Ketika Nabi Adam Merindukan Buah Surga
Pada sebuah hadis mauquf
—sanadnya tidak sampai pada nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam—pada
Ubay bin Kaab, tetapi mempunyai kekuatan hadis marfu’, suatu waktu nabi
Adam AS berkata pada anak–anaknya bahwa ia ingin memakan buah surga.
Nabi Adam yang
dahulu pernah merasakan kenikmatan tinggal di surga, telah menunjukkan betapa
cinta dan rindunya dengan kehidupan di Surga. Kerinduannya untuk memakan buah
surga merupakan sebuah tanda atau isyarat bahwa ajalnya sudah dekat, karena
tidak mungkin anak–anaknya dapat menemukan buah surga di bumi tempat dia tinggal
bersama istri dan anak–anaknya. Dalam kisah / artikel Pewarisan Sifat dari Nabi Adam ke Anak Cucunya yang mengisahkan bahwa
nabi Adam mengetahui hitungan tahun–tahun umurnya, menunjukkan bahwa
perpindahannya ke alam akhirat sudah dekat.
Mendengar perkataan
ayahnya itu, anak–anak Nabi Adam AS segera pergi mencarikan buah yang diinginkan
ayahnya. Anak–anak nabi Adam kemungkinan juga menyadari bahwa tidak akan
mungkin dapat menemukan buah surga di dunia, tetapi karena bakti mereka kepada
ayahnya, hal itu yang mendorong mereka untuk tetap berangkat mencarinya tanpa
membantahnya.
Saat dalam
perjalanan, anak-anak Nabi Adam AS bertemu dengan malaikat yeng menjelma dalam
wujud seorang laki–laki. Para malaikat berkata kepada mereka, "Wahai
anak–anak Adam, apa yang kalian inginkan dan apa yang kalian cari?"
"Ayah kami
sedang sakit dan ingin sekali memakan buah surga," jawab anak Adam AS
kepada malaikat.
Malaikat yang telah
membawa kain kafan, wewangian dan perlengkapan untuk menggali tanah,
mengatakan. "Pulanglah, karena ketetapan untuk ayah kalian telah tiba.”
Mereka pun bertolak pulang.
Ketika para
malaikat datang, Hawa melihat dan mengenali mereka, dan dia (Hawa)
berlindung keapada Adam. Adam berkata
kepada Hawa, “Menjauhlah dariku. Aku pernah melakukan kesalahan karenamu.
Biarkan aku dengan malaikat Tuhanku Tabarak wa Taala.”
Para mufasir mengatakan
bahwa Hawa sepertinya hendak membujuk Adam agar memilih hidup di dunia, karena
para Rasul tidak diambil nyawanya sebelum mereka diberi pilihan (antara
kehidupan dunia dan akhirat) sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam.
Setelah itu,
malaikat mengambil ruh nabi Adam AS, kemudian melaksanakan proses
penyelenggaran jenazah, yaitu: memandikan, mengkafani, memberi wewangian,
menggali kubur, menshalatkannya, lalu memasukkan ke dalam kuburnya, dan
menutupinya dengan tanah. Mereka mengajarkannya kepada anak–anak Adam.
Malaikat kemudian
berkata, "Wahai anak Adam, inilah sunnah kalian." (HR Al-Hakim dan
dia mengatakan hadits ini shahih dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Ibnu Katsir
mengatakan, "Isnadnya shahih kepadanya").
Menurut sebuah
riwayat, Nabi Adam AS wafat pada hari Jumat di usia lebih dari 900 tahun.
Mengenai usia ini, ada perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan 930 tahun, dan
ada yang 957 tahun. Ibnu Katsir salah seorang ulama tafsir, mengatakan bahwa
pendapat yang menyebut 930 tahun tersebut adalah perhitungan berdasarkan tahun
Syamsiyah, sedangkan angka 957 tahun merupakan hitungan tahun Qamariyah. Jumlah
hitungan ini ditambah dengan lamanya Adam AS menetap di surga selama 43 tahun.
Ibnu Katsir
menceritakan dalam Qashash al-Anbiyaa bahwa Ibnu Ishaq berkata, "Pada hari
wafatnya nabi Adam AS, terjadi gerhana matahari dan bulan selama tujuh hari
tujuh malam."
Menurut riwayat
lain, semua makhluk menangisi kepergian Nabi Adam AS selama tujuh hari. Hal ini
diriwayatkan oleh Ibnu Asakir, bahwa Atha' al-Khurasani berkata, "Saat
Adam wafat, semua makhluk menangisi beliau selama tujuh hari."