Kisah Dajjal dalam Hadis Jassasah
Dajjal laknatullah adalah salah satu
fitnah terbesar yang akan muncul menjelang hari kiamat. Rasulullah telah
memperingatkan umatnya tentang bahaya Dajjal melalui banyak hadis, dan salah
satu yang paling panjang serta detail adalah Hadis Jassasah, sebagaimana
diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya. Hadis ini diriwayatkan oleh
Fatimah binti Qais radhiyallahu ‘anha, dan disampaikan langsung oleh Rasulullah
kepada para sahabatnya di masjid.
Kisah ini bermula ketika Amir bin
Syarahil Asy-Sya’bi meminta Fatimah binti Qais untuk menceritakan sebuah hadis
yang benar–benar ia dengar langsung dari Rasulullah, tanpa perantara siapa pun.
Fatimah pun menyetujuinya dan mulai mengisahkan sebuah peristiwa yang sangat
menggetarkan hati.
Pada suatu hari, Fatimah mendengar seruan
khusus dari penyeru Rasulullah, “Ash-shalatu jami’ah!”. Ia pun segera menuju
masjid dan shalat bersama Rasulullah, berada di shaf perempuan tepat di
belakang shaf laki-laki.
Setelah shalat selesai, Rasulullah naik
ke mimbar. Beliau tersenyum, lalu meminta seluruh jamaah tetap berada di tempat
masing-masing. Kemudian beliau bertanya, “Apakah kalian tahu mengapa aku
mengumpulkan kalian?”
Para sahabat menjawab dengan penuh adab,
“Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”
Rasulullah lalu menjelaskan bahwa beliau
tidak mengumpulkan mereka untuk memberi kabar gembira atau menakut-nakuti,
melainkan untuk menyampaikan sebuah kisah penting yang dibawa oleh Tamim
Ad-Dari—seorang mantan Nasrani yang telah masuk Islam dan berbaiat kepada
Rasulullah.
Tamim menceritakan pengalamannya saat
berlayar bersama 30 orang dari kabilah Lakhm dan Judzam. Kapal mereka dihantam
badai besar hingga terombang-ambing di tengah laut selama sebulan penuh, sampai
akhirnya terdampar di sebuah pulau terpencil.
Saat menjelajahi pulau itu, mereka
bertemu dengan makhluk aneh: seekor binatang berbulu sangat lebat hingga sulit
dibedakan bagian depan dan belakangnya. Ketika ditanya siapa dirinya, makhluk
itu menjawab, “Aku adalah Al-Jassasah.”
Makhluk tersebut kemudian menyuruh mereka
menemui seorang lelaki yang berada di sebuah bangunan ibadah di pulau itu,
seraya mengatakan bahwa lelaki itu sangat menantikan kabar dari manusia. Dengan
perasaan takut—khawatir makhluk itu adalah setan—Tamim dan rombongannya segera
menuju tempat yang dimaksud.
Di dalam bangunan itu, mereka mendapati
seorang lelaki bertubuh sangat besar, terikat kuat dengan rantai besi, kedua
tangan terikat ke leher, dan kakinya dibelenggu. Sosok itu kemudian mengajukan
berbagai pertanyaan kepada mereka.
Ia bertanya tentang pohon kurma di
Baisan, apakah masih berbuah. Mereka menjawab, “Masih.”
Ia berkata, “Hampir tiba masanya pohon–pohon itu tidak lagi berbuah.”
Ia juga bertanya tentang Danau
Thabariyah, apakah airnya masih banyak. Mereka menjawab, “Masih.”
Ia berkata, “Hampir tiba masanya airnya mengering.”
Kemudian ia bertanya tentang mata air
Zughar, apakah masih dimanfaatkan penduduk untuk bertani. Mereka menjawab
kembali, “Masih.”
Ia berkata, “Hampir tiba masanya mata air
itu pun akan habis.”
Lelaki itu lalu bertanya tentang Nabi
yang ummi (Nabi Muhammad), apakah beliau telah muncul dan bagaimana sikap
orang-orang Arab terhadapnya. Ketika Tamim menjelaskan bahwa Nabi telah menang
dan banyak orang Arab taat kepadanya, lelaki itu berkata, “Itu baik bagi
mereka.”
Akhirnya, lelaki itu mengungkap jati
dirinya, “Ketahuilah, aku adalah Al-Masih Dajjal. Sebentar lagi aku akan
diizinkan keluar. Aku akan menjelajahi seluruh bumi selama 40 hari, dan tidak
ada satu negeri pun yang luput dariku—kecuali Makkah dan Madinah. Kedua kota
itu diharamkan bagiku. Setiap kali aku hendak memasukinya, para malaikat akan
menghalangiku dengan pedang terhunus.”
Mendengar kisah ini, Rasulullah
menegaskan kebenarannya. Beliau bahkan menusukkan tongkatnya ke mimbar sambil
bersabda, “Inilah Thaibah, inilah Thaibah, inilah Thaibah!”—yakni Madinah.
Beliau menutup kisah itu dengan penegasan
bahwa cerita Tamim sesuai dengan apa yang telah beliau sampaikan sebelumnya
tentang Dajjal, serta tentang keistimewaan Makkah dan Madinah. Rasulullah juga
menegaskan bahwa kemunculan Dajjal akan datang dari arah timur, sambil berulang
kali mengisyaratkan tangannya ke arah tersebut.
Hadis Jassasah ini diriwayatkan oleh
Imam Muslim dalam Shahih-nya, dan menjadi salah satu hadis paling kuat serta
detail dalam menjelaskan fitnah besar Dajjal sebagai bagian dari tanda-tanda
akhir zaman.
CATATAN KAKI
Pohon Kurma
di Baisan (Beit She’an)
·
Wilayah Baisan (dalam sumber sejarah Palestina) kini dikenal sebagai
Beit She’an di Israel.
·
Dulu terkenal sebagai daerah subur dengan perkebunan kurma yang
melimpah, terutama di sepanjang Lembah Yordan Utara.
·
Kondisi kini: pohon kurma di sana masih ada dan masih berbuah, tetapi
produksinya menurun. Penurunan ini disebabkan oleh serangan hama kumbang batang
kurma (Red Palm Weevil) sejak sekitar tahun 2015, sehingga banyak pohon kurma
yang mati atau tidak produktif.
·
Sebagian lahan juga telah dialihfungsikan menjadi situs pariwisata dan
kawasan non-pertanian, sehingga sektor kelapa kurma bukan lagi fokus utama.
Singkatnya: Pohon kurma masih
ada, tetapi produksinya berkurang drastis dibanding masa lalu.
Danau Thabariyah (Sea of Galilee / Danau
Tiberias)
Danau
Thabariyah (Sea of Galilee / Danau Tiberias)Danau Thabariyah — dikenal juga
sebagai Sea of Galilee, Danau Galilea, Danau Genesaret, Danau Kineret — adalah
danau air tawar terbesar di wilayah itu, terletak di Israel.
·
Secara ilmiah dan nyata, tingkat air danau ini mengalami fluktuasi
akibat musim, curah hujan, dan penggunaan air manusia. Selama beberapa tahun
terakhir, permukaan air turun cukup signifikan karena kekeringan dan kebutuhan
air yang tinggi.
·
Pemerintah Israel bahkan mengupayakan cara untuk menaikkan kembali
permukaan air (misalnya dengan pasokan air laut yang didesalinasi) karena danau
ini penting sebagai sumber air tawar.
Singkatnya: Danau Tiberias
masih memiliki air, tetapi mengalami penurunan volume air secara periodik yang
berkaitan dengan faktor lingkungan dan penggunaan air manusia.
Mata Air Zughar
·
Sumber yang disebut mata air Zughar tidak masuk dalam peta modern
dengan nama yang sama, sehingga lokasi pastinya tidak jelas secara geografis
dalam sumber resmi modern.
·
Beberapa sumber populer menyebutnya sebagai sebuah mata air di wilayah
dekat Laut Mati atau selatan Danau Tiberias, yang dulunya menjadi sumber
pengairan penting bagi masyarakat di sekitarnya.
·
Kondisi yang sering dikutip: mata air ini dilaporkan semakin menyusut
karena kondisi iklim dan sumber air tanah yang berkurang di wilayah itu, serta
berkurangnya debit air dari sumber alam di sekitar Laut Mati dan lembah
tersebut.
Singkatnya: Secara nama dan
rincian lokasi yang pasti, mata air Zughar tidak jelas dalam dokumentasi
geografis modern. Namun menurut beberapa laporan populer, sumber air di
wilayah yang diidentifikasi sebagai Zughar juga menunjukkan penyusutan debit
air dan keterbatasan untuk irigasi.