Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

19 Februari 2026

Pribadi Mulia Rasulullah

 

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam adalah suri teladan yang baik (uswatun hasanah) bagi orang–orang yang mengharapkan rahmat dari Allah, sebagaimana yang tercantum pada Al Quran surah al Ahzab ayat 21:

“Sungguh, pada (diri) Rasulullah itu ada suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”

Salah satu contohnya adalah dalam kisah singkat berikut ini.

Tsumamah bin Itsal adalah seorang lelaki dari kabilah al Yammah, yang punya keinginan kuat untuk membunuh nabi Muhammad. Dengan persiapan yang matang, dan senjata yang disandangnya, ia pergi ke Madinah untuk mewujudkan tujuannya, dengan mencari dan mendatangi majlis Rasulullah.

Ketika Tsumamah tiba di majlis Rasulullah, ia dihadang oleh Umar bin Khattab r.a. “Apa tujuanmu datang kesini? Bukankah engkau seorang musyrik?” tanya Umar.

“Aku datang ke sini ini hanya untuk membunuh Muhammad!” kata Tsumamah dengan lantang.

Mendengar jawaban dari Tsumamah itu, Umar langsung sigap dan bergerak untuk menangkap Tsumamah. Terjadilah perkelahian. Tsumamah tidak mampu melawan Umar yang lebih perkasa darinya. Senjatanya dirampas, kemudian tangannya diikat dan dibawa ke masjid. Setelah mengikat Tsumamah di salah satu tiang masjid, Umar segera melaporkan kejadian itu kepada Rasulullah.

Rasulullah yang telah mendapatkan laporan dari Umar, segera keluar dan menemui lelaki yang bermaksud akan membunuhnya. Beliau mengamati Tsumamah dengan baik dan cermat, kemudian berkata pada para sahabatnya, “Apakah ada di antara kalian yang sudah memberinya makan?”

Para sahabat yang bersama Rasulullah terkejut dengan pertanyaan itu. Umar yang sedari tadi menunggu perintah dari Rasulullah, tidak percaya mendengar pertanyaan Rasulullah, kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada Rasulullah, “Makanan apa ya Rasulullah? Orang ini datang ingin membunuh, bukan ingin masuk Islam.” Namun Rasulullah tidak menghiraukan pertanyaan Umar. Rasulullah berkata, “Tolong ambilkan segelas susu dari rumahku, dan buka tali pengikat orang itu.”

Setelah memberi segelas susu kepada Tsumamah, Rasulullah dengan sopan berkata, “Ucapkanlah Laa ilaha illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah).” Tsumamah menjawab dengan ketus, “Aku tidak akan mengucapkannya!” Rasulullah membujuk lagi, “Katakanlah, aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad itu Rasul Allah.” Namun Tsumamah tetap menolaknya, dengan nada keras ia berucap, “Aku tidak akan mengucapkannya!”

Para sahabat menjadi geram dengan jawaban–jawaban Tsumamah. Rasulullah kemudian membebaskan Tsumamah dan menyuruhnya pergi.

Tsumamah yang musyrik itu, kemudian bangkit dan beranjak meninggalkan masjid. Tetapi sebelum jauh, masih beberapa langkah keluar dari masjid, ia kembali kepada Rasulullah dengan wajah yang ramah dan berseri–seri. Di hadapan Rasulullah, kemudian ia berikrar, “Ya Rasulullah, aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad Rasul Allah.”

Rasulullah tersenyum dan bertanya kepada Tsumamah, “Mengapa engkau tidak mengucapkannya ketika aku memerintahkan kepadamu?”

Tsumamah menjawab, “Aku tidak mengucapkannya ketika engkau masih belum membebaskanku. Aku khawatir ada yang menganggap aku masuk Islam karena takut kepadamu. Namun setelah engkau membebaskanku, aku masuk Islam semata–mata karena mengharap ridho Allah Robbul Alamin.”

Pada suatu hari, Tsumamah bin Itsal berkata, “Ketika aku memasuki kota Madinah, tidak ada seorang pun yang lebih ku benci dari Muhammad. Tetapi setelah aku meninggalkan kota Madinah, tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang lebih kucintai selain Muhammad Rasulullah.”