Hingga Aku Menemanimu di Surga
Dalam sebuah kisah yang diriwayatkan oleh
Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/624) no. 4088 dari Abu Musa radhiyallahu
‘anhu — beliau menilai sanadnya sahih meskipun tidak diriwayatkan oleh Imam
Bukhari dan Imam Muslim — disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam pernah berkunjung kepada seorang Arab Badui.
Orang Badui itu memuliakan dan menjamu
Rasulullah dengan penuh penghormatan. Maka Rasulullah pun mengundangnya untuk
datang ke tempat beliau sebagai balasan atas kebaikannya.
Suatu hari, Badui itu datang menemui
Rasulullah. Beliau bertanya, “Wahai Fulan, katakanlah apa hajatmu?”
Badui itu menjawab, “Wahai Rasulullah,
aku meminta seekor unta betina lengkap dengan pelananya, serta seekor kambing
betina yang bisa diperah susunya oleh keluargaku.” Ia mengulang permintaannya
hingga dua kali.
Rasulullah kemudian bersabda, “Mengapa
engkau tidak seperti nenek tua dari Bani Israil?”
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah,
siapakah nenek tua dari Bani Israil itu?”
Maka Rasulullah pun menceritakan kisah
yang terjadi pada masa Nabi Musa ‘alaihissalam.
Setelah selamat dari kejaran Fir’aun dan
menyeberangi Laut Merah, Nabi Musa bersama Bani Israil tersesat dalam
perjalanan mereka. Nabi Musa merasakan ada sesuatu yang tidak biasa. Beliau pun
bertanya kepada kaumnya apakah ada amanah atau janji yang belum mereka tunaikan.
Para pemuka Bani Israil berkata,
“Sesungguhnya Nabi Yusuf pernah mengambil janji dari kami atas nama Allah, agar
kami tidak meninggalkan Mesir kecuali membawa tulang–tulang nya bersama kami.”
Nabi Musa bertanya, “Siapakah yang
mengetahui letak kuburnya?”
Mereka menjawab, “Hanya seorang wanita
tua dari Bani Israil yang mengetahuinya.”
Wanita itu pun dihadirkan.
Nabi Musa berkata, “Tunjukkan kepadaku di
mana kuburannya.”
Wanita tua itu menjawab dengan tegas,
“Aku tidak akan menunjukkannya hingga engkau berjanji bahwa aku akan menemanimu
di Surga.”
Nabi Musa sempat merasa berat dengan
permintaan tersebut. Namun Allah mewahyukan kepadanya agar mengabulkan
permintaan wanita itu.
Wanita tua itu lalu membawa mereka ke
sebuah danau dan berkata, “Kuraslah airnya.”
Setelah airnya surut, ia berkata,
“Galilah di sini.”
Mereka pun menggali, dan ditemukanlah
tulang–tulang Nabi Yusuf. Ketika tulang–tulang itu diangkat, jalan menjadi
terang bagaikan siang hari.
Seandainya Arab Badui tadi meminta kepada
beliau seperti permintaan wanita tua Bani Israil itu kepada Nabi Musa, niscaya
ia akan memperoleh keberuntungan yang jauh lebih besar. Sebab doa Rasulullah
adalah doa yang mustajab.
Kisah ini sempat membuat Syeikh Muhammad
Nasiruddin al-Albani kesulitan memahami hadis ini tentang tulang-tulang Nabi Yusuf. Sebab terdapat hadis, "Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi memakan jasad para nabi."
Namun beliau menemukan riwayat dari Ibnu
‘Umar bahwa ketika Rasulullah telah berusia lanjut, Tamim ad-Dari berkata,
“Wahai Rasulullah, bolehkah aku membuatkan mimbar untuk mengangkat
‘izhamun-mu?” Rasulullah mengizinkannya, lalu dibuatlah mimbar dua tingkat. (HR. Abu Dawud nomor 1081)
Kata “‘izhamun” secara bahasa memang
berarti tulang–tulang. Namun dalam penggunaan bahasa Arab, kata itu juga dapat
bermakna tubuh atau jasad secara keseluruhan. Dengan demikian, tidak ada
pertentangan antara kisah tersebut dan hadis tentang jasad para nabi.
Betapa sering kita
hanya meminta perkara dunia, padahal kesempatan untuk meminta Surga terbuka
luas. Kisah ini mengajarkan bahwa cita–cita seorang mukmin seharusnya melampaui
dunia. Ia tidak sekedar meminta rezeki dunia, tetapi meminta akhir yang mulia,
bersama para nabi di Surga.