Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

20 Februari 2026

Ketika Nabi Adam Merindukan Buah Surga

 

Pada sebuah hadis mauquf —sanadnya tidak sampai pada nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam—pada Ubay bin Kaab, tetapi mempunyai kekuatan hadis marfu’, suatu waktu nabi Adam AS berkata pada anak–anaknya bahwa ia ingin memakan buah surga.

Nabi Adam yang dahulu pernah merasakan kenikmatan tinggal di surga, telah menunjukkan betapa cinta dan rindunya dengan kehidupan di Surga. Kerinduannya untuk memakan buah surga merupakan sebuah tanda atau isyarat bahwa ajalnya sudah dekat, karena tidak mungkin anak–anaknya dapat menemukan buah surga di bumi tempat dia tinggal bersama istri dan anak–anaknya. Dalam kisah / artikel Pewarisan Sifat dari Nabi Adam ke Anak Cucunya yang mengisahkan bahwa nabi Adam mengetahui hitungan tahun–tahun umurnya, menunjukkan bahwa perpindahannya ke alam akhirat sudah dekat.

Mendengar perkataan ayahnya itu, anak–anak Nabi Adam AS segera pergi mencarikan buah yang diinginkan ayahnya. Anak–anak nabi Adam kemungkinan juga menyadari bahwa tidak akan mungkin dapat menemukan buah surga di dunia, tetapi karena bakti mereka kepada ayahnya, hal itu yang mendorong mereka untuk tetap berangkat mencarinya tanpa membantahnya.

Saat dalam perjalanan, anak-anak Nabi Adam AS bertemu dengan malaikat yeng menjelma dalam wujud seorang laki–laki. Para malaikat berkata kepada mereka, "Wahai anak–anak Adam, apa yang kalian inginkan dan apa yang kalian cari?"

"Ayah kami sedang sakit dan ingin sekali memakan buah surga," jawab anak Adam AS kepada malaikat.

Malaikat yang telah membawa kain kafan, wewangian dan perlengkapan untuk menggali tanah, mengatakan. "Pulanglah, karena ketetapan untuk ayah kalian telah tiba.” Mereka pun bertolak pulang.

Ketika para malaikat datang, Hawa melihat dan mengenali mereka, dan dia (Hawa) berlindung  keapada Adam. Adam berkata kepada Hawa, “Menjauhlah dariku. Aku pernah melakukan kesalahan karenamu. Biarkan aku dengan malaikat Tuhanku Tabarak wa Taala.”

Para mufasir mengatakan bahwa Hawa sepertinya hendak membujuk Adam agar memilih hidup di dunia, karena para Rasul tidak diambil nyawanya sebelum mereka diberi pilihan (antara kehidupan dunia dan akhirat) sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam.

Setelah itu, malaikat mengambil ruh nabi Adam AS, kemudian melaksanakan proses penyelenggaran jenazah, yaitu: memandikan, mengkafani, memberi wewangian, menggali kubur, menshalatkannya, lalu memasukkan ke dalam kuburnya, dan menutupinya dengan tanah. Mereka mengajarkannya kepada anak–anak Adam.

Malaikat kemudian berkata, "Wahai anak Adam, inilah sunnah kalian." (HR Al-Hakim dan dia mengatakan hadits ini shahih dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Ibnu Katsir mengatakan, "Isnadnya shahih kepadanya").

Menurut sebuah riwayat, Nabi Adam AS wafat pada hari Jumat di usia lebih dari 900 tahun. Mengenai usia ini, ada perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan 930 tahun, dan ada yang 957 tahun. Ibnu Katsir salah seorang ulama tafsir, mengatakan bahwa pendapat yang menyebut 930 tahun tersebut adalah perhitungan berdasarkan tahun Syamsiyah, sedangkan angka 957 tahun merupakan hitungan tahun Qamariyah. Jumlah hitungan ini ditambah dengan lamanya Adam AS menetap di surga selama 43 tahun.

Ibnu Katsir menceritakan dalam Qashash al-Anbiyaa bahwa Ibnu Ishaq berkata, "Pada hari wafatnya nabi Adam AS, terjadi gerhana matahari dan bulan selama tujuh hari tujuh malam."

Menurut riwayat lain, semua makhluk menangisi kepergian Nabi Adam AS selama tujuh hari. Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Asakir, bahwa Atha' al-Khurasani berkata, "Saat Adam wafat, semua makhluk menangisi beliau selama tujuh hari."