Dusta Bani Israil tentang Wafatnya Nabi Dawud
Dalam sejarah Bani Israil, telah terjadi
banyak penambahan dan pengurangan terhadap teks kitab-kitab mereka, termasuk
dalam kisah para nabi. Di antara kisah yang mengalami penyimpangan adalah
cerita tentang wafatnya Nabi Dawud ‘Alayhis Salam. Sebagian riwayat dari
kalangan mereka menggambarkan kisah yang tidak pantas dan merendahkan martabat
seorang nabi.
Mereka menceritakan bahwa menjelang
ajalnya, Nabi Dawud telah menjadi tua renta dan lemah, hanya terbaring tanpa
daya. Orang-orang di sekelilingnya disebutkan menyelimutinya karena beliau
merasa kedinginan. Bahkan dalam kisah tersebut dikatakan bahwa untuk
menghangatkannya, dihadirkan seorang wanita muda agar memeluknya hingga
tertidur.
Cerita seperti ini jelas tidak pantas dan
melecehkan kehormatan seorang nabi. Kisah tersebut bersumber dari riwayat
Israiliyat yang telah mengalami perubahan, dan tidak memiliki landasan dalam
hadis yang sahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam
mengisahkan bahwa Nabi Dawud memiliki sifat cemburu (ghirah) yang besar
terhadap keluarganya. Jika beliau hendak bepergian, seluruh pintu rumahnya
dikunci. Tidak seorang pun diperkenankan masuk hingga beliau kembali.
Pada suatu hari, Nabi Dawud keluar rumah
dan semua pintu telah dikunci. Ketika istrinya memasuki salah satu ruangan, ia
mendapati seorang laki-laki berdiri di tengah rumah. Ia pun berkata, “Bagaimana
orang ini bisa masuk, padahal semua pintu terkunci? Demi Allah, ia pasti akan
berhadapan dengan Dawud.”
Ketika Nabi Dawud pulang, lelaki itu
masih berada di dalam rumah. Beliau bertanya, “Siapakah engkau?”
Laki-laki itu menjawab, “Aku adalah yang
tidak takut kepada raja mana pun, dan tidak ada sesuatu pun yang dapat
menghalangiku.”
Nabi Dawud pun berkata, “Demi Allah,
engkau adalah Malaikat Maut. Selamat datang atas perintah Allah.”
Maka Malaikat Maut pun mencabut ruh Nabi
Dawud ‘Alayhis Salam.
Ketika ruh beliau telah dicabut dan
matahari terbit, Nabi Sulaiman ‘Alayhis Salam berkata kepada burung-burung,
“Payungilah Dawud!”
Maka burung-burung terbang memayungi
jenazah Nabi Dawud hingga bumi menjadi teduh karena rapatnya sayap-sayap
mereka. Kemudian Nabi Sulaiman memerintahkan agar mereka mengangkat sayapnya
satu per satu.
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa
Rasulullah bahkan memperagakan bagaimana burung-burung itu menarik
sayap-sayapnya. Disebutkan bahwa yang paling dominan memayungi adalah burung
elang bersayap lebar.
Hadis ini menjadi bantahan tegas terhadap
kisah-kisah Israiliyat yang merendahkan kehormatan Nabi Dawud. Tidak ada
riwayat sahih yang menyebutkan bahwa beliau wafat dalam keadaan lemah tak
berdaya atau membutuhkan pelukan seorang wanita untuk menghangatkan tubuhnya.
Sebaliknya, hadis ini menunjukkan bahwa
Nabi Dawud wafat dalam keadaan menerima takdir Allah dengan penuh keteguhan dan
kemuliaan. Bahkan setelah wafatnya, beliau tetap dimuliakan melalui perintah
Nabi Sulaiman kepada burung-burung untuk memayungi jenazahnya dan para
pengantar dalam prosesi pemakaman.
Kisah ini
mengajarkan kepada kita pentingnya merujuk kepada riwayat yang sahih dalam
memahami sejarah para nabi, serta berhati-hati terhadap cerita Israiliyat yang
tidak memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
Kisah wafatnya Nabi Dawud yang benar
dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh:Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu.
Hadis ini diriwayatkan oleh:
·
Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad, no. 8139 (penomoran Syu‘aib
Al-Arnauth)
·
Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban, no. 6217
·
Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, no. 4045
Dinilai hasan oleh Syu‘aib
Al-Arnauth dalam tahqiq Musnad Ahmad, dishahihkan oleh Ibnu Hibban karena
beliau memasukkannya dalam kitab Shahih-nya, dan Al-Hakim menilai hadis ini shahih
sesuai syarat Muslim, dan penilaian ini diikuti oleh Adz-Dzahabi dalam
sebagian keterangannya.
Dengan demikian, hadis ini memiliki
derajat yang kuat dan dapat dijadikan sandaran dalam menjelaskan kisah wafatnya
Nabi Dawud.