Pribadi Mulia Rasulullah
Nabi Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi Wassalam adalah suri teladan yang baik (uswatun hasanah)
bagi orang–orang yang mengharapkan rahmat dari Allah, sebagaimana yang
tercantum pada Al Quran surah al Ahzab ayat 21:
“Sungguh, pada
(diri) Rasulullah itu ada suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang
mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak
mengingat Allah.”
Salah satu
contohnya adalah dalam kisah singkat berikut ini.
Tsumamah bin Itsal
adalah seorang lelaki dari kabilah al Yammah, yang punya keinginan kuat untuk
membunuh nabi Muhammad. Dengan persiapan yang matang, dan senjata yang
disandangnya, ia pergi ke Madinah untuk mewujudkan tujuannya, dengan mencari
dan mendatangi majlis Rasulullah.
Ketika Tsumamah
tiba di majlis Rasulullah, ia dihadang oleh Umar bin Khattab r.a. “Apa tujuanmu
datang kesini? Bukankah engkau seorang musyrik?” tanya Umar.
“Aku datang ke sini
ini hanya untuk membunuh Muhammad!” kata Tsumamah dengan lantang.
Mendengar jawaban
dari Tsumamah itu, Umar langsung sigap dan bergerak untuk menangkap Tsumamah.
Terjadilah perkelahian. Tsumamah tidak mampu melawan Umar yang lebih perkasa
darinya. Senjatanya dirampas, kemudian tangannya diikat dan dibawa ke masjid.
Setelah mengikat Tsumamah di salah satu tiang masjid, Umar segera melaporkan
kejadian itu kepada Rasulullah.
Rasulullah yang
telah mendapatkan laporan dari Umar, segera keluar dan menemui lelaki yang
bermaksud akan membunuhnya. Beliau mengamati Tsumamah dengan baik dan cermat,
kemudian berkata pada para sahabatnya, “Apakah ada di antara kalian yang sudah
memberinya makan?”
Para sahabat yang
bersama Rasulullah terkejut dengan pertanyaan itu. Umar yang sedari tadi
menunggu perintah dari Rasulullah, tidak percaya mendengar pertanyaan
Rasulullah, kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada Rasulullah,
“Makanan apa ya Rasulullah? Orang ini datang ingin membunuh, bukan ingin masuk
Islam.” Namun Rasulullah tidak menghiraukan pertanyaan Umar. Rasulullah
berkata, “Tolong ambilkan segelas susu dari rumahku, dan buka tali pengikat
orang itu.”
Setelah memberi
segelas susu kepada Tsumamah, Rasulullah dengan sopan berkata, “Ucapkanlah Laa
ilaha illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah).” Tsumamah menjawab dengan ketus,
“Aku tidak akan mengucapkannya!” Rasulullah membujuk lagi, “Katakanlah, aku
bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad itu Rasul Allah.” Namun
Tsumamah tetap menolaknya, dengan nada keras ia berucap, “Aku tidak akan
mengucapkannya!”
Para sahabat
menjadi geram dengan jawaban–jawaban Tsumamah. Rasulullah kemudian membebaskan
Tsumamah dan menyuruhnya pergi.
Tsumamah yang
musyrik itu, kemudian bangkit dan beranjak meninggalkan masjid. Tetapi sebelum
jauh, masih beberapa langkah keluar dari masjid, ia kembali kepada Rasulullah
dengan wajah yang ramah dan berseri–seri. Di hadapan Rasulullah, kemudian ia
berikrar, “Ya Rasulullah, aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan
Muhammad Rasul Allah.”
Rasulullah
tersenyum dan bertanya kepada Tsumamah, “Mengapa engkau tidak mengucapkannya
ketika aku memerintahkan kepadamu?”
Tsumamah menjawab,
“Aku tidak mengucapkannya ketika engkau masih belum membebaskanku. Aku khawatir
ada yang menganggap aku masuk Islam karena takut kepadamu. Namun setelah engkau
membebaskanku, aku masuk Islam semata–mata karena mengharap ridho Allah Robbul
Alamin.”
Pada suatu hari,
Tsumamah bin Itsal berkata, “Ketika aku memasuki kota Madinah, tidak ada
seorang pun yang lebih ku benci dari Muhammad. Tetapi setelah aku meninggalkan
kota Madinah, tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang lebih kucintai selain
Muhammad Rasulullah.”