Umar Membungkam Ahli Taurat
Pada masa-masa awal setelah hijrah ke
Madinah, kaum Muslimin hidup berdampingan dengan berbagai kelompok masyarakat,
termasuk komunitas Yahudi yang telah lama menetap di kota itu. Di tengah
kehidupan yang penuh dinamika tersebut, sering terjadi dialog dan perdebatan
tentang agama, kitab suci, dan kenabian.
Suatu hari, Umar bin Khaththab bertemu
dengan sekelompok orang Yahudi yang sedang membaca dan mengkaji Taurat. Mereka
tampak tenggelam dalam diskusi kitab suci mereka.
Salah seorang dari mereka berkata kepada
Umar, “Wahai Ibnu Khaththab, tidak ada seorang pun dari sahabatmu yang lebih
kami sukai selain dirimu.”
Umar pun bertanya dengan heran, “Mengapa
begitu?”
Mereka menjawab, “Karena engkau sering
berbaur dengan kami dan mengunjungi kami.”
Umar kemudian menjelaskan alasan
kedatangannya. Ia berkata, “Aku datang karena ada sesuatu yang membuatku heran.
Aku heran dengan Al-Qur’an, bagaimana mungkin Al-Qur’an membenarkan Taurat. Dan
aku juga heran dengan Taurat, bagaimana mungkin Taurat membenarkan Al-Qur’an.”
Dialog itu berlangsung cukup serius.
Tanpa mereka sadari, Rasulullah sedang berjalan melewati tempat mereka
berbincang.
Orang-orang Yahudi itu kemudian berkata
kepada Umar, “Umar, itu saudaramu. Datanglah kepadanya.”
Namun sebelum Umar pergi, ia menantang
mereka dengan sebuah pertanyaan yang sangat tegas. Umar berkata, “Aku bersumpah
kepada kalian dengan nama Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Dengan hak-Nya
yang Dia tuntut dari kalian untuk menjaganya, dan dengan kitab yang diturunkan
kepada kalian. Apakah kalian mengetahui bahwa orang itu adalah Rasulullah?”
Sumpah Umar begitu kuat dan tajam hingga
membuat mereka terdiam. Mereka tidak mampu membantahnya. Tidak seorang pun di
antara mereka berani mengingkari perkataan Umar, karena sebenarnya mereka
mengetahui kebenaran tersebut dari kitab yang mereka pelajari.
Umar kemudian
berkata, “Jika kamu telah bersumpah kepada kami dengan sumpahmu itu, maka kami
mengetahui bahwa dia adalah Rasulullah.”
Sebenarnya,
berdasarkan pengetahuan yang mereka pahami, bahwa apa yang dikatakan oleh Umar
adalah benar, seharusnya dia juga mengakui bahwa orang yang lewat itu adalah
Rasulullah. Jika tidak mengakuinya maka celaka dan kebinasaan buat mereka.
Karena kesombongan dan kepentingan dunia, mereka tidak mau mengakuinya.
Kemudian Umar melanjutkan. “Celakalah kalian. Binasalah kalian jika tidak
mengakuinya.”
“Kami tidak akan
binasa,” jawab mereka dengan nada menantang,
“Bagaimana mungkin kalian tidak binasa?
Kalian telah mengetahui bahwa dia adalah Rasulullah, tetapi kalian tidak
membenarkannya dan tidak mengikutinya.”
Orang-orang Yahudi itu lalu mengemukakan
alasan yang aneh. Mereka berkata, “Sesungguhnya kami memiliki musuh dan teman
dari kalangan malaikat. Muhammad mengaitkan kenabiannya dengan malaikat yang
menjadi musuh kami. Jibril adalah malaikat yang keras, membawa kesulitan, azab,
dan peperangan. Sedangkan Mikail adalah malaikat rahmat, pembawa rezeki dan
kasih sayang.”
Umar pun bertanya kepada mereka,
“Bagaimana kedudukan kedua malaikat itu di sisi Tuhan?”
Mereka menjawab, “Yang satu berada di
sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya.”
Mendengar jawaban itu, Umar berkata
dengan tegas, “Demi Dzat yang tidak ada Tuhan selain Dia, sesungguhnya kedua
malaikat itu dan Tuhan yang berada di antara keduanya adalah musuh bagi siapa
saja yang memusuhi keduanya, dan menjadi sahabat bagi siapa saja yang mencintai
keduanya. Tidak mungkin Jibril berdamai dengan orang yang memusuhi Mikail, dan
tidak mungkin Mikail berdamai dengan orang yang memusuhi Jibril.”
Perkataan Umar ini bukan sekadar pendapat
pribadi. Allah kemudian menurunkan wahyu yang membenarkan ucapannya dalam
Al-Qur’an.
Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah
ayat 97–98:
“Katakanlah (Nabi
Muhammad), ‘Siapa yang menjadi musuh Jibril?’ Padahal dialah yang menurunkan
(Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan izin Allah sebagai pembenaran terhadap
kitab-kitab sebelumnya serta menjadi petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang
beriman.
Barang siapa
menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail,
maka sesungguhnya Allah adalah musuh bagi orang-orang kafir.’”
Peristiwa ini menunjukkan keberanian dan
ketegasan Umar bin Khaththab dalam membela kebenaran. Ia tidak hanya berdialog
dengan argumentasi yang kuat, tetapi juga berani menantang kemunafikan dan
kesombongan yang menghalangi seseorang menerima kebenaran.
Kisah ini juga mengajarkan sebuah
pelajaran penting: mengetahui kebenaran tidak selalu berarti seseorang akan
mengikutinya. Banyak orang memahami kebenaran, tetapi kesombongan,
kepentingan, atau hawa nafsu membuat mereka menolaknya.
Karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya
pengetahuan, tetapi juga kerendahan hati untuk menerima kebenaran ketika ia
datang.