Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

23 Februari 2026

Nabi Adam Tertawa Saat Menoleh Kekanan, dan Menangis Saat Menoleh Kekiri

 

Peristiwa Isra’ dan Mi‘raj merupakan salah satu mukjizat terbesar yang Allah anugerahkan kepada Nabi Muhammad. Saat itu Rasulullah SAW mengalami banyak peristiwa yang luar biasa, dan menakjubkan di antaranya adalah perjumpaan dengan para nabi di tiap–tiap tingkatan langit yang di singgahi, termasuk dengan bapaknya umat manusia, yaitu nabi Adam AS.

Dalam suatu riwayat yang disampaikan oleh Al Bukhari dalam Bad'ul Khalq dan Muslim dalam al-Iman dari Anas, tentang hadis mi'raj, bahwa Rasulullah SAW berkata, "Kemudian tanganku dipegang Jibril dan aku dinaikkan ke langit dunia. Jibril berkata kepada penjaga langit dunia, “Bukalah!” 

Penjaga itu bertanya, “Siapa ini?”

Jibril menjawab, “Ini Jibril.”

Penjaga pintu itu bertanya, “Apakah engkau bersama seseorang?”

Jibril menjawab, “Ya. Saya bersama Muhammad SAW.”

Penjaga langit bertanya lagi, “Apakah Allah mengutusmu kepadanya?”

Jibril menjawab, “Ya.”

Setelah pintu langit dunia dibuka, Rasulullah melihat seorang laki-laki yang sangat istimewa. Beliau menoleh ke sebelah kanan dan kiri. Ketika menoleh ke kanan, ia tertawa. Namun ketika menoleh ke kiri, ia menangis.

Orang itu menyambut Rasulullah dengan ucapan, “Marhaban bin nabiyyi ash-shalih wal ibni ash-shalih. (Selamat datang wahai nabi yang saleh dan anak yang saleh).”

Rasulullah  kemudian bertanya kepada Jibril, “Siapakah orang ini?”

Jibril kemudian menjawab, “Ini adalah Adam ‘alaihis salam. Di sebelah kanan dan kirinya adalah keturunannya. Yang di sebelah kanan adalah penghuni surga, dan yang di sebelah kiri adalah penghuni neraka. Apabila ia melihat ke kanan, ia tertawa. Dan apabila ia melihat ke kiri, ia menangis.”

Inilah pemandangan yang sangat menggetarkan hati. Nabi Adam ‘alaihis salam, manusia pertama, ayah dari seluruh umat manusia, menyaksikan nasib akhir dari keturunannya.

Nabi Adam tertawa karena melihat sebagian keturunannya termasuk dalam golongan ahli surga — mereka yang beriman, taat, sabar, dan istiqamah. Mereka yang menjaga tauhid, mengikuti para nabi, dan beramal saleh. Sebagai seorang ayah, tentu kebahagiaan terbesar adalah melihat anak-anaknya selamat. Namun ketika menoleh ke kiri, beliau menangis adalah tangisan duka, karena melihat sebagian keturunannya menjadi penghuni neraka. Mereka adalah orang-orang yang kufur, mendustakan rasul, berlaku zalim, dan berpaling dari petunjuk Allah. Betapa besar perhatian seorang ayah terhadap anak– anaknya.

Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa surga dan neraka itu nyata. Rasulullah diperlihatkan gambaran hakiki tentang keadaan manusia kelak. Ini bukan dongeng atau simbol semata, melainkan bagian dari perkara gaib yang wajib diimani.

Ada pelajaran penting dalam peristiwa ini. Manusia diberi akal, hati, dan petunjuk melalui para rasul, dan diberikan kebebasan untuk memilih jalan yang akan ditempuhnya. Memilih jalan iman dan ketaatan, ia akan termasuk golongan kanan. Dan siapa yang memilih jalan kekufuran dan maksiat, ia termasuk golongan kiri. Ini menjadi peringatan besar bagi kita. Posisi kita kelak tergantung pada bagaimana kita menjalani hidup hari ini.

Kisah Nabi Adam yang tertawa dan menangis ini seharusnya menggugah hati setiap Muslim. Kita adalah bagian dari keturunannya, yang berada di antara dua kemungkinan, yaitu menjadi penghuni surga atau penghuni neraka.

Semoga kita termasuk golongan kanan — golongan yang membuat Nabi Adam tersenyum bahagia ketika menoleh kepada keturunannya. Dan semoga Allah menetapkan kita sebagai penghuni surga-Nya, bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.