Bangunlah! dengan Izin Allah
“Kisah
Israiliyat”
Pada zaman
Nabi Isa, ada seorang laki-laki dari Bani Israil bernama Ishaq. Ia menikahi
sepupunya yang sangat cantik, dan sangat mencintainya. Namun, setelah beberapa
waktu menikah, istrinya meninggal dunia. Ishaq sangat terpukul. Ia
terus-menerus berada di dekat makam istrinya karena tidak sanggup menahan rasa
kehilangan.
Suatu hari,
Nabi Isa melewati area pemakaman dan melihat Ishaq menangis di samping makam.
Nabi Isa bertanya, “Mengapa kamu menangis, Ishaq?”
Ishaq
menjawab, “Wahai Nabi Allah, ini makam istriku tercinta. Kepergiannya membuatku
sangat sedih dan kehilangan semangat hidup.”
Nabi Isa pun
berkata, “Apakah kamu ingin jika aku, dengan izin Allah, menghidupkannya
kembali?”
Ishaq
langsung menjawab, “Tentu! Aku sangat menginginkannya.”
Lalu, Nabi
Isa berdiri di dekat salah satu makam dan berkata, “Dengan izin Allah,
bangunlah wahai penghuni kubur ini!”
Tanah makam
itu terbelah, dan keluarlah seseorang yang kulitnya hitam legam, dengan api
menyembur dari hidung, mata, dan pori-pori wajahnya. Orang itu berkata, “Tiada
Tuhan selain Allah, dan Isa adalah utusan Allah.”
Melihat hal
itu, Ishaq langsung berkata, “Wahai Nabi Allah, itu bukan istriku. Makam
istriku ada di sana,” sambil menunjuk ke arah lain.
Nabi Isa
berkata kepada orang yang baru bangkit itu, “Kembalilah ke tempatmu semula.”
Maka orang itu pun kembali menjadi mayat dan dikuburkan lagi.
Nabi Isa
kemudian berdiri di atas makam yang ditunjuk Ishaq, lalu berkata, “Dengan izin
Allah, bangunlah wahai penghuni makam ini!”
Tak lama,
keluarlah seorang perempuan yang menyapu debu dari wajahnya dan berdiri di
hadapan mereka.
“Apakah ini
istrimu?” tanya Nabi Isa.
“Ya, benar
wahai Nabi Allah,” jawab Ishaq dengan gembira.
“Genggam
tangannya, dan pergilah.”
Ishaq pun
menggandeng tangan istrinya dan pergi. Setelah berjalan cukup jauh, Ishaq
merasa sangat lelah karena selama ini selalu begadang di makam istrinya. Ia
berkata, “Istriku, aku sangat mengantuk. Aku ingin beristirahat sejenak.”
Ishaq pun
merebahkan kepalanya di pangkuan istrinya dan tertidur lelap.
Tak lama
kemudian, seorang pemuda tampan anak seorang raja lewat di dekat mereka. Istri
Ishaq melihat pemuda itu, dan langsung jatuh hati. Ia berdiri dan
menghampirinya. Si pemuda juga tertarik padanya. Tanpa banyak bicara, wanita
itu berkata, “Bawalah aku bersamamu.” Maka pemuda itu mengangkatnya ke atas
kuda, dan mereka pun pergi bersama.
Saat Ishaq
terbangun, ia mendapati istrinya telah pergi. Ia melihat jejak kuda dan
mengikutinya. Akhirnya, ia menemukan istrinya sedang bersama pemuda itu.
“Serahkan
istriku!” kata Ishaq.
Namun sang
istri berkata, “Aku bukan istrimu. Aku adalah budak milik anak raja ini.”
“Aku
suamimu sekaligus sepupumu!” tegas Ishaq.
“Aku tak
mengenalmu. Aku budaknya,” balas wanita itu.
Anak raja
pun berkata, “Pergilah! Jangan ganggu budakku.”
Ishaq
bersumpah, “Demi Allah! Dia adalah istriku. Nabi Isa telah menghidupkannya
kembali dari kematian dengan izin Allah.”
Di tengah
perdebatan, Nabi Isa datang. Ishaq segera memanggilnya dan berkata, “Wahai Nabi
Allah, bukankah ini istriku yang Engkau hidupkan kembali dengan izin Allah?”
“Benar, dia
adalah istrimu,” jawab Nabi Isa.
Namun, sang
istri membantah, “Tidak! Dia berbohong. Aku ini budak milik anak raja ini.”
Anak raja
juga membenarkan ucapan wanita itu.
Nabi Isa
lalu bertanya pada wanita itu, “Bukankah kamu yang aku hidupkan kembali dengan
izin Allah?”
Wanita itu
menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Nabi Allah.”
Mendengar
itu, Nabi Isa berkata, “Kembalikanlah padaku apa yang telah aku beri.”
Seketika
itu juga, wanita itu jatuh dan meninggal kembali.
Kemudian
Nabi Isa berkata,
“Barang
siapa ingin tahu seperti apa orang yang mati dalam keadaan kafir, lalu Allah
hidupkan kembali dan ia mati dalam keadaan beriman—lihatlah laki-laki yang
kulitnya menghitam tadi.
Dan barang siapa ingin tahu orang yang mati dalam keadaan beriman, lalu Allah
hidupkan kembali dan ia mati dalam keadaan kafir—lihatlah wanita ini.”