Keberanian Sejati

adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

01 Januari 2026

Kisah Hajar dan Ismail – Perspektif Islam, Yahudi dan Nasrani

 

Bagi umat Islam, kisah Nabi Ibrahim, Sarah, Hajar dan Ismail bersumber dari al Quran dan Hadis sudah kita ketahui dengan baik. Bagaimana dengan perspektif Yahudi dan Nasrani?

Ibnu Abbas1 meriwayatkan, Hajar adalah wanita Mesir yang dihadiahkan oleh seorang raja Mesir yang zalim, kepada Sarah (istri Nabi Ibrahim). Setelah sekian lama menikah, Nabi Ibrahim belum juga mempunyai keturunan dari Sarah. Kemudian Sarah memberikan Hajar ke Nabi Ibrahim untuk dinikahi dengan harapan Allah akan menganugerahi seorang anak kepada Nabi Ibrahim melalui Hajar.

Setelah menikahi Hajar, Nabi Ibrahim mempunyai seorang anak laki–laki yang diberi nama Ismail. Ismail lahir di Palestina, sebuah negeri yang penuh keberkahan. Beberapa waktu setelah kelahiran Ismail, terjadilah persoalan antara Hajar dan Sarah yang menyebabkan Hajar menjauh dari Sarah.

Kemudian Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membawa Hajar dan Ismail yang masih bayi pergi dari Palestina. Sepanjang perjalanan, Hajar menyeret bajunya untuk menghapus jejak kakinya, agar Sarah tidak mengetahui kemana ia di bawa pergi. Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari Said bin Jubair yang berkata bahwa Ibnu Abbas mengatakan wanita pertama yang membuat ikat pinggang adalah ibunya Ismail, yang dilakukannya untuk menutupi jejak kakinya dari Sarah.

Sesampainya di Makkah tempat yang saat itu tidak berpenghuni, Nabi Ibrahim menempatkan Hajar dan Ismail di dekat Baitullah disisi sebuah pohon besar, kemudian meninggalkannya untuk kembali pulang ke Palestina. Hajar menyusul di belakang Nabi Ibrahim,  dan memanggilnya, “Wahai Ibrahim, kemana engkau akan pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang manusiapun, dan tidak ada sesuatu pun?”

Hajar terus menerus bertanya, tetapi suaminya tidak menghiraukannya. Hajar kemudian bertanya, “Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini?” Nabi Ibrahim menjawab, “Ya.” Mendengar jawaban itu, Hajar berucap, “Kalau memang demikian, Dia tidak akan mengabaikan kami.” Kemudian Hajar kembali ketempatnya semula.

Ibrahim terus berjalan sampai di atas sebuah bukit. Ia menghadap ke Baitullah dan berdoa dengan mengangkat kedua tangannya, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam–tanaman di dekat rumahMu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berikanlah rizki kepada mereka dari buah–buahan. Mudah–mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)

Hajar yang berada dilembah itu dengan menyusui anaknya, dan meminum bekal air yang dibawanya sampai air itu habis, sehingga ia kehausan. Ismail yang masih menyusu itu juga merasa kehausan. Melihat anaknya yang menangis karena kehausan, Hajar pergi ke bukit Shafa dan berdiri diatasnya untuk mencari seseorang yang ada di sekitar itu. Tetapi tidak seorangpun didapatinya. Hajar kembali ke lembah, dan menuju ke bukit Marwah yang juga tidak tampak seorangpun disekitarnya. Dengan perasaan yang mengkuatirkan keadaan anaknya, Hajar mendaki bukit Shafa–Marwah sebanyak tujuh kali.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata, “Karena hal inilah orang–orang melakukan sa’i, ke keduanya (Shafa dan Marwah).”

