Ketika Seekor Semut Menyangkal Perjalanan Jauh — Belajar Memahami Isra’ dan Mi‘raj dengan Akal Sehat
Banyak orang termasuk orang–orang ateis,
menolak peristiwa Isra’ dan Mi‘raj Nabi Muhammad dengan satu alasan sederhana: “Sesuatu
yang tidak masuk akal dan tidak ilmiah.” Menurut mereka, perjalanan jauh
dalam satu malam dan naik ke langit adalah sesuatu yang mustahil menurut sains.
Sudah benarkah menganggap sesuatu itu
“mustahil” hanya karena ketidak mampuan kita untuk menjelaskannya? Untuk
menjawabnya, mari kita mulai dari sebuah analogi yang sangat sederhana dan
dekat dengan kehidupan sehari-hari.
KISAH SEEKOR SEMUT
Bayangkan ada seekor semut di pagi hari
bercerita kepada teman–temannya bahwa ia semalam pergi ke kota antah barantah
yang sangat jauh menggunakan kendaraan yang dapat terbang keangkasa dengan
sangat cepat, lalu kembali sebelum pagi.
Para semut
lain tentu akan menertawakannya. Bagi mereka (para semut):
·
Jarak jauh
hanya dapat ditempuh dengan berjalan,
·
Perjalanan
jauh membutuhkan waktu sangat lama, dan
·
Tidak ada
cara lain selain mengandalkan kemampuan tubuh semut itu sendiri.
Kesimpulan para semut pun bulat: temannya
pasti berdusta atau sudah gila.
Namun yang tidak mereka ketahui adalah
satu hal penting: semut itu ikut terbawa dalam perjalanan sebuah pesawat
manusia yang melakukan perjalanan pulang–pergi dalam semalam.
Bagi semut–semut yang seluruh hidupnya di
tanah, dinding sarang, dan remah-remah makanan, gagasan “terbang di langit”
adalah sesuatu yang melampaui kerangka pengetahuan mereka. Bukan karena itu
mustahil, tetapi karena mereka belum pernah mengalaminya. Maka, yang berbeda
dianggap aneh, dan yang di luar pengalaman dianggap mustahil.
Semut yang pernah “naik pesawat”
mempunyai pengalaman langsung yang dapat memperluas cakrawala berpikirnya. Ia
tahu bahwa dunia jauh lebih luas daripada apa yang selama ini ia pahami. Namun
justru pengalaman itulah yang membuatnya sulit dipercaya.
Pesawat itu nyata. Perjalanan itu juga
nyata. Yang tidak tepat bukan pada ceritanya, tetapi cara berpikir para semut.
Kesalahan bukan pada akal yang dipunyai semut, tapi kesalahan pada sudut pandangnya.
Para semut tidak salah dalam berlogika. Mereka hanya menilai realitas
berdasarkan pengalaman mereka sendiri, menganggap batas kemampuan mereka
sebagai batas segala sesuatu, dan tidak menyadari adanya dunia dan teknologi
jauh lebih maju di atas dunia dan teknologi yang mereka punyai saat itu. Mereka
melupakan satu hal penting, realitas tidak harus tunduk pada apa yang mampu
dipahaminya.
Ketika
manusia modern, menolak Isra’ dan Mi‘raj dengan alasan melanggar hukum fisika,
tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, dan tidak masuk akal, sebenarnya manusia
sedang berada di posisi para semut dalam cerita diatas.
Manusia
memang hebat, tetapi tetap terbatas kemampuannya. Sains hanya memahami sebagian
kecil alam semesta, masih banyak hal di alam semesta yang belum diketahui. Maka
menyimpulkan sesuatu itu “mustahil” hanya karena “belum mampu untuk
menjelaskan” adalah sikap yang terlalu tergesa-gesa.
Sains
adalah alat untuk memahami alam, tetapi sains punya batas, yaitu:
·
Sains hanya
meneliti apa yang bisa diamati dan diulang,
·
Sains tidak
dirancang untuk menilai peristiwa yang terjadi satu kali,
·
Sains tidak
dapat menghakimi perkara metafisika.
Menuntut Isra’ dan Mi‘raj dibuktikan
secara ilmiah sama seperti menuntut semut dalam cerita diatas untuk membuktikan
keberadaan pesawat dengan pengetahuan semut. Ketika gagal membuktikan, itu bukan
berarti pesawat tidak ada, melainkan karena alat dan sudut pandangnya
terbatas.
Beberapa ratus tahun yang lalu manusia
menganggap dapat terbang adalah sesuatu yang mustahil. Perjalanan lintas benua
dalam hitungan jam dianggap suatu khayalan belaka. Berbicara jarak jauh tanpa
bertemu dianggap sihir dan lain sebagainya, yang pada hari ini, semua itu biasa
saja.
Jika teknologi manusia saja mampu
melampaui nalar generasi sebelumnya, maka sangat tidak logis jika kita
mengatakan, “Tidak mungkin ada cara di luar pengetahuan manusia saat ini.”
Mukjizat bukan melanggar hukum alam,
seperti manusia yang menciptakan pesawat tanpa melanggar “hukum semut”. Tuhan tidak melanggar hukum alam, karena
Tuhan menguasainya. Tuhan maha kuasa atas segalanya.
Jadi, apakah Isra’ dan Mi‘raj
bertentangan dengan akal?
Jawabannya:
tidak.
Isra’ dan
Mi‘raj nabi Muhammad,
·
Memang
tidak bisa diuji di laboratorium
·
Memang
berada di luar jangkauan sains
·
Tetapi
tidak mustahil secara logis.
Penolakan terhadapnya bukan kesimpulan
ilmiah, melainkan pilihan keyakinan.
Kisah semut ini mengajarkan satu hal penting:
Isra’ dan Mi‘raj, bagi orang beriman, adalah kebenaran wahyu. Bagi sains, ia
berada di luar wilayah kajiannya. Dan bagi akal sehat, ia mengingatkan bahwa
manusia—seperti semut—memiliki keterbatasan.
Mungkin masalahnya bukan pada kisahnya
yang terlalu besar, melainkan pada cara pandang kita yang terlalu sempit. Atau
karena sebuah keangkuhan, sehingga tidak mau untuk mengakui sebuah kebenaran.
Kebenaran sering kali ditolak bukan
karena salah, tetapi karena terlalu jauh dari batas pengalaman pendengarnya.
Diperlukan kerendahan hati dalam menilai sesuatu. Bahwa apa yang belum kita
lihat, belum tentu tidak ada, dan apa yang belum kita pahami, belum tentu
mustahil.