Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

03 Maret 2026

Dusta Bani Israil tentang Wafatnya Nabi Dawud

 

Dalam sejarah Bani Israil, telah terjadi banyak penambahan dan pengurangan terhadap teks kitab-kitab mereka, termasuk dalam kisah para nabi. Di antara kisah yang mengalami penyimpangan adalah cerita tentang wafatnya Nabi Dawud ‘Alayhis Salam. Sebagian riwayat dari kalangan mereka menggambarkan kisah yang tidak pantas dan merendahkan martabat seorang nabi.

Mereka menceritakan bahwa menjelang ajalnya, Nabi Dawud telah menjadi tua renta dan lemah, hanya terbaring tanpa daya. Orang-orang di sekelilingnya disebutkan menyelimutinya karena beliau merasa kedinginan. Bahkan dalam kisah tersebut dikatakan bahwa untuk menghangatkannya, dihadirkan seorang wanita muda agar memeluknya hingga tertidur.

Cerita seperti ini jelas tidak pantas dan melecehkan kehormatan seorang nabi. Kisah tersebut bersumber dari riwayat Israiliyat yang telah mengalami perubahan, dan tidak memiliki landasan dalam hadis yang sahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengisahkan bahwa Nabi Dawud memiliki sifat cemburu (ghirah) yang besar terhadap keluarganya. Jika beliau hendak bepergian, seluruh pintu rumahnya dikunci. Tidak seorang pun diperkenankan masuk hingga beliau kembali.

Pada suatu hari, Nabi Dawud keluar rumah dan semua pintu telah dikunci. Ketika istrinya memasuki salah satu ruangan, ia mendapati seorang laki-laki berdiri di tengah rumah. Ia pun berkata, “Bagaimana orang ini bisa masuk, padahal semua pintu terkunci? Demi Allah, ia pasti akan berhadapan dengan Dawud.”

Ketika Nabi Dawud pulang, lelaki itu masih berada di dalam rumah. Beliau bertanya, “Siapakah engkau?”

Laki-laki itu menjawab, “Aku adalah yang tidak takut kepada raja mana pun, dan tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangiku.”

Nabi Dawud pun berkata, “Demi Allah, engkau adalah Malaikat Maut. Selamat datang atas perintah Allah.”

Maka Malaikat Maut pun mencabut ruh Nabi Dawud ‘Alayhis Salam.

Ketika ruh beliau telah dicabut dan matahari terbit, Nabi Sulaiman ‘Alayhis Salam berkata kepada burung-burung, “Payungilah Dawud!”

Maka burung-burung terbang memayungi jenazah Nabi Dawud hingga bumi menjadi teduh karena rapatnya sayap-sayap mereka. Kemudian Nabi Sulaiman memerintahkan agar mereka mengangkat sayapnya satu per satu.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bahkan memperagakan bagaimana burung-burung itu menarik sayap-sayapnya. Disebutkan bahwa yang paling dominan memayungi adalah burung elang bersayap lebar.

Hadis ini menjadi bantahan tegas terhadap kisah-kisah Israiliyat yang merendahkan kehormatan Nabi Dawud. Tidak ada riwayat sahih yang menyebutkan bahwa beliau wafat dalam keadaan lemah tak berdaya atau membutuhkan pelukan seorang wanita untuk menghangatkan tubuhnya.

Sebaliknya, hadis ini menunjukkan bahwa Nabi Dawud wafat dalam keadaan menerima takdir Allah dengan penuh keteguhan dan kemuliaan. Bahkan setelah wafatnya, beliau tetap dimuliakan melalui perintah Nabi Sulaiman kepada burung-burung untuk memayungi jenazahnya dan para pengantar dalam prosesi pemakaman.

Kisah ini mengajarkan kepada kita pentingnya merujuk kepada riwayat yang sahih dalam memahami sejarah para nabi, serta berhati-hati terhadap cerita Israiliyat yang tidak memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

Kisah wafatnya Nabi Dawud yang benar dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh:Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Hadis ini diriwayatkan oleh:

·       Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad, no. 8139 (penomoran Syu‘aib Al-Arnauth)

·       Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban, no. 6217

·       Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, no. 4045

Dinilai hasan oleh Syu‘aib Al-Arnauth dalam tahqiq Musnad Ahmad, dishahihkan oleh Ibnu Hibban karena beliau memasukkannya dalam kitab Shahih-nya, dan Al-Hakim menilai hadis ini shahih sesuai syarat Muslim, dan penilaian ini diikuti oleh Adz-Dzahabi dalam sebagian keterangannya.

Dengan demikian, hadis ini memiliki derajat yang kuat dan dapat dijadikan sandaran dalam menjelaskan kisah wafatnya Nabi Dawud.