Ketika saat mendekati bukit Marwah, Hajar mendengar suara. Ia berkata pada dirinya, “Diam.” Kemudian ia mendengar suara lagi, kemudian ia berkata, “Engkau telah memperdengarkan. Adakah Engkau dapat menolong?” Tiba–tiba ia melihat malaikat sedang menggali tanah dengan tumitnya—dalam riwayat yang lain, digali dengan sayapnya—hingga muncullah air. Hajar membendung air dengan tangannya. Ia menciduk dan memasukkan air kedalam kantong airnya. Air itu terus mengalir deras.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata, “Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada ibu Ismail, jika saja ia membiarkan Zamzam,” atau beliau bersabda, “Seandainya ia tidak menciduk airnya, niscaya Zamzam menjadi mata air yang mengalir.”

Lebih lanjut, Ibnu Abbas mengatakan bahwa dengan air itu Hajar minum dan dapat menyusui anaknya. Lalu malaikat berkata kepadanya, “Janganlah engkau khawatir akan disia–siakan, karena disini terdapat sebuah rumah Allah yang akan dibangun oleh anak ini dan bapaknya. Dan sesungguhnya Allah tidak akan menelantarkan penduduknya.”

Hajar dan Ismail tinggal didekat sumur Zamzam, yang kemudian datanglah sekelompok Bani Jurhum ikut menetap di Makkah.

Ismail tumbuh dengan baik menjadi seorang pemuda di lingkungan itu. Ia seorang pemuda yang giat dan rajin, berakhlak mulia dan bersifat luhur. Orang–orang yang tinggal bersamanya, menghormatinya dan mencintainya. Kemudian Ismail menikah dengan salah seorang anak gadis mereka.

Hajar meninggal, setelah Ismail menjadi seorang pemuda.

Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas tentang Hajar dan Ismail ini sangat panjang. Menceritakan tentang istri–istri Ismail, sampai dengan kisah Nabi Ibrahim dan Ismail membangun Ka’bah.

Bagaimana dengan versi Taurat / Perjanjian Lama?

Kisah Hajar dan Ismail tertulis dalam Ishah 16 dan Ishah 21 dalam Safar Takwin2, “Saray istri Abram belum kunjung melahirkan anak. Dia memiliki hamba sahaya dari Mesir bernama Hajar. Saray berkata kepada Abram, “Tuhan belum mengizinkanku untuk melahirkan. Menikahlah dengan hamba sahayaku. Mudah–mudahan aku mempunyai anak darinya.” Abram mendengar ucapan Saray. Maka Saray, istri Abram, mengambil hamba sahayanya, Hajar Al-Misriyah, setelah sepuluh tahun berlalu sejak Abram tinggal di bumi Kan’an. Saray memberikan Hajar kepada Abram, suaminya, agar memperisterinya. Maka Abram melakukannya dan Hajar hamil.

Manakala Saray melihat Hajar hamil. Dia merasa rendah didepan matanya. Saray berkata kepada Abram, “Kezalimanku atasmu. Aku memberikan hamba sahayaku kepadamu. Ketika aku melihatnya hamil, aku merasa rendah dimatanya. Semoga Allah memutuskan antara diriku dengan dirimu.”

Abram berkata kepada Saray, “Itu dia hamba sahayamu di tanganmu. Lakukanlah apa yang menurutmu baik di matamu.” Maka Saray menghinakannya dan Hajar minggat dari sisinya.

Malaikat Tuhan mendapatkan Hajar di tanah lapang disebuah mata air di jalan Syur. Malaikat bertanya, “Wahai Hajar hamba sahaya Saray, dari mana kamu datang dan ke mana kamu pergi?” Hajar menjawab, “Aku minggat dari sisi majikanku, Saray.” Malaikat Tuhan berkata kepadanya, “Pulanglah kamu kepada majikanmu dan tunduklah dibawah kekuasaannya.”

Malaikat Tuhan berkata kepada Hajar, “Semoga keturunanmu banyak hingga tidak terhitung.” Malaikat Tuhan berkata kepadanya, “Inilah kamu yang sekarang hamil. Kamu akan melahirkan anak laki–laki. Kamu memanggil namanya Ismail. Sesungguhnya Tuhan telah mendengar kesengsaraanmu. Anakmu akan menjadi orang kuat. Tangannya di atas setiap orang dan tangan setiap orang di atasnya, dan di depan seluruh saudaranya, dia tenang.”

Lalu Hajar memanggil nama Tuhan yang berbincang dengannya, “Engkau adalah il Raay,” karena dia berkata, “Apakah disini juga saya melihat setelah melihat, oleh karena itu sumurnya diberi nama sumur kaum Raay, inilah sumur itu diantara Qadisy dan Barid.” Lalu Hajar melahirkan anak laki–laki Abram. Abram memanggil anaknya yang dilahirkan oleh Hajar dengan nama Ismail. Pada saat Hajar melahirkan Ismail, umur Abram adalah 86 tahun.

Dalam Ishah 21 dalam Safar Takwin tertulis, Sarah melihat putera Hajar Al-Misriyah sedang bergurau, Sarah berkata kepada Ibrahim, “Usirlah wanita itu dan anaknya, karena putera wanita hamba sahaya itu tidak berhak atas warisan di depan anakku Ishaq.” Ucapan yang sangat buruk dalam pandangan Ibrahim karena anaknya. Lalu Allah berfirman kepada Ibrahim, “Jangan menjadi buruk di matamu hanya karena anak laki–laki dan hamba sahayamu dalam segala ucapan Sarah kepadamu. Dengarkanlah ucapannya, karena kamu dianggap memiliki keturunan melalui Ishaq. Dan putera hamba sahayamu itu akan Aku jadikan sebagai umat, karena dia adalah keturunanmu.”

Pada pagi harinya Ibrahim bersiap–siap. Dia membawa roti dan kantong air lalu memberikannya kepada Hajar dengan meletakkan keduanya di pundak Hajar yang menggendong anak dan memerintahkannya pergi. Hajar pergi dan tersesat di daratan sumur tujuh. Ketika air yang di kantong telah habis, Hajar meninggalkan anaknya di bawah sebuah pohon. Hajar menjauh dan duduk membelakanginya sejauh lemparan busur. Dia berkata, “Aku tidak mau melihat kematian anak.” Hajar duduk membelakanginya dan menangis dengan keras. Lalu Allah mendengar suara anaknya dan malaikat Allah memanggil Hajar dari langit. Dia berkata kepadanya, “Ada apa denganmu, wahai Hajar? Jangan takut, karena Allah telah mendengar suara anakmu seperti adanya. Bangkitlah, bawalah anakmu, kuatkan tanganmu padanya, karena aku akan menjadikannya umat yang besar.” Dan Allah membuka kedua mata Hajar maka dia melihat sumur air. Dia mendekatinya dan memenuhi kantongnya dengan air dan memberi minum anaknya. Allah bersama anak itu, hingga dia menjadi besar dan tinggal di daaratan. Dia tumbuh menjadi seorang pemanah. Dia tinggal di daratan Faran dan ibunya menikahkannya dengan seorang wanita dari Mesir.”

 

Disarikan dari:

Kisah–Kisah Shahih dalam al-Quran dan Sunnah karya Syaikh ‘Umar Sulaiman al-Asyqor seorang Guru Besar dari Universitas Islam Yordania

1 Hadis Riwayat dari Ibnu Abbas ini termasuk dalah kelompok hadis mursal sahabi, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh sahabat yang tidak dia saksikan atau dengar sendiri dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam. Para ulama telah bersepakat bahwa mursal sahabi tetap sah jika dijadikan sebagai dalil, karena keadilan semua sahabat terjamin. Perawi (sahabat) hanya menyebut "Nabi bersabda" tanpa menyebut sahabat perantara, namun sanadnya tetap dianggap bersambung karena yang dihilangkan adalah sesama sahabat yang terpercaya.

2 Safar Takwin adalah sebutan dalam bahasa Arab untuk Kitab Kejadian (Genesis), bagian pertama dari Taurat (Perjanjian Lama) dalam agama Yahudi dan Kristen, yang menceritakan penciptaan dunia dan kisah-kisah awal umat manusia, termasuk silsilah keturunan Nabi Nuh (Ham, Sam, Yafit) yang menjadi asal-usul bangsa-bangsa dan rumpun bahasa Semit