Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

31 Januari 2026

Yang Membuatmu Tertawa adalah Yang Membuatmu Menangis

 

Dalam salah satu riwayat israiliyat, diceritakan sebuah kisah penuh hikmah tentang Malaikat Maut yang suatu ketika tampak duduk sambil tertawa, lalu tak lama kemudian ia menangis. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu tertawa, dan apa pula yang membuatmu menangis?”

Malaikat Maut menjawab dengan penuh ketundukan, “Wahai Tuhanku, yang membuatku tertawa adalah ketika Engkau pernah mengutusku untuk mencabut nyawa seorang manusia. Saat aku mendatanginya, aku mendapati dia seorang laki–laki yang sangat tua mengenakan tongkat. Ia sedang duduk di samping seorang tukang sepatu yang tengah memperbaiki alas kakinya.”

Orang tua itu, lanjut Malaikat Maut, dengan penuh harapan meminta pada tukang sepatu agar membuatkan alas kaki yang kuat dan tahan lama, agar bisa ia gunakan selama setahun atau bahkan lebih. Mendengar permintaan itu, Malaikat Maut tidak mampu menahan tawanya. Betapa besar harapan dan rencana manusia, sementara ajalnya sudah begitu dekat. Orang tua itu bercita-cita panjang umur dan memikirkan masa depan, padahal sisa hidupnya hanya tinggal beberapa saat lagi.

“Sedangkan yang membuatku menangis,” lanjut Malaikat Maut, “adalah ketika Engkau mengutusku untuk mencabut nyawa seorang perempuan yang lemah. Ia hidup hanya berdua dengan seorang bayi yang masih menyusu kepadanya. Mereka berada di tengah padang pasir yang tandus, jauh dari pemukiman, tanpa makanan, tanpa minuman, dan tanpa seorang pun yang bisa menolong. Pemandangan itu begitu menyayat hati. Aku menangis melihat betapa rapuhnya keadaan mereka, terlebih ketika membayangkan nasib sang bayi yang masih sangat membutuhkan ibunya. Namun, karena tugasku untuk menjalankan perintahMu, maka ku cabut nyawa perempuan tersebut, lalu pergi meninggalkan bayi itu sendirian di padang pasir yang sunyi dan gersang.”

Setelah mendengar penuturan Malaikat Maut, Allah pun berfirman, “Demi keagunganKu dan kemuliaanKu. Yang membuatmu menangis itulah yang membuatmu tertawa. Orang tua yang membuatmu tertawa karena keinginannya untuk berusia panjang itu adalah bayi yang kau tangisi saat kau mencabut nyawa ibunya, dan kau tinggalkan sendirian di padang pasir yang tandus.”

Dengan izin dan rahmat Allah, bayi itu tumbuh, hidup, dan dipelihara-Nya hingga menjadi seorang manusia yang berusia lanjut. Allah-lah yang menjaga kehidupannya sejak ia tidak memiliki siapa–siapa, hingga akhirnya ia menjadi orang tua yang penuh rencana dan harapan akan masa depan.

Malaikat Maut pun tersungkur dan berucap,“Maha suci Engkau, wahai Tuhanku. Betapa adilnya Engkau. Maha suci Engkau, wahai Tuhanku. Betapa penyayangnya Engkau.”

Kisah israiliyat diatas tidak memiliki sumber yang dapat diandalkan, tetapi maknanya secara umum benar. Perhatian dan kasih sayang Allah terhadap makhluk ciptaan-Nya sangat besar dan sangatlah luar biasa.

Kisah diatas juga menggambarkan bagaimana seseorang yang semakin panjang usianya, semakin tinggi harapan dan keinginannya untuk tetap dapat menghirup udara segar dunia semakin lama. Dalam hadis shahih Bukhari, Abu Hurairah berkata, bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda, “Orang tua akan tetap berjiwa muda dalam dua hal: saat mencintai dunia dan saat memiliki angan–angan yang jauh.”