Kisah Hajar dan Ismail – Perspektif Islam, Yahudi dan Nasrani
Bagi umat Islam,
kisah Nabi Ibrahim, Sarah, Hajar dan Ismail bersumber dari al Quran dan Hadis
sudah kita ketahui dengan baik. Bagaimana dengan perspektif Yahudi dan Nasrani?
Ibnu Abbas1
meriwayatkan, Hajar adalah wanita Mesir yang dihadiahkan oleh seorang raja
Mesir yang zalim, kepada Sarah (istri Nabi Ibrahim). Setelah sekian lama
menikah, Nabi Ibrahim belum juga mempunyai keturunan dari Sarah. Kemudian Sarah
memberikan Hajar ke Nabi Ibrahim untuk dinikahi dengan harapan Allah akan
menganugerahi seorang anak kepada Nabi Ibrahim melalui Hajar.
Setelah menikahi
Hajar, Nabi Ibrahim mempunyai seorang anak laki–laki yang diberi nama Ismail.
Ismail lahir di Palestina, sebuah negeri yang penuh keberkahan. Beberapa waktu
setelah kelahiran Ismail, terjadilah persoalan antara Hajar dan Sarah yang
menyebabkan Hajar menjauh dari Sarah.
Kemudian Allah
memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membawa Hajar dan Ismail yang masih bayi pergi
dari Palestina. Sepanjang perjalanan, Hajar menyeret bajunya untuk menghapus
jejak kakinya, agar Sarah tidak mengetahui kemana ia di bawa pergi. Imam
Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari Said bin Jubair yang berkata bahwa
Ibnu Abbas mengatakan wanita pertama yang membuat ikat pinggang adalah ibunya
Ismail, yang dilakukannya untuk menutupi jejak kakinya dari Sarah.
Sesampainya di
Makkah tempat yang saat itu tidak berpenghuni, Nabi Ibrahim menempatkan Hajar
dan Ismail di dekat Baitullah disisi sebuah pohon besar, kemudian
meninggalkannya untuk kembali pulang ke Palestina. Hajar menyusul di belakang
Nabi Ibrahim, dan memanggilnya, “Wahai
Ibrahim, kemana engkau akan pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami di
lembah yang tidak ada seorang manusiapun, dan tidak ada sesuatu pun?”
Hajar terus menerus
bertanya, tetapi suaminya tidak menghiraukannya. Hajar kemudian bertanya,
“Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini?” Nabi Ibrahim menjawab, “Ya.”
Mendengar jawaban itu, Hajar berucap, “Kalau memang demikian, Dia tidak akan
mengabaikan kami.” Kemudian Hajar kembali ketempatnya semula.
Ibrahim terus
berjalan sampai di atas sebuah bukit. Ia menghadap ke Baitullah dan berdoa
dengan mengangkat kedua tangannya, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah
menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam–tanaman
di dekat rumahMu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu)
agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung
kepada mereka dan berikanlah rizki kepada mereka dari buah–buahan. Mudah–mudahan
mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)
Hajar yang berada
dilembah itu dengan menyusui anaknya, dan meminum bekal air yang dibawanya
sampai air itu habis, sehingga ia kehausan. Ismail yang masih menyusu itu juga
merasa kehausan. Melihat anaknya yang menangis karena kehausan, Hajar pergi ke
bukit Shafa dan berdiri diatasnya untuk mencari seseorang yang ada di sekitar
itu. Tetapi tidak seorangpun didapatinya. Hajar kembali ke lembah, dan menuju
ke bukit Marwah yang juga tidak tampak seorangpun disekitarnya. Dengan perasaan
yang mengkuatirkan keadaan anaknya, Hajar mendaki bukit Shafa–Marwah sebanyak
tujuh kali.
Ibnu Abbas
mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata, “Karena hal inilah
orang–orang melakukan sa’i, ke keduanya (Shafa dan Marwah).”
Ketika saat
mendekati bukit Marwah, Hajar mendengar suara. Ia berkata pada dirinya, “Diam.”
Kemudian ia mendengar suara lagi, kemudian ia berkata, “Engkau telah
memperdengarkan. Adakah Engkau dapat menolong?” Tiba–tiba ia melihat malaikat
sedang menggali tanah dengan tumitnya—dalam riwayat yang lain, digali dengan
sayapnya—hingga muncullah air. Hajar membendung air dengan tangannya. Ia
menciduk dan memasukkan air kedalam kantong airnya. Air itu terus mengalir
deras.
Ibnu Abbas
mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata, “Semoga Allah
melimpahkan rahmat kepada ibu Ismail, jika saja ia membiarkan Zamzam,” atau
beliau bersabda, “Seandainya ia tidak menciduk airnya, niscaya Zamzam menjadi
mata air yang mengalir.”
Lebih lanjut, Ibnu
Abbas mengatakan bahwa dengan air itu Hajar minum dan dapat menyusui anaknya.
Lalu malaikat berkata kepadanya, “Janganlah engkau khawatir akan disia–siakan,
karena disini terdapat sebuah rumah Allah yang akan dibangun oleh anak ini dan
bapaknya. Dan sesungguhnya Allah tidak akan menelantarkan penduduknya.”
Hajar dan Ismail
tinggal didekat sumur Zamzam, yang kemudian datanglah sekelompok Bani Jurhum
ikut menetap di Makkah.
Ismail tumbuh
dengan baik menjadi seorang pemuda di lingkungan itu. Ia seorang pemuda yang
giat dan rajin, berakhlak mulia dan bersifat luhur. Orang–orang yang tinggal
bersamanya, menghormatinya dan mencintainya. Kemudian Ismail menikah dengan
salah seorang anak gadis mereka.
Hajar meninggal,
setelah Ismail menjadi seorang pemuda.
Hadis yang diriwayatkan
oleh Ibnu Abbas tentang Hajar dan Ismail ini sangat panjang. Menceritakan
tentang istri–istri Ismail, sampai dengan kisah Nabi Ibrahim dan Ismail
membangun Ka’bah.
Bagaimana dengan
versi Taurat / Perjanjian Lama?
Kisah
Hajar dan Ismail tertulis dalam Ishah 16 dan Ishah 21 dalam Safar Takwin2,
“Saray istri Abram belum kunjung melahirkan anak. Dia memiliki hamba sahaya
dari Mesir bernama Hajar. Saray berkata kepada Abram, “Tuhan belum
mengizinkanku untuk melahirkan. Menikahlah dengan hamba sahayaku. Mudah–mudahan
aku mempunyai anak darinya.” Abram mendengar ucapan Saray. Maka Saray, istri
Abram, mengambil hamba sahayanya, Hajar Al-Misriyah, setelah sepuluh tahun
berlalu sejak Abram tinggal di bumi Kan’an. Saray memberikan Hajar kepada
Abram, suaminya, agar memperisterinya. Maka Abram melakukannya dan Hajar hamil.
Manakala
Saray melihat Hajar hamil. Dia merasa rendah didepan matanya. Saray berkata
kepada Abram, “Kezalimanku atasmu. Aku memberikan hamba sahayaku kepadamu.
Ketika aku melihatnya hamil, aku merasa rendah dimatanya. Semoga Allah
memutuskan antara diriku dengan dirimu.”
Abram
berkata kepada Saray, “Itu dia hamba sahayamu di tanganmu. Lakukanlah apa yang
menurutmu baik di matamu.” Maka Saray menghinakannya dan Hajar minggat dari
sisinya.
Malaikat
Tuhan mendapatkan Hajar di tanah lapang disebuah mata air di jalan Syur.
Malaikat bertanya, “Wahai Hajar hamba sahaya Saray, dari mana kamu datang dan
ke mana kamu pergi?” Hajar menjawab, “Aku minggat dari sisi majikanku, Saray.”
Malaikat Tuhan berkata kepadanya, “Pulanglah kamu kepada majikanmu dan
tunduklah dibawah kekuasaannya.”
Malaikat
Tuhan berkata kepada Hajar, “Semoga keturunanmu banyak hingga tidak terhitung.”
Malaikat Tuhan berkata kepadanya, “Inilah kamu yang sekarang hamil. Kamu akan melahirkan
anak laki–laki. Kamu memanggil namanya Ismail. Sesungguhnya Tuhan telah
mendengar kesengsaraanmu. Anakmu akan menjadi orang kuat. Tangannya di atas
setiap orang dan tangan setiap orang di atasnya, dan di depan seluruh
saudaranya, dia tenang.”
Lalu
Hajar memanggil nama Tuhan yang berbincang dengannya, “Engkau adalah il Raay,”
karena dia berkata, “Apakah disini juga saya melihat setelah melihat, oleh
karena itu sumurnya diberi nama sumur kaum Raay, inilah sumur itu diantara
Qadisy dan Barid.” Lalu Hajar melahirkan anak laki–laki Abram. Abram memanggil
anaknya yang dilahirkan oleh Hajar dengan nama Ismail. Pada saat Hajar
melahirkan Ismail, umur Abram adalah 86 tahun.
Dalam
Ishah 21 dalam Safar Takwin tertulis, Sarah melihat putera Hajar Al-Misriyah sedang
bergurau, Sarah berkata kepada Ibrahim, “Usirlah wanita itu dan anaknya, karena
putera wanita hamba sahaya itu tidak berhak atas warisan di depan anakku
Ishaq.” Ucapan yang sangat buruk dalam pandangan Ibrahim karena anaknya. Lalu
Allah berfirman kepada Ibrahim, “Jangan menjadi buruk di matamu hanya karena
anak laki–laki dan hamba sahayamu dalam segala ucapan Sarah kepadamu.
Dengarkanlah ucapannya, karena kamu dianggap memiliki keturunan melalui Ishaq.
Dan putera hamba sahayamu itu akan Aku jadikan sebagai umat, karena dia adalah
keturunanmu.”
Pada
pagi harinya Ibrahim bersiap–siap. Dia membawa roti dan kantong air lalu
memberikannya kepada Hajar dengan meletakkan keduanya di pundak Hajar yang
menggendong anak dan memerintahkannya pergi. Hajar pergi dan tersesat di
daratan sumur tujuh. Ketika air yang di kantong telah habis, Hajar meninggalkan
anaknya di bawah sebuah pohon. Hajar menjauh dan duduk membelakanginya sejauh
lemparan busur. Dia berkata, “Aku tidak mau melihat kematian anak.” Hajar duduk
membelakanginya dan menangis dengan keras. Lalu Allah mendengar suara anaknya
dan malaikat Allah memanggil Hajar dari langit. Dia berkata kepadanya, “Ada apa
denganmu, wahai Hajar? Jangan takut, karena Allah telah mendengar suara anakmu
seperti adanya. Bangkitlah, bawalah anakmu, kuatkan tanganmu padanya, karena
aku akan menjadikannya umat yang besar.” Dan Allah membuka kedua mata Hajar
maka dia melihat sumur air. Dia mendekatinya dan memenuhi kantongnya dengan air
dan memberi minum anaknya. Allah bersama anak itu, hingga dia menjadi besar dan
tinggal di daaratan. Dia tumbuh menjadi seorang pemanah. Dia tinggal di daratan
Faran dan ibunya menikahkannya dengan seorang wanita dari Mesir.”
Disarikan
dari:
Kisah–Kisah Shahih
dalam al-Quran dan Sunnah karya Syaikh ‘Umar Sulaiman al-Asyqor seorang Guru
Besar dari Universitas Islam Yordania
1 Hadis Riwayat dari
Ibnu Abbas ini termasuk dalah kelompok hadis mursal sahabi, yaitu hadis yang
diriwayatkan oleh sahabat yang tidak dia saksikan atau dengar sendiri dari
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam. Para ulama telah bersepakat bahwa
mursal sahabi tetap sah jika dijadikan sebagai dalil, karena keadilan semua
sahabat terjamin. Perawi (sahabat) hanya menyebut "Nabi bersabda"
tanpa menyebut sahabat perantara, namun sanadnya tetap dianggap bersambung
karena yang dihilangkan adalah sesama sahabat yang terpercaya.
2 Safar Takwin adalah
sebutan dalam bahasa Arab untuk Kitab Kejadian (Genesis), bagian pertama
dari Taurat (Perjanjian Lama) dalam agama Yahudi dan Kristen, yang menceritakan
penciptaan dunia dan kisah-kisah awal umat manusia, termasuk silsilah keturunan
Nabi Nuh (Ham, Sam, Yafit) yang menjadi asal-usul bangsa-bangsa dan rumpun
bahasa Semit