Keberanian Sejati

adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

06 Desember 2025

Pewarisan Sifat dari Nabi Adam ke Anak Cucunya

 

Sebagai umat beragama, kita meyakini bahwa Nabi Adam alayhi salam adalah manusia pertama di bumi dan menjadi nenek moyang seluruh manusia. Keyakinan ini juga mencakup bahwa sifat-sifat beliau diwariskan kepada anak-cucu hingga manusia di akhir zaman.

Dalam sains, khususnya genetika, pewarisan sifat dijelaskan melalui mekanisme biologis. Genetika adalah cabang biologi yang mempelajari bagaimana sifat makhluk hidup diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tokoh penting dalam bidang ini adalah Gregor Mendel pada abad ke-19, yang pertama kali merumuskan hukum dasar pewarisan sifat. Penelitian genetika pada manusia berkembang pesat pada awal abad ke-20. Namun, penelitian modern hanya dapat mempelajari DNA, gen, dan kromosom manusia yang hidup sekarang, karena tidak ada sampel biologis dari manusia pertama. Karena itu, secara ilmiah, sains modern tidak dapat membuktikan secara langsung bahwa semua manusia adalah keturunan Adam dan Hawa. Sains menjelaskan asal-usul manusia melalui studi genetika dan evolusi.

Sains modern juga memisahkan ranah agama dan ilmu pengetahuan. Sikap ini muncul dari sejarah panjang konflik antara gereja dan para ilmuwan di masa lalu, yang kemudian memengaruhi cara pandang sains hingga sekarang. Dalam pandangan sains, manusia dianggap hasil proses evolusi yang panjang dari nenek moyang primata. Ini bukan berarti manusia berasal dari monyet, tetapi bahwa manusia dan monyet memiliki leluhur yang sama di masa lampau. Melalui metode ilmiah, sains tidak bisa membuktikan atau membantah ajaran agama secara langsung. Karena itu, sains juga tidak dapat menilai benar atau salahnya keyakinan bahwa Adam dan Hawa adalah nenek moyang seluruh manusia, sebab hal tersebut berada di luar hal yang bisa diuji oleh sains.

Sains belum mampu mengungkap secara pasti peristiwa-peristiwa di masa lalu yang sangat jauh. Hal ini berbeda dengan wahyu Allah yang diberikan kepada para nabi dan rasul, yang berisi cerita tentang umat-umat terdahulu. Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui segala sesuatu di langit dan di bumi, termasuk tentang Nabi Adam alayhi salam, sifat-sifat beliau, serta bagaimana sifat tersebut diwariskan kepada keturunannya.

Imam Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunan-nya, dari Abu Hurairah, sebuah hadis hasan sahih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa ketika Allah menciptakan Adam, Allah mengusap punggungnya. Dari punggung itu keluar seluruh jiwa keturunan Adam yang akan diciptakan hingga hari kiamat. Allah memberikan pada setiap jiwa cahaya di antara kedua mata mereka. Adam lalu bertanya, “Ya Rabbi, siapa mereka?” Allah menjawab, “Mereka adalah anak cucumu.”

Adam melihat salah satu jiwa yang memiliki cahaya paling terang di antara mereka. Ia bertanya, “Ya Rabbi, siapa ini?” Allah menjawab, “Ini adalah seorang laki-laki dari umat terakhir keturunanmu yang bernama Daud.” Adam kembali bertanya, “Ya Rabbi, berapa umur yang Engkau tetapkan untuknya?” Allah menjawab, “Enam puluh tahun.”
Adam berkata, “Ya Rabbi, tambahkan empat puluh tahun dari umurku untuknya.”

Ketika tiba saatnya Adam wafat, malaikat maut datang menjemputnya. Adam berkata, “Bukankah umurku masih tersisa empat puluh tahun?” Malaikat menjawab, “Bukankah engkau telah memberikannya kepada anakmu, Daud?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Adam mengingkari, maka anak cucunya pun mengingkari. Adam lupa, maka anak cucunya pun lupa. Adam berbuat salah, maka anak cucunya berbuat salah.”

Imam Tirmidzi juga meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah, yang ia nilai sebagai hadis hasan gharib. Diriwayatkan bukan dari satu jalan dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam dari riwayat Zaid bin Aslam dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam. Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa ketika Allah menciptakan Adam dan meniupkan ruh ke dalamnya, Adam bersin dan berkata, “Alhamdulillah,” dengan izin Allah. Allah lalu berfirman, “Semoga Allah merahmatimu, wahai Adam. Pergilah kepada para malaikat yang sedang duduk dan ucapkan salam kepada mereka.” Adam pun berkata, “Assalamu’alaikum,” dan para malaikat menjawab, “Wa ‘alaikas salamu warahmatullah.” Allah berfirman, “Itulah salam penghormatanmu dan penghormatan bagi anak-anak keturunanmu.”

Kemudian Allah berfirman kepada Adam sambil menggenggam kedua tangan-Nya, “Pilih salah satu yang engkau kehendaki.” Adam berkata, “Aku memilih tangan kanan Tuhanku, dan kedua tangan Tuhanku adalah tangan yang penuh berkah.” Ketika Allah membuka tangan-Nya, tampaklah Adam dan seluruh keturunannya beserta umur masing-masing yang telah tertulis antara kedua mata mereka. Adam melihat satu jiwa dengan cahaya paling terang dan bertanya, “Ya Rabbi, siapa ini?” Allah menjawab, “Ini adalah anakmu Daud. Aku menetapkan umurnya empat puluh tahun.” Adam berkata, “Ya Rabbi, tambahkan umurnya.” Allah menjawab, “Itu sudah Aku tetapkan.” Adam berkata lagi, “Ya Rabbi, aku memberikan enam puluh tahun dari umurku untuknya.” Allah menjawab, “Itu urusanmu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa Adam tinggal di surga sesuai kehendak Allah sebelum akhirnya diturunkan ke bumi. Adam menghitung sendiri umurnya. Ketika malaikat maut datang menjemputnya, Adam berkata, “Engkau datang terlalu cepat. Bukankah umurku seribu tahun?” Malaikat menjawab, “Tidak. Engkau sudah memberikan enam puluh tahun dari umurmu kepada anakmu, Daud.” Adam pun mengingkari hal tersebut. Rasulullah bersabda, “Adam mengingkari, maka anak cucunya pun mengingkari. Adam lupa, maka anak cucunya lupa. Karena itulah kemudian diperintahkan pencatatan dan persaksian.”

Allah menciptakan Adam dalam keadaan sempurna sebagai manusia yang berakal, mampu berbicara, memahami perintah, dan menjawab dengan benar. Allah tidak menciptakan Adam melalui proses evolusi primata, seperti yang dijelaskan sebagian ilmuwan. Dari Adam, sifat lupa dan sifat mengingkari diwariskan kepada keturunannya. Karena sifat-sifat inilah Allah memerintahkan pencatatan dan persaksian, agar manusia tidak mudah mengingkari atau lupa terhadap urusan-urusan penting.