Yang Membuatmu Tertawa adalah Yang Membuatmu Menangis
Dalam salah satu riwayat israiliyat,
diceritakan sebuah kisah penuh hikmah tentang Malaikat Maut yang suatu ketika
tampak duduk sambil tertawa, lalu tak lama kemudian ia menangis. Allah bertanya
kepadanya, “Apa yang membuatmu tertawa, dan apa pula yang membuatmu menangis?”
Malaikat Maut menjawab dengan penuh
ketundukan, “Wahai Tuhanku, yang membuatku tertawa adalah ketika Engkau pernah
mengutusku untuk mencabut nyawa seorang manusia. Saat aku mendatanginya, aku
mendapati dia seorang laki–laki yang sangat tua mengenakan tongkat. Ia sedang
duduk di samping seorang tukang sepatu yang tengah memperbaiki alas kakinya.”
Orang tua itu, lanjut Malaikat Maut,
dengan penuh harapan meminta pada tukang sepatu agar membuatkan alas kaki yang
kuat dan tahan lama, agar bisa ia gunakan selama setahun atau bahkan lebih.
Mendengar permintaan itu, Malaikat Maut tidak mampu menahan tawanya. Betapa
besar harapan dan rencana manusia, sementara ajalnya sudah begitu dekat. Orang
tua itu bercita-cita panjang umur dan memikirkan masa depan, padahal sisa
hidupnya hanya tinggal beberapa saat lagi.
“Sedangkan yang membuatku menangis,”
lanjut Malaikat Maut, “adalah ketika Engkau mengutusku untuk mencabut nyawa
seorang perempuan yang lemah. Ia hidup hanya berdua dengan seorang bayi yang
masih menyusu kepadanya. Mereka berada di tengah padang pasir yang tandus, jauh
dari pemukiman, tanpa makanan, tanpa minuman, dan tanpa seorang pun yang bisa
menolong. Pemandangan itu begitu menyayat hati. Aku menangis melihat betapa
rapuhnya keadaan mereka, terlebih ketika membayangkan nasib sang bayi yang
masih sangat membutuhkan ibunya. Namun, karena tugasku untuk menjalankan
perintahMu, maka ku cabut nyawa perempuan tersebut, lalu pergi meninggalkan
bayi itu sendirian di padang pasir yang sunyi dan gersang.”
Setelah mendengar penuturan Malaikat
Maut, Allah pun berfirman, “Demi keagunganKu dan kemuliaanKu. Yang membuatmu
menangis itulah yang membuatmu tertawa. Orang tua yang membuatmu tertawa karena
keinginannya untuk berusia panjang itu adalah bayi yang kau tangisi saat kau
mencabut nyawa ibunya, dan kau tinggalkan sendirian di padang pasir yang
tandus.”
Dengan izin dan rahmat Allah, bayi itu
tumbuh, hidup, dan dipelihara-Nya hingga menjadi seorang manusia yang berusia
lanjut. Allah-lah yang menjaga kehidupannya sejak ia tidak memiliki
siapa–siapa, hingga akhirnya ia menjadi orang tua yang penuh rencana dan
harapan akan masa depan.
Malaikat Maut pun tersungkur dan
berucap,“Maha suci Engkau, wahai Tuhanku. Betapa adilnya Engkau. Maha suci
Engkau, wahai Tuhanku. Betapa penyayangnya Engkau.”
Kisah israiliyat
diatas tidak memiliki sumber yang dapat diandalkan, tetapi maknanya secara umum
benar. Perhatian dan kasih sayang Allah terhadap makhluk ciptaan-Nya sangat
besar dan sangatlah luar biasa.
Kisah diatas juga
menggambarkan bagaimana seseorang yang semakin panjang usianya, semakin tinggi
harapan dan keinginannya untuk tetap dapat menghirup udara segar dunia semakin
lama. Dalam hadis shahih Bukhari, Abu Hurairah berkata, bahwa ia mendengar
Rasulullah bersabda, “Orang tua akan tetap berjiwa muda dalam dua hal: saat
mencintai dunia dan saat memiliki angan–angan yang jauh.”