang keangkasa dengan sangat cepat, lalu kembali sebelum pagi.

Para semut lain tentu akan menertawakannya. Bagi mereka (para semut):

·                 Jarak jauh hanya dapat ditempuh dengan berjalan,

·                 Perjalanan jauh membutuhkan waktu sangat lama, dan

·                 Tidak ada cara lain selain mengandalkan kemampuan tubuh semut itu sendiri.

Kesimpulan para semut pun bulat: temannya pasti berdusta atau sudah gila.

Namun yang tidak mereka ketahui adalah satu hal penting: semut itu ikut terbawa dalam perjalanan sebuah pesawat manusia yang melakukan perjalanan pulang–pergi dalam semalam.

Bagi semut–semut yang seluruh hidupnya di tanah, dinding sarang, dan remah-remah makanan, gagasan “terbang di langit” adalah sesuatu yang melampaui kerangka pengetahuan mereka. Bukan karena itu mustahil, tetapi karena mereka belum pernah mengalaminya. Maka, yang berbeda dianggap aneh, dan yang di luar pengalaman dianggap mustahil.

Semut yang pernah “naik pesawat” mempunyai pengalaman langsung yang dapat memperluas cakrawala berpikirnya. Ia tahu bahwa dunia jauh lebih luas daripada apa yang selama ini ia pahami. Namun justru pengalaman itulah yang membuatnya sulit dipercaya.

Pesawat itu nyata. Perjalanan itu juga nyata. Yang tidak tepat bukan pada ceritanya, tetapi cara berpikir para semut. Kesalahan bukan pada akal yang dipunyai semut, tapi kesalahan pada sudut pandangnya. Para semut tidak salah dalam berlogika. Mereka hanya menilai realitas berdasarkan pengalaman mereka sendiri, menganggap batas kemampuan mereka sebagai batas segala sesuatu, dan tidak menyadari adanya dunia dan teknologi jauh lebih maju di atas dunia dan teknologi yang mereka punyai saat itu. Mereka melupakan satu hal penting, realitas tidak harus tunduk pada apa yang mampu dipahaminya.

Ketika manusia modern, menolak Isra’ dan Mi‘raj dengan alasan melanggar hukum fisika, tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, dan tidak masuk akal, sebenarnya manusia sedang berada di posisi para semut dalam cerita diatas.

Manusia memang hebat, tetapi tetap terbatas kemampuannya. Sains hanya memahami sebagian kecil alam semesta, masih banyak hal di alam semesta yang belum diketahui. Maka menyimpulkan sesuatu itu “mustahil” hanya karena “belum mampu untuk menjelaskan” adalah sikap yang terlalu tergesa-gesa.

Sains adalah alat untuk memahami alam, tetapi sains punya batas, yaitu:

·       Sains hanya meneliti apa yang bisa diamati dan diulang,

·       Sains tidak dirancang untuk menilai peristiwa yang terjadi satu kali,

·       Sains tidak dapat menghakimi perkara metafisika.

Menuntut Isra’ dan Mi‘raj dibuktikan secara ilmiah sama seperti menuntut semut dalam cerita diatas untuk membuktikan keberadaan pesawat dengan pengetahuan semut. Ketika gagal membuktikan, itu bukan berarti pesawat tidak ada, melainkan karena alat dan sudut pandangnya terbatas.

Beberapa ratus tahun yang lalu manusia menganggap dapat terbang adalah sesuatu yang mustahil. Perjalanan lintas benua dalam hitungan jam dianggap suatu khayalan belaka. Berbicara jarak jauh tanpa bertemu dianggap sihir dan lain sebagainya, yang pada hari ini, semua itu biasa saja.

Jika teknologi manusia saja mampu melampaui nalar generasi sebelumnya, maka sangat tidak logis jika kita mengatakan, “Tidak mungkin ada cara di luar pengetahuan manusia saat ini.”

Mukjizat bukan melanggar hukum alam, seperti manusia yang menciptakan pesawat tanpa melanggar “hukum semut”.  Tuhan tidak melanggar hukum alam, karena Tuhan menguasainya. Tuhan maha kuasa atas segalanya.

Jadi, apakah Isra’ dan Mi‘raj bertentangan dengan akal?

Jawabannya: tidak.

Isra’ dan Mi‘raj nabi Muhammad,

·          Memang tidak bisa diuji di laboratorium

·          Memang berada di luar jangkauan sains

·          Tetapi tidak mustahil secara logis.

Penolakan terhadapnya bukan kesimpulan ilmiah, melainkan pilihan keyakinan.

Kisah semut ini mengajarkan satu hal penting: Isra’ dan Mi‘raj, bagi orang beriman, adalah kebenaran wahyu. Bagi sains, ia berada di luar wilayah kajiannya. Dan bagi akal sehat, ia mengingatkan bahwa manusia—seperti semut—memiliki keterbatasan.

Mungkin masalahnya bukan pada kisahnya yang terlalu besar, melainkan pada cara pandang kita yang terlalu sempit. Atau karena sebuah keangkuhan, sehingga tidak mau untuk mengakui sebuah kebenaran.

Kebenaran sering kali ditolak bukan karena salah, tetapi karena terlalu jauh dari batas pengalaman pendengarnya. Diperlukan kerendahan hati dalam menilai sesuatu. Bahwa apa yang belum kita lihat, belum tentu tidak ada, dan apa yang belum kita pahami, belum tentu mustahil.