Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

28 Februari 2026

Hingga Aku Menemanimu di Surga

 

Dalam sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/624) no. 4088 dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu — beliau menilai sanadnya sahih meskipun tidak diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim — disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkunjung kepada seorang Arab Badui.

Orang Badui itu memuliakan dan menjamu Rasulullah dengan penuh penghormatan. Maka Rasulullah pun mengundangnya untuk datang ke tempat beliau sebagai balasan atas kebaikannya.

Suatu hari, Badui itu datang menemui Rasulullah. Beliau bertanya, “Wahai Fulan, katakanlah apa hajatmu?”

Badui itu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku meminta seekor unta betina lengkap dengan pelananya, serta seekor kambing betina yang bisa diperah susunya oleh keluargaku.” Ia mengulang permintaannya hingga dua kali.

Rasulullah kemudian bersabda, “Mengapa engkau tidak seperti nenek tua dari Bani Israil?”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah nenek tua dari Bani Israil itu?”

Maka Rasulullah pun menceritakan kisah yang terjadi pada masa Nabi Musa ‘alaihissalam.

Setelah selamat dari kejaran Fir’aun dan menyeberangi Laut Merah, Nabi Musa bersama Bani Israil tersesat dalam perjalanan mereka. Nabi Musa merasakan ada sesuatu yang tidak biasa. Beliau pun bertanya kepada kaumnya apakah ada amanah atau janji yang belum mereka tunaikan.

Para pemuka Bani Israil berkata, “Sesungguhnya Nabi Yusuf pernah mengambil janji dari kami atas nama Allah, agar kami tidak meninggalkan Mesir kecuali membawa tulang–tulang nya bersama kami.”

Nabi Musa bertanya, “Siapakah yang mengetahui letak kuburnya?”

Mereka menjawab, “Hanya seorang wanita tua dari Bani Israil yang mengetahuinya.”

Wanita itu pun dihadirkan.

Nabi Musa berkata, “Tunjukkan kepadaku di mana kuburannya.”

Wanita tua itu menjawab dengan tegas, “Aku tidak akan menunjukkannya hingga engkau berjanji bahwa aku akan menemanimu di Surga.”

Nabi Musa sempat merasa berat dengan permintaan tersebut. Namun Allah mewahyukan kepadanya agar mengabulkan permintaan wanita itu.

Wanita tua itu lalu membawa mereka ke sebuah danau dan berkata, “Kuraslah airnya.”

Setelah airnya surut, ia berkata, “Galilah di sini.”

Mereka pun menggali, dan ditemukanlah tulang–tulang Nabi Yusuf. Ketika tulang–tulang itu diangkat, jalan menjadi terang bagaikan siang hari.

Seandainya Arab Badui tadi meminta kepada beliau seperti permintaan wanita tua Bani Israil itu kepada Nabi Musa, niscaya ia akan memperoleh keberuntungan yang jauh lebih besar. Sebab doa Rasulullah adalah doa yang mustajab.

Kisah ini sempat membuat Syeikh Muhammad Nasiruddin al-Albani kesulitan memahami hadis ini tentang tulang-tulang Nabi Yusuf. Sebab terdapat hadis, "Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi memakan jasad para nabi."

Namun beliau menemukan riwayat dari Ibnu ‘Umar bahwa ketika Rasulullah telah berusia lanjut, Tamim ad-Dari berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku membuatkan mimbar untuk mengangkat ‘izhamun-mu?” Rasulullah mengizinkannya, lalu dibuatlah mimbar dua tingkat. (HR. Abu Dawud nomor 1081)

Kata “‘izhamun” secara bahasa memang berarti tulang–tulang. Namun dalam penggunaan bahasa Arab, kata itu juga dapat bermakna tubuh atau jasad secara keseluruhan. Dengan demikian, tidak ada pertentangan antara kisah tersebut dan hadis tentang jasad para nabi.

Betapa sering kita hanya meminta perkara dunia, padahal kesempatan untuk meminta Surga terbuka luas. Kisah ini mengajarkan bahwa cita–cita seorang mukmin seharusnya melampaui dunia. Ia tidak sekedar meminta rezeki dunia, tetapi meminta akhir yang mulia, bersama para nabi di Surga.