Nabi Adam Tertawa Saat Menoleh Kekanan, dan Menangis Saat Menoleh Kekiri
Peristiwa Isra’ dan
Mi‘raj merupakan salah satu mukjizat terbesar yang Allah anugerahkan kepada
Nabi Muhammad. Saat itu Rasulullah SAW mengalami banyak peristiwa yang luar
biasa, dan menakjubkan di antaranya adalah perjumpaan dengan para nabi di
tiap–tiap tingkatan langit yang di singgahi, termasuk dengan bapaknya umat
manusia, yaitu nabi Adam AS.
Dalam suatu riwayat
yang disampaikan oleh Al Bukhari dalam Bad'ul Khalq dan Muslim dalam al-Iman
dari Anas, tentang hadis mi'raj, bahwa Rasulullah SAW berkata, "Kemudian
tanganku dipegang Jibril dan aku dinaikkan ke langit dunia. Jibril berkata kepada
penjaga langit dunia, “Bukalah!”
Penjaga itu
bertanya, “Siapa ini?”
Jibril menjawab,
“Ini Jibril.”
Penjaga pintu itu
bertanya, “Apakah engkau bersama seseorang?”
Jibril menjawab,
“Ya. Saya bersama Muhammad SAW.”
Penjaga langit
bertanya lagi, “Apakah Allah mengutusmu kepadanya?”
Jibril menjawab, “Ya.”
Setelah pintu langit dunia dibuka,
Rasulullah melihat seorang laki-laki yang sangat istimewa. Beliau menoleh ke
sebelah kanan dan kiri. Ketika menoleh ke kanan, ia tertawa. Namun ketika
menoleh ke kiri, ia menangis.
Orang itu menyambut Rasulullah dengan
ucapan, “Marhaban bin nabiyyi ash-shalih wal ibni ash-shalih. (Selamat datang
wahai nabi yang saleh dan anak yang saleh).”
Rasulullah kemudian bertanya kepada Jibril, “Siapakah
orang ini?”
Jibril kemudian menjawab, “Ini adalah
Adam ‘alaihis salam. Di sebelah kanan dan kirinya adalah keturunannya. Yang di
sebelah kanan adalah penghuni surga, dan yang di sebelah kiri adalah penghuni
neraka. Apabila ia melihat ke kanan, ia tertawa. Dan apabila ia melihat ke kiri,
ia menangis.”
Inilah pemandangan yang sangat
menggetarkan hati. Nabi Adam ‘alaihis salam, manusia pertama, ayah dari seluruh
umat manusia, menyaksikan nasib akhir dari keturunannya.
Nabi Adam tertawa karena melihat sebagian
keturunannya termasuk dalam golongan ahli surga — mereka yang beriman, taat,
sabar, dan istiqamah. Mereka yang menjaga tauhid, mengikuti para nabi, dan
beramal saleh. Sebagai seorang ayah, tentu kebahagiaan terbesar adalah melihat
anak-anaknya selamat. Namun ketika menoleh ke kiri, beliau menangis adalah
tangisan duka, karena melihat sebagian keturunannya menjadi penghuni neraka.
Mereka adalah orang-orang yang kufur, mendustakan rasul, berlaku zalim, dan
berpaling dari petunjuk Allah. Betapa besar perhatian seorang ayah terhadap
anak– anaknya.
Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa
surga dan neraka itu nyata. Rasulullah diperlihatkan gambaran hakiki tentang
keadaan manusia kelak. Ini bukan dongeng atau simbol semata, melainkan bagian
dari perkara gaib yang wajib diimani.
Ada pelajaran penting dalam peristiwa
ini. Manusia diberi akal, hati, dan petunjuk melalui para rasul, dan diberikan
kebebasan untuk memilih jalan yang akan ditempuhnya. Memilih jalan iman dan
ketaatan, ia akan termasuk golongan kanan. Dan siapa yang memilih jalan
kekufuran dan maksiat, ia termasuk golongan kiri. Ini menjadi peringatan besar
bagi kita. Posisi kita kelak tergantung pada bagaimana kita menjalani hidup
hari ini.
Kisah Nabi Adam yang tertawa dan menangis
ini seharusnya menggugah hati setiap Muslim. Kita adalah bagian dari
keturunannya, yang berada di antara dua kemungkinan, yaitu menjadi penghuni
surga atau penghuni neraka.
Semoga kita termasuk golongan kanan —
golongan yang membuat Nabi Adam tersenyum bahagia ketika menoleh kepada
keturunannya. Dan semoga Allah menetapkan kita sebagai penghuni surga-Nya,
bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.