Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

01 Maret 2026

Seorang Nabi yang Meminta Matahari Menunda Tenggelam

 

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari sahabat Abu Hurairah, Rasulullah mengisahkan tentang seorang nabi dari Bani Israil yang berangkat untuk membuka kembali Tanah Suci—negeri yang dahulu pernah Allah anugerahkan kepada Nabi Musa dan kaumnya. Namun karena kedurhakaan Bani Israil, mereka terusir dan terlunta-lunta selama empat puluh tahun tanpa memiliki negeri tetap.

Nama nabi tersebut adalah Yusya’ bin Nun. Beliau dikenal sebagai murid sekaligus pendamping Nabi Musa dalam perjalanannya bertemu dengan Nabi Khidhir.

Ketika mempersiapkan pasukan untuk merebut Tanah Suci, Yusya’ bin Nun menyeleksi prajuritnya dengan sangat cermat. Ia tidak membangun kekuatan berdasarkan jumlah, melainkan kualitas dan keteguhan hati. Ada tiga golongan yang tidak ia sertakan dalam peperangan:

1.     Laki-laki yang baru menikah dan belum menggauli istrinya, karena dikhawatirkan hatinya masih terikat kuat pada kenikmatan dunia dan keluarganya.

2.     Orang yang sedang membangun rumah dan belum menyelesaikan atapnya, karena pikirannya akan terpecah oleh urusan yang belum tuntas.

3.     Orang yang sedang menunggu hewan ternaknya melahirkan, karena harapan terhadap keuntungan dunia bisa melemahkan semangat juangnya.

Yusya’ bin Nun ingin pasukannya berangkat dengan hati yang bersih dari keterikatan dunia, fokus hanya pada ketaatan dan perjuangan di jalan Allah.

Dalam sebagian kisah Israiliyat disebutkan bahwa negeri yang akan ditaklukkan itu dihuni oleh bangsa Amalek yang bertubuh tinggi besar dan dikenal kuat. Namun Yusya’ bin Nun dan pasukannya tetap maju dengan penuh keyakinan.

Peperangan terjadi pada hari Jumat. Pertempuran berlangsung sengit hingga matahari hampir tenggelam, sementara kemenangan belum juga diraih. Jika matahari terbenam, berarti telah masuk hari Sabtu, hari yang disucikan oleh Bani Israil dan diharamkan bagi mereka untuk berperang. Jika perang dihentikan, musuh akan memiliki kesempatan memperkuat pertahanan.

Dalam keadaan genting itu, Yusya’ bin Nun menghadap ke arah matahari dan berkata,
“Engkau diperintahkan, dan aku pun diperintahkan.”

Kemudian beliau berdoa dengan penuh keyakinan, “Ya Allah, tahanlah ia untuk kami.”

Maka Allah menunda terbenamnya matahari hingga kemenangan diraih. Inilah salah satu mukjizat besar yang Allah karuniakan kepada nabi-Nya.

Setelah kemenangan diperoleh, seluruh harta rampasan perang dikumpulkan. Pada masa itu, syariat belum menghalalkan pembagian harta rampasan perang. Harta tersebut dikumpulkan, lalu api dari langit akan turun membakarnya sebagai tanda diterimanya amal tersebut.

Namun ketika api tidak kunjung turun, Yusya’ bin Nun berkata, “Di antara kalian ada yang berkhianat terhadap harta rampasan perang.”

Setiap kabilah diminta mengirimkan perwakilannya untuk dibaiat. Ketika salah seorang dibaiat, tangannya melekat pada tangan Yusya’ bin Nun dan tidak dapat dilepaskan. Ia dan kaumnya akhirnya mengakui bahwa mereka menyembunyikan sebongkah emas berbentuk kepala sapi. Setelah dikembalikan dan disatukan dengan rampasan yang lain, barulah api dari langit turun membakar semuanya.

Harta rampasan perang diharamkan atas umat-umat sebelum umat Nabi Muhammad. Syariat tersebut kemudian dihapus (dimansukh) dan Allah menghalalkannya bagi umat Rasulullah sebagai bentuk kemuliaan dan keringanan.

Hadis sahih tentang kisah Nabi Yusya’ bin Nun ini sekaligus meluruskan berbagai riwayat dalam Taurat yang telah mengalami banyak perubahan dan penyimpangan.