Kisah Rasulullah di Gua Tsur Saat Hijrah
Rasulullah keluar dari rumahnya pada
malam hari, sekitar tanggal 12 atau 13 September 622 M. Saat itu rumah
beliau telah dikepung oleh sekelompok orang Quraisy yang dipimpin oleh Abu
Jahl. Mereka berencana menangkap bahkan membunuh Rasulullah.
Namun dengan pertolongan Allah,
Rasulullah berhasil keluar dari rumah tanpa diketahui oleh mereka. Saat
melangkah keluar, beliau membaca firman Allah:
“Dan Kami adakan di
hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), lalu Kami tutup
mata mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (QS. Yasin: 9)
Rasulullah kemudian mengambil segenggam
pasir dan menaburkannya ke arah orang-orang yang mengepung rumah beliau. Allah
menutup penglihatan mereka sehingga tidak seorang pun menyadari bahwa Rasulullah
telah keluar dari rumah.
Beliau lalu menuju rumah sahabat
terdekatnya, Abu Bakar. Pada malam itu juga, Rasulullah dan Abu Bakar keluar
melalui pintu belakang rumah tersebut untuk memulai perjalanan hijrah.
Allah telah mengingatkan tentang rencana
jahat kaum Quraisy dalam firman-Nya:
“Dan (ingatlah),
ketika orang-orang kafir memikirkan tipu daya terhadapmu untuk menahanmu,
membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka merencanakan tipu daya, dan Allah
menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.”
(QS. Al-Anfal: 30)
Rasulullah menyadari bahwa kaum Quraisy
pasti akan mencari beliau di jalur yang menuju ke utara, yaitu jalan menuju
Madinah. Karena itu beliau memilih strategi yang tidak terduga: mengambil arah
yang berlawanan, yaitu menuju selatan ke arah Yaman.
Rasulullah dan Abu Bakar berjalan sekitar
lima kilometer hingga tiba di Jabal Tsur. Bukit ini cukup tinggi dan jalannya
terjal serta penuh bebatuan tajam. Perjalanan mendaki itu sangat berat hingga
batu-batu tersebut melukai telapak kaki Rasulullah.
Dalam perjalanan itu, Rasulullah bahkan
sempat tersandung hingga kakinya tergores. Melihat keadaan tersebut, Abu Bakar
kemudian menggendong Rasulullah hingga sampai ke puncak bukit, tepatnya di Gua
Tsur.
Sesampainya di depan gua, Abu Bakar
berkata:
“Demi Allah, Rasulullah tidak boleh masuk
sebelum aku memeriksanya terlebih dahulu. Jika ada sesuatu yang berbahaya,
biarlah aku yang menghadapinya lebih dahulu.”
Abu Bakar pun masuk lebih dulu untuk
memeriksa keadaan di dalam gua. Ia membersihkan tempat itu dan menutup beberapa
lubang dengan sobekan kainnya agar tidak ada binatang yang keluar dari sana.
Setelah itu ia berkata,
“Silakan masuk, wahai Rasulullah.”
Rasulullah pun masuk ke dalam gua. Beliau
kemudian beristirahat dengan meletakkan kepala di pangkuan Abu Bakar hingga
tertidur.
Saat itulah seekor kalajengking menyengat
kaki Abu Bakar. Namun ia tetap diam dan tidak bergerak sedikit pun karena
khawatir Rasulullah terbangun. Rasa sakit yang luar biasa membuat air mata Abu
Bakar menetes hingga mengenai wajah Rasulullah.
Rasulullah pun terbangun dan bertanya,
“Ada apa denganmu, wahai Abu Bakar?”
Abu Bakar
menjawab, “Aku disengat kalajengking.”
Rasulullah kemudian mengobati luka
tersebut dengan ludah beliau. Dengan izin Allah, rasa sakit itu pun langsung
hilang.
Selama tiga malam, yaitu dari hari
Jumat hingga Ahad, Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur. Dalam masa
persembunyian itu mereka dibantu oleh beberapa orang terpercaya.
Salah satunya adalah Abdullah bin Abu
Bakar, putra Abu Bakar. Menurut penuturan Aisyah, Abdullah adalah pemuda yang
cerdas dan berilmu. Ia mendatangi gua pada malam hari untuk menyampaikan
berbagai informasi tentang keadaan di Makkah. Menjelang pagi, ia kembali ke
kota dan berbaur dengan masyarakat Quraisy sehingga tidak menimbulkan
kecurigaan.
Sementara itu, seorang pelayan Abu Bakar
bernama Amir bin Fahiirah bertugas menggembalakan kambing di sekitar daerah
tersebut. Ia menyediakan susu dan makanan untuk Rasulullah dan Abu Bakar yang
diantarkan oleh Abdullah pada malam hari.
Selain itu, Amir bin Fahiirah juga
menggiring kambing-kambingnya mengikuti jejak langkah Abdullah bin Abu Bakar.
Hal ini dilakukan untuk menghapus jejak kaki Abdullah agar tidak diketahui oleh
kaum Quraisy.
Sementara itu di Makkah, kaum Quraisy
akhirnya menyadari bahwa Rasulullah telah lolos dari kepungan mereka. Mereka
segera menangkap Ali bin Abi Thalib, yang pada malam itu tidur di tempat tidur
Rasulullah atas perintah beliau.
Ali diseret ke dekat Ka'bah dan ditahan
dengan harapan ia akan memberitahu ke mana Rasulullah pergi. Namun mereka tidak
berhasil mendapatkan informasi apa pun darinya.
Kemudian mereka mendatangi rumah Abu
Bakar dan bertanya kepada putrinya, Asma binti Abu Bakar, “Di mana ayahmu?”
Asma
menjawab, “Demi Allah, aku tidak tahu ke mana dia pergi.”
Mendengar
jawaban itu, Abu Jahl menampar wajah Asma dengan keras hingga salah satu
antingnya terlepas.
Dalam pertemuan darurat, kaum Quraisy
kemudian memutuskan untuk menutup seluruh pintu keluar masuk kota Makkah.
Mereka juga mengumumkan hadiah besar bagi siapa saja yang berhasil menangkap
Rasulullah dan Abu Bakar, hidup atau mati. Hadiah itu adalah seratus ekor
unta untuk masing-masing orang.
Pasukan berkuda dan pejalan kaki segera
menyebar ke berbagai penjuru. Lembah, bukit, dan gua-gua mereka telusuri dengan
teliti. Bahkan sebagian pencari jejak telah sampai di depan pintu Gua Tsur.
Namun Allah menjaga Rasulullah dan sahabatnya.
Dalam riwayat Imam al-Bukhari dari Anas
bin Malik, Abu Bakar pernah berkata:
“Aku
bersama Rasulullah di dalam gua. Aku mengangkat kepalaku dan melihat kaki-kaki
orang Quraisy dari celah batu. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, jika salah
seorang dari mereka menundukkan pandangannya, pasti mereka akan melihat kita.’”
Rasulullah menjawab: “Tenanglah, wahai
Abu Bakar. Kita berdua, dan Allah adalah Yang Ketiga bersama kita.”
Dengan perlindungan Allah, mereka tidak
dapat menemukan Rasulullah dan Abu Bakar, padahal jarak mereka hanya beberapa
langkah saja dari pintu gua.
Setelah tiga hari pencarian tanpa
hasil, kaum Quraisy akhirnya menghentikan usaha mereka.
Pada saat itulah Rasulullah dan Abu Bakar
bersiap melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Bersama mereka ikut pula Amir bin Fahiirah. Mereka menyewa seorang penunjuk jalan bernama Abdullah bin Uraiqat.
Abdullah bin Uraiqat dikenal sebagai
orang yang sangat memahami jalur-jalur gurun. Meskipun saat itu ia belum
memeluk Islam, ia adalah orang yang dapat dipercaya dan menjaga amanah.
Dengan bantuan penunjuk jalan tersebut,
perjalanan hijrah Rasulullah menuju Madinah pun dimulai.