Kejujuran Seorang Gadis
Pada suatu
malam yang sunyi di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab — semoga Allah
meridhainya — kota Madinah tampak terlelap dalam keheningan. Di malam yang
damai itu, seperti kebiasaannya, Amirul Mukminin keluar seorang diri untuk
memantau keadaan rakyat yang berada di bawah tanggung jawabnya. Ia berjalan
tanpa pengawal, mengenakan jubah sederhana, menelusuri lorong–lorong sempit
kota yang hening, agar dapat melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana
kehidupan rakyatnya.
Bagi Umar,
menjadi pemimpin bukan berarti duduk di singgasana dengan kemewahan. Ia sering
berkata bahwa seorang pemimpin adalah pelayan bagi rakyatnya, bukan sebaliknya.
Karena itulah, ia kerap keluar di malam hari untuk meninjau keadaan. Malam itu,
langkah Umar membawanya melewati deretan rumah–rumah kecil di pinggiran kota.
Tiba–`tiba langkahnya terhenti. Dari salah satu rumah yang sederhana, terdengar
suara dua orang perempuan sedang berbicara dengan nada pelan, namun cukup jelas
di telinganya yang tajam.
“Wahai
anakku,” ujar suara perempuan yang lebih tua, “campurkanlah susu kambing ini
dengan sedikit air. Dengan begitu, kita akan memperoleh susu lebih banyak untuk
dijual, dan keuntungan pun akan bertambah.”
Beberapa
saat hening, lalu terdengar suara seorang gadis muda menjawab lembut namun
tegas, “Wahai ibuku, bagaimana aku dapat melakukannya? Bukankah Amirul Mukminin
telah melarang kita berdagang dengan cara yang curang?”
Sang ibu
berusaha menenangkan anaknya, “Umar tidak akan mengetahuinya, wahai putriku.
Tidak ada yang akan tahu, selama kita merahasiakannya.”
Namun gadis
itu menjawab dengan suara penuh keyakinan, “Wahai ibuku, sekalipun Khalifah
Umar tidak mengetahuinya, sesungguhnya Allah tidak pernah tidur.”
Ketika
mendengar jawaban itu, dada Umar bergetar hebat. Ia terpaku di tempatnya,
meresapi makna kata–kata sederhana namun agung dari gadis yang tidak ia kenal.
Dalam hatinya, Umar berbisik, “Subhanallah... inilah kejujuran yang sejati.
Inilah ketakwaan yang lahir dari hati yang bersih. Seorang gadis yang takut
kepada Allah meski tiada mata manusia yang melihatnya.”
Beliau
berdiri sejenak dalam keheningan malam, menatap rumah itu dengan mata yang
berkaca. Di tengah dunia yang penuh tipu daya, masih ada hati yang bersinar
jujur seperti cahaya bintang di langit gelap.
Keesokan
paginya, setelah menunaikan salat Subuh, Umar memanggil salah seorang
pengawalnya. Ia menceritakan kejadian malam itu, lalu memerintahkan agar orang
itu mencari tahu siapa gadis tersebut dan dari keluarga mana ia berasal. Tak
lama kemudian, laporan pun diterima. Gadis itu ternyata berasal dari keluarga
sederhana, hidup dalam kesahajaan, namun dikenal jujur dan berakhlak mulia di
kalangan tetangga.
Mendengar
itu, Umar memanggil putranya, Ashim bin Umar, “Wahai anakku, menikahlah dengan
gadis yang jujur itu. Sesungguhnya aku berharap dari keturunan perempuan yang
takut kepada Allah ini akan lahir generasi yang besar, yang akan menegakkan
keadilan di muka bumi.”
Ashim
menerima pesan ayahandanya dengan penuh hormat. Ia pun menikahi gadis tersebut,
dan kehidupan mereka berjalan dalam ketenteraman serta keberkahan. Rumah tangga
mereka tidak berlimpah harta, namun kaya akan keimanan dan cinta yang tulus
karena Allah. Dari pernikahan itu lahirlah seorang putri yang dikemudian hari menikah dengan seorang pemuda bernama Abdul
Azis bin Marwan, seorang bangsawan yang saleh dan berilmu.
Dari
pasangan inilah Allah menurunkan seorang keturunan yang kelak menjadi permata
bagi umat Islam — Umar bin Abdul Azis, khalifah agung yang dikenal
karena keadilannya, kezuhudannya, dan kecintaannya kepada kebenaran. Di masa
pemerintahannya, umat hidup dalam kedamaian; bahkan dikisahkan, pada masa itu
sulit ditemukan orang miskin yang mau menerima sedekah, karena kesejahteraan
merata di seluruh negeri.
Dan semua
itu, sesungguhnya, berawal dari satu malam yang sunyi. Dari sebuah rumah
sederhana. Dari seorang gadis yang menolak mencampur susu dengan air, karena
takut kepada Tuhannya. Dari ketulusan hati seorang perempuan yang lebih memilih
kejujuran daripada keuntungan dunia, Allah menurunkan keberkahan bagi generasi
demi generasi.
Demikianlah,
dari kejujuran lahir kemuliaan, dan dari ketakwaan lahir pemimpin yang adil.
Seandainya semua umat berpegang pada kejujuran seperti gadis itu, niscaya bumi
ini akan kembali bercahaya sebagaimana bersinarnya hati orang–orang saleh di
masa lalu.