Kegelisahan Umar dan Takdir Indah Hafshah
Dalam kehidupan seorang ayah, kebahagiaan
anak adalah hal yang sangat berharga. Terlebih jika anak tersebut sedang
menghadapi masa sulit. Itulah yang dirasakan oleh Umar bin Khattab ketika
melihat putrinya harus menjalani masa duka sebagai seorang janda di usia yang
masih muda.
Putri itu adalah Hafshah binti Umar. Ia
sebelumnya menikah dengan seorang sahabat Nabi yang saleh dan pemberani bernama
Khunais bin Hudzafah. Khunais dikenal sebagai salah satu pejuang Islam yang
memiliki keimanan kuat. Ia termasuk orang-orang yang berhijrah bersama
Rasulullah ke Habasyah (Ethiopia) ketika kaum Muslimin mengalami tekanan berat
di Makkah.
Tidak hanya itu, ia juga ikut berhijrah
ke Madinah bersama kaum Muslimin lainnya. Dalam perjuangan membela Islam,
Khunais termasuk orang yang berani. Ia bahkan tercatat sebagai satu-satunya
dari kabilahnya yang ikut dalam Perang Badar, pertempuran besar pertama antara
kaum Muslimin dan kaum Quraisy.
Setelah itu, ia kembali ikut dalam Perang
Uhud. Namun dalam pertempuran tersebut, Khunais mengalami luka yang cukup
parah. Luka-luka itu akhirnya merenggut nyawanya setelah ia kembali ke Madinah.
Ia wafat sebagai seorang pejuang yang telah mengorbankan hidupnya untuk agama.
Sepeninggal Khunais, Hafshah menjadi
seorang janda. Ia masih muda, dikenal sebagai wanita yang bertakwa dan berasal
dari keluarga yang mulia. Namun sebagai seorang ayah, Umar tentu tidak ingin
putrinya menjalani kehidupan sendirian terlalu lama.
Karena itu, Umar berusaha mencarikan
pasangan yang baik untuk putrinya.
Pertama, ia mendatangi sahabat terdekat
Nabi, yaitu Abu Bakar. Dengan penuh harapan, Umar menawarkan agar Abu Bakar
bersedia menikahi Hafshah. Namun Abu Bakar tidak memberikan jawaban yang jelas.
Umar kemudian menemui sahabat lainnya,
yaitu Utsman bin Affan. Saat itu Utsman baru saja kehilangan istrinya, Ruqayyah
binti Muhammad, putri Rasulullah. Umar berpikir mungkin Utsman bersedia
menikahi Hafshah. Namun ternyata Utsman pun menolak.
Penolakan itu membuat hati Umar gelisah.
Ia tidak memahami mengapa dua sahabat mulia tersebut tidak menerima tawarannya.
Akhirnya Umar datang menemui Nabi
Muhammad untuk menceritakan kegundahannya. Dengan nada penuh kejujuran seorang
ayah, Umar berkata kurang lebih demikian, “Ya Rasulullah, apakah pantas seorang
wanita muda yang bertakwa, putri sahabat Nabi, dan janda dari seorang pejuang
yang gugur di jalan Allah ditolak sebagai istri?”
Rasulullah lalu bertanya dengan lembut,
“Siapa yang menolaknya, wahai Umar?”
Umar menjawab, “Orang yang paling dekat
denganmu: Abu Bakar dan Utsman.”
Umar menjelaskan bahwa ia sebenarnya
percaya pada kemuliaan akhlak Abu Bakar. Ia yakin Abu Bakar akan memperlakukan
Hafshah dengan baik. Ia juga memandang Utsman sebagai orang yang pantas,
terlebih karena Utsman baru saja kehilangan istrinya. Namun keduanya tidak
bersedia.
Rasulullah kemudian menenangkan Umar.
“Sudahlah wahai Umar. Terimalah itu.”
Umar masih merasa heran. “Bagaimana aku
bisa menerimanya?”
Rasulullah pun berkata, “Hafshah binti
Umar akan menikah dengan seseorang yang lebih baik daripada Abu Bakar. Dan
Utsman akan menikah dengan wanita yang lebih baik daripada Hafshah.”
Perkataan Rasulullah itu membuat Umar
terdiam. Ia berpikir sejenak. Siapakah laki-laki yang lebih baik daripada Abu
Bakar?
Setelah merenung, Umar pun menyadari
sesuatu. Tidak ada manusia yang lebih baik daripada Abu Bakar dalam
pandangannya… kecuali Rasulullah sendiri.
Saat itulah Umar memahami maksud
perkataan Nabi. Wajahnya pun berubah cerah dan ia tersenyum penuh syukur.
“Alhamdulillah… Terima kasih atas
kesediaanmu, wahai Rasulullah.”
Akhirnya, Rasulullah benar-benar menikahi
Hafshah. Dengan demikian, Hafshah binti Umar menjadi salah satu istri
Rasulullah dan termasuk dalam jajaran Ummul Mukminin.
Sementara itu, janji Rasulullah tentang
Utsman juga terbukti. Utsman bin Affan kemudian dinikahkan dengan Ummu Kultsum
binti Muhammad, adik dari Ruqayyah. Dengan demikian, Utsman kembali menjadi
menantu Rasulullah.
Karena pernah menikahi dua putri Nabi,
Utsman kemudian dikenal dengan gelar Dzun Nurain, yang berarti “pemilik
dua cahaya”.
Kisah ini mengajarkan beberapa pelajaran
berharga.
Pertama, kegelisahan seorang ayah
terhadap masa depan anaknya adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Bahkan
seorang sahabat besar seperti Umar pun merasakannya.
Kedua, tidak semua penolakan adalah
keburukan. Kadang di balik penolakan itu Allah sedang menyiapkan takdir yang
jauh lebih indah.
Dan ketiga, ketika seorang hamba bersabar
dan bertawakal, Allah mampu mengganti sesuatu dengan yang jauh lebih baik
daripada yang kita bayangkan.
Apa yang awalnya membuat Umar gelisah,
pada akhirnya justru menjadi kehormatan besar bagi keluarganya. Putrinya
menjadi istri Rasulullah, sementara sahabatnya Utsman mendapatkan kemuliaan
dengan menikahi putri Nabi yang lain.
Begitulah cara Allah menata takdir —
sering kali di luar dugaan manusia, namun selalu penuh hikmah.