Pewarisan Sifat dari Nabi Adam ke Anak Cucunya
Sebagai umat beragama, kita meyakini
bahwa Nabi Adam alayhi salam adalah manusia pertama di bumi dan menjadi nenek
moyang seluruh manusia. Keyakinan ini juga mencakup bahwa sifat-sifat beliau
diwariskan kepada anak-cucu hingga manusia di akhir zaman.
Dalam sains, khususnya genetika,
pewarisan sifat dijelaskan melalui mekanisme biologis. Genetika adalah cabang
biologi yang mempelajari bagaimana sifat makhluk hidup diturunkan dari satu
generasi ke generasi berikutnya. Tokoh penting dalam bidang ini adalah Gregor
Mendel pada abad ke-19, yang pertama kali merumuskan hukum dasar pewarisan
sifat. Penelitian genetika pada manusia berkembang pesat pada awal abad ke-20.
Namun, penelitian modern hanya dapat mempelajari DNA, gen, dan kromosom manusia
yang hidup sekarang, karena tidak ada sampel biologis dari manusia pertama.
Karena itu, secara ilmiah, sains modern tidak dapat membuktikan secara langsung
bahwa semua manusia adalah keturunan Adam dan Hawa. Sains menjelaskan asal-usul
manusia melalui studi genetika dan evolusi.
Sains modern juga memisahkan ranah agama
dan ilmu pengetahuan. Sikap ini muncul dari sejarah panjang konflik antara
gereja dan para ilmuwan di masa lalu, yang kemudian memengaruhi cara pandang
sains hingga sekarang. Dalam pandangan sains, manusia dianggap hasil proses
evolusi yang panjang dari nenek moyang primata. Ini bukan berarti manusia
berasal dari monyet, tetapi bahwa manusia dan monyet memiliki leluhur yang sama
di masa lampau. Melalui metode ilmiah, sains tidak bisa membuktikan atau membantah
ajaran agama secara langsung. Karena itu, sains juga tidak dapat menilai benar
atau salahnya keyakinan bahwa Adam dan Hawa adalah nenek moyang seluruh
manusia, sebab hal tersebut berada di luar hal yang bisa diuji oleh sains.
Sains belum mampu mengungkap secara pasti
peristiwa-peristiwa di masa lalu yang sangat jauh. Hal ini berbeda dengan wahyu
Allah yang diberikan kepada para nabi dan rasul, yang berisi cerita tentang
umat-umat terdahulu. Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui segala sesuatu di
langit dan di bumi, termasuk tentang Nabi Adam alayhi salam, sifat-sifat
beliau, serta bagaimana sifat tersebut diwariskan kepada keturunannya.
Imam Tirmidzi
meriwayatkan dalam Sunan-nya, dari Abu Hurairah, sebuah hadis hasan
sahih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa ketika Allah
menciptakan Adam, Allah mengusap punggungnya. Dari punggung itu keluar seluruh
jiwa keturunan Adam yang akan diciptakan hingga hari kiamat. Allah memberikan
pada setiap jiwa cahaya di antara kedua mata mereka. Adam lalu bertanya, “Ya
Rabbi, siapa mereka?” Allah menjawab, “Mereka adalah anak cucumu.”
Adam melihat salah satu jiwa yang
memiliki cahaya paling terang di antara mereka. Ia bertanya, “Ya Rabbi, siapa
ini?” Allah menjawab, “Ini adalah seorang laki-laki dari umat terakhir
keturunanmu yang bernama Daud.” Adam kembali bertanya, “Ya Rabbi, berapa umur
yang Engkau tetapkan untuknya?” Allah menjawab, “Enam puluh tahun.”
Adam berkata, “Ya Rabbi, tambahkan empat puluh
tahun dari umurku untuknya.”
Ketika tiba saatnya Adam wafat, malaikat
maut datang menjemputnya. Adam berkata, “Bukankah umurku masih tersisa empat
puluh tahun?” Malaikat menjawab, “Bukankah engkau telah memberikannya kepada
anakmu, Daud?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Adam
mengingkari, maka anak cucunya pun mengingkari. Adam lupa, maka anak cucunya
pun lupa. Adam berbuat salah, maka anak cucunya berbuat salah.”
Imam Tirmidzi juga meriwayatkan hadis
dari Abu Hurairah, yang ia nilai sebagai hadis hasan gharib. Diriwayatkan bukan
dari satu jalan dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam dari
riwayat Zaid bin Aslam dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu
‘alaihi wa salam. Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa ketika Allah
menciptakan Adam dan meniupkan ruh ke dalamnya, Adam bersin dan berkata,
“Alhamdulillah,” dengan izin Allah. Allah lalu berfirman, “Semoga Allah
merahmatimu, wahai Adam. Pergilah kepada para malaikat yang sedang duduk dan
ucapkan salam kepada mereka.” Adam pun berkata, “Assalamu’alaikum,” dan para
malaikat menjawab, “Wa ‘alaikas salamu warahmatullah.” Allah berfirman, “Itulah
salam penghormatanmu dan penghormatan bagi anak-anak keturunanmu.”
Kemudian Allah berfirman kepada Adam
sambil menggenggam kedua tangan-Nya, “Pilih salah satu yang engkau kehendaki.”
Adam berkata, “Aku memilih tangan kanan Tuhanku, dan kedua tangan Tuhanku
adalah tangan yang penuh berkah.” Ketika Allah membuka tangan-Nya, tampaklah
Adam dan seluruh keturunannya beserta umur masing-masing yang telah tertulis
antara kedua mata mereka. Adam melihat satu jiwa dengan cahaya paling terang
dan bertanya, “Ya Rabbi, siapa ini?” Allah menjawab, “Ini adalah anakmu Daud.
Aku menetapkan umurnya empat puluh tahun.” Adam berkata, “Ya Rabbi, tambahkan
umurnya.” Allah menjawab, “Itu sudah Aku tetapkan.” Adam berkata lagi, “Ya
Rabbi, aku memberikan enam puluh tahun
dari umurku untuknya.” Allah menjawab, “Itu urusanmu.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda bahwa Adam tinggal di surga sesuai kehendak Allah sebelum akhirnya
diturunkan ke bumi. Adam menghitung sendiri umurnya. Ketika malaikat maut
datang menjemputnya, Adam berkata, “Engkau datang terlalu cepat. Bukankah
umurku seribu tahun?” Malaikat menjawab, “Tidak. Engkau sudah memberikan enam
puluh tahun dari umurmu kepada anakmu, Daud.” Adam pun mengingkari hal
tersebut. Rasulullah bersabda, “Adam mengingkari, maka anak cucunya pun
mengingkari. Adam lupa, maka anak cucunya lupa. Karena itulah kemudian
diperintahkan pencatatan dan persaksian.”
Allah menciptakan Adam dalam keadaan sempurna
sebagai manusia yang berakal, mampu berbicara, memahami perintah, dan menjawab
dengan benar. Allah tidak menciptakan Adam melalui proses evolusi primata,
seperti yang dijelaskan sebagian ilmuwan. Dari Adam, sifat lupa dan sifat
mengingkari diwariskan kepada keturunannya. Karena sifat-sifat inilah Allah
memerintahkan pencatatan dan persaksian, agar manusia tidak mudah mengingkari
atau lupa terhadap urusan-urusan penting.