Keberanian Sejati

adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

13 Oktober 2025

Kejujuran Seorang Gadis

 

Pada suatu malam yang sunyi di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab — semoga Allah meridhainya — kota Madinah tampak terlelap dalam keheningan. Di malam yang damai itu, seperti kebiasaannya, Amirul Mukminin keluar seorang diri untuk memantau keadaan rakyat yang berada di bawah tanggung jawabnya. Ia berjalan tanpa pengawal, mengenakan jubah sederhana, menelusuri lorong–lorong sempit kota yang hening, agar dapat melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kehidupan rakyatnya.

 

Bagi Umar, menjadi pemimpin bukan berarti duduk di singgasana dengan kemewahan. Ia sering berkata bahwa seorang pemimpin adalah pelayan bagi rakyatnya, bukan sebaliknya. Karena itulah, ia kerap keluar di malam hari untuk meninjau keadaan. Malam itu, langkah Umar membawanya melewati deretan rumah–rumah kecil di pinggiran kota. Tiba–`tiba langkahnya terhenti. Dari salah satu rumah yang sederhana, terdengar suara dua orang perempuan sedang berbicara dengan nada pelan, namun cukup jelas di telinganya yang tajam.

 

“Wahai anakku,” ujar suara perempuan yang lebih tua, “campurkanlah susu kambing ini dengan sedikit air. Dengan begitu, kita akan memperoleh susu lebih banyak untuk dijual, dan keuntungan pun akan bertambah.”

 

Beberapa saat hening, lalu terdengar suara seorang gadis muda menjawab lembut namun tegas, “Wahai ibuku, bagaimana aku dapat melakukannya? Bukankah Amirul Mukminin telah melarang kita berdagang dengan cara yang curang?”

 

Sang ibu berusaha menenangkan anaknya, “Umar tidak akan mengetahuinya, wahai putriku. Tidak ada yang akan tahu, selama kita merahasiakannya.”

 

Namun gadis itu menjawab dengan suara penuh keyakinan, “Wahai ibuku, sekalipun Khalifah Umar tidak mengetahuinya, sesungguhnya Allah tidak pernah tidur.”

 

Ketika mendengar jawaban itu, dada Umar bergetar hebat. Ia terpaku di tempatnya, meresapi makna kata–kata sederhana namun agung dari gadis yang tidak ia kenal. Dalam hatinya, Umar berbisik, “Subhanallah... inilah kejujuran yang sejati. Inilah ketakwaan yang lahir dari hati yang bersih. Seorang gadis yang takut kepada Allah meski tiada mata manusia yang melihatnya.”

 

Beliau berdiri sejenak dalam keheningan malam, menatap rumah itu dengan mata yang berkaca. Di tengah dunia yang penuh tipu daya, masih ada hati yang bersinar jujur seperti cahaya bintang di langit gelap.

Keesokan paginya, setelah menunaikan salat Subuh, Umar memanggil salah seorang pengawalnya. Ia menceritakan kejadian malam itu, lalu memerintahkan agar orang itu mencari tahu siapa gadis tersebut dan dari keluarga mana ia berasal. Tak lama kemudian, laporan pun diterima. Gadis itu ternyata berasal dari keluarga sederhana, hidup dalam kesahajaan, namun dikenal jujur dan berakhlak mulia di kalangan tetangga.

 

Mendengar itu, Umar memanggil putranya, Ashim bin Umar, “Wahai anakku, menikahlah dengan gadis yang jujur itu. Sesungguhnya aku berharap dari keturunan perempuan yang takut kepada Allah ini akan lahir generasi yang besar, yang akan menegakkan keadilan di muka bumi.”

 

Ashim menerima pesan ayahandanya dengan penuh hormat. Ia pun menikahi gadis tersebut, dan kehidupan mereka berjalan dalam ketenteraman serta keberkahan. Rumah tangga mereka tidak berlimpah harta, namun kaya akan keimanan dan cinta yang tulus karena Allah. Dari pernikahan itu lahirlah seorang putri yang dikemudian hari  menikah dengan seorang pemuda bernama Abdul Azis bin Marwan, seorang bangsawan yang saleh dan berilmu.

 

Dari pasangan inilah Allah menurunkan seorang keturunan yang kelak menjadi permata bagi umat Islam — Umar bin Abdul Azis, khalifah agung yang dikenal karena keadilannya, kezuhudannya, dan kecintaannya kepada kebenaran. Di masa pemerintahannya, umat hidup dalam kedamaian; bahkan dikisahkan, pada masa itu sulit ditemukan orang miskin yang mau menerima sedekah, karena kesejahteraan merata di seluruh negeri.

 

Dan semua itu, sesungguhnya, berawal dari satu malam yang sunyi. Dari sebuah rumah sederhana. Dari seorang gadis yang menolak mencampur susu dengan air, karena takut kepada Tuhannya. Dari ketulusan hati seorang perempuan yang lebih memilih kejujuran daripada keuntungan dunia, Allah menurunkan keberkahan bagi generasi demi generasi.

 

Demikianlah, dari kejujuran lahir kemuliaan, dan dari ketakwaan lahir pemimpin yang adil. Seandainya semua umat berpegang pada kejujuran seperti gadis itu, niscaya bumi ini akan kembali bercahaya sebagaimana bersinarnya hati orang–orang saleh di masa lalu.