Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

s

14 Maret 2026

Kisah Rasulullah di Gua Tsur Saat Hijrah

 

Rasulullah keluar dari rumahnya pada malam hari, sekitar tanggal 12 atau 13 September 622 M. Saat itu rumah beliau telah dikepung oleh sekelompok orang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Jahl. Mereka berencana menangkap bahkan membunuh Rasulullah.

Namun dengan pertolongan Allah, Rasulullah berhasil keluar dari rumah tanpa diketahui oleh mereka. Saat melangkah keluar, beliau membaca firman Allah:

“Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), lalu Kami tutup mata mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (QS. Yasin: 9)

Rasulullah kemudian mengambil segenggam pasir dan menaburkannya ke arah orang-orang yang mengepung rumah beliau. Allah menutup penglihatan mereka sehingga tidak seorang pun menyadari bahwa Rasulullah telah keluar dari rumah.

Beliau lalu menuju rumah sahabat terdekatnya, Abu Bakar. Pada malam itu juga, Rasulullah dan Abu Bakar keluar melalui pintu belakang rumah tersebut untuk memulai perjalanan hijrah.

Allah telah mengingatkan tentang rencana jahat kaum Quraisy dalam firman-Nya:

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir memikirkan tipu daya terhadapmu untuk menahanmu, membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka merencanakan tipu daya, dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.”
(QS. Al-Anfal: 30)

Rasulullah menyadari bahwa kaum Quraisy pasti akan mencari beliau di jalur yang menuju ke utara, yaitu jalan menuju Madinah. Karena itu beliau memilih strategi yang tidak terduga: mengambil arah yang berlawanan, yaitu menuju selatan ke arah Yaman.

Rasulullah dan Abu Bakar berjalan sekitar lima kilometer hingga tiba di Jabal Tsur. Bukit ini cukup tinggi dan jalannya terjal serta penuh bebatuan tajam. Perjalanan mendaki itu sangat berat hingga batu-batu tersebut melukai telapak kaki Rasulullah.

Dalam perjalanan itu, Rasulullah bahkan sempat tersandung hingga kakinya tergores. Melihat keadaan tersebut, Abu Bakar kemudian menggendong Rasulullah hingga sampai ke puncak bukit, tepatnya di Gua Tsur.

Sesampainya di depan gua, Abu Bakar berkata:

“Demi Allah, Rasulullah tidak boleh masuk sebelum aku memeriksanya terlebih dahulu. Jika ada sesuatu yang berbahaya, biarlah aku yang menghadapinya lebih dahulu.”

Abu Bakar pun masuk lebih dulu untuk memeriksa keadaan di dalam gua. Ia membersihkan tempat itu dan menutup beberapa lubang dengan sobekan kainnya agar tidak ada binatang yang keluar dari sana. Setelah itu ia berkata,

“Silakan masuk, wahai Rasulullah.”

Rasulullah pun masuk ke dalam gua. Beliau kemudian beristirahat dengan meletakkan kepala di pangkuan Abu Bakar hingga tertidur.

Saat itulah seekor kalajengking menyengat kaki Abu Bakar. Namun ia tetap diam dan tidak bergerak sedikit pun karena khawatir Rasulullah terbangun. Rasa sakit yang luar biasa membuat air mata Abu Bakar menetes hingga mengenai wajah Rasulullah.

Rasulullah pun terbangun dan bertanya, “Ada apa denganmu, wahai Abu Bakar?”

Abu Bakar menjawab, “Aku disengat kalajengking.”

Rasulullah kemudian mengobati luka tersebut dengan ludah beliau. Dengan izin Allah, rasa sakit itu pun langsung hilang.

Selama tiga malam, yaitu dari hari Jumat hingga Ahad, Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur. Dalam masa persembunyian itu mereka dibantu oleh beberapa orang terpercaya.

Salah satunya adalah Abdullah bin Abu Bakar, putra Abu Bakar. Menurut penuturan Aisyah, Abdullah adalah pemuda yang cerdas dan berilmu. Ia mendatangi gua pada malam hari untuk menyampaikan berbagai informasi tentang keadaan di Makkah. Menjelang pagi, ia kembali ke kota dan berbaur dengan masyarakat Quraisy sehingga tidak menimbulkan kecurigaan.

Sementara itu, seorang pelayan Abu Bakar bernama Amir bin Fahiirah bertugas menggembalakan kambing di sekitar daerah tersebut. Ia menyediakan susu dan makanan untuk Rasulullah dan Abu Bakar yang diantarkan oleh Abdullah pada malam hari.

Selain itu, Amir bin Fahiirah juga menggiring kambing-kambingnya mengikuti jejak langkah Abdullah bin Abu Bakar. Hal ini dilakukan untuk menghapus jejak kaki Abdullah agar tidak diketahui oleh kaum Quraisy.

Sementara itu di Makkah, kaum Quraisy akhirnya menyadari bahwa Rasulullah telah lolos dari kepungan mereka. Mereka segera menangkap Ali bin Abi Thalib, yang pada malam itu tidur di tempat tidur Rasulullah atas perintah beliau.

Ali diseret ke dekat Ka'bah dan ditahan dengan harapan ia akan memberitahu ke mana Rasulullah pergi. Namun mereka tidak berhasil mendapatkan informasi apa pun darinya.

Kemudian mereka mendatangi rumah Abu Bakar dan bertanya kepada putrinya, Asma binti Abu Bakar, “Di mana ayahmu?”

Asma menjawab, “Demi Allah, aku tidak tahu ke mana dia pergi.”

Mendengar jawaban itu, Abu Jahl menampar wajah Asma dengan keras hingga salah satu antingnya terlepas.

Dalam pertemuan darurat, kaum Quraisy kemudian memutuskan untuk menutup seluruh pintu keluar masuk kota Makkah. Mereka juga mengumumkan hadiah besar bagi siapa saja yang berhasil menangkap Rasulullah dan Abu Bakar, hidup atau mati. Hadiah itu adalah seratus ekor unta untuk masing-masing orang.

Pasukan berkuda dan pejalan kaki segera menyebar ke berbagai penjuru. Lembah, bukit, dan gua-gua mereka telusuri dengan teliti. Bahkan sebagian pencari jejak telah sampai di depan pintu Gua Tsur. Namun Allah menjaga Rasulullah dan sahabatnya.

Dalam riwayat Imam al-Bukhari dari Anas bin Malik, Abu Bakar pernah berkata:

“Aku bersama Rasulullah di dalam gua. Aku mengangkat kepalaku dan melihat kaki-kaki orang Quraisy dari celah batu. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, jika salah seorang dari mereka menundukkan pandangannya, pasti mereka akan melihat kita.’”

Rasulullah menjawab: “Tenanglah, wahai Abu Bakar. Kita berdua, dan Allah adalah Yang Ketiga bersama kita.”

Dengan perlindungan Allah, mereka tidak dapat menemukan Rasulullah dan Abu Bakar, padahal jarak mereka hanya beberapa langkah saja dari pintu gua.

Setelah tiga hari pencarian tanpa hasil, kaum Quraisy akhirnya menghentikan usaha mereka.

Pada saat itulah Rasulullah dan Abu Bakar bersiap melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Bersama mereka ikut pula Amir bin Fahiirah. Mereka menyewa seorang penunjuk jalan bernama Abdullah bin Uraiqat.

Abdullah bin Uraiqat dikenal sebagai orang yang sangat memahami jalur-jalur gurun. Meskipun saat itu ia belum memeluk Islam, ia adalah orang yang dapat dipercaya dan menjaga amanah.

Dengan bantuan penunjuk jalan tersebut, perjalanan hijrah Rasulullah menuju Madinah pun dimulai